Menyingkirkan Papa Runa

1494 Kata
“Madam, mengapa kau mengatakan hal itu padanya? Aiden bisa saja membunuhnya.” Madam terkekeh geli mendengar kekhawatiran dari salah satu anak buahnya. Setelah Papa Runa berhasil terusir dari tempat itu, Aiden justru ikut pergi untuk diam-diam mengikutinya meninggalkan wanita yang sebelumnya sudah ia cium habis-habisan. “Tidak apa-apa, itu malah bagus,” sahut Madam. “Aku akan berterima kasih sekali pada Aiden jika dia mau menyingkirkan preman tua itu secara cuma-cuma.” *** Ini benar-benar kawasan yang kumuh. Karena mengikuti Papa Runa, Aiden harus berjalan memasuki gang-gang sempit yang berbelok-belok, jalanan sepi yang gelap, dan menaiki anak tangga yang jumlahnya sangat banyak sebelum tiba di sebuah gedung tua yang merupakan rumah susun tempat Papa Runa tinggal. Di sepanjang perjalanan, Aiden mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak tahu mengapa, namun ia tidak bisa menghentikan rasa sakit dan marah yang memenuhi dadanya ketika membayangkan jika Runa harus melalui jalan seperti ini setiap harinya saat masih tinggal di tempat ini bersama papanya. Bukan hanya jaraknya yang jauh dan melelahkan, tempat ini juga kelihatan sangat menakutkan untuk gadis muda seperti Runa berjalan sendirian di malam hari. Beberapa titik jalan sangat gelap karena tidak ada lampu dan di beberapa tempat Aiden melihat gerombolan preman jalanan yang menatapnya dengan sengit ketika dirinya berjalan melewati mereka yang membuatnya ingin mencongkel mata mereka saat berpikir jika orang-orang ini juga menatap Runa dengan cara yang sama saat Runa melewati mereka. “Madam tua itu benar-benar sialan.” Papa Runa yang sampai di rumah susunnya yang berada di lantai 3 itu melepaskan sepatunya di depan pintu sambil menggerutu. “Padahal anakku juga bekerja di sana dan menghasilkan uang untuknya, tapi mengapa‒ HEI!” Papa Runa berseru keras, namun Aiden tidak mempedulikannya dan dengan menabrak keras bahu Papa Runa ia melewati pria itu begitu saja. Ia masuk ke dalam rumah tersebut tanpa melepas sepatunya dan berdiri menatap setiap sudut ruangannya dengan kedua mata memerah. Rumah ini bahkan jauh lebih sempit dari apartemennya. Berbagai macam barang yang memenuhinya membuatnya terasa semakin sempit dan pengap. Baju-baju dan bekas peralatan makan yang kotor berserakan di lantai bercampur dengan sampah-sampah dan bungkus makanan. Bahkan meski Aiden tinggal di kawasan pinggiran pun ia tidak pernah melihat sebuah rumah yang seberantakan dan semenjijikkan ini. Dan dulu Runa tinggal di sini. Bersama papanya yang sangat kejam dan selalu memukulinya setiap hari. Yang bagi Aiden terlihat jauh lebih menjijikkan dari rumah ini. “Oi!” Papa Runa mendorong bahu Aiden, membuat pria itu berbalik padanya. “Apa yang kau pikir sedang kau lakukan di rumahku?! Berani-beraninya kau menerobos masuk seperti ini! Apa kau tidak tahu siapa aku?!” Kemarahan Aiden berkumpul di dadanya menjadi api yang terasa seperti membakar hatinya dengan emosi yang tak tertahankan. Namun ia bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik hingga yang terlihat di wajahnya hanyalah ekspresi datar yang tampak dingin. “Aku datang untuk memberimu ini,” kata Aiden sambil menunjukkan sebotol bir yang sejak tadi ia bawa di tangan kirinya. Membuat kedua Papa Runa yang memang sedang sangat menginginkan bir jadi berbinar senang. “Wah, Madam itu repot-repot sekali sampai mengirimkan orang ke sini untuk mengantarkan bir,” kata Papa Runa sambil mengulurkan kedua tangannya. “Harusnya dia langsung memberikannya padaku saat‒” Prang! “Aaaargh!” Papa Runa menjerit keras saat Aiden yang tidak menunggu sampai dirinya selesai bicara langsung memukulkan botol bir tersebut ke kepalanya dengan kuat hingga botol tersebut pecah. “Kau...” Papa Runa memegangi kepalanya yang sudah bercucuran darah segar dengan tangan kirinya sementara wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan yang luar biasa. Namun itu tidak menghentikan Aiden untuk kembali mendekati Papa Runa dengan separuh bagian botol bir yang ujung-ujungnya terlihat sangat tajam tergenggam di tangan kirinya. Menatap Papa Runa dengan raut wajahnya yang masih sangat datar dan dingin sementara pria itu mundur dengan ekspresi ketakutan. “Kau siapa? Apa yang kau inginkan dariku?” Papa Runa bertanya dengan suara bergetar. Ia memang seorang preman jalanan, namun usianya yang sudah tidak lagi muda membuatnya merasa sangat takut berdiri di hadapan Aiden yang memegang pecahan botol bir yang sepertinya bisa pria itu tusukkan padanya kapan saja. “Kau memperkosa seorang gadis belia berusia 15 tahun dan membuatnya tinggal seumur hidupnya di dalam neraka karena harus menikahimu hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.” Aiden berkata dengan suara mendesis sambil tangan kanannya mendorong tubuh Papa Runa hingga tergantung di pagar pembatas rumah koridor rumah susun yang berada di lantai 3 itu. “Bagaimana kau bisa tahu?” Papa Runa bertanya sambil kedua tangannya berpegangan pada lengan kanan Aiden agar tubuhnya tidak terjatuh dari lantai 3 ini. “Siapa kau sebenarnya?” “Kau terus menyiksa putrimu yang tidak berdosa setiap hari dan menjualnya ke rumah bordil. Bahkan seekor binatang pun tidak akan melakukan hal sekejam itu, tapi kau yang lebih rendah dari binatang ini benar-benar tega pada putrimu sendiri.” “Itu bukan urusanmu, sialan! Cepat lepaskan aku!” Papa Runa menjerit pada Aiden karena sekarang ia tidak bisa merasakan kakinya menapak lantai lagi. “Aku tidak punya masalah denganmu! Lepaskan aku!” “Haruskah aku mencongkel matamu? Atau mengacak-acak wajahmu dengan pecahan botol ini? Katakan, apa yang harus kulakukan untuk menghukummu karena telah menjalani hidupmu sebagai manusia dengan cara yang lebih rendah dari binatang?” Aiden bertanya sambil menggoreskan ujung pecahan botol ke wajah Papa Runa. Membuat pria itu semakin menjerit-jerit saat darah segar mengalir dari luka yang berasal dari goresan pecahan botol yang sangat tajam tersebut. “Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Kedua bola mata Papa Runa bergerak liar. Memperhatikan tato-tato di wajah Aiden, di lehernya, dan tato organisasi yang bisa terlihat jelas di dadanya karena kancingnya yang terbuka membuat kemejanya tersingkap. “Kau siapa? Katakan siapa yang menyuruhmu melakukan ini padaku, sialan!” “Aku hanya ingin membunuhmu, dengan begitu semua penderitaan‒” “Jangan bicara buruk tentang papaku! Bagaimanapun juga dia tetap papaku. Dia yang membesarkanku sendirian setelah Mama meninggal.” Ucapan Aiden terhenti saat tiba-tiba apa yang pernah Runa katakan padanya kembali terngiang di telinganya. Terdengar begitu jelas seolah dibisikkan secara langsung di telinganya oleh gadis itu. Padahal papanya sangat kejam dan Aiden jadi sangat membencinya hanya dengan mendengar cerita Runa meski mereka belum pernah bertemu dengannya. Namun Runa yang selama 18 tahun terus menerima perlakuan buruk dari papanya akan selalu membela papanya kapan pun Aiden bicara buruk tentangnya. Bahkan meski Runa tahu jika semua yang telah papanya lakukan padanya adalah kejahatan yang sangat keji yang tidak pantas dilakukan oleh orang tua mana pun di dunia ini, gadis itu tetap saja tidak suka jika ada orang lain yang bicara buruk soal papanya. “Kau beruntung karena aku masih mengingat putrimu sekarang.” Aiden berkata dengan gigi-giginya yang saling menekan dengan kuat di dalam mulutnya. “Put-putriku? Kau mengenalnya? Kau tahu Runa?” tanya Papa Runa, berharap jika putri yang telah dijualnya itu bisa ia gunakan untuk menolongnya keluar dari situasi ini. “Tapi aku tidak bisa jadi sebaik putrimu dan aku tidak bisa memaafkanmu. Pergilah ke neraka, sialan! Atau jika tidak, jangan sampai aku melihat wajah memuakkanmu ini!” “Tunggu! A-aku! Tuan!” Aiden tidak mempedulikan apapun yang ingin Papa ucapkan padanya. Ia mendorong tubuh pria paruh baya itu, membuatnya terjun dari lantai 3 yang cukup tinggi tersebut dengan diiringi oleh suara teriakan yang kerasnya sebelum diakhiri dengan bunyi keras tubuhnya yang jatuh menghantam tanah. “Sialan!” Aiden membanting pecahan botol bir di tangannya dengan keras, membuatnya hancur berkeping-keping saat menghantam lantai. Pria itu lalu mengusap wajahnya yang memerah dengan kasar. Amarahnya bahkan tidak hilang meski ia telah melemparkan tubuh Papa Runa dari lantai 3. Rasanya ia tidak puas karena belum menyiksa pria itu dan membuatnya mati perlahan dalam penderitaan yang sangat menyakitkan, namun bayangan wajah polos Runa membuatnya tidak kuasa untuk melakukan hal tersebut. Aiden melangkahkan kakinya, kembali memasuki rumah Runa. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan kecil saat melihat sebuah tas sekolah yang sudah sangat usang dan jelek dan tua tergantung di dinding. Aiden menurunkan tas yang sudah berdebu itu dan membelainya dengan perlahan. Hatinya kembali terasa sakit saat membayangkan Runa harus memakai tas ini saat ke sekolah setelah dipukuli oleh papanya, berjalan melewati jalanan sepi yang berbahaya, dan masih harus menerima perlakukan tidak menyenangkan dari teman-teman sekolah yang memusuhinya karena latar belakang yang bahkan tidak pernah gadis itu harapkan namun telah Tuhan takdirkan menjadi nasibnya. Aiden tidak pernah menangis sebelumnya. Saat papanya meninggal di depan matanya atau saat musuhnya menusuk perutnya hingga membuatnya nyaris kehilangan nyawanya, Aiden tidak pernah menangis. Hati pria itu seperti sudah membeku hingga ia sendiri lupa kapan terakhir kali dirinya menangis setelah beranjak dewasa. Namun malam ini, air matanya menetes sangat banyak di atas tas sekolah lama milik Runa. Menangisi nasib malang gadisnya yang hanya selalu menampakkan keceriaan di hadapannya padahal hidup yang dijalaninya sekeras ini. “Aku akan lebih baik padamu. Aku akan memperlakukanmu lebih baik agar kau bisa hidup dengan baik, Runa. Kau harus hidup dengan bahagia. Kau tidak boleh menderita seperti ini lagi. Kau hanya boleh bahagia. Kau harus terus bahagia, anak baik.” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN