Hari ini :
Jangan pelit vote napa ;(
Weekend pagi ini aku sudah siap dengan dress sabrina andalanku. Aku tau, sejak duduk di dalam mobil ini Marshal selalu curi-curi pandang ke arahku. Rasakan siksaan ini! Haha.
"Nay?"
"Hem."
"Udah sampai."
Mobil kami berhenti di sebuah rumah mewah kawasan jakarta dengan kolam air mancur di tengah halamannya yang luas. Marshal menggandeng tanganku masuk ke dalam. Tidak terlalu banyak foto yang terpajang di tembok, hanya ada beberapa lukisan yang dapat dihitung jumlahnya. Rumah ini sangat besar, namun sepi. Sejauh ini belum ada tanda-tanda ada orang di rumah megah ini.
"Kita kebelakang, biasanya mereka ada di taman belakang." Marshal membawaku ke arah pintu yang langsung menghubungkan sebuah taman yang tidak terlalu besar namun asri.
"Daddy!" Seorang anak kecil berlari kearah kami, bisa kutebak usianya sekitar 5 tahun. Kulitnya putih bersih dengan rambut hitam yang lebat. Beda sekali dengan Marshal yang memilihi kulit lebih coklat, tapi gak masalah dia makin hot dengan kulit eksotisnya.
"I miss you Daddy!" Flo adalah anak angkat Marshal. Dia sudah menceritakan semuanya sejak aku menerima dia menjadi kekasihku, Marshal memang sangat terbuka kepadaku dan aku sangat suka itu. Hubungan akan langgeng jika ada keterbukaan antara satu sama lain kan?
"Miss you more Princess. Udah dulu peluknya, kamu gak liat Daddy dateng kesini bawa siapa?" oke Nay, tunjukkan senyum termanismu. Aku dan Flo pernah beberapa kali melakukan video call, tapi ini adalah kali pertama kami bertemu secara langsung. Flo sempat diam beberapa detik setelah melihatku, setelah itu tanpa diluar dugaan dia menghambur ke arahku dan memelukku dengan erat.
"Hello Flo? How are you, hem?" tanyaku seakrab mungkin. Aku harus membuat pertemuan pertama ini menjadi awal yang baik kan untuk seorang calon ibu tiri?
"Iam fine. You are so beautiful Mommy Nay. I love your hair." Wow, aku cukup terkejut mendengar Flo memanggilku Mommy. Dia memandang ke arahku dengan senyum manisnya, dari sinar matanya ada sedikit kesedihan yang terpancar. Mungkin dia merindukan ibunya.
"Kamu tebih cantik sayang." Aku mencium kedua pipinya yang sedikit chubby, dan dibalas kecupan diseluruh wajahku oleh Flo. Ternyata dia anak yang sangat menyenangkan.
"Kenapa kalian asik sekali sampai lupa jika ada Daddy di sini?" Marshal menampakan ekspresi sebalnya dengan kedua tangan bersedekap didepan d**a.
"Mommy, aku punya banyak hiasan rambut dikamar. Aku ingin rambutku diikat seperti Mommy."
"Oh ya? kalau begitu ayo kita ke kamarmu dan ikat rambut cantikmu ini?" Flo menganggu antusias digendonganku.
"Bagus! Kalian mengabaikan Daddy huh?" Kayaknya sekali-kali mengabaikan Marshal boleh juga.
***
Lumayan juga aku pernah belajar masak sama Mama, gak malu-maluin bangetlah rasanya. Buktinya dua orang didepanku kini sedang menikmati makan siang dengan lahapnya.
"Daddy, ini buat Flo. Daddy gak boleh ambil ini lagi." Ucap Flo dengan tangan yang sibuk menjauhkan beberapa piring makanan dari jangkauan Marshal.
"Terus Daddy harus makan apa? Gak enak dong kalo cuma nasi aja. Sini udangnya kasih Daddy." Marshal menarik piring berisi udang asam manis kehadapannya yang dibalas tatapan sengit oleh Flo.
"Itu punya Floooo!" baru kutau ternyata suara Flo bisa semelengking ini, semoga setelah ini tidak terjadi sesuatu pada gendang telingaku.
"Kamu ngalah dong sama Flo, sini udangnya." Marshal menyerahkannya dengan berat hati, aku mendekatinya dan berbisik pelan. "Di dapur masih ada udangnya, ambil gih. Buat kamu."
"Thankyou." Dia mengecup pipiku sekilas dan pergi kedapur.
"Mommy baru tau kalo Flo suka makan udang, Mommy kira cuma Daddy yang suka."
"Aku sama Daddy suka sama udang. Tapi aku gak suka kerang, Daddy suka." Polos sekali gadis kecil ini.
"Selain udang, makanan apalagi yang kamu suka?" tanyaku.
"Flo suka brokoli. Mommy mau masakin buat Flo?"
"Tentu, kapan-kapan Mommy masakin ya." Dia mengangguk antusias. "Udah selesai makannya? Biar piringnya Mommy bawa kebelakang ya. Habisin minumnya, oke?"
"Oke Mommy."
Aku membawa setumpuk piring bekas makanan tadi kedapur, Marshal sudah selesai dengan makanannya.
"Ngapain liat aku kayak gitu?"
"Pede banget sih kamu? Orang aku cuma mau cuci piring."
"Jangan." Oke, aku lupa jika dia super sekali. "Gak semua pekerjaan itu bisa dilimpahin ke asisten rumah tangga mas." Aku tetap melanjutkan aktivitas cuci piringku, dia hanya diam.
"Mommy."
"Apasih Flo, jangan teriak-terika." Anaknya gak boleh teriak, dia sendiri apa. Bisik-bisik?
"Mommy?" Flo sudah berdiri disampingku yang sedang mengeringkan tangan, dia menarik ujung dressku.
"Ya sayang, ada apa?"
"Mau tidur, Mommy temani Flo ya." tanpa menjawab aku membawa Flo ke dalam gendonganku. Sepertinya dia sudah mengantuk sekali.
"Aku ditinggal sendirian di sini?"
"Kenapa? Gak berani?"
"Berani lah!"
Aku segera pergi membawa Flo ke dalam kamarnya dengan Flo sebagai penunjuk arah.