07. Datang Melamar

877 Kata
Hari ini :       diterima?  Sesuai dengan rencana sebelumnya, kali ini aku Marshall dan Flo sudah duduk manis di sofa ruang tamu rumahku, oke, rumah orang tuaku. Marshall duduk di sebelahku dengan wajah tegangnya, tumben sekali dia. Sedangkan Flo, dia duduk di pangkuanku dengan tenangnya, sesekali mengajakku berbicara untuk sekedar menanyakan hal-hal kecil. "Ekhemm." Deheman dari papa membuatku melihat kearahnya, papa duduk disingle sofa dengan wajah datarnya. "Pah." "Sssttt. Biar dia yang bicara Nay." Papa menunjuk Marshal dengan dagunya, papa sebenernya tidak segalak apa yang kalian bayangkan, karena lebih galak sang ratu yang duduk bersebrangan denganku ini, siapa lagi kalau bukan mama. "Sebelumnya saya minta maaf kepada om dan tante atas kedatangan mendadak saya kesini, saya kesini bermaksud untuk meminta izin om dan tante selaku orang tua Nayyara, perempuan yang amat sangat saya cintai untuk menjadi separuh dari hidup saya, menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anak kami nantinya." Marshal menatap papa dan mama secara bergantian, matanya menyorotkan kesungguhannya untuk meminangku. "To the point sekali ya kamu." Astaga mama, lihat sekarang Marshal hanya bisa menampakkan senyum kikuknya. "Maaf tante." Kasian banget sih kamu mas, mana Marshal yang selalu berkuasa itu. "Kamu yakin mau menikahi putri saya? Dia itu masih kekanakan, manja dan boros. Sanggup kamu mengatasi segala tingkahnya?" tanya papa. "Sejauh ini saya bisa mengatasi segala tingkah dan perilaku Nayyara om, dan putri saya juga sangat menyayanginya. Jadi.." "Kamu duda?" mama bertanya dengan ekspresi yang tak terbaca, sedangkan Marshal, dia hanya menampakkan senyum tipisnya. "Mah, mas Marshal itu belum per.." ucapanku terkenti kala Marshal menyentuh lenganku, mengisyaratkan aku untuk diam. Mungkin dia menghargai Flo yang ada di pangkuanku. "Kok kamu milih Nay? Apa alasan kamu? Kenapa gak memilih wanita yang seumuran dengan kamu, kamu itu lebih cocok jadi abangnya Nay." Pedas sekali mulut mamaku ini, aku melirik Marshal dia balik menatapku dan tersenyum. "Mah sudah, yang menjalani kan Nay, jadi semua juga terserah sama Nay." Papaku memang terbaik, dia melirik ke arahku. "Kamu siap Nay, menikah di usiamu sekarang?" tanya papa, aku hanya bisa menganggukkan kepalaku. "Kalau Nay udah yakin sama pilihannya, papa sama mama cuma bisa bantu do'a semoga niat baik kalian untuk menikah bisa dilancarkan sama Tuhan." Ini maksudnya papa udah ngizinin aku? Serius? "Papa merestui hubungan aku dan mas Marshal?" tanyaku ragu-ragu dan papa hanya mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih om dan tante." Aku bisa melihat senyum bahagia yang terukir di bibir Marshal. *** "Wahhh ada kak Nay, kapan pulang?" tanya Rey --- adikku yang sebentar lagi akan berusia 17 tahun. "Tadi siang baru sampai." Aku melirik jam dinding, pukul 5 sore. "kamu kok sore banget sih pulangnya?" tanyaku. "Biasa." Biasa yang dimaksud Rey adalah main basket ditaman kompleks bersama teman-temannya. Tak heran jika tinggi badannya bisa melebihi tinggi badanku diusianya yang belum genap 17 tahun. "Belajar, jangan kelayapan mulu." Rey menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya, gampang. "Eh kok ada sepatu imut begini? Bang Dito pulang? Eh tapi anaknya kan cowok, ini sepatu cewek nih pake pita begini." Rey menenteng sepatu milik Flo. "Sepatu anaknya kakakmu." Mama menghampiri kami berdua yang ada diruang tamu dengan wajah yang sedikit ditekuk. "Hah?" "Sepatu calon anaknya aku, kenapa lucukan? Ih itu mahal tau, yang beliin bapaknya." Jawabku. "Kak Nay udah nikah?" tanya Rey yang kini duduk di single sofa sebelahku. "Sama Duda!" celetuk mama. "Mah apa sih, mas Marshal itu bukan duda." "Terus kalau bukan duda apa namanya? Dia udah punya anak Nay. Kamu gak ngerebut dia dari istrinya kan?" tanya mama penuh selidik. "Astagfirullah mama, ya enggak lah! Nay yang cantik mempesona ini gak level ya ngerebut suami orang." Rey hanya diam mendengar celotehanku dan mama. "Berisik elah! Jadi ini maksudnya gimana?" tanya Rey. "Kak Nay mau nikah." Jawabku. "Sama duda!" lanjut mama, "Flo itu bukan anak kandung mas Mashal mah, kan aku udah cerita sama mama tadi." Lama-lama gemas juga nanggepin mama yang masih gak percaya sama ucapanku. "Jadi kak Nay mau nikah? Coba liat mana orangnya?" aku mengambil ponsel dimeja, berencana menunjukkan foto Marshal pada Rey. "Tuh orangnya dateng." Ucap mama. Papa berjalan kearah kami dengan Marshal yang ada dibelakangnya. Marshal menatapku dan tersenyum tipis. Dia gak habis dimarahin sama papa kan? "Udah pulang Rey?" papa duduk disebelah mama, sedangkan Marshal duduk disebelahku. "Mas kenalin, dia adek aku. Namanya Rey." Rey menjabat tangan Marshal dengan sopan, walaupun tampangnya terlihat badung tapi keluarga kami selalu mengutamakan sopan santun dan tata krama. "Kelas berapa Rey?" Marshal bertanya dengan sedikit kaku, kenapa lagi dia ini. "Kelas 11 om, eh maksudnya bang. Kan mau nikah sama kak Nay." Ini maksudnya Rey lagi nyindir aku sama Marshal gitu? "Rey mandi sana, udah mau magrib." Ucap papa lalu pergi meninggalkan ruang tamu diikuti mama. "Tadi papa ngomong apa aja sama kamu? Kok pulang-pulang mukanya di tekuk gitu?" tanyaku kepada Marshal. "Gak ada, tadi cuma diajakin bantuin tetangga sebelah. Kayaknya mau ada acara." Jawabnya dengan tenang. "Yakin?" "Kenapa kepo banget sih, hem? Aku gak papa." Marshal menyandarkan kepalanya kebahu ku. "Wangi." Ucapnya. "Iya dong, aku udah mandi tau! Kamu mandi sana, di kamar aku aja gak papa." Marshal mengangguk. "Nay bantuin mama masak sini!" Teriakan itu berasal dari mama yang ada di dapur, aku menghela nafas pelan. "Bantuin mama sana, mas numpang kamar mandi ya. Flo masih tidur kan?" aku mengangguk sebagai jawabanya dan bergegas menghampiri sang ratu yang sedang sibuk di dapur.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN