BAB 3

1868 Kata
“Mati.” Althair menatap lekat-lekat panel instrumen di dashboard. Ia mengembuskan napas pendek, lalu mencoba memutar kunci kontak sekali lagi. Tidak ada respons. Jantung mekanis kendaraan itu hanya mengeluarkan bunyi klik pendek yang terdengar sangat menyedihkan sebelum kembali senyap. “Kamu bercanda,” gumamnya pada kemudi. Ia mencoba untuk ketiga kalinya, namun hasilnya tetap sama. Hening. Lampu indikator aki dan oli masih menyala redup, menandakan sistem kelistrikan masih mengalir, tetapi mesinnya menolak bekerja. Di luar, tetesan air hujan menghantam kaca depan dengan volume yang semakin deras. Wiper bergerak cepat membelah air, namun pandangan ke depan tetap saja mulai kabur dan terbatas. Althair menyandarkan punggungnya, menatap roda kemudi selama beberapa detik dengan sisa energi yang menipis. Hari ini benar-benar sudah cukup buruk bagi dirinya. Dimulai dari operasi darurat di rumah sakit yang molor berjam-jam, rapat administrasi komite medis yang tidak penting, lalu ditutup dengan telepon dari ayahnya yang sukses membuat suasana hati berantakan. Dan sekarang, mobil sedan tua satu-satunya ini memilih untuk mogok. Di jalur cepat. Tepat di depan halte bus yang sedang penuh sesak oleh orang-orang yang berteduh. Tinnn! Suara klakson langsung terdengar nyaring dari arah belakang. Satu, dua, lalu dalam hitungan detik berubah menjadi puluhan suara yang saling bersahutan memekakkan telinga. Althair memejamkan mata sesaat untuk menahan emosi. Ia adalah seorang spesialis bedah saraf senior. Ia bisa mengidentifikasi letak perdarahan otak terkecil hanya dari selembar hasil CT Scan. Ia terbiasa mengambil keputusan hidup dan mati pasien dalam hitungan detik di dalam ruang operasi. Tetapi urusan mesin mobil, baginya, selalu terasa seperti sihir hitam yang tidak masuk akal. Klakson kembali bersahutan tanpa henti. Seorang pengendara motor yang melintas di sisi kanan bahkan sengaja melambat dan menunjuk ke arahnya dengan kesal. “Pak! Dorong, Pak! Macet nih!” “Saya tahu,” gumam Althair pelan dari balik kaca yang tertutup rapat. Masalahnya, ia tidak bisa mendorong mobil berbobot satu ton ini sendirian sambil memegang setir di saat yang bersamaan. Duar! Petir menyambar keras di langit malam, memuntahkan suara gemuruh yang memenuhi udara Jakarta. Hujan turun semakin menggila, membuat jalur kendaraan langsung terkunci total. Di sisi kiri jalan, halte bus dipenuhi oleh puluhan calon penumpang yang berdesakan mencari tempat beralih dari cipratan air. Althair akhirnya melepas sabuk pengaman, membuka pintu, dan keluar dari mobil. Air hujan langsung membasahi jas kerjanya dalam sekejap. Tanpa memedulikan penampilannya yang mulai berantakan, ia berjalan ke area depan, menarik tuas, dan membuka kap mesin. Ia berdiri mematung menatap kerumunan kabel dan blok besi di hadapannya. Hening. Karena jujur saja, ia sama sekali tidak tahu harus melihat bagian yang mana. Beberapa pengendara yang lewat memperhatikannya dengan tatapan kasihan bercampur kesal. Seorang bapak tua yang sedang berteduh di bawah emperan toko menggelengkan kepala. “Kalau cuma dilihatin nggak bakal hidup sendiri, Pak!” serunya setengah berteriak. Althair menarik napas panjang, membiarkan air hujan mengalir di wajahnya. “Saya tahu,” balasnya pelan. “Tapi saya juga nggak tahu cara benerinnya.” Bapak itu tertawa renyah, lalu melanjutkan langkahnya. Althair kembali menatap kosong ke arah mesin. Ia benar-benar buta soal otomotif. Di dalam saku celananya, ponsel bergetar hebat. Jevan. Althair langsung menekan tombol terima tanpa basa-basi. “Apa?” “Lu udah pulang belum, Al?” suara Jevan terdengar santai. “Belum. Mobil saya mogok.” Hening satu detik di seberang telepon, sebelum akhirnya tawa Jevan meledak keras. Keras sekali, seolah-olah itu adalah lelucon terbaik yang pernah ia dengar minggu ini. “Saya senang melihat penderitaan saya bisa menghibur kamu,” kata Althair dengan nada datar. “Di mana lokasi lu sekarang?” Althair menyebutkan nama jalan protokol di depannya. Detik itu juga, tawa Jevan kembali terdengar lebih membahana. “Itu jalan paling macet di seluruh Jakarta kalau lagi hujan, Al! Selamat menikmati, ya!” Bip. Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak. Althair memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan gusar. Teman-temannya memang benar-benar tidak bisa diandalkan dalam situasi darurat seperti ini. Tepat saat Althair bersiap untuk menutup kembali kap mesinnya, suara teriakan mendadak muncul dari arah halte bus. Kerumunan orang di halte mulai bergerak gelisah. Beberapa orang berbalik dan menoleh ke satu titik yang sama di bangku pojok. Althair ikut mengalihkan pandangannya ke sana. Seorang wanita hamil sedang duduk bersandar di bangku beton halte. Wajahnya pucat pasi, dan kedua tangannya mencengkeram erat lengan kemeja suaminya. Napas wanita itu memburu, pendek-pendek dan tidak teratur. “Mas ...” katanya dengan suara gemetar yang sarat akan rasa sakit. “Sakit banget, Mas ...” Suami di sampingnya terlihat sangat panik. Pria muda itu memegang pundak istrinya dengan tangan yang ikut bergetar. “Sebentar, ya, Sayang. Iya, sabar dulu, ya ...” Wanita itu menggeleng kuat-kuat. Tubuhnya refleks membungkuk ke depan saat kontraksi berikutnya datang menghantam. Althair langsung bergerak. Insting medis seorang dokter mengambil alih kendali tubuhnya lebih cepat daripada pikirannya sendiri. Ia menutup kap mesin, lalu berjalan cepat menerobos genangan air menuju halte. Orang-orang yang melihat kedatangannya dengan pakaian basah kuyup langsung memberikan ruang. “Mundur sedikit, kasih ruang untuk udara,” kata Althair tegas. Kerumunan orang itu langsung bergeser mundur tanpa protes. Althair berjongkok tepat di depan wanita hamil itu. “Kandungan berapa minggu, Pak?” tanya Althair langsung pada suaminya. “Tiga puluh delapan minggu, Dok,” jawab pria itu dengan suara yang hampir menangis setelah melihat name tag medis di d**a Althair. “Kontraksinya sudah sejak kapan?” “Sudah dari satu jam yang lalu di rumah, tapi ini makin rapat.” Wanita itu kembali meringis kesakitan, jari-jarinya mencengkeram pinggiran bangku halte hingga memutih. Althair melirik jam tangan plastiknya, menghitung frekuensi napas sejenak. “Mungkin sudah masuk fase aktif. Kita harus segera membawa istri Anda ke rumah sakit terdekat.” “Ambulans? Saya sudah telepon, tapi katanya masih terjebak di ujung jalan.” Semua orang di halte menyadari masalah yang sama. Jalanan di depan mereka sudah seperti lautan mobil yang lumpuh total. Suara wanita itu kembali terdengar, kali ini volumenya jauh lebih lemah. “Mas ... kepalaku pusing banget ... mual ...” Althair langsung menoleh, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan sang pasien dengan cepat. Keringat dingin mengucur di pelipis wanita itu, napasnya semakin cepat, dan rasa nyerinya datang semakin kuat. Situasi ini sama sekali tidak ideal untuk persalinan darurat di tempat terbuka yang kotor. Seorang pria dari kerumunan penonton mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. “Saya sudah coba pesan taksi online dari tadi, Dok! Tapi nggak ada yang mau ambil! Jalan lumpuh!” Suasana di halte mulai kacau dan bising. Suami pasien terlihat semakin kehilangan arah. Pria itu mulai berjalan mondar-mandir tanpa tujuan. “Kita harus bagaimana, Dok? Tolong istri saya ...” Althair menoleh ke arah jalan raya, menatap lurus ke arah kendaraannya sendiri. Mobil. Ia masih memiliki mobil di sana, meskipun posisinya sedang mogok. Namun setidaknya, kabin mobil tua itu jauh lebih aman, bersih, dan privat daripada halte bus yang terbuka ini. “Kita pindahkan dulu istri Anda ke mobil saya,” putus Althair tegas. Suami pasien langsung mengangguk cepat. Beberapa pria dari kerumunan halte ikut maju membantu menopang tubuh wanita itu. Mereka bergerak perlahan, membelah hujan yang deras untuk menyeberang menuju sedan tua milik Althair. Wanita hamil itu akhirnya berhasil dibaringkan di kursi penumpang bagian belakang. Althair bergegas masuk ke kursi pengemudi. Ia kembali memutar kunci kontak dengan harapan ada keajaiban yang terjadi. Sekali, dua kali, tiga kali. Tetap tidak ada hasil. Kabin mobil itu tetap hening. Suami pasien yang duduk di belakang mulai menatap Althair dengan pandangan putus asa. “Dok ... kenapa mobilnya nggak jalan?” “Itu pertanyaan yang juga sangat ingin saya tanyakan pada mobil ini, Pak,” jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Althair sebelum sempat ia saring. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. “Saya sedang mencobanya lagi.” Klakson dari deretan kendaraan di belakang mereka semakin ramai. Mobil itu tetap diam membeku. Untuk pertama kalinya sore itu, Althair merasakan sesuatu yang sangat jarang ia rasakan selama hidupnya, frustrasi total. “Aduh! Mas, sakit!” Suara wanita di kursi belakang kembali meninggi seiring datangnya kontraksi berikutnya. Althair mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas roda kemudi. Ia membutuhkan solusi nyata sekarang juga. Bukan lima menit lagi, bukan sepuluh menit lagi. Tapi detik ini juga. Kerumunan orang di luar halte justru semakin membesar, mendekati mobilnya. Beberapa orang berdiri di dekat kaca jendela, ikut memberikan saran-saran yang tidak membantu melalui ketukan kaca. “Kalian semua bisa minggir dulu sedikit nggak, sih? Bikin sumpek tahu!” Sebuah suara perempuan tiba-tiba terdengar memotong keributan dari arah luar mobil. Suara itu tidak terlalu keras, tetapi memiliki intonasi yang cukup tegas dan percaya diri hingga mampu membuat beberapa orang di sekitar mobil refleks menoleh dan terdiam. Althair pun ikut mengalihkan pandangannya ke arah jendela samping pengemudi. Anak perempuan itu berdiri tegak di tengah guyuran hujan deras. Kemeja putih khas koas yang ia kenakan sudah tampak sedikit basah di bagian bahu. Rambut hitam panjangnya dikuncir rapi ke belakang, menyisakan poni depan yang dihiasi oleh sebuah jepit rambut berbentuk stroberi merah kecil. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah payung bermotif stroberi besar—payung dengan desain paling mencolok yang pernah Althair lihat di sepanjang hidupnya. Gadis itu melangkah maju, menatap ke arah kap mesin mobil yang sempat terbuka tadi, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke arah mata Althair yang berada di balik kaca mobil. Ekspresi wajah gadis itu mendadak berubah, sedikit kesal, sedikit tidak percaya. Ia mengetuk kaca mobil Althair dua kali. Althair menurunkan kaca jendelanya beberapa sentimeter. “Dokter?” tanya gadis itu langsung. “Iya,” jawab Althair kaku. “Kok cuma duduk diam di dalam?” Althair berkedip sekali. Pertanyaan itu terdengar sangat tidak sopan untuk diucapkan oleh seorang calon dokter muda kepada seniornya. “Mobil saya mogok.” “Saya juga bisa lihat kalau itu.” “Ini sedang saya tangani dari dalam,” bela Althair, mencoba mempertahankan harga dirinya. Gadis itu kembali menatap mata Althair dengan pandangan lurus. “Cara Dokter duduk memandangi setir sama sekali tidak terlihat seperti sedang menangani masalah mesin.” Althair terdiam, kehilangan kata-kata untuk membalas. Suami pasien di kursi belakang pun ikut menoleh ke arah jendela dengan sisa harapan. Gadis berpayung stroberi itu melangkah satu tapak lebih dekat ke pintu mobil, tanpa menunjukkan rasa canggung atau segan sedikit pun terhadap status Althair sebagai dokter spesialis. “Di dalam lagi ada situasi darurat, ya?” tanyanya dengan nada suara yang berubah lebih serius. “Iya,” jawab Althair pendek. “Ibu hamil? Kontraksi fase aktif?” “Iya.” “Oke.” Gadis itu mengangguk sekali dengan cepat. Tanpa diduga, ia langsung membalikkan badan dan menyerahkan payung stroberi mencolok miliknya kepada seorang ibu-ibu yang kebetulan berdiri di dekatnya. “Mbak, tolong pegang payung saya bentar, ya.” Ibu-ibu itu menerima gagang payung dengan wajah bingung. “Eh? Mau ke mana, Neng?” “Mau nyolong mobil orang,” jawab gadis itu dengan nada santai tanpa beban. Orang yang memegang payung itu langsung melongo heran. Althair yang berada di dalam kabin pun ikut mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sangat bingung dengan jalan pikiran perempuan asing di depannya ini. Sebelum Althair sempat mengeluarkan larangan, gadis itu sudah menggulung kedua lengan kemeja putih koasnya hingga ke siku. Dengan langkah mantap, ia berjalan memutari mobil menuju ke bagian depan kap mesin yang tertutup. Ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius dan fokus, membiarkan rintik hujan menghantam wajah dan pakaiannya tanpa ampun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN