Hari ini :
Vote skuy!
Hari ini Flo sekolah seperti biasa, tanpa di tunggui olehku. Namun aku harus memastika untuk menjemput Flo lebih awal, agar hal kemarin tidak terulang kembali. Semalam aku sempat membicarakan hal ini bersama mas Marshal, namun sepertinya di sudah terlalu lelah sehingga saat aku sudah selesai bicara dia tertidur pulas dipangkuanku. Enatah dia mendengarkan perkataanku atau tidak.
"Nonya, ada tamu di depan. Katanya mau bertemu dengan nonya."
"Iya bi, nanti saya ke depan." Siapa yang bertamu sepagi ini, lagi pula aku belum punya banyak kenalan di Bali. Aku sedikit mengingat apakah aku kenal atau pernah bertemu dengan perempuan di depanku.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Perempuan di depanku kini tengah memandangiku dari atas hingga bawah, tatapannya seperti meremehkan. Hello, siapa dia berani menatap remeh ke arahku? Tidak sopan!
"Ini istrinya Marshal? Gak ada bagusnya sama sekali!" Saat itu juga rasanya aku ingin menjambak rambut pirangnya.
"Maaf ya mbak, sebenarnya ada perlu apa anda datang kemari? Bahkan saya sama sekali tidak kenal dengan anda." Jawabku setenang mungkin, walau sebenarnya emosi sudah menguasaiku.
"Jangan terlalu berharap, pasti sebentar lagi Marshal akan mencampakan kamu seperti dia mencampakan saya dulu!" Aku memutar mataku malas. Pagi-pagi ada aja orang yang uda halu di rumah orang.
"Kita berbeda nasib. Dan tolong tinggalkan rumah saya secepatnya, atau perlu saya penggilkan satpam? Saya tidak biasa menerima tamu sepagi ini." Ucapku dengan tenang namun aku berusaha mengintimidasi lawan di depanku dengan mataku. Jangan pernah remehkan Nayyara!
"Jangan sombong kamu! Saya akan mengambil semua yang seharusnya menjadi milik saya, tunggu saja tanggal mainnya!"
"Oh ya? Apa yag akan anda lakukan?"
"Mengambil semua kebahagiaan yang kamu rasakan saat ini! Ini semua bukan milik kamu, semua yang bersangkutan dengan Marshal adalah milik saya, termasuk Flo!"
"Lebih baik kamu bangun dari tidurmu, dan segeralah bercuci muka agar pikiran kamu lebih segar."
"Terserah! Tapi kamu harus tau jika saya tidak pernah main-main dengan apa yang saya ucapkan!"
"Saya juga tidak main-main untuk memanggil satpam jika anda tidak segera pergi dari rumah saya." Jawabku tenang.
"Heran, kenapa mau-mau aja di minta nikahin perempuan ingusan seperti dia." Dia melirik sinis ke arahku, kemudian perempuan itu langsung pergi, tidak punya sopan santun!
Kejadian ini membuatku kembali berpikir, sebenarnya siapa dia? Kenapa dia sangat ngotot ingin merebut Marshal dan Flo dariku? Apa dia juga perempuan yang sama dengan perempuan yang menemui Flo di sekolah? Kepalaku terasa sangat pusih hanya memikirkan hal ini saja.
***
"Mas."
"Hem." Aku mendengus pelan ketika melihat respon Marshal, dia tetap sibuk dengan laptop di depannya tanpa melihatku sebentar saja. Sepenting apa sih pekerjaannya itu dibandingkan aku?
"Mas."
"Apa sayang?" Tuh kan, dia jawab juga gak pernah nengok ke arahku. Matanya hanya tertuju pada layar laptop yang menyajikan meberapa grafik dan tulisan-tulisan kecil lainnya. Membosankan sekali hidup laki-laki di sebelahku ini.
"Kamu dari tadi aku panggil nyautnya cuma ham hem ham hem, aku mau bicara sama kamu, serius!" Aku memegang kepala Marshal agar melihat ke arahku.
"Kamu ngomong aja, nanti mas dengerin." Jawabnya. Kemudian tatapannya kembali ke layar laptop. Sabar Nay, sabar!
"Tutup dulu laptopnya!" Jawabku dengan suara yang kubuat sedikit manja, kemudian ku hadiahi ciuman manis di bibir penuh Marshal. Tanpa menjawab, Marshal langsung mematika laptopnya dan memindahkan beberapa berkas di meja.
Bukan mempersilahkan aku untuk bicara dia malah membalas ciumanku lebih cepat, lidahnya dengan mudah membelit lidahku. Sesekali dia menggigit serta mengulum bibirku lembut, seakan bibirku ini adalah permen baginya.
Aku mendorong dadanya pelan untuk melepaskan ciumannya, nafas kami sama-sama terengah. Marshal berdecak sebal karena ciuamnya terpaksa aku hentikan, ada hal yang lebih penting yang harus segera aku selesaikan.
"Aku mau bicara mas."
"Ya udah oke, sekarang mau bicara apa?" Marshal duduk di sebahku, membawaku ke dalam hangat pelukannya. Sesekali tangannya yang nakal segaja menyenggol dadaku yang tidak terbungkus b*a.
"Tangannya mas."
"Iya-iya maaf." Ucapnya, kemudian beralih menggenggam tanganku erat, sebelah tangannya membelai rambutku penuh kasih sayang.
"Tadi ada perempuan datang kerumah." Aku bisa merasakan tubuh Marshal menegang setelah aku berbicara.
"Dia bilang, mas akan mencampakan aku seperti mas mencampakan dia dulu."
"Kamu jangan percaya apapun yang dikatakan perempuan itu!" Marshal menegakkan tubuhnya, dia berdiri dari ranjang dan melangkahkan kakinya kearah balkon kamar. Aku mengikuti langkahnya, kemudian memeluk tubuhnya dari belakang.
"Mas gak mau bicara yang lain? Pembelaan mungkin?" Tanyaku pelan.
"Mas gak menyembuyikan sesuatu dari aku kan?" Aku semakin memeluknya erat, "Kamu perlu tau mas, aku paling benci dibohongi. Saat ini aku lebih percaya kamu, karena kamu suami aku. Tapi, kalau suatu saat semuanya berbeda, jangan salahin siapapun."
"Udah malem banget, kita tidur yuk. Gak baik kena angin malam lama-lama, inget udah tua." Aku meninggalkan Marshal yang masih diam dan memilih tidur lebih dulu.
"Aku takut, jika yang dikatakan perempuan itu adalah benar mas. Aku takut kamu akan meninggalkan aku."
Aku mendengar derap langkah kaki mendekati ranjang, Marshal membelai pipiku dengan lembut. Sayup-sayup aku mendengarnya mengucapkan kata maaf, kemudian mendaratkan ciuamnnya di keningku cukup lama.
Sesaat setelahnya, dia ikut berbaring di sebalahku dan memelukku erat, aku merapatkan tubuhku kearahnya, mencari kenyamanan di dalam tubuh hangat suamiku.