19. Marshal's side story

735 Kata
Hari ini : Marshal's side story Aku memandang keluar jendela, sudah beberapa hari setelah Nay pergi hidupku terasa sepi. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan. Apa aku benar-benar mencintai Nayyara? Perempuan manja dan sangat menggairahkan. Hah, membayangkannya saja bisa membuat milikku menegang. "Babe, kamu kenapa sih? Dari tadi aku ngomong kamu diem aja." Aku melirik kearah Nadia yang sudah berada di pangkuanku. Nadia cantik, sangat cantik. Bibirnya yang s*****l dan ukuran dadanya yang lebih besar dari milik Nay. Namun lagi-lagi itu semua sudah tidak menimbulkan efek apapun dalam tubuhku sejak ada Nayyara, hanya dia perempuan yang mampu membangkitkan milikku. "Kangen." Nadia merengek manja padaku, reaksi dari tubuhku biasa saja, tidak seperti saat bersama dengan Nayyara. s**t, lagi-lagi aku memikirkannya. "Nad, ini di kantor." Ucapku memperingati, sebenarnya aku sedang malas berurusan dengannya. Tubuhku terlalu lelah dan pikiranku bercabang kemana-mana. "Ck, apa bedanya? Aku kangen banget." Aku mendesah lelah, menghadapi Nadia membutuhkan tenaga ekstra. Dia adalah wanita dominan tidak seperti Nayyara yang selalu menuruti apa mauku. Double s**t, kenapa otak ini selalu memikirkannya! "Lebih baik kamu pulang, aku punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Ucapku. "Yaudah aku pulang, tapi minta uang. Aku butuh uang buat bayar sewa apartment." Tanpa menunggu lama aku segera mengambil ponselku untuk mentransfer uang kepada Nadia lewat mobile banking. Aku ingin dia segera pergi dari sini. "Sudah." "Makasi babe, i love you." Nadia ingin mencium bibirku, segera aku membuang muka ke arah lain sehingga bibirnya hanya mengenai pipiku. Dia berdecak kesal karena tindakanku tadi. "Kamu kenapa sih? Males aku lama-lama disini." Nadia langsung keluar dengan membanting pintu yang menimbulkan suara cukup keras. Mungkin itu akan menimpukan perhatian karyawan di kantorku, biar saja. Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi, mataku tertuju pada foto Nayyara dan Flo yang tertawa bahagia. Aku rindu melihat senyum dua perempuan itu. Dering telpon menyadarkanku. Hana is calling... "Hallo." "Kondisi Flo makin buruk, ditambah dia gak mau makan dan minum obat. Kamu itu gimana sih Shal? Anak sakit malah tetep kerja, harusnya kamu jagain Flo." Suara Hana di sebrang sana terdengar marah. "Tadi kata Nadia, dia dari jenguk Flo. Katanya Flo udah mau makan dan minum obatnya." Terdengar helaan nafas dari sebrang telpon. "Perempuan kayak gitu dipercaya, heran! Boro-boro dia ke sini, nih buah yang dia bawa aja dititipin sama bik Nah. Lagian kenapa sih Shal, kamu malah mencampakkan berlian seperti Nayyara hanya untuk batu kerikil seperti Nadia? b**o!" Makinya dalam telpon. "Cukup ya Han, aku gak mau bahas itu. Kamu pikir berada diposisi ini tidak sulit?" "Oke-oke, tapi awas aja kalau sampe nyesel di kemudian hari! Sukurin!!" "Hmm." "Yaudah deh, buruan kesini. Siapatau kalau kamu yang bujuk Flo dia mau makan." Ucapnya lagi. "30 menit lagi saya sampai." Sambungan terputus, aku segera menuju rumah sakit dimana gadis kecilku dirawat. Tanpa Nayyara semuanya benar-benar kacau.         ***     "Sayang, Flo ini daddy. Bangun yuk, makan ya setelah itu minum obat. Biar Flo cepet sembuh, emangnya enak apa lama-lama di rumah sakit, bau obat gak enak." Flo tetap menggeleng setelah beberapa kali aku membujuknya. "Flo mau ketemu sama mommy Nay kan? Tapi kalau Flo sakit begini, pasti mommy Nay gak mau ketemu sama kamu." Hana juga ikut membujuk Flo, dan akhirnya Flo membuka matanya. Memandangku dengan pandangan sayu. "Mau mommy Nay, daddy." Gumamnya. "Iya, tapi Flo makan dulu ya, biar bisa minum obat." Ketika Flo mengangguk, aku langsung menyuapinya dengan bubur yang sudah disediakan rumah sakit. Hanya beberapa suapan yang masuk, tapi tak mengapa. Setidaknya Flo bisa minum obat. "Hiks, Flo nakal ya daddy? Jadi mommy Nay gak mau jadi mommy nya Flo lagi, hiks." Hatiku terasa sangat sakit ketika melihat Flo menangis. Semua ini salahku, salahku yang masih terbayang-bayangi oleh masalalu. "Flo gak boleh mikir yang aneh-aneh, Flo anak baik. Nanti mommy Nay biar di jemput sama daddy nya Flo. Iya kan Shal?" Hana menatapku dengan tatapan mengintimidasi. Aku mengangguk samar. "Nanti kita jemput mommy bareng-bareng, makanya Flo cepet sembuh ya, biar bisa ketemu sama mommy." Ucapku pada Flo, dia menatapku penuh harap. "Daddy janji?" "Iya, udah sekarang Flo istirahat." Flo mengangguk, kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya. Tubuh mungil Flo terlihat sangat pucat, tawanya juga seketika hilang ketika Nayyara pergi. Maafkan daddy ya Flo. "Aku mau ngomong sama kamu Shal, ayo ikut!" "Mau ngomong apa?" "Udah sih ikut aja, aku mau ngomong sama kamu di tempat lain." Tanpa menunggu jawabanku Hana berjalan keluar. "Bik tolong jagain Flo ya, saya mau bicara sama Hana dulu." "Baik tuan." Bik Nah kemudian duduk di sebelah Flo. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN