Hasrat Tak Tertahan

1693 Kata
“Meja belajar? MEJA BELAJAR?!” Felix pikir Aiden tidak akan beli barang-barang yang aneh lagi karena sekarang apartemen kecilnya itu sudah hampir penuh. Namun ia dibuat terkejut saat datang ke apartemen Aiden dan melihat sebuah meja belajar yang cukup besar‒dan kelihatannya mahal sekali‒telah mengisi tempat tersebut. Meja belajar itu diletakkan di depan pintu balkon, memakan begitu banyak tempat hingga membuat jalan menuju balkon jadi sempit sekali. Berbagai pernak-pernik anak sekolah‒mulai dari buku pelajaran, seperangkat komputer dengan monitor berukuran besar, hingga pernak-pernik lucu yang entah apa gunanya selain imut saat dilihat‒memenuhi meja belajar tersebut dengan pemiliknya yang duduk di depannya‒di atas kursi warna merah muda yang dipenuhi bulu-bulu dan kelihatannya juga mahal sekali. “Memangnya untuk apa meja belajar ini ada di sini, uh? Untuk apa?!” Felix bertanya dengan emosi pada Aiden. Kelihatan marah sekali seolah meja belajar tersebut dibeli dengan uang miliknya. “Tentu saja untukku belajar!” sahut Runa yang membuat Felix mendecih. “Tuan Aiden kasihan karena harus melihatku belajar di atas tempat tidur, jadi dia membelikanku meja belajar ini.” “Memangnya kau belajar, uh? Kau pikir Daddy akan percaya kau mau bela‒ Aw!” Felix belum menyelesaikan ucapannya saat remote TV dilemparkan ke kepalanya. Membuatnya mengerang kesakitan karena itu rasanya memang sangat menyakitkan. “Apa? KAU MAU APA?!” bentaknya pada Aiden yang telah melemparkan remote tersebut padanya. “Kau yang mau apa menyuruhnya memanggil Daddy? Kau sengaja ingin memancing amarahku, hah?” maki Aiden yang tentu saja jadi marah sekali karena panggilan tersebut. “Memangnya kenapa jika Runa memanggilku Daddy? Dia kan anakku! Kau tidak tahu anak-anak di Amerika memanggil ayah mereka daddy, uh? Runa juga menyukainya, kan? Gaya Amerika!” ujar Felix yang disetujui oleh Runa dengan anggukan kepalanya. Tapi itu membuat Aiden jadi semakin kesal dan karena tidak bisa marah pada Runa ia jadi melampiaskan semuanya pada Felix. Melemparkan apa saja yang dapat dijangkaunya pada pria itu tanpa peduli dengan jeritan Felix. “Gaya Amerika kepalamu! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat menyuruhnya memanggilnya daddy?” “Memangnya apa? APA?! Tidak semua orang itu pikirannya kotor sepertimu!” Andrew yang sejak tadi berbaring di atas tempat tidur Runa sambil nonton TV itu hanya bisa mendecakkan lidahnya. Merasa terganggu dengan keributan yang dibuat oleh Felix dan Aiden padahal dirinya sedang serius nonton TV. “Dan aku sedang marah soal meja belajar tadi! Kenapa kau mengalihkan pembicaraan, uh?” Felix kembali pada topik pertama mereka. “Kenapa sih kau selalu beli barang-barang yang tidak diperlukan oleh Runa? Kau membelikannya itu, itu, itu, itu, dan itu. Memangnya Runa butuh semua itu, uh?” Andrew mengerutkan keningnya. Karena selain cermin besar, TV, meja belajar, dan tempat tidur, Felix juga menunjuk dirinya yang ada di atas kasur sebagai salah satu dari barang tidak berguna yang Aiden belikan untuk Runa. “Kenapa aku juga?” tanya Andrew sambil menunjuk wajahnya sendiri. “Memangnya kau berguna, uh? Judulnya saja pengawal, tapi kau sama sekali tidak berguna! Kau pemalas dan hanya terus membuat anakku jadi kesal!” ujar Felix yang lagi-lagi disetujui oleh Runa dengan anggukan kepalanya hingga membuat Andrew melotot pada gadis itu‒yang kemudian membuat kepalanya harus menerima lemparan sekotak rokok oleh Aiden karena berani memelototi gadis kesayangan sang bos besar. “Runa membutuhkan semua itu!” ujar Aiden membantah ucapan Felix. Runa menganggukkan kepalanya, tapi kemudian menunjuk Andrew sambil berkata, “Kecuali yang itu. Apa yang itu tidak bisa dijual saja?” Andrew ingin melotot lagi, namun tidak jadi karena kepalanya yang terkena lemparan kotak rokok masih terasa sakit. Jadi ia berharap masih akan mengingat hal ini nanti ketika Aiden sedang tidak bersama mereka agar dirinya bisa balas dendam pada Runa. “Apa kalian bahkan bisa bergerak di rumah ini? Jika memang ingin membelikan semua ini untuk Runa setidaknya belikan sebuah rumah untuknya sekalian!” ketus Felix‒yang ngomong-ngomong meski dirinya selalu membanggakan statusnya sebagai daddy-nya Runa namun urusan uang tetap akan ia limpahkan pada Aiden. “Ayo pergi!” ajak Aiden pada Runa, yang membuat gadis itu menghela napas panjang karena sudah hafal dengan sifat Aiden yang pasti akan langsung mengajaknya membeli rumah karena apa yang Felix katakan. “Aku tidak butuh rumah baru, Tuan. Aku sudah suka di sini,” kata Runa. “Aku mau mengerjakan PR sekarang, jadi kalian jangan menggangguku!” Ucapan Runa membuat Aiden langsung mematikan TV yang membuat Andrew mengerang protes padanya. “Nonton saja di rumahmu sendiri!” usir Aiden. “Aku tidak punya TV di rumahku!” “Kalau begitu beli.” “Diganti organisasi?” “Iya. Terserah!” Andrew langsung menyeringai lebar pada Felix yang kelihatan keberatan sekali dengan keputusan Aiden itu. “Kau beli meja belajar saja sudah menghabiskan banyak uang. Sekarang masih ingin beli TV lagi? Memangnya kau pikir uang itu tumbuh‒ Oi! Aku belum selesai!” Aiden tidak menunggu sampai Felix menyelesaikan ucapannya untuk langsung mengunci pintu apartemennya setelah mengeluarkan dua pengganggu agar Runa bisa fokus mengerjakan PR-nya. Namun saat kembali pada Runa, ia jadi menyesal karena telah mengusir Felix. Sebab kini gadis itu menyodorkan buku PR padanya sambil berkata, “Tuan, bisa membantuku mengerjakan PR matematika?” Aiden melihat buku tugas Runa sekilas. “Itu matematika? Kenapa tidak ada angkanya?” “Matematika kelas 12 memang seperti ini. Tuan bisa membantuku?” Aiden mengerutkan keningnya. Mengerjakan matematika yang banyak angkanya saja ia tidak paham apalagi yang lebih banyak huruf-hurufnya seperti ini. “Tanya papamu saja,” kata Aiden sambil berjalan keluar untuk melarikan diri dari PR yang Runa sodorkan padanya. “Dulu dia jadi kesayangan guru-guru karena pintar. Jadi tanyakan PR-mu padanya saja.” *** Aiden keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan tangannya yang basah pada kaos yang dipakainya. Tatapannya lalu tertuju pada Runa yang ketiduran di meja belajarnya. “Padahal aku membelikannya meja belajar karena dia selalu ketiduran saat belajar di atas tempat tidur. Namun mengapa sekarang malah tidur di meja belajar?” gumam Aiden saat melihat wajah Runa terlelap Runa yang sepertinya sudah tidur dengan sangat nyenyak. Dengan hati-hati, Aiden mengangkat tubuh Runa dan menggendongnya untuk memindahkannya ke atas tempat tidurnya. Gerakannya benar-benar penuh dengan kehati-hatian saat ia membaringkan tubuh Runa di atas tempat tidur karena tidak ingin mengusik tidur gadis itu apalagi sampai membuatnya terbangun. “Eungh...” Runa melenguh pelan sambil menggeliatkan tubuhnya sesaat setelah Aiden meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aiden membeku di tempatnya karena berpikir jika ia sudah membuat Runa terbangun, namun rupanya gadis itu hanya mengubah posisinya saja. Dan itu bahkan membuat Aiden membeku di tempatnya lebih lama. Kedua matanya menatap leher Runa yang terekspos jelas di depan matanya karena rambutnya yang tersingkap. Meski Aiden melarang Runa menguncir rambutnya tinggi-tinggi saat pergi sekolah karena khawatir dengan pikiran kotor laki-laki karena melihat lehernya, nyatanya Aiden adalah satu-satunya orang yang berpikir seperti itu. Ia hanya melihat leher Runa dan jantungnya sudah berdegup sangat kencang. Aiden tahu ia harusnya segera memalingkan wajahnya saat sadar jika hal tersebut bisa dengan mudah memancing hasratnya yang selama ini selalu ia tekan di hadapan Runa, namun ia justru membiarkan kedua matanya menyusuri tubuh kedua gadis yang sedang terlelap dengan nyenyaknya itu. Selama ini Aiden pikir ia hanya tertarik pada wanita dewasa dengan tubuh sekal yang menggoda sampai kemudian ia bertemu dengan Runa yang sanggup mempermainkan hasratnya meski hanya dengan tubuh mungilnya yang kurus dan jauh dari kata seksi. Ya, Aiden bukannya tidak pernah berhasrat pada Runa. Ia hanya selalu menahannya. Meyakinkan dirinya meski ia biasa meniduri wanita mana pun, namun Runa adalah seseorang yang harus ia jaga kesuciannya. Meski itu terasa sangat sulit karena semakin ia menekannya, hasratnya justru terasa semakin besar dan membuatnya merasa semakin penasaran dengan bagaimana rasanya memiliki gadis itu seutuhnya. Aiden bukan jenis pria yang akan menahan hasratnya pada wanita. Dengan uang dan statusnya, ia bisa dengan mudah meniduri wanita mana pun yang diinginkannya. Namun pada Runa, ia lebih memilih untuk menekan hasratnya meski ia bisa meniduri gadis itu kapan pun ia menginginkannya. Bahkan meski ia melakukannya sekarang, walaupun Runa melawan pun ia bisa dengan mudah menaklukkan gadis itu di bawah kuasanya. “Berengsek! Pikiran kotor itu terus saja menggangguku!” Namun seperti yang sudah-sudah, ia lebih memilih untuk pergi. Menekan hasratnya kuat-kuat agar Runa bisa terus hidup denga kepolosan dan kemurniannya yang berhasil membuat Aiden jatuh cinta padanya. *** “Oh, lama tidak melihatmu datang, Sayang. Kupikir kau sudah menemukan...” Madam pemilik rumah bordil itu memilih untuk menghentikan ucapannya saat melihat Aiden yang sebelumnya berjalan ke arahnya tiba-tiba menarik seorang wanita penghibur yang berjalan di dekatnya lalu mendorongnya ke dinding dan dengan kasar mulai menciumnya tanpa memberi wanita itu kesempatan untuk bernapas. “Sepertinya dia buru-buru sekali,” gumam Madam. “Siapkan kamar untuknya. Dia harus segera dilayani sebelum membuat kekacauan di sini.” “Tu-Tuan...” Wanita penghibur yang bernasib sial itu mencoba untuk menghentikan Aiden. Ia benar-benar kewalahan, namun Aiden terlalu bersemangat mencumbunya. Pria itu menciuminya dengan kasar dan berantakan seperti orang kehausan yang akhirnya menemukan air. “Aduh! Kenapa harus di sini, sih? Apa kau tidak bisa menyewa kamar?” Namun kegiatan panas Aiden harus terhenti saat seseorang menabraknya. Namun seperti tidak memiliki rasa takut, pria berumur itu masuh berani mengomeli Aiden yang sudah menatapnya dengan nyalang setelah menabrak dan mengganggu aktivitas pria itu. “Mau apa lagi kau ke sini? Pergilah! Kau mengganggu tamu-tamuku!” usir Madam. “Aku akan pergi setelah kau memberiku bir,” ucap pria itu. “Sebotol saja. Aku janji akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi jika kau memberiku sebotol bir sekarang.” “Kau selalu bicara begitu, tapi tidak pernah menepati janjimu dan terus datang lagi!” “Itu karena kau tidak pernah membiarkanku bertemu putriku! Kau pasti sudah mendapatkan banyak uang darinya, kan? Lalu mengapa untuk memberiku sebotol bir saja kau pelit sekali?” Madam mendengus kesal sambil melipat tangannya di depan d**a. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Aiden yang entah mengapa merasa tertarik dengan pembicaraan tersebut. “Dia papanya,” kata Madam. Yang kemudian membuat kedua mata Aiden berkilat marah saat mendengarnya menambahkan, “Gadis yang dijual seharga 5 botol bir dan kau bawa pergi itu. Orang ini papanya yang menjualnya ke tempat ini.” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN