14. Kantor Marshal

977 Kata
Hari ini :     kasih emoticon cobaaa         Setelah satu minggu kami berada di Bali, aktifitas kembali seperti seharusnya. Marshal yang sibuk di kantor dan Flo yang sudah mulai masuk sekolah. "Hari ini mommy jadi nemenin Flo ke sekolah kan?" aku metelakkan segelas s**u di samping piring makan Flo, "Jadi dong, ini hari pertama Flo ke sekolah. Mommy mau nemenin Flo sampai pulang nanti." "Yahh, daddy jadi iri nih sama Flo." Ucap Marshal dengan ekspresi cemberut yang dibuat-buat. "Kasihan daddy. Mommy nanti setelah Flo sekolah kita ke kantor daddy ya?" ucap Flo dengan polosnya, sedangkan Marshal tersenyum dengan menyebalkan di ujung meja. "Kan daddy usah gede, jadi gak perlu ditungguin kalau kerja sayang." "Sekali ini aja sayang, please." Ucap Marshal dengan kedua tangan menangkup di depan d**a tanda memohon. "Please mommy." Kali ini giliran Flo yang mengikuti gaya Marshal. Aku menghela nafas pelan sebelum akhirnya mengangguk, membuat senyum terberit di wajah keduanya. "Yeay!" seru Flo dengan gembira, kemudian kami sama-sama menikmati sarapan dengan tenang.         ***       "Seru kan tadi sekolahnya? Mommy liat tadi kamu punya banyak teman baru." Kali ini aku dan Flo sudah menuju kantor mas Marshal di antar oleh supir. Mas Marshal melarangku menyetir sendiri dengan alasan takut terjadi sesuatu padaku. "Seru banget mom, tadi Flo main sama Reya. Tapi Flo sebel sama Daren, dia deket-deket sama Flo terus, gak suka." Flo bercerita dengan manja padaku. Jadi anak laki-laki tadi namanya Daren. Walaupun Flo bukan anak kandung mas Marshal tapi entah kenapa aku merasa jika keduanya memiliki banyak kesamaan, gaya bicaranya, matanya, namun segera kutepis semua itu. Ada banyak orang yang memiliki kesamaan bahkan mereka tidak memiliki ikatan darah sedikitpun. "Gak papa dong, itu tandanya Daren juga mau temenan sma Flo. Dia gak jahatin Flo kan?" Flo menggeleng, "Tapi Flo gak suka, tadi Daren bilang sama temen-temen Flo yang laki-laki, katanya cuma Daren yang boleh dekat Flo." "Kok gitu, tapi Flo tetap mau berteman sama semua kan?" Flo mengangguk dengan semangat. "Mommy, Flo kangen Revan." Ucapnya sendu. "Nanti kita telpon Revan ya?" Sudah beberapa hari ini Flo memang selalu menanyakan Revan, mungkin Flo merasa kehilangan dia karena sejak kecil mereka sudah tumbuh bersama. "Sudah sampai kantor tuan, nyonya." Aku mengangguk, kemudian membawa Flo turun dari mobil. "Bapak pulang aja, nanti saya sama Flo pulang bareng mas Marshal." Setelah mengucapkan itu, aku menggandeng tangan mungil Flo ke dalam. Banyak pasang mata yang menatap ke arahku dan Flo. "Permisi mbak." "Yaa, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang resepsionis dengan nada ramah yang dibuat-buat. Dandanannya terkesan berlebihan dan menggoda. Dia mau jualan? "Ruangan mas, em maksud saya pak Marshal, di sebelah mana ya?" "Ibuk ini siapa ya? sudah buat janji sebelumnya?" tanyanya dengan sedikit sewot. "Saya sudah ada janji sebelumnya mbak." "Memangnya mbak ini siapa sih? Kayaknya mbak bukan klient penting, udah mendingan mbak pulang aja. Pak Marshal itu sibuk, gak bisa diganggu." Suaranya kali ini lebih keras, membuat orang yang berlalu lalang menatap ke arah kami. Aku menghembuskan nafas pelan. "Kan tadi saya sudah bilang, saya sudah ada janji sama pak Marshal. Coba mbak telpon ruangan pak Marshal." Resepsionis tadi tidak menjawab, namun kulihat dia akan menelpon seseorang. "Gimana?" tanyaku setelah dia meletakkan gagang telpon. "Kata sekretaris pak Marshal, hari ini jadwal pak Marshal tidak ada kepentingan dengan tamu luar. Mbak bisa pergi, atau mau saya panggilkan satpam?" Aku mengambil ponsel dalam tasku, mencoba menghubung mas Marshal. "Satpam, satpam!!" "Mbak, saya lagi coba menghubung mas Marshal, bisa sabar sebentar? Saya bisa kok keluar sendiri nanti!" setelah mengucapkan itu, sambungan telpon terhubung. "..." "Aku sama Flo udah di lobby." "..." "Gimana mau masuk mas, resepsionis sama sekretaris kamu bilang hari ini kamu gak mau menerima tamu dari luar." "..." "Mas kesini deh, aww pak jangan kasar tarik-tarik dong." Flo yang dari tadi diam, mulai menangis melihat keributan ini. "Ssttt, sayang jangan nangis, sebentar lagi daddy kesini." Aku membawa Flo kedalam gendonganku. "Silahkan keluar bu, ayo." Salah seorang satpan mulai menarik tanganku lagi. "Jangan kasar ya pak!" Aku menepis tangannya dengan kasar, setelah itu muncullah mas Marshal diantara kerumunan yang melihat keributan kami. "Daddy." Flo langsung merentangkan tangannya ke arah Marshal, wajahnya belinang air mata. "Ada apa ini?" "Maaf pak, ibu ini maksa mau ketemu sama bapak tadi." Ucap resepsionis tadi. "Kenapa tidak di izin kan masuk?" "Tadi saya sudah menghubungi bu Dela, katanya hari ini bapak tidak menerima tamu, makanya saya.." "Pak maaf tadi saya.." Marshal mengangkat tangannya, mengisyaratkan perempuan berpenampilan mencolok itu untuk diam, mungkin dia sekretaris mas Marshal? Menor!! "Perkenalkan mereka adalah anak dan istri saya, namanya Nayyara dan anak saya Flo. Saya harap kalian bisa menghormati mereka seperti kalian menghormati saya." Setelah mengucapkan itu Marshal membawaku dan Flo meninggalkan kerumunan, banyak orang yang berbisi-bisik membicarakan kami. "Aku sebel sama resepsionis tadi, tanganku juga ditarik-tarik sama satpam, sakit tau." Marshal memegang tanganku yang sedikit merah setelah kami sampai diruangannya. "Nanti biar aku pecat mereka." Ucapnya, setelah mengecup tanganku yang memerah. "Jangan. Kasihan pak satpamnya, merak kayak gitu juga karena disuruh. Tapi aku gak suka sama resepsionis dan sekretaris kamu. Mereka pasti suka godain kamu kan?" "Nanti biar aku pecat mereka." "Jangan! Kamu tegur aja, sama suruh pake baju yang sopan, jangan dandan menor bigitu. Tapi kalau mereka tetap bertingkah, kamu pecat aja mereka!" Marshal mengangguk. "Flo laper gak?" "Iya." "Tadi daddy udah pesen makan buat kita, bentar lagi sampai." Ucap Marshal. "Mau pulang aja." "Nanti, kita makan dulu ya. ini udah siang lho." Kenapa Flo bisa senurut ini ya sama Marshal, bikin iri. Setelah kami selesai makan siang, Flo mengeluh ngantuk dan langsung tidur saat kami sudah memasuki mobil. "Nanti kamu pegel kalau Flo tidur dipangku kamu." "Gak kok, mas fokus nyetir aja." "Nanti malem ya? Please." Marshal mencuri satu ciuman di bibirku ketika kami berada di lampu merah. "Dasar mesum." "Kamu berkali-kali bilang aku m***m tapi suka pas aku mesumin." Cibirnya. "Mulutnya, ada Flo disini." Tegur ku, dan Marshal kembali mencuri satu ciuman di bibirku. "Dia tidur."   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN