Hari ini :
selamat membaca!
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi rasanya sangat enggan tubuh ini untuk bangkit dari tempat tidur. Ku lirik Marshal yang berada di sebelahku, rasanya pipiku mamanas hanya karena membayangkan apa yang sudah kami lakukan beberapa jam yang lalu. Yaa, aku sudah menyerahkan harta paling berharga dalam diriku kepada suamiku. Selepas sholat subuh tadi Marshal meminta haknya, dan aku sebagai istri yang baik tidak akan menolaknya.
"Kok bisa ya, aku jadi cinta banget gini sama kamu." Aku mencium bibirnya sekilas.
"Kurang, yang lama dong ciumnya." Marshal berkata dengan suara serak, matanya masih terpejam, tapi bibirnya sedikit dimajukan meminta untuk dicium. Gemes banget sih, laki-laki ini.
"Kamu udah bangun?" tanyaku, aku menyilakan rambutnya ke belakang. Perlahan Marshal membuka matanya, menatapku dalam dan menggoda.
"Mas, jangan gini dong. Geli tau." Marshal tak bergeming, dia tetap memeluk tubuhku erat. Tubuh polos kami saling bersentuhan menimbulkan rasa geli yang namun terasa menyenangkan.
"Aku pengen makan kamu lagi." Marshal mengigit pelan bahu telanjangku.
"Mass."
"Hmm."
"m***m banget sih kamu." Marshal terkekeh mendengar perkatannku.
"Tapi kamu suka pas aku mesumin."
Aku menggeleng cepat, "Sok tau!"
"Oh ya? Terus siapa yang tadi pagi mendesah keenakan sambil merem melak pula, hem?" Tangannya tak tinggal diam, dia mulai menggodaku.
"Mas."
"Apa sayang? Kamu mau apa?" Tangannya terus membelai tubuhku. Kini Marshal berada di atas tubuhku, mencium bibirku dalam. Sungguh, ciumannya begitu memabukkan. Dia benar-benar tau cara untuk memanjakan tubuhku.
Marshal sangat ahli memberikan kenikmatan pada tubuhku, aku meremas rambutnya pelan, menekan kepalanya agar tebih dalam menciumku.
"Enak sayang?" Tanya Marshal dengan suara parau.
"Buruan mas, gak kuat." Aku menatapnya dengan tatapan memohon.
"Apa, bilang sama aku. Kamu mau apa?" Tanganny tidak berhenti membelai paha dalamku.
"Aku mau kamu, mas."
"As you wish."
Marshal memang sangat lihai memanjakan tubuhku, setiap sentuhan yang dia berikan terasa begitu memabukkan. He's so damn hot!
"Aku mencintaimu Nay, sangat mencintaimu." Marshal terus menggerakkan tubuhnya, sedangkan aku hanya bisa terus mendesah di bawah kuasanya.
"Aku udah gak kuat mass."
"Masih mau ngelak kalau kamu juga keenakan waktu mas mesumin, hem?" Dia bertanya dengan suara parau.
"Apa sih mas, minggir ih kamu berat tau." Marshal menggeser tubuhnya.
"Ayo ngaku."
"Kamu emang hot banget, kok bisa sih kamu suka sama aku yang gak ada apa-apanya gini?" bukannya menjawab pertanyaanku dia malah tertawa kencang.
"Mas cinta sama kamu apa adanya Nay." Ucapnya diakhiri kecupan mesra di pipiku. Tapi jawabannya malah membuatku merasa benar-benar tidak sebanding dengan Marshal.
"Apa adanya aja kamu udah bikin aku tegang setiap saat." Marshal mencium pipiku lagi. Membuatku tersipu malu.
"Minggir ah mas, kamu berat tau." Protesku, Marshal langsung merebahkan tubuhnya di sebelahku. Tangannya tetap setia melingkari perutku, dan sesekali dia mengecup bahuku.
"Mas."
"Hem?"
"Waktu pertama kali kita ketemu, apa sebelumnya kamu udah suruh orang buat ngikutin aku biar kamu tau dimana posisi aku?" Tanganku membentuk pola abstrak di d**a bidangnya.
"Pede banget ya kamu."
Ku pukul tubuhnya pelan, "Serius!"
"Iya-iya, bahkan jauh sebelum waktu itu aku udah bayar orang untuk selalu memantau kamu dimana pun itu."
"Jadi aku dimata-matai? Tapi kok aku gak sadar ya."
"Mereka profesional, bahkan mas harus bayar mahal untuk itu." Sombongnya mulai keluar, emang ya kalau orang kaya tuh pasti ada bibit-bibit sombongnya.
"Jangan-jangan laki-laki buncit waktu itu sengaja kamu suruh buat godain aku ya?" Tanyaku, dia langsung menggeleng.
"Itu di luar kendali, waktu itu aku terpaksa nemuin kamu sehari lebih cepat ya gara-gara itu. Orang suruhan aku yang bilang, dan saat itu juga aku langsung ke pantai. Kamu tau? Waktu itu mas sebenernya harus menghadiri rapat penting dengan klient penting."
"Niat banget sih."
"Aku gak mau kamu sampai kenapa-napa Nay, kamu adalah tanggung jawabku mulai waktu itu." Aku jadi terharu mendengarnya.
"Makasih ya mas, udah jagain aku."
"Tapi aku sakit hati tau!"
"Kenapa?"
"Waktu itu kamu panggil aku 'om tua' Nay." Aku tertawa.
"Sekarang juga masih suka panggil om, lebih sexy tau! Lagian mana ada sih om-om seganteng kamu? Eh tapi banyak juga sih."
"Nay."
"Bercanda sayang." Aku mencium pipinya kemudian semakin meringsek masuk dalam pelukannya, menghirup aroma tubuhnya yang begitu menenangkan.
"Nay jangan diendus-endus gitu dong."
"Aku suka."
"Tuh kan Nay, jadi tegang lagi." Ucapnya. Tangannya mulai menjelajahi titik sensitif pada tubuhku.
"Jangan pegang-pegang ih." Aku menepis tangannya yang semakin bergerak liar.
"Pengen lagi deh rasanya." Marshal mengeram pelan di ceruk leherku.
"Mas udah ih, aku mau mandi. Terus makan, laper tau."
"Yaudah, di kamar mandi juga enak."
Aku langsung mencubit perutnya, "Ngawur!"
"Aww sayang, KDRT nih." Dia mengusap bekas cubitanku diperutnya. "Siapa suruh m***m terus, ini udah siang tau."
"Kamu yang godain duluan, pas aku udah on kamunya gak mau."
"Siapa juga yang godain kamu? udah ah aku mau mandi."
"Yaudah ayo kita mandi."
"No!!" Enak saja mandi bareng, yang ada dia modus.
"Janji mandi aja, mandi beneran. Gak sambil nananina, tapi kalau kamu mau mas oke aja."
"Gak!" Enak saja, badanku rasanya sudah remuk begini. Aku butuh berendam.