10. Gak mau pindah

932 Kata
Hari ini :       dikit banget vote nya :((         "Kenapa gak tinggal di Jakarta aja sih mas? Bang Dito udah pindah ke Jakarta, sekarang aku malah mau kamu bawa ke Bali." Marshal hanya melihatku saat aku terus saja berbicara, om tua itu emang bikin darah tinggi ya! "Mas kenapa diem aja sih? Mas dengerin aku ngomong kan?" Lihat! Sekarang dia hanya tertawa. "Kamu keliatan makin sexy kalau lagi marah-marah begitu, pengen dimakan." Astagfirullah! Resiko punya suami yang m***m ya kayak gini, belum juga 1 x 24 jam udah minta lagi. "Main aja sama guling tuh, nganggur!" Aku melemparkan guling yang ada diranjang tetap kearah Marshal. Dan ditangkap dengan suka rela olehnya, dia menatapku dengan tatapan tajamnya, oke, sepertinya aku dalam bahaya. "Apa liat-liat, gak pernah liat cewek cantik iya? Kasian banget sih kamu!" Marshal semakin mendekat kearahku, otomatis aku berjalan mundur untuk menjauhinya. "Mau kemana cantik, hem?" Aku merinding mendengar suara beratnya, bibirnya menggigit kecil telingaku. Ini adalah kesialan sekaligus kenikmatan mendapat suami hot seperti Marshal, bukan hanya Marshal yang menginginkanku tapi tubuhku juga sangat mendamba akan sentuhannya. Dari ekor mataku dapat kulihat Marshal sedang tersenyum menang. Kenapa bibir ini tidak bisa berhenti mendesah untuk sekali ini saja? "Jangan marah-marah terus ya sayang, mas sedih banget liatnya." Marshal memeluk tubuhku erat, menyusupkan kepanya di belakang leherku. "Mas nyebelin." Aku merajuk, ku lepas pelukan Marshal walau rasanya sangat nyaman berada dalam dekapannya. "Kerjaan mas ada di Bali sayang, kalau mas gak kerja nanti siapa yang bayarin perawatan tubuh kamu yang gak murah itu? Siapa yang beliin keperluan kamu dan Flo? Siapa yang bakal ganti daleman kamu yang mas robek?" Pipiku bersemu mendengarnya, kenapa harus disebutin daleman aku dirobek segala sih? Kan malu. "Tapi gimana sama kerjaan aku? Teman-teman aku?" Aku menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca. Pikiranku berkelana membayangkan moment-momen indah bersama keluarga dan sahabat di Jakarta. "Kamu gak perlu kerja, buat apa mas kerja kalau kamu juga kerja. Disana kamu juga akan mendapatkan teman baru sayang, Flo aja happy mau pindah ke Bali. Sebenernya kamu sama Flo gedean siapa sih?" Marshal menatapku dengan tangan telunjuk berada di dagu seolah sedang berfikir. Wajahnya terlihat begitu menggemaskan ya Tuhan, gemes banget pengen di makan! "Kalau d**a sih gedean kamu, jelas, apalagi pas banget sama tangannya mas." Apa-apaan dia, sedang dalam situasi seperti inipun otak mesumnya masih mendominasi. "Eh, Flo kan masih anak kecil. Kamu juga?" Aku otomatis menggeleng. Enak saja, aku sudah dua puluh tiga tahun! "Aku udah gede ya mas, udah gak perawan lagi, semuanya gara-gara mas Marshal." Aku masih merajuk di hadapannya, sedangkan Marshal? Dia tetap dalam posisi stay coolnya, tangan dilipat depan d**a dan menatapku dengan mata elangnya. "Kok nyalahin mas? Kan kamu juga mau, kamu enak mas juga enak." Marshal menghela nafasnya pelan. "Gini deh, jadi kamu nyesel udah gak perawan gara-gara mas?" "Bukan gitu ihh, kenapa jadi bahas perawan sih? Kan kita lagi bahas pindahan." Aku duduk diranjang diikuti Marshal yang jongkok didepanku. "Berarti mau ya, pindah ke Bali?" tanya Marshal, dan aku tetap menggeleng. "Yaudah, kamu tinggal di Jakarta, mau kerja mau jalan sama teman-teman kamu, silahkan." Aku tersenyum senang menatap kearahnya. "Tapi mas dan Flo akan tetap pulang ke Bali." Aku mendesah kecewa, kutatap Marshal yang sudah sibuk memasukkan pakainnya kedalam koper. "Mas." Panggilan pertama, diabaikan. "Mas." Panggilan kedua, tetap diabaikan. "Mas." Aku mendekat kearahnya, memeluknya dari belakang membuat aktivitasnya terhenti. "Mas marah ya sama aku?" Tanyaku pelan, namun sama sekali tak ada jawaban. Dia tetap sibuk dengan baju dan kopernya. "Mas jawab ih." "Enggak." "Kok jawabnya gitu banget sih mas." Protesku, kemudian Marshal membalikkan tubuhnya kearahku. "Mas hanya kecewa, sedikit. Harusnya kamu bisa lebih dewasa Nay, kamu dari awal udah tau kalau kerjaan mas ada di Bali. Tapi kenapa kamu gak mau pindah? Tolong jangan kekanakan, mas bingung harus gimana." Marshal menatapku dengan ekspresi datarnya, apa semengecewakan itu aku? "Jadi mas nyesel nikah sama aku yang kekanakan, iya?" Tanyaku dengan suara tercekat, menahan tangis. Please Nay, jangan nangis gara-gara hal sepele begini, malu dong. Aku menghirup udara dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan. Gak boleh nangis. Jangan nangis. Inget! "Bukan begitu Nay." Marshal memegang bahuku, menatapku dalam. "Mas mau minta pisah sama aku?" "Nay!" untuk pertama kalinya Marshal membentakku. Air mata yang sudah kutahan dari tadi, mengalir deras membasahi pipiku. Ada rasa takut dalam diriku saat mendengar bentakannya, aku menunduk dalam, tak berani menatap ke arahnya. "Jangan asal bicara seperti itu, kamu pikir pernikahan hanya sebuah mainan!" "Maaf, mas." Marshal membawaku kedalam pelukannya. "Tolong jangan ucapkan itu lagi Nay, aku benci perpisahan." "Maaf, Nay gak bermaksud bicara itu. Kalau mas mau pulang ke Bali, oke, Nay ikut. Kemanapun mas mau pergi, Nay akan selalu ikut sama mas." Aku mengeratkan pelukan kami. "Tapi jangan tinggalin Nay, jangan abaikan Nay." Aku benci itu. Aku semakin meringsek masuk kedalam pelukannya, menyari kenyamanan. "Mas minta maaf ya." "Mas gak salah, Nay yang salah. Tapi mas bakalan kasih izin buat Nay buat ketemu sama temen-temen Nay kapanpun aku mau?" "Iya. Udah jangan nangis lagi, jelek tau." Marshal mengecup kedua mataku bergantian. "Ini pertama kalinya aku nangis setelah seminggu nikah sama mas." Marshal terkekeh, "Kalau gitu ini juga yang terakhir mas buat kamu nangis. Janji." "Halah, gombal. Udah bosen aku sama janji-janjinya kaum adam yang cuma manis di depan, ujung-ujungnya pait, kayak ampas kopi." Cibirku. "Jadi udah berapa kali kamu ke makan janji palsu laki-laki hem?" "Kepo banget!" Marshal tertawa mendengar jawabanku, sumpah padahal dari setiap kata yang keluar dari mulutku gak ada yang lucu sama sekali. Heran, laki siapa sih ini? "Mas gak bisa janji sih, tapi mas akan berusaha. Karena mas cinta banget sama kamu Nay." "Gombal lagi deh. Udah ah, aku mau beres-beres."   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN