Hari ini :
ehemm..
"Bang Dito, sering-sering main ke Bali ya? ajakin keponakan aku yang gemes juga." Aku memeluk bang Dito erat, hari ini dia ikut mengantarkan ku ke bandara bersama Devina dan Galih.
"Iya bawel, udah jangan mewek lagi. Malu sama suami tuh." Aku melepaskan pelukanku, beralih memeluk Devina dan Galih secara bersamaan.
"Kalian juga sering-sering liburan ke Bali."
"Siap, asal bayarin tiket sama penginapan ya Nay! Kan udah nikah sama yang tajir tuh." Aku memutar bola mataku malas.
"Kalau gitu minta sendiri deh sama dia."
"Mommy, ayo kita brangkat. Kata Daddy sebentar lagi pesawatnya mau terbang." Suara Flo kembali menyadarkanku. Bye Jakarta, aku mau ngikut suami dulu ya.
"Iya, sayang. Aku pamit ya. ini gak cuma dua hari, beneran."
"Dasar korban youtuber! Sana berangkat."
"Jagain adek gue ya mas, eh pak, duh bingung gue mau panggil apaan. Lagian lo sih Nay dapet suami kok tajir bener, kan gue bingung mau panggil apaan." Ucap bang Dito disertai cengiran khas nya.
"Panggil Marshal aja Dit." Marshal yang daritadi diam akhirnya bersuara, dia menepuk bahu bnag Dito pelan.
"Pamit dulu ya Dit, Dev, Gal. Oh ya, nanti kalau Devina udah mau melahirkan kabarin, biar kita bisa ke Jakarta." Ucap Marshal.
"Asiyappp, pak Marshal. Tapi bawa kado yang banyak ya." Aku hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah konyol Devina.
"Flo, salim dulu sama om tante."
"Dadah, om tante." Flo melambaikan tangannya, dan dibalas lambaian serupa oleh bang Dito, Dev dan Galih.
***
"Ini rumahnya mas?" Aku melihat sekeliling, rumah ini terlihat sangat megah namun masih ada sedikit corak rumah khas Bali di bagian depan. Ada taman yang terlihat sangat apik menambah kesan sejuk dan asri. Kalau gini sih betah aku.
"Mommy, ayo masuk." Flo menggandeng tanganku masuk, sedangkan Marshal mengikuti kami di belakang.
"Mas, rumah ke pantai jauh gak?"
"Enggak terlalu, sekitar 7 km." Marshal membawaku masuk dalam sebuah ruangan setelah sebelumnya kami mengantar Flo ke kamarnya, mungkin ini adalah kamar kami.
"Ini kamar kita, kalau kamu kurang suka sama desainnya kamu tinggal bilang sama mas buat rubah atau kamu mau desain sendiri?" Marshal tersenyum kearahku, senyumannya begitu manis. Mendadak aku jadi merasa bersalah hanya karena tidak mau pindah ke Bali sebelumnya.
Aku berjalan mendekatinya, mengalungkan tanganku ke lehernya, "Makasih buat semuanya mas, maaf ya aku sempet bikin mas emosi."
"Cuma makasih aja nih? Mas udah sabar banget lho sama kamu."
Cup
Aku mencium bibirnya sekilas, "Kurang sayang." Marshal menarik tengkukku mendekat, membungkam bibirku dengan ciumannya. Tangannya tidak tinggal diam, dia menurunkan resleting dress pada punggungku, kemudian menarik turun dress yang ku kenakan.
Tangannya langsung bergerilya dengan bebas diatas tubuhku.
"Aku suka warna merah, menantang." Marshal berbisik, kemudian mencium leherku dalam.
"Mas!" Marshal menjatuhkan tubuhku keranjang, aku menatap Marshal yang masih menggunakan pakaian lengkapnya.
"Jangan liatin aku kayak gitu, maluu ih." Aku menutup kedua mataku dengan tangan.
"Kenapa masih malu? Mas udah liat semuanya, bahkan mas udah tau rasanya." Pipiku semakin merona mendengarnya. Kini Marshal sudah berada diatas tubuhku, mata kami saling bertatapan.
"Bisa-bisa mas lupa sama kerjaan gara-gara tegang terus kalu deket kamu."
"Mas Marshal!" Marshal menekankan miliknya kearahku.
"Aku suka waktu kamu meneriakkan namaku." Ucapnya sedikit serak, kemudian dia mencium tengkuk ku.
"Aku suka wanginya." Dia terus saja mengecup bahuku.
"Geli mas."
"Tapi enak kan?" Tangannya dengan sengaja menggodaku.
"Kamu nakal banget sih." Kami sama-sama tertawa. Kemudian Marshal melumat bibirku dengan cepat, aku suka saat dia menciumku.
"Mommy Daddy!! Buka pintunya!" terdengar gedoran dipintu, disusul suara Flo yang sangat keras.
"Anak itu, padahal dikit lagi enak." Marshal bangun dari tubuhku dan sedikit menggerutu.
"Jangan gitu mas, nanti malem aku kasih kamu jatah deh. Udah jangan cemberut gitu mukanya, jelek tau!" Aku mengarahkan punggungku kearahnya, "Tolong pasangin."
"Janji ya nanti malem, harus sampe pagi. Aku bakal buat kamu tepar, jadi siapkan tenaga ya sayang." Marshal mengecup bahuku.
"Mommy Daddy!!"
"Iya-iya, sebentar sayang ini Mommy bukain pintunya." Setelah aku membuka pintu, Flo langsung tersenyum dengan lebar.
"Flo mau main ke pantai." Aku melirik Marshal yang kini sedang rebahan diatas ranjang.
"Bilang sama Daddy gih." Flo mengangguk dan langsung berlari menubruk tubuh kekar Marshal.
"Daddy, Flo mau main ke pantai."
"Memangnya Flo gak capek? Kita baru sampai 1 jam yang lalu."
"No, Flo mau sekarang Daddy."
"Yaudah, kita berangkat sekarang. Ganti baju dulu sana, Daddy juga mau ganti baju." Flo tersenyum senang mendengar ucapan Marshal, kemudian berlari keluar kamar.
"Yeayy, ke pantai!"
"Senyum dong Daddy, jangan ditekuk gitu mukanya."
"Janji ya, nanti malem?" Rajuknya.
"Hmm."
"Yes! Kamu ganti baju sana, mas tunggu di mobil ya."
***
"Jangan jauh-jauh ya mainnya. Mommy tunggu disini."
"Okey Mommy, ayo Daddy kita kesana." Flo menunjuk ke arah air laut, sepertinya dia sangat ining bermain air. Aku hanya melihat interasi bapak dan anak itu dari kejauhan, entah kenapa semakin kesini mereka berdua semakin mirip? Ah mungkin itu karena Marshal sudah merawat Flo sejak kecil?
Setelah puas bermain air, Flo merengek minta makan. Dan berakhirlah kami disini, di resto pinggir pantai yang menyajikan berbagai jenis olahan seafood.
"Udang."
"Iya sayang sabar dong." Marshal mengambil piring udang dihadapannya.
"Flo dikit aja, anak kecil gak muat makan banyak-banyak." Aku tertawa melihat mereka berdua yang selalu berebut udang saat makan. "Udah nanti kita pesen lagi, jangan berebut."
"Daddy ngalah dong sama Flo!"
"Capek kalau daddy ngalah terus." Jawaban Marshal membuat Flo cemberut seketika.
"Daddy gak asik!"
"Hmm."
Aku geleng-geleng melihat tingkah keduanya, melihat mereka makan dengan lahap membuatku cepat merasa kenyang.
"Makan Nay."
"Aku udah kenyang, liatin kalian makan gini aja aku udah happy banget."
"Happy sama kenyang itu gak nyambung sayang, makan lagi!" Marshal mengulurkan tangannya untuk menyuapiku.
"Pemaksa."
"Gitu aja kalah sama Flo, modus pengen disuapin ya?"
Aku mendengus, "Gak ya!"