18. Keluarga

732 Kata
Hari ini : vote skuy! "Abang." Aku langsung menghambur dalam pelukan bang Dito ketika sudah dibukakan pintu. Aku memilih datang ke rumah bang Dito, jika aku ke Surabaya aku takut mama dan papa akan sedih melihatku keadaanku yang seperti ini. "Kamu kenapa hei? Kok nangis, itu bawa koper segala, mau nginep? Marshal sama Flo mana?" Aku semakin menangis saat bang Dito menyebutkan nama itu. "Dia jahat bang, dia bohongin aku." Aku kembali menangis, mereka jahat tapi kenapa ku sangat mencintai mereka. Rutukku dalam hati. "Ssttt, kita masuk dulu yuk. Kamu ceritain semuanya di dalam." Bang Dito membawaku duduk di sofa. "Kamu kenapa?" "Dia jahat bang, hiks." "Maksud kamu Marshal?" aku mengangguk. "Bilang sama abang, dia main tangan sama kamu? Mana yang udah pernah dia pukul, biar abang yang balas semuanya!" Aku menggeleng, "Dia gak pernah main tangan sama Nay, tapi dia udah mempermainkan hati aku bang." "Dia menikahi Nay karena dia udah janji sama adiknya, dia udah janji sama adik kembarnya yang sudah meninggal. Dan Flo, dia adalah anak kandung mas Marshal, semua yang dikatakan dia waktu itu bohong bang. Dia sudah pernah menikah, bahkan sampai sekarang dia masih mencintai mantan istrinya." "Apa kamu bilang Nay!?" Aku dan bang Dito sama-sama melihat ke arah pintu, di sana sudah ada kedua orangtuaku, Rey, kak Eva dan Al. "Bilang sama mama, kenapa kamu datang kesini nangis-nangis sama abang kamu!" Aku semakin menunduk, tidak berani menatap raut marah pada wajah mama. "Kenapa diam, udah percaya sekarang? Udah tau rasanya dikecewakan, iya!?" "Mah." Aku langsung memeluk mama ketika beliau sudah ada di sampingku, "Maafin Nay mah, harusnya Nay percaya sama mama." "Bilang sama mama, yang tadi kamu omongin ke abang kamu itu bohong kan? Waktu itu mama hanya menduga sayang, mama gak tau kalau semua dugaan mama adalah benar." "Dia jahat mah, Flo anak kandung mas Marshal dan mantan istrinya, hiks. Bahkan dia masih sangat mencintai mantan istrinya, lalu kenapa dia menikahi aku? Apa aku terlalu menyedihkan dimatanya, sehingga dia menikahiku?" "Sstt, semua anak mama dan papa itu berharga. Kalian semua berhak untuk dicintai dan mendapatkan kasih sayang, Nay gak boleh ngomong begitu." Aku melihat ke arah papa, beliau juga duduk di sampingku, di tempat yang tadinya di duduki oleh bang Dito. "Papah." Aku merentangkan tangan ke arahnya. "Maafkan papa ya." Papa memelukku dengan erat. "Papa dan mama gak salah, Nay yang salah." "Andai saja waktu itu papa mengenal Marshal lebih jauh lagi." "Papa gak salah, Nay yang salah. Maafin Nay, maaf." Setelah itu aku mendengar jeritan mama memanggil namaku, dan semuanya tiba-tiba gelap. *** "Sayang, hei kamu udah sadar?" ucap mama. "Mamah." "Iya mama di sini, semuanya ada di sini jagain Nay." Aku melihat sekeliling, dan benar, semua keluargaku ada disini, kecuali dia, laki-laki yang sudah sangat aku cintai tapi lagi-lagi cinta yang aku berikan kembali menerima penghianatan. Aku kembali menangis mengingat kejadian itu, rsanya sesak sekali. "Sstt, jangan nangis lagi." Bang Dito, mencium keningku. "Abang gak suka liat adik abang sedih. Dulu kamupaling cerewet di rumah, masak udah gede gini jadi cengeng." "Rey juga gak suka liat kakak Rey yang paling cantik sedih." Rey juga menciumku. "Nanti biar aku yang kasih pelajaran sama si b*****t itu!" Semua tergelak mendengar ucapan Rey, si kecil yang manis ternyata bisa berubah menjadi laki-laki remaja yang dingin seperti ini. "Mbak juga sayang sama Nay." Seperti yang lain, mbak Eva juga menciumku, kemudian disusul dengan kecupan basah yang diberikan oleh si menggemaskan Al. "Semuanya sayang sama Nay, kalau Nay sedih, kita semua juga ikut sedih." Ucap Mama. Aku masih memperhatikan Al yang kini berada di pangkuanku, saat ini Al tumbuh di dampingi oleh kedua orangtua yang sangat menyayanginya, bang Dito dan mbak Eva. Aku juga tumbuh bersama keluarga yang utuh dan harmonis, mereka sangat menyanyangiku. Lalu, bagaimana dengan nasib anak yang ada dalam kandunganku? Apa mas Marshal bisa mencintai anak yang kukandung, sedangkan dia saja tidak mencintaiku. "Gimana nasib anak Nay nanti." Gumamku. "Nay? Kamu hamil?" Tanya mama, dan aku hanya mengangguk lemah. Rasanya pusing sekali harus menerima kenyataan ini. "Ya Tuhan, anak gadis mama sebentar lagi akan jadi ibu." Mama menatapku dengan penuh haru, atau kasihan? "Kita semua akan jaga Nay dan calon anak kamu. Nay tenang aja kita semua akan menjadi bodyguard kamu, Iya kan?" ucap papa dan langsung mendapat anggukan dari yang lainnya. Aku sangat terharu mendengarnya. "Terimakasih, Nay sayang kalian semua." Kemudian mereka semua kompak memelukku, terimakasih Tuhan, setidaknya ada mereka yang mencintaiku tanpa batas.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN