Hari ini :
kasih senyum dulu sini!?
"Sayang, bangun. Udah sore, kamu mandi dulu sana." Marshal duduk di samping ranjang dengan senyum manis terukir di wajahnya. Aku melihat sekeliling, sudah jam 5, ternyata aku ketiduran cukup lama.
"Flo mana?" tanyaku, aku bangkit dari ranjang dan mengikat asal rambutku yang berantakan.
"Aku udah beneran gak kuat." Hee? Dia kenapa sih, kulirik bagian bawah tubuhnya. Dasar m***m! Tak menghiraukannya, aku segera berlalu ke kamar mandi. Marshal tetap setia menungguku di ujung ranjang.
"Lusa kita ke Surabaya." Apa katanya tadi? Lusa ke Surabaya?
"Ngapain? Kerjaan aku di sini banyak ya mas. Gak bisa di tinggal seenaknya gitu!" Marshal menyandarkan kepalanya kebahu ku, ada rasa geli yang ditimbulkan oleh rambut tipis yang tumbuh di sekitar rahangnya yang tegas itu. "Kamu belum cukuran ya? geli tau."
"Geli-geli enak kan?" Marshal dengan sengaja menggesekkan rahangnya kebahu ku, sekali-kali dia mencium, bahkan menggigitnya sesuka hati menimbulkan gelenyar aneh di dalam tubuhku.
"Mas.. jangan gitu dong. Kamu belum jawab pertanyaan aku, ngapain kita ke Surabaya?" aku menjauhkan kepalanya dengan paksa. "Jawab ih." Ucapku dengan gemas.
"Mas mau ketemu orangtua kamu." Jawabnya santai, dan kembali menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Napain mas?" tanyaku pelan. Kalian boleh bilang aku bodoh, sejujurnya aku juga sudah tau apa tujuan dia pergi ke Surabaya.
"Mau nglamar kamu." Ucapnya diakhiri dengan kecupan basah di bahuku. "Kamu mandi sana, ada baju kamu di atas meja. Aku tunggu di bawah ya, takut khilaf kalau di sini lama-lama." Marshal mengedipkan sebelah matanya lalu pergi.
***
Aku menuruni anak tangga dengan santai, rumah Marshal memang sangat besar tapi terasa sangat kosong. Di ruang keluarga, Marshal dan Flo sedang asik menonton film kartun yang tayang setiap sore di Tv, si spons kuling dengan celana kotaknya.
"Asik banget nontonnya." Mereka melihat ke arahku yang sudah duduk di sebelah Flo.
"Flo seneng deh, ada Mommy sama Daddy disini. Biasanya Flo kesepian." Ucap Flo, entah dia sadar atau tidak saat mengucapkan itu.
"Sebentar lagi Flo gak akan kesepian, nanti Flo sama Mommy tinggal sama Daddy setiap hari." Marshal melirikku sekilas, kemudian membelai rambut panjang Flo dengan sayang. Aku bisa melihat raut wajah bersalah dari Marshal.
"Beneran? Kita tinggal bareng-bareng?" tanya Flo dengan antusias, yang dijawab anggukan oleh Marshal.
"Yeayy! I love you Daddy, i love you Mommy." Dia mengeceup pipiku dan Marshal bergantian. Mungkin ini terlalu cepat untuk anak seusia Flo menerima kehadiran orang baru dalam hidupnya sebagai mama. Tapi semua di luar dugaanku, Flo bisa dengan sangat welcome menerimaku dalam hidupnya.
"Mommy cantik banget. Flo iri sama Mommy."
"Kenapa iri? Flo bahkan lebih cantik dari Mommy. Apalagi ada pipi chubby disini." Ucapku sambil mencubit gemas kedua pipinya.
"Daddy, cantik Flo atau Mommy?" tanya Flo dengan polosnya, sedangkan Marshal dengan gaya sok coolnya sedang pura-pura berfikir.
"Emm, Mommy cantik." Jawaban Marshal sedikit membuat Flo cemberut, tapi aku tau dia hanya sedang menggoda putri kecilnya.
"Tapi Flo lebih cantik, soalnya ada pipi chubby ini." Jawab Marshal dengan cubitan gemas pada pipi Flo, membuat si pemilik terkikik geli.
"Flo gak boleh iri lagi, karena setiap orang itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mommy cantik dengan caranya sendiri, dan Flo cantik dengan cara Flo sendiri." Diluar dugaanku, ternyata Marshal bisa sebijak dan sedewasa ini.
"Bener banget apa yang di bilang sama daddy, semua perempuan itu cantik dengan gaya mereka sendiri dan yang pasti sesuai porsinya. Yang terpenting adalah cantik hatinya."
"Cantik hatinya?"
Aku tersenyum, "Maksudnya kecantikan bisa terpancar jika kita memiliki sifat dan perilaku yang baik sayang, Flo harus menjadi orang yang baik kepada sesama."
"Mommy sangat smart, aku suka."
"Flo juga."
"Kalian sama-sama smart dan cantik." Ucap Marshal.
"Thank you daddy, you are so smart and handsome. Flo suka!"
"Waw, bahasa inggris Flo udah lumayan ya." Flo mengangguk dengan cepat.
"Siapa yang ngajarin Flo?"
"Dia mengikuti les bahasa inggris seminggu dua kali, aku sengaja mengundang guru privat untuk mengajarinya." Benar-benar luar biasa, perasaan aku mulai belajar bahasa inggris saat masuk sekolah dasar.
"Kalau Flo bisa bahasa inggris, daddy janji akan bawa Flo keliling dunia." Ucap Flo dengan kedua tangannya yang membentang seolah menunjukkan seberapa lebar dunia ini.
"Oh ya?"
"Iya kan daddy?" Tanya Flo kepada Marshal, dan Marshal hanya diam seolah berfikir.
"Daddy." Flo merajuk dengan kedua tangan ditangkupkan di depan d**a, dengan puppy eyes nya.
"Iya, suatu saat kita akan jalan-jalan keliling dunia, ada Flo, daddy, mommy Nay dan adik-adik Flo nantinya." Pipiku terasa memanas, apa katanya tadi? Mommy Nay, adik-adik Flo?
"Flo akan punya adik?"
"Iya, Flo mau kan punya adik?" Tanya Marshal.
"Mau, Revan juga punya adik. Lucu banget, pipinya kayak bakpau."
"Revan iu siapa?" Tanya Marshal.
"Teman Flo, dia suka ngasih Flo es krim."
Aku tertawa memandang wajah Marshal yang terkejut, "Kayaknya anak kamu udah ada yang naksir deh mas."
"Bilang sama Revan, gak usah kasih Flo es krim lagi. Daddy bisa belikan banyak kalau Flo mau, daddy bisa beli pabrik es krimnya."
"Keren! Bisa di coba." Jawab Flo.
"FLOOOO!!!"
Mendengar teriakan dari luar rumah, Flo langsung berlari dengan cepat ke arah sumber suara. "Revan, Flo datang!!"
Aku semakin tertawa ketika Flo lebih memilih temannya yang datang daripada panggilan dari Marshal.
"Udah berasa punya anak ABG."