Lima Langkah Di Belakang

1574 Kata
“Sampai kapan dia mau di sekolah? Ini sudah siang.” Ini baru jam 2 siang dan Aiden sudah melihat jam tangannya berkali-kali. Membuat Bibi Lily yang sejak tadi memperhatikan tingkah Aiden jadi geleng-geleng kepala. “Runa itu sudah kelas 12, Tuan. Jadi wajar jika dia sibuk di sekolah dan selalu pulang terlambat,” kata Bibi Lily sambil mengipasi wajahnya. Jam makan siang yang sibuk akhirnya berlalu dan sekarang ia akhirnya bisa mengistirahatkan dirinya setelah melayani para pembeli yang selalu memenuhi rumah makannya setiap waktunya makan siang. “Tapi Harvie tidak begitu. Dia sepertinya selalu pulang cepat,” ujar Aiden yang membuat Bibi Lily menghela napas. “Kalau Harvie jangan ditanya. Anak itu kan selalu bolos.” “Dia tidak boleh bolos lagi karena ada Runa di sana. Dia harus menjaga Runa selama di sekolah.” “Tuan sendiri memangnya tidak pergi bekerja? Jika hanya menunggu di sini saja waktunya akan terasa semakin lama.” “Tidak ada yang perlu kukerjakan hari ini,” sahut Aiden. “Biasanya jika tidak ada kerjaan aku akan menonton kartun dengan Runa.” “Di sini kan juga ada TV. Tuan ingin nonton kartun?” “Memangnya aku kelihatan suka nonton kartun?” “Iya. Runa bilang Tuan paling suka nonton Poporo.” “Namanya Pororo, Bibi. Dia itu penguin, namanya Pororo.” Bibi Lily terkekeh mendengar Aiden meralat ucapannya. Namun kemudian wanita itu menegakkan tubuhnya saat melihat dua orang yang berlari mendekati rumah makannya. “Itu mereka sudah pulang.” Aiden menolehkan kepalanya ke belakang dan ekspresi jenuhnya langsung hilang saat ia melihat Runa yang berlari masuk ke dalam rumah makan. Harvie juga berlari di depannya, namun yang bisa Aiden hanyalah Runa seorang. “Tu-Tuan...” Runa bicara dengan napas tersengal. Gadis itu menumpukan kedua tangannya di atas lutut dan mencoba menormalkan laju napasnya sementara Harvie sudah pergi ke dapur untuk minum. “Minum.” Aiden menyodorkan gelasnya yang masih terisi separuhnya. Runa menerimanya dengan kedua tangannya lalu meminumnya dengan cepat hingga seluruh isinya habis. “Kenapa kau berlari? Andrew tidak menjemputmu?” tanya Aiden yang sudah berpikir akan mematahkan salah satu kaki Andrew karena pria itu tidak melakukan tugasnya dengan benar untuk mengantar-jemput Runa hingga membuat gadis itu harus pulang sendiri di siang hari yang sangat terik ini sampai membuat tubuhnya dibanjiri keringat. “Ini belum waktunya pulang,” jelas Runa. “Harvie mengajakku kabur dari jam pelajaran tambahan.” “Oho! Bagaimana bisa kau mengkambinghitamkan aku?” Harvie berkata dengan nada tidak terima sambil mendudukkan dirinya di sebelah Aiden. Padahal pemuda itu berangkat sekolah dengan setelan seragam yang rapi, namun kini hanya tersisa celana seragam dan kemeja putihnya yang terbuka yang menunjukkan kaos biru muda bergambar kartun yang ia kenakan di balik kemeja seragamnya. “Aku mengajaknya pulang karena dia bilang merindukanmu.” Ucapan Harvie membuat Aiden kembali mengalihkan tatapannya pada Runa yang dengan gugup langsung membantah hal tersebut. “Aku capek! Aku ingin pulang karena capek!” bantah Runa. Ia lalu memukul lengan Harvie dan sambil memelototi pemuda itu ia berkata, “Jangan bicara sembarangan jika tidak ingin kulaporkan pada mamamu kau dihukum lagi!” “Apa sekolah menyenangkan?” tanya Aiden yang mengembalikan perhatian Runa padanya. “Iya. Semua orangnya baik,” sahut Runa. “Tidak ada yang mengganggumu?” “Tidak‒” “Tentu tidak ada. Kakaknya ini menjaganya dengan sangat baik,” sela Harvie yang membuat Runa memicingkan mata padanya. “Apa? Kau harus memanggilku kakak mulai sekarang karena kenyataannya aku ini lebih tua darimu!” “Hanya beda 2 bulan!” “Tidak mau tahu! Kau tetap harus memanggilku kakak! Enak saja bocah yang 2 bulan lebih muda dariku berlagak menjadi kakakku!” Runa mencibirkan bibirnya sebelum mengalihkan perhatiannya kembali pada Aiden karena rasanya tidak ada gunanya berdebat dengan Harvie. “Tuan, ayo kita pulang saja.” “Tidak mau makan dulu?” tawar Bibi Lily yang membuat Runa mengangkat plastik kecil berisi beberapa tusuk telur gulung. “Aku makan ini. Sudah kenyang.” “Itulah kenapa kau tidak gemuk-gemuk, Nona Kecil! Jangan jajan sembaranga, kau harus makan nasi!” kata Bibi Lily. “Lihat Harvie, dia jadi sehat dan lincah karena suka makan,” tambah Bibi Lily sambil menunjuk Harvie yang sudah mengambil nasi dan makanan untuk dirinya sendiri. “Tapi aku sudah kenyang.” Runa berbisik pada Aiden, minta tolong pada pria itu agar segera membawanya pergi sebelum Bibi Lily memaksanya makan. “Aku akan membawanya pulang sekarang,” kata Aiden yang membuat Runa tersenyum senang sementara Harvie yang sudah menikmati makannya menatap pria itu dengan kerutan di keningnya. “Mau ke mana? Kau masih harus mengerjakan PR!” kata Harvie. “Aku bisa kerjakan di rumah,” sahut Runa. “Bagaimana bisa kerjakan sendirian di rumah? Memangnya bisa?” “Tentu saja bisa! Aku sudah belajar yang begitu di sekolah sebelumnya.” “Kalau begitu ajari aku!” “Kalau begitu panggil aku kakak!” “Cih! Tidak sudi!” Runa mengedutkan sudut bibirnya. “Tuan, ayo kita pergi saja.” “Padahal mengerjakan PR denganku sebentar saja kenapa, sih?” gerutu Harvie setelah Runa dan Aiden meninggalkan tempat itu yang membuat Bibi Lily terkekeh mendengarnya. “Sejak kapan kau mau mengerjakan PR, uh?” “Memangnya aku tidak pernah mengerjakan PR?” “Memangnya pernah?” Harvie merengut, ingin membela diri lagi namun ucapan Bibi Lily memang benar adanya. “Dia itu milik Tuan Aiden, jadi jangan jatuh cinta padanya,” kata Bibi Lily yang membuat Harvie menatapnya dengan pandangan tak senang. “Memangnya aku kelihatan suka padanya? Pada gadis seperti itu?” “Hanya bilang saja,” kata Bibi Lily sambil membelai kepala Harvie. “Cepat habiskan makananmu.” “Ah~ Ucapan Bibi Lily membuatku jadi tidak nafsu makan,” gerutu Harvie. “Gadis seperti dia ada banyak di sekolahku. Bisa dilihat di mana saja. Aku tidak akan jatuh cinta pada yang seperti itu.” Harvie mencoba membantah ucapan Bibi Lily, namun sebenarnya ia hanya tidak ingin terlihat panik karena Bibi Lily bisa menebak perasaannya dengan sangat tepat. Mungkin bukan cinta, tapi melihat Runa dalam balutan seragam sekolah mereka... Bahkan meski ada ribuan gadis lain yang memakai seragam yang serupa dengan yang Runa kenakan, namun di matanya hanya gadis itu yang kelihatan sangat cantik. “Tapi dia sudah punya pria lain,” batin Harvie sambil menyuapkan sesendok penuh makanan ke dalam mulutnya. “Aku juga bukannya benar-benar akan jatuh cinta padanya. Aku hanya senang melihat gadis yang kelihatan cocok dengan seragam kami. Aku... Aku tidak mungkin sampai menyukai gadis menyebalkan sepertinya.” *** “Kau bisa tersandung dan terjatuh jika berjalannya seperti itu. Berjalanlah dengan benar!” Aiden memberi peringatan pada Runa yang sejak tadi berjalan mundur sambil terus menatapnya, namun gadis itu tidak mengindahkan ucapannya. “Aku takut Tuan akan tiba-tiba menghilang lagi dan digantikan oleh Tuan Andrew tanpa kusadari jika aku berjalan menghadap ke depan,” kata Runa. “Aku akan berjalan pelan-pelan dengan hati-hati, jadi Tuan tidak usah khawatir.” “Aku janji tidak akan tiba-tiba pergi,” kata Aiden. “Kau bisa memegang janjiku. Aku tidak akan pernah mengingkarinya.” “Tapi aku jadi tidak bisa melihat Tuan lagi jika menghadap Tuan. Bagaimana jika Tuan saja yang berjalan di depanku?” “Aku tidak bisa mengawasi dan menjagamu jika berjalan di depanmu.” Aiden lalu menghentikan langkahnya, membuat Runa ikut melakukan hal yang sama agar tidak menciptakan jarak yang semakin jauh di antara mereka. “Aku tidak akan mengikutimu sampai kau berjalan dengan benar,” kata Aiden yang membuat Runa cemberut. “Cepat hadap depan!” Karena tidak memiliki pilihan lain, mau tidak mau akhirnya Runa melanjutkan langkahnya dengan menghadap ke depan. Namun itu tidak menghentikannya untuk terus mengajak bicara Aiden yang berjalan lima langkah di belakangnya. “Kenapa jaraknya harus lima langkah? Dengan Tuan Andrew tidak apa-apa meski hanya 3 langkah, tapi kenapa dengan Tuan jaraknya justru lebih jauh?” “Karena tatoku lebih banyak dari Andrew.” “Apa?” Runa menolehkan kepalanya ke belakang. Namun saat Aiden menghentikan langkahnya, gadis itu buru-buru menghadapkan kepalanya kembali ke depan. “Kenapa jika tatonya lebih banyak?” “Itu membuatku kelihatan lebih jahat dan lebih berbahaya. Orang-orang akan menjauhimu jika kau terlihat bersama pria sepertiku.” “Tapi Tuan kan baik sekali padaku,” kata Runa sambil kembali menolehkan kepalanya pada Aiden. Yang kemudian membuatnya buru-buru menghadap depan lagi saat Aiden menghentikan langkahnya. “Tuan yang selalu menjagaku agar tidak ada hal berbahaya yang terjadi padaku.” Aiden tidak menyahuti ucapan Runa lagi dan terus melangkahkan kakinya sambil menatap punggung kecil Runa yang berada lima langkah di depannya. Sebenarnya ini bukan hanya untuk menjaga citra Runa agar tidak ikut dipandang buruk jika berjalan di sisi orang sepertinya. Aiden juga berusaha untuk membiasakan dirinya jika suatu saat nanti Runa memutuskan untuk pergi, ia tidak akan terlalu bersedih melihat punggung gadis itu yang menjauh meninggalkannya. Karena sejak dulu orang-orang selalu pergi meninggalkannya. Orang-orang yang berkata akan tinggal di sisinya, mereka semua pergi karena dirinya seorang mafia. Dan meski saat ini kelihatannya Runa sangat bergantung padanya, Aiden tetap memiliki kekhawatiran jika suatu saat gadis itu juga pasti akan meninggalkannya juga. Sampai kemudian Runa mengatakan sesuatu yang menyadarkan Aiden jika rasa takut itu bukan hanya miliknya seorang. “Tuan, tidak bisakah kita berjalan bersisian saja? Aku tidak peduli apapun yang akan dipikirkan orang tentang kita. Aku lebih khawatir jika aku menoleh ke belakang aku sudah tidak melihat Tuan berjalan di belakangku lagi. Jadi... Bisakah mulai sekarang kita berjalan berdampingan saja?” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN