13. Flo Sakit

884 Kata
Hari ini :     udah mayan juga ya part nya,      "Gimana? Demam Flo udah turun?" Aku menggeleng mendengar pertanyaan Marshal. "Masih panas." "Sebentar lagi dokter datang, kamu gak usah khawatir." Marshal mendekati Flo, kemudian mengecup keningnya. "Mas gak lama kok, cuma meeting sebentar setelah itu langsung pulang." Aku tak menanggapinya. "Kamu jangan marah dong, janji gak akan lama." "Hemm." "Seandainya kemarin kita gak nurutin dia buat main ke pantai lagi, mungkin Flo gak akan demam." Gumam Marshal. Aku mendelik ke arahnya, "Flo sakit bukan karena main ke pantai! Gak ada hubungannya tau." "Iya-iya." Marshal mengcup bibirku, "Kayaknya dokter udah dateng, mas berangkat ya. kalau ada apa-apa kamu telpon mas aja." "Nyebelin." Ucapku sepelan mungkin. "Maaf sayang, ini urgent banget." Setelah Marshal pergi, berganti oleh seseorang yang masuk. Perempuan itu masih muda. Aku kira dia berusia sekitar 28 tahun? "Permisi, maaf tadi jalanan lumayan macet jadi lama deh sampai sini." Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Oh iya sampai lupa, kita belum kenalan ya? Namaku Hana, kamu pasti istrinya Marshal kan?" Jelas dong! Apa dia kira perempuan secantik ini adalah asisten Marshal? "Iya." Jawabku pelan, aku menatapnya sebentar. Kemudian beralih menatap Flo. "Maaf ya gak bisa dateng waktu acara kalian, waktu itu anak aku lagi sakit, gak bisa diajak pergi jauh." Oh udah nikah? Syukur deh. "Oh iya dok, gak papa." "Panggil Hana aja Nay, eh gak papa kan aku panggil Nay?" Aku mengangguk, Hana kembali memeriksa keadaan Flo. "Flo gak papa kok, dia cuma kecapekan aja. Ini resep obatnya, bisa dibeli di apotek terdekat." Hana memberikanku selembar kertas. "Terimakasih, aku dari semalem gak bisa tidur gara-gara Flo deman, takut dia kenapa-kenapa." Hana tersenyum mendengar ucapanku. "Gak masalah, mungkin kamu belum terbiasa kan? Kalau boleh aku tebak ini adalah pengalaman pertama kamu ngurus anak? Gak masalah, nanti lama-lama pasti udah gak panik lagi." "Iya, ini pertama kalinya Flo sakit. Jadi tadi agak panik." "Yaudah kalau gitu aku permisi dulu, jangan lupa itu obatnya diminum 3 kali sehari setelah makan ya." Aku mengangguk, setelah itu Hana pergi dan hilang dari pandanganku. Aku mendekati Flo sebentar, dia menatapku dengan pandangan sayu khas orang sakit. "Mommy." "Ya sayang? Flo mau apa?" "Daddy." Aku menghela nafas pelan, kulirik jam dinakas. Marshal akan pulang sekitar satu setengah jam lagi. "Daddy lagi ada urusan sebentar sayang, sama mommy dulu ya. kamu tunggu di sini sebentar, mommy mau minta tolong bik Nah buat beli obat kamu ya." tak ada jawaban dari Flo, dia hanya mengangguk lemah. Aku segera berlalu menemui bik Nah yang sedang berada didapur. "Bik Nah." "Ehh, iya nyonya. Ada apa?" "Tolong belikan obat ini di apotek ya." Aku menyerahkan selembar resep yang diberikan Hana dan beberapa uang. "Karena pak Dede lagi nganter mas Marshal ke kantor, ini ongkos buat bik Nah naik ojek." "Iya nya, saya permisi dulu kalau gitu." Setelah bik Nah pergi, aku kembali ke kamar Flo. Dia menatapku dan merentangkan kedua tangannya. "Gendong." "Emangnya Flo mau kemana, kok minta gendong?" Flo hanya menggeleng, tapi aku tetap membawa tubuh Flo ke dalam gendonganku. "Kamar Mommy." "Oke, kita ke sana." Aku membawa Flo ke kamarku, sesampainya kami dikamar, Flo tetap enggan untuk turun dari gendonganku. Terpakasa aku harus selalu menggendongnya sambil berjalan kecil mengelilingi kamar. "Nyonya, ini obatnya." Aku melirik kearah bik Nah yang sudah membawa nampan berisi bubur dan beberapa obat. "Flo makan dulu ya sayang, setelah itu minum obat biar sembuh." Aku mendudukan Flo ditepi ranjang dan mulai menyuapinya. "Udah." Flo menutup mulutnya ketika aku baru saja menyuapkan beberapa sendok. "Sedikit lagi ya sayang." Flo tetap menggeleng. Aku meletakkan mangkuk buburnya kembali kemudian mengambil beberapa obat. "Kalau gitu sekarang minum obatnya dulu." Flo tidak menolak, dia langsung meminum obat ditanganku. "Minum air putihnya sayang." "Mau tidur peluk mommy." Aku menurutinya, setelah membereskan makanan dan obat Flo aku ikut berbaring dan memeluk tubung mungil Flo. "Cepat sembuh kesayangan mommy." Aku mengecup kening Flo.         ***     "Lho mas? Kamu udah pulang." Aku mengerjap, merenggangkan otot-otot tubuhku. "Sejak dua jam yang lalu, kamu nyenyak banget tidurnya, mas gak tega mau bangunin kamu." Aku melirik Flo disebelahku, dia masih tertidur lelap. Ku sentuh dahinya, memastika jika panasnya sudah turun. "Dari tadi Flo nanyain kamu tau, tidur aja masih ngigo manggil kamu." Marshal tersenyum, kemudian mencium pipi gembul Flo. "Dia memang selalu seperti itu saat sakit." Aku menganga, selalu seperti itu? "Waktu mas di Bali, gimana?" "Ya terpaksa mas harus pulang, kata orang sih kalau Flo sakit itu pasti karena dia kangen sama mas." Ucapnya, disusul dengan kekehan pelan. "Kamu sih sibuk banget, kan kasihan Flo." "Iya maaf, sekarang kan udah ada kamu, Flo gak akan kesepian lagi." Aku mendengus pelan. "Jadi mas nikahin aku biar Flo ada temennya gitu? Apaan!" "Enggak dong, mas menikah itu salah satunya untuk menyempurnakan agama." Aku tertawa mendengar ucapannya, "Sok banget sih kamu." "Bener tau, malah ketawa." "Ya kamu tumben banget ngomongnya bener, biasanya ngelantur." Aku tertawa. "Enak aja." "Enggh.. Daddy." Flo membuka matanya, kemudian langsung berhambur ke dalam pelukan Marshal. "Ssttt ini daddy." Marshal langsung memeluk Flo dengan erat. "Kangen daddy." Aku dan Marshal sama-sama tertawa mendengar ucapan polos dari Flo. "Kan daddy ada disini, daddy tadi cuma pergi sebentar." "Hemm, mommy." "Ya sayang? Mommy di sini." Ucapku sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Flo. "Peluk." Aku langsung memeluk Flo yang otomatis memeluk tubuh Marshal. Flo tersenyum dalam pelukan kami. Dia sangat menggemaskan jika sedang manja seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN