Hari ini :
DORRR..
Kali ini aku menggunakan gaun putih off shoulders dengan hiasan bunga kecil diatasnya. Rambutku digelung keatas dan dihiasi mahkota. Sedangkan Marshal, dia menggunakan tuxedo berwarna putih yang senada dengan gaunku serta dasi kupu-kupi berwarna hitam yang ada dilehernya. Rambutnya tertata rapi dengan pomade.
"Mas ih jangan cium-cium, malu di liatin sama yang lain." Ucapku ketika Marshal terus saja mencuri ciuman di pipiku ketika acara resepsi berlangsung. Yaa, hari ini aku resmi menjadi istri dari Marshal Astama. Waktu memang sangat cepat berlalu, mama juga sudah lebih lembut ketika bersikap dengan Marshal ataupun Flo. Lihat, sekarang Flo sedang bermain dengan Al--- anak bang Dito. Dia terlihat sangat senang menggoda bayi laki-laki yang sangat menggemaskan itu.
Bang Dito sudah berada di Indonesia sejak satu minggu yang lalu, dengan memboyong anak dan istrinya. Kabar baiknya lagi adalah mereka berencana menetap di Jakarta! Walaupun tetap jauh dari rumah mama dan papa, paling tidak mereka sudah tinggal di negara yang sama bersama keluarga. Lumayan ngirit ongkos buat ketemu kan?
"Kenapa diem? Nanti kesambet." Marshal mencium pipiku lagi.
"Mas jangan cium-cium terus dong." Protesku.
"Kapan sih tamunya pada pulang, udah sakit banget ini." Ucap Marshal.
"Lebay, padahal yang pake heels itu aku. Harusnya kaki aku yang lebih sakit." Marshal hanya terkekeh pelan, "Polos banget sih istri aku."
***
"Beb selamat yaaa, akhirnya nikah juga lo!" Devina memelukku dengan erat, "Jangan kenceng-kenceng, kasihan ponakan aku diperut nih."
"Astaga, lupa. Duh anak mama, maaf ya sayang." Devina mengelus pelan perutnya yang sudah membesar, usia kandungannya sudah memasuki 8 bulan. Time feels so fast.
"Udah gede banget, bentar lagi lahiran ya?" tanyaku.
"Iya dong onty, gak sabar pengen minta uang jajan sama onty uncle katanya." Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Sedangkan Devina hanya tertawa seadanya.
"Selamat ya pak Marshal, udah berhasil naklukin hati cewek ini. Hati-hati aja nanti duitnya habis buat perawatan sama belanja bajunya dia." Galih memasang senyum menggoda, dia memang selalu seperti itu jika denganku. Dasar saudara kurang ajar!
"Tenang saja, justru saya seneng kalau dia mau pake uang saya." Aku menjulurkan lidahku, mengejek Galih.
"Heh, kurang ajar lo ya sama abang lo. Mentang-mentang udah nikah sama bos besar." Galih mengetuk dahiku pelan.
"Aww, sakit tau." Aku memegang dahiku yang terasa berdenyut. "Mas kalau dia ngajak kerjasama bisnis gak usah dikasih aja." Galih langsung melotot kearahku sedangkan Marshal malah tertawa seperti baru saja ada kejadian lucu.
"Jangan gitu dong, kemarin-kemarin Galih yang ngasih kamu gaji lho." Ucap Marshal membela Galih, aku hanya mendengus pelan.
"Kamu belain dia?" Tanyaku dengan mata yang sedikit melotot. Dalam sekian detik Marshal langsung merangkul bahuku dan mengusir Devina serta Galih dari atas panggung.
"Mendingan kalian turun deh, nanti Nay keburu ngamuk. Kasihan Devina juga kalau berdiri lama-lama."
"Duh, kasian sama gue atau takut gak dikasih jatah malam pertama nih?" Devina menggoda dengan senyum jahilnya.
"Haha, udah yuk kita turun aja." Galih menggandeng Devina menjauhi panggung setelah berpamitan padaku dan Marshal. Setelah mereka berdua pergi, aku kembali duduk, badanku terasa pegal di tambah gaun yang ku pakai saat ini cukup berat.
"Kamu capek?" tanya Marshal, dia menatapku yang sedang memijat pelan kedua kakiku.
"Capek banget, pegel."
"Yaudah, sini aku pijit." Marshal mengambil alih kakiku untuk dipijatnya. Namun langsung kutarik begitu saja, gak sopan dong kalau dia yang mijitin aku? Apalagi masih banyak tamu yang ada disini.
"Gak usah, malu diliatin." Tolakku, malu lah gaes di liatin tamu undangan.
"Kalau gitu kamu duduk aja, sebentar lagi acaranya selesai." Aku mengangguk, kemudian ku lepas heels yang ku pakai, kakiku butuh istirahat kawan!
***
Acara resepsi telah selesai sekitar 1 jam yang lalu, kini aku berada disebuah kamar yang khusus disewa oleh mas Marshal untuk kami. Aku sudah selesai membersihkan diri sejak beberapa menit yang lalu namun mas Marshal belum juga masuk, entah apa yang sedang dia bicarakan bersama papa, karena setelah acara selasai tadi papa meminta mas Marshal untuk berbicara sebentar.
Aku melirik ke arah pintu ketika ada seseorang memasuki kamar, dia mas Marshal. Jas yang tadi dipakainya kini sudah dilepas, kemejanya digulung sampai batas siku dan 2 kancing teratas kemejanya sudah dibuka. Dia berjalan kearahku dengan tatapannya yang seakan ingin memakanku hidup-hidup.
"Kamu kok belum tidur?"
"A-aku nungguin kamu, kan gak sopan kalau aku tidur gitu aja." Jawabku dengan suara pelan, sangat pelan. Jantungku terasa tak karuan, berdetak begitu cepat.
"Kalau kamu udah ngantuk, tidur duluan aja gak masalah. Lagian sejak kapan kamu jadi merasa gak enakan gini, hem?"
"Ihh, kan sekarang mas Marshal udah jadi suami aku. Jadi aku harus menghormati kamu kan?"
Dia tersenyum dan mengangguk, tangannya memegang kedua pipku. "Iya-iya, istriku."
Chupp
"Jangan cium-cium, mandi dulu sana. Biar aku siapin baju gantinya." Tanpa menjawab, mas Marshal langsung menuju kamar mandi, sedangkan aku segera menyiapkan baju gantinya. Ini akan menjadi rutinitas baruku setiap hari, pipiku terasa memanas hanya untuk membayangkan hal kecil seperti ini. Bagaimana jika mas Marshal meminta hak nya malam ini? Gimana kalau aku nanti mengecewakan dia? Tiba-tiba rasa takut dan gelisah menyelimuti diriku.
"Kenapa diem?" Mas Marshal sudah berdiri di hadapanku.
"Bajunya dipake dong." Ucapku, dia hanya tertawa pelan makin mendekatkan tubuhnya kearahku.
"Kok nunduk sih, lihat sini." Tangannya mengangkat daguku, otomatis aku menatapnya. Tatapan kami beradu, tanpa banyak bicara mas Marshal mencium bibirku. Awalnya hanyalah kecupan-kecupan biasa lama-lama menjadi lumatan yang menggairahkan. He's a good kisser.
"Aku sayang kamu." Bisiknya parau.
"Aku juga."
"Juga?" Ulangnya.
Aku mendengus pelan, "Aku juga sayang mas Marshal, banget!"
Dan entah sejak kapan dia melepas piyama yang ku kenakan, kini aku hanya memakai pakian dalamku saja. Pipiku terasa memanas saat dia terus menatapku.
"I love you so much, Mrs Hot." Ucapnya pelan, dengan tatapan yang terus tertuju padaku.
"Yaa, i love you more." Mas Marshal langsung membawaku kedalam pelukannya.
"Sekarang tidur ya, udah malem. Kamu pasti capek." Aku mengangguk mengiyakan. Kemudian mengambil piyamaku di lantai berniat untuk memakainya kembali.
"Jangan, gini aja. Lebih enak." Mas Marshal langsung menjatuhkanku ke tempat tidur, menyelimuti tubuhku dan tubuhnya.
"Good night." Dia mencium dahiku lama.
"Good night mas."
Kemudian kami sama-sama berkelana dialam mimpi.