Hari ini :
yuhuu!! Dah update lagi, vote skuy!!
Sudah satu bulan sejak hari itu, perempuan itu tidak menampakkan dirinya lagi. Hal itu membuatku merasa tenang. Dan lebih membahagiakannya lagi adalah bahwa ada nyawa baru yang hidup di dalam rahimku. Aku tersenyum membayangkan bahwa beberapa bulan lagi akan ada suara tangis bayi yang menghiasi hari-hariku.
Aku menatap foto usg yang aku dapatkan tadi dari dokter, rencananya hari ini aku akan memberi kejutan untuk Marshal dengan mengajaknya makan siang.
Kali ini aku sudah sampai di gedung kantor Marshal, sesaat langkahku terhenti saat mendengar Marshal sedang berbicara dengan seorang perempuan di dalam, Aku sedikit mengintip dari celah pintu, perempuan itu. Ada urusan apa dia menemui Marshal?
Aku terus mendengarkan dengan seksama apa yang sedang mereka bicarakan.
"Aku gak mau tau ya, kamu pilih istri kamu atau Flo! Pilih salah satu mas." Ucap perempuan itu, lagi-lagi dia mengancam dengan nama Flo. Kenapa anak sekecil Flo harus disangkut pautkan dengan masalah orang dewasa.
"Pilihan macam apa itu Nad!"
"Ya terserah kamu, kamu harus tetap memilih salah satu diantara mereka! Kamu pikir hidup aku bahagia jauh dari kalian? Gak mas! Hidup aku sangat menderita, apalagi setelah mengetahui kabar pernikahan kamu waktu itu, hidup aku hancur mas."
"Nad kamu tau alasan kenapa aku melakukan itu semua." Bela Marshal.
"Omong kosong!"
"Kamu ada di sana waktu itu."
Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?
"Gini aja, aku saranin ke kamu untuk menceraikan Nayyara, tingglkan dia!" Ucap perempuan itu dengan lantang, aku benci gaya sok berkuasanya. Dia pikir dia siapa bisa meminta Marshal menceraikan aku begitu saja.
"Kamu sayang kan sama Flo, dia anak kamu mas anak kandung kamu, anak kita!" Tubuhku lemas seketika saat mendengar apa yang di katakan perempuan itu. Apa kayanya tadi, anak kita? Anak kandung perempuan itu dan Marshal?
"Dan setelah kamu bercerai dengan Nayyara, aku bisa menikah lagi dengan kamu. Kita bisa hidup bahagia seperti dulu." Tubuhku limbung mendengar ucapannya, apa sebelumnya Marshal pernah menikah dengan perempuan itu? Marshal sudah membohongi aku, dia menghianati pernikahan kami.
"Tidak semudah itu Nadia! Aku sudah berjanji pada adik kembarku, aku akan menjaga cinta pertamanya. Dan satu-satunya jalan adalah dengan menikahi Nayyara." Apa maksudnya? Adik kembar? Jadi laki-laki dimasa kecilku bukanlah Marshal suamiku, lalu siapa.
"Hahaha! Janji itu lagi, mas dia udah meninggal! Kamu gak perlu ambil pusing dengan janji kamu ke dia! Jangan hanya gara-gara janji s****n itu kamu mengorbankan hidup kamu mas, kamu terpaksa menikahi Nayyara hanya karna janji itu. Kamu gak bahagia! Jadi, ceraikan dia demi aku dan Flo." Aku benar-benar kecewa dengan apa yang sudah aku dengar tadi, kenapa Marshal bisa setega itu membohongi aku.
"Gak akan Nad."
"Kamu udah gak cinta lagi sama aku? Mas, dulu kita bercerai karena ibu kamu membenciku, setelah ibu kamu meninggal sekarang malah Marshel yang mengusik cinta kita, dia udah meninggal mas, udah lah!" Marshel? Apa laki-laki di masa kecilku bukan Marshal, tapi Marshel? Ya Tuhan aku tidak dapat mengingat semuanya.
"Aku mencintai kamu Nad—" Cukup, aku sudah tidak kuat mendengar pembicaraan mereka lebih jauh lagi. Hatiku sudah cukup hancur mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh Marshal.
"Bu Nayyara kok masih disini?" Aku tidak menghiraukan ucapan Dela, aku segera berlari keluar dari kantor ini.
"Bilang sama bos kamu, saya benci dia!" Ucapku dengan suara yang kubuat sedikit kerasa agar Marshal mendengarnya.
Aku segera berlari keluar kantor saat Marshal membuka pintunya.
"Nay, Nayyara tunggu!" Aku lebih dulu masuk kedalam taxi ketika Marshal mengejarku keluar.
"Nayyara!"
***
"Mommy, mommy mau kemana?" Aku tidak menghiraukan Flo yang merengek, semakin aku melihat Flo semakin terasa sakit hatiku. Kenapa Marshal harus menyembunyikan semuanya dariku, apa hidupku sangat menyedihkan sehingga dia dengan suka rela membantuku.
"Mommy."
Aku menatap Flo tajam, "Mulai sekarang, jangan panggil saya mommy, saya bukan ibu kamu!" Flo semakin menangis mendengar ucapanku, tubuh mungilnya berusaha memelukku, namun segera ku tepis.
"Jangan sentuh saya!" teriakku.
Saat itu juga Marshal sampai di rumah, dia menatapku tajam namun aku tidak memperdulikannya. Siapa dia berani mempermainkan hatiku?
"Nay!"
"Bilang sama anak kamu, aku bukan ibunya lagi!" Aku kembali mengemasi pakaikanku ke dalam koper, tidak menghiraukan Marshal yang menatapku.
"Nay, kamu harus denger penjelasan mas dulu! Kamu mau kemana?" Marshal menggenggam tanganku dengan erat.
"Kebohongan apa lagi yang mau kamu buat, hah?"
"Aku akan menjelaskan semuanya Nay."
"Denger, aku paling benci dibohongi! Dan aku benci banget bisa jatuh cinta sedalam ini sama kamu yang jelas-jelas menikahi aku hanya karena janji konyol itu! Dan bodohnya lagi aku gak sadar kalau selama ini kamu hanya melampiaskan nafsu kamu , kamu melakukan semua itu bukan karena cinta!"
"Nay."
"Kenapa kamu lakuin itu kalau kamu masih cinta sama mantan istri kamu!" Aku segera menarik koperku keluar, aku butuh bang Dito.
"Nay dengarkan penjelasanku dulu. Nay kamu kemana, Nay."
"Bukan urusan kamu!"
"Mommy Nay."
"Nay, apa hati kamu tidak tersentuh sedikitpun mendengar tangisan Flo saat memanggilmu?" Aku menghentikan langkahku di depan pintu, melihat ke arah Flo yang sudah berada dalam gendongan Marshal, hidung dan matanya sudah memerah gara-gara menangis.
"Mommy." Flo merentangkan tangannya ke arahku.
"Aku benci kalian!"
"Mommy, hiks." Tangisan Flo semakin menjadi ketika aku sudah memasuki mobil.
Aku melihat ke arah kaca, saat itu juga Marshal menatap ke arah mobil yang aku tumpangi dengan tatapan sendu.
Aku mencintai mereka, sangat. Tapi saat ini rsa kecewa dan sakit hati lebih terasa menyeruak di dalam d**a.
Aku membelai perutku yang masih rata, "Maafkan mommy sayang."