Hari ini :
Warning! 18+
"Sayang." Marshal berdiri di belakangku, nafasnya terdengar memburu.
"Kamu cantik banget." Dia mengecup belakang telingaku, dia semakin merapatkan tubuh kami. "Kunci pintunya dulu mas."
"Udah mas kunci." Kemudian Marshal melumat bibirku tanpa henti, tangannya membuka ikatan gaun tidur yang ku pakai dan mulai menjelajah setiap jengkat tubuhku.
Lidah kami saling membelit, aku selalu terbuai den lemah akan setiap tindakan yang Marshal berikan.
"I love you." Marshal tak hentinya bergerak dengan liar di atas tubuhku, aku hanya bisa pasrah menerima setiap kenikmatan yang dia berikan. Mengerang nikmat saat dia semakin menembus ke dalam.
" Ya, I love you more." Ucapku di sela-sela ciumannya. Otakku benar-benar sudah dikuasai oleh nafsu, yang aku rasakan saat ini adalah aku ingin Marshal bergerak lebih cepat dan kami akan mencapai kenikmatan bersama.
"Aku cinta kamu." Marshal berulang kali membisikan kalimat cinta kepadaku diirngi pergerakan tubuhnya yang semakin cepat.
"Marshalll." Aku menjeritkan namanya yang entah sudah keberapa kali, setelah itu Marshal ambruk di atas tubuhku, dan nafas kami sama-sama terengah. Kami seperti berlomba untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Terimakasih." Marshal mencium keningku lembut. Kemudian memelukku dari samping, lengannya dijadikan bantal untukku. Aku suka posisi ini, nyaman. Aku semakin merapatkan tubuh ke arahnya dan mulai memejamkan mata.
***
"Flo yakin hari ini gak mau ditemenin mommy ke sekolah?" tanyaku yang dijawab anggukan oleh Flo. Sontak hal itu membuat wajah ku murung.
"Mommy kesepian dong dirumah."
"Don't worry mommy, Flo akan pulang jam 10 pagi tiap hari." Jawaban itu keluar dari mulut Flo.
"Iya, Flo kan gak lama sekolahnya. Kalau kamu merasa sepi kamu bisa jalan-jalan dulu sebelum nanti jemput Flo ke sekolah."
"Kalau aja, aku udah hamil ya mas?" Ada kesedihan diwajahku, mengingat kami sudah 3 bulan menikah namun belum ada tanda-tanda yang muncul. Bahkan hari ini aku sedang datang bulan.
"Sabar, kita banyakin usahanya ya sayang?" Aku mendengus mendengar ucapannya, selalu seperti itu jawaban yang dikeluarkan oleh Marshal.
"Jangan cuma usaha, banyakin doa juga!"
"Setiap saat mas juga berdo'a. Udah kamu jangan terlalu mikirin. Mas berangkat dulu ya, Flo hari ini kamu daddy yang anter." Setelahnya Marshal dan Flo menciumku bergantian.
"Bye mommy." Flo melambaikan tangan mungilnya ke arahku.
Setelah Marshal dan Flo pergi, rumah ini sangat terasa sepi. Aku memilih untuk ke taman belakang, beberapa hari yang lalu aku sempat membeli bibit bunga untuk ku tanam.
***
"Mommy." Baru saja aku turun dari mobil, Flo langsung menghambur dalam pelukanku dengan wajah merah sehabis menangis.
"Untung saja ibu segera datang, Flo tadi langsung nangis saat ada perempuan yang mendekatinya." Jelas salah seorang guru di sekolah Flo.
"Terimakasih ya bu sudah menemani Flo sampai saya dating. Kalau boleh tau, siapa perempuan yang ibu maksud ya?"
"Saya sendiri kurang tau bu, baru pertama kali melihatnya. Usianya mungkin hampir 30an, rambutnya ikal dan pirang." Aku mengangguk mendengar jawaban dari guru Flo.
"Yasudah bu, kalau begitu saya dan Flo permisi." Ucapku dengan sopan yang di balas anggukan dari guru Flo tadi.
Aku membawa flo masuk ke dalam mobil, sejak tadi dia terus memeluk leherku dengan erat seolah takut jika nanti aku akan pergi. Sebenarnya siapa perempuan yang di maksud guru Flo, kenapa Flo sampai menangis seperti ini?
"Mau pulang, hiks."
"Iya sayang, sebentar lagi kita sampai rumah."
"Flo takut, mommy."
"Jangan takut, kan sekarang udah ada mommy." Flo mengangguk pelan.
Begitu sampai di rumah, aku langsung membawa Flo ke kamar. Mengganti bajunya dan melepas ikat rambut Flo yang mulai berantakan.
"Kenapa tadi Flo nangis, hem?"
Tidak ada respon dari Flo, dia masih diam. Matanya melihat ke arahku sekilas, kemudian berpaling ke arah lain.
"Yaudah, kalau Flo belum mau cerita sama mommy gak apa. Tapi mommy sedih, mommy kan mau denger cerita Flo, kayak orang tua lainnya, mommy juga siap mendengar semua cerita anak mommy." Aku mengusap rambutnya, Flo bersandar di sebelahku, tangan mungilnya memeluk erat perutku.
"Mommy."
"Iya sayang?" Aku duduk di pinggir ranjang, sebelah Flo duduk.
"Tadi waktu Flo pulang sekolah ada tante-tante, dia ngajak Flo pergi. Flo gak boleh ikut sama daddy, katanya Flo harus ikut dia. Tante itu juga bilang kalau dia mama Flo, dia bohong kan mommy?"
Flo menatapku dengan mata sembabnya. Aku bingung harus menjawab apa, Marshal bilang jika ibu kandung Flo sudah meninggal, lalu siapa perempuan yang datang menemui Flo?
"Mommy?"
"Ya."
"Dia bohong kan?" Tanya Flo sekali lagi, dan aku hanya mengangguh samar. Aku sendiri juga bingung dengan situasi ini, siapa yang harus aku percaya, Marshal atau perempuan itu?
"Flo gak akan pergi sama tante tadi kan? Daddy sama mommy akan jaga Flo? Flo gak mau pisah sama daddy, Flo sayang Daddy, sayang mommy Nay juga." Flo langsung menangis dengan keras setelahnya, dia semakin memelukku dengan erat.
Aku mengusap rambut Flo dengan pelan, dia tampak menangis tersedu-sedu membuatku tak tega melihatnya.
"Daddy gak akan membiarkan siapapun bawa Flo pergi, mommy juga gitu. Flo jangan takut ya?"
"Flo sayang daddy dan mommy Nay."
"Mommy juga sayang sama Flo."
Setelah Flo sedikit tenang aku membawanya ke dapur, "Flo mau dimasakin apa sama mommy?"
"Sop."
"Mau sop?" Flo mengangguk mantap.
"Oke deh, tunggu 15 menit lagi dan sopnya akan matang."
Aku harus membicarakan kejadian tadi dengan mas Marshal. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada sesuatu kobohongan yang dia sembunyikan?