“Kalau suatu hari kami menemukan mayatmu di apartemen, penyebab kematiannya pasti karena terlalu pelit.”
Kalimat terakhir Jevan masih terngiang jelas di kepala Althair saat langkah kakinya melewati pintu keluar rumah sakit. Dokter bedah umum itu memang tidak pernah menyaring ucapannya jika sudah menyangkut gaya hidup Althair.
Jam di lobi utama sudah menunjukkan pukul delapan malam. Langit Jakarta terlihat kusam dan pekat, sisa dari mendung tebal yang menggantung sejak siang hari. Sebagian besar staf dan dokter spesialis sudah pulang, menyisakan area parkir yang perlahan mulai lengang.
Althair terus berjalan menuju sudut paling belakang area parkir luar. Tempat itu adalah posisi favorit yang sengaja ia pilih sejak bertahun-tahun lalu. Sebuah sudut mati yang sempurna, tidak ada lampu penerangan yang terlalu terang, tidak ada kamera pengawas yang menyorot terlalu dekat, dan tidak ada petugas parkir yang terlalu peduli untuk memeriksa.
Di sanalah sedan tuanya berada.
Sebuah mobil pabrikan tahun 2005 dengan cat abu-abu metalik yang kini sudah kusam dan mengelupas. Kendaraan itu menyimpan banyak bekas luka jalanan, bemper depan sebelah kiri pernah dihantam sepeda motor, sementara pintu belakang bagian kanan sedikit penyok. Jika dinyalakan di pagi hari, suara mesinnya akan terdengar bising dan tersedat-sedat, mirip seorang perokok berat yang sedang terserang batuk kronis.
Althair membuka pintu pengemudi yang terasa longgar, lalu duduk di balik kemudi. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa kaku. Di dalam kabin sempit ini, tidak ada Jevan yang cerewet, tidak ada Harsa dengan segala kecurigaannya, tidak ada pertanyaan menjebak, dan tidak ada lagi ejekan tentang sepatu pantofelnya yang lepas di kantin tadi siang.
Ia memejamkan mata beberapa detik, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri. Sebuah jam plastik hitam murah seharga seratus ribuan dengan tampilan digital sederhana. Baterainya bahkan sudah melemah dan pernah ia ganti sendiri menggunakan obeng kecil berukuran mikro. Althair membuka pengait jam plastik itu, lalu menyimpannya ke dalam laci dasbor yang berdebu.
Dari tempat tersembunyi di bawah dasbor, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Ketika dibuka, sebuah jam tangan titanium edisi terbatas berkilau pelan, menangkap sisa cahaya redup dari lampu kabin mobil.
Althair memasangnya perlahan. Klik. Baru setelah jam tangan itu terpasang sempurna, sepasang bahunya perlahan mengendur. Ia tahu ini adalah sebuah ironi yang aneh. Seharian penuh ia harus memaksakan diri memakai barang-barang murah demi menjaga penyamaran di rumah sakit. Namun saat malam tiba dan tidak ada mata yang mengawasi, ia akan kembali mengenakan barang-barang yang memang menjadi hak dan miliknya sejak lahir.
Tepat ketika ia bersiap memutar kunci kontak, ponsel di saku kemejanya bergetar hebat. Nama yang muncul di layar seketika membuat garis rahang Althair mengeras.
Ayah.
Althair membiarkan layar itu menyala berkedip-kedip di kegelapan kabin hingga akhirnya mati sendiri. Namun, lima detik kemudian, ponsel itu kembali bergetar untuk panggilan kedua. Dengan helaan napas berat, Althair menggeser tombol hijau.
“Ada apa?”
“Tidak pulang?” Suara Baskara Dewantara terdengar dari seberang sambungan—datar, berat, dan intimidatif.
“Ada pekerjaan di rumah sakit,” jawab Althair pendek.
“Kamu selalu punya pekerjaan.”
“Saya seorang dokter.”
“Kamu seorang pewaris, Althair.”
Althair tidak menjawab. Ia memilih memutar kunci kontak ke posisi ON. Mesin sedan tua itu langsung menggerung kasar, membuat seluruh bodi mobil bergetar hebat.
Baskara terdiam beberapa detik di ujung telepon. “Mengapa suara mobilmu seperti truk pengangkut ayam?”
“Karena ini memang mobil.”
“Beli yang baru. Besok saya kirimkan unit yang layak.”
“Yang ini masih berfungsi dengan baik.”
“Kamu mempermalukan nama besar keluarga jika ada rekan bisnis saya yang melihatmu memakai rongsokan itu.”
Althair mengembuskan napas pelan. Percakapan ini selalu berjalan di alur yang sama, hanya urutannya saja yang kadang berubah.
“Saya sedang menyetir,” kata Althair, mencoba memotong jalur debat.
“Akhir pekan ini, datang ke rumah utama.”
“Kenapa?”
“Kita perlu bicara serius soal masa depan.”
“Saya sudah menentukan dan memiliki masa depan saya sendiri.”
“Kamu punya kewajiban yang tidak bisa kamu hindari selamanya.”
Klik. Sambungan telepon itu langsung diputus secara sepihak. Baskara Dewantara memang selalu seperti itu, menganggap sebuah diskusi telah selesai mutlak ketika ia merasa sudah menyampaikan seluruh perintahnya.
Althair meletakkan ponselnya, lalu mulai mengemudikan sedan tua itu keluar membelah gerbang rumah sakit.
Lalu lintas Jakarta di jam delapan malam masih menyajikan kepadatan yang melelahkan. Sorot lampu dari ratusan kendaraan memantul di kaca depan yang buram, berbaur dengan suara klakson yang saling bersahutan tanpa henti.
Satu jam menembus kemacetan, mobil tua itu akhirnya berbelok memasuki kawasan kompleks apartemen sederhana di pinggiran kota. Di tempat ini, tidak ada dinding marmer impor, tidak ada lobi megah, dan tidak ada layanan valet parking. Bangunan beton vertikal itu bahkan terlihat sedikit kusam.
Seorang satpam yang berjaga di pos depan langsung mengangkat tangan ramah. “Malam, Dok.”
Althair menurunkan sedikit kaca jendela. “Malam, Pak.”
“Mobilnya sehat, Dok?” Pertanyaan cemas sekaligus penasaran itu selalu muncul hampir setiap minggu.
“Masih hidup, Pak,” jawab Althair retoris.
Satpam itu terkekeh pelan. “Wah, itu sudah sebuah pencapaian luar biasa untuk mobil antik, Dok.”
Althair hanya membalasnya dengan senyum tipis sebelum mengarahkan kendaraannya masuk ke area parkir bawah tanah yang remang-remang. Ia sengaja menghentikan sedan tuanya di slot parkir yang terletak paling pojok. Di sekelilingnya tidak ada mobil mewah, tidak ada penghuni kaya yang akan memedulikan keberadaannya. Persis seperti lingkungan ideal yang selalu ia inginkan selama delapan tahun terakhir.
Ia turun dari mobil sambil menjinjing tas kerja kulitnya yang mulai usang, lalu berjalan menuju lift tua untuk naik ke lantai tujuh.
Begitu pintu studio apartemennya dibuka, keheningan langsung menyambut. Ruangan itu kecil, bahkan terhitung sangat sempit untuk standar seorang dokter spesialis mapan. Hanya ada satu kamar utama yang merangkap semua fungsi, satu sudut dapur mini, satu meja kerja kayu yang dipenuhi tumpukan jurnal medis, dan satu tempat tidur berukuran sedang.
Di tempat ini, tidak ada barang mewah, tidak ada lukisan dekoratif bernilai tinggi, dan tidak ada satu pun tanda yang menunjukkan bahwa pemilik ruangan ini sebenarnya adalah pewaris tunggal dari jaringan rumah sakit swasta bernilai triliunan rupiah.
Althair meletakkan tas kerjanya, lalu melangkah menuju lemari pakaian besar di sudut ruangan.
Ketika dua pintu lemari dibuka lebar, di dalamnya tampak tergantung dua dunia yang berbeda total. Sisi sebelah kiri berisi pakaian kasual sehari-hari, kaos polos murah, kemeja sederhana, dan beberapa potong celana bahan yang warnanya sudah sedikit turun. Sementara itu, sisi sebelah kanan lemari berisi deretan setelan jas custom-made dari bahan terbaik—rapi, mahal, eksklusif, dan tidak pernah sekali pun terlihat oleh siapa pun di rumah sakit.
Althair mengambil sebuah kotak kulit hitam kecil dari rak bagian atas. Ketika dibuka, di dalamnya tersimpan sebuah kartu kredit hitam tanpa batas transaksi (black card). Kartu itu adalah salah satu simbol kekuasaan tertinggi keluarga Dewantara, benda yang paling dibenci Althair karena mengikat kebebasannya.
Ia menatap kartu hitam itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya mendesah pelan dan menutup kotaknya kembali. “Besok saja,” gumamnya pada diri sendiri.
Perutnya mulai melempar protes. Althair berjalan menuju dapur mini, lalu mengambil satu bungkus mi instan rasa kari ayam dari lemari penyimpanan.
Ia tahu betul, jika sampai Jevan melihat menu makan malamnya saat ini, dokter bedah umum itu pasti akan langsung memberikan ceramah panjang tentang teori ekonomi yang sama sekali tidak ia minta.
Air di panci kecil mulai mendidih. Althair memasukkan mi, menyusul sebutir telur ayam, lalu mengaduknya perlahan hingga matang. Ia membawa mangkuk tersebut dan duduk di meja kerja kecilnya yang menghadap langsung ke jendela kaca. Inilah makan malam seorang pewaris konglomerat, semangkuk mi instan panas dengan asap yang mengepul tipis.
Baru dua suapan masuk ke mulut, ponsel di samping mangkuknya kembali bergetar beruntun, menampilkan notifikasi dari grup percakapan digital.
Grup Geng Warung Belakang. Sebuah nama grup yang dibuat secara asal oleh Jevan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah belasan tahun lalu.
Jevan: Masih hidup, Sultan Sepatu?
Kavi: Jangan lupa makan, Al. Kamu kelihatan kurang istirahat tadi.
Harsa: Teori saya soal Althair makin lama makin masuk akal.
Thala: Harsa, jangan mulai lagi malam-malam begini.
Harsa: Tapi dia beneran aneh, Tha. Ada orang yang menyembunyikan sesuatu.
Jevan: Halah, semua dokter spesialis di rumah sakit kita kan memang aneh.
Harsa: Nggak ada yang seaneh Althair.
Althair membaca setiap baris obrolan itu sambil terus mengunyah mi instannya. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama ketika Jevan mengirimkan sebuah gambar baru. Itu adalah foto sepatu pantofel kanan Althair yang solnya mangap, diambil secara diam-diam dari bawah meja kantin tadi siang.
Jevan: Saya usulkan dengan resmi agar sepatu legendaris ini segera masuk museum sejarah nasional.
Thala: Setuju.
Kavi: Saya juga setuju.
Harsa: Setuju banget.
Tanpa ekspresi, Althair langsung menekan opsi keluar dari obrolan. Namun, dua detik kemudian, sebuah notifikasi baru muncul di layarnya.
Jevan telah menambahkan Anda kembali ke dalam grup.
Althair hanya bisa menatap layar ponselnya dengan pandangan datar. Ia kemudian memutuskan untuk mematikan seluruh notifikasi dari grup tersebut secara permanen untuk malam ini. Tidak ada gunanya meladeni empat orang itu, mereka semua memiliki terlalu banyak waktu luang untuk menjadikannya bahan lelucon.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Althair berdiri diam di depan jendela kaca. Dari ketinggian lantai tujuh, lampu-lampu jalanan kota Jakarta terlihat berkelap-kelip di tengah kegelapan malam.
Ponselnya menunjukkan waktu sudah hampir menyentuh pukul sebelas malam. Di jam seperti ini, sebagian besar orang normal sudah beristirahat. Namun, Althair justru melangkah ke meja kerja dan membuka laptop pribadinya.
Ia mulai membaca kembali laporan perkembangan pasien pasca-operasi, meninjau ulang hasil pemindaian MRI yang rumit, membalas beberapa email konsultan medis, serta mengecek jadwal operasi besok pagi. Rutinitas ini selalu sama, namun hanya rutinitas inilah yang membuatnya merasa tetap menjadi seorang dokter sejati—yang dihargai karena kemampuannya, bukan karena ia adalah seorang pewaris atau alat perluasan bisnis keluarga Dewantara.
Dua jam berlalu tanpa ia sadari. Ketika ia akhirnya menutup layar laptop, jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari.
Althair merebahkan tubuhnya yang terasa remuk di atas tempat tidur. Namun, baru saja kelopak matanya mulai terpejam, ponsel di atas nakas kembali berbunyi pendek, menandakan sebuah pesan teks resmi masuk.
Pesan itu berasal dari koordinator pendidikan rumah sakit, Besok ada briefing untuk kelompok koas baru jam 07.00 pagi di ruang utama. Mohon kehadirannya, Dok.
Althair membaca pesan singkat itu dengan mata yang setengah terbuka, lalu meletakkan ponselnya menghadap ke bawah.
Koas baru. Angkatan baru. Dan itu berarti, rangkaian masalah baru akan kembali datang melintasi koridor rumah sakit. Polanya sangat mudah ditebak. Ia tidak ingin membuang energi untuk memikirkannya malam ini karena di matanya, semua angkatan koas memiliki tipe yang sama. Selalu ada yang terlalu gugup, ada yang terlalu percaya diri, ada yang terlalu banyak bertanya, atau ada yang langsung pingsan saat pertama kali melihat darah di ruang operasi. Tidak ada yang benar-benar menarik atau istimewa bagi Althair.
Paling tidak, itulah hal terakhir yang ia yakini malam ini.