“Minggir.”
Althair berkedip, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Hah?”
Gadis berpayung stroberi itu menunjuk ke arah kursi pengemudi dengan gerakan dagu yang tegas. “Minggir, Dok.”
“Saya sedang menangani situasi,” kata Althair, mencoba menegaskan otoritasnya.
“Iya.”
“Mobil ini milik saya.”
“Iya.”
“Dan saya seorang dokter.”
“Iya, Dok.” Gadis itu mengangguk tanpa beban, lalu langsung menarik pintu pengemudi hingga terbuka lebar. “Makanya, Dokter sekarang minggir.”
Althair menatapnya lekat-lekat. Hujan turun semakin deras. Di dalam mobil, situasi bergerak semakin mencekam. Suami pasien tampak memucat karena kebingungan, sedangkan sang ibu hamil di kursi belakang kembali meringis keras menahan gelombang kontraksi yang datang semakin rapat.
Namun, gadis asing di depannya justru tampak sangat tenang. Tidak ada riak panik di matanya. Ia seolah-olah hanya sedang terburu-buru mengantre gorengan.
“Maaf,” kata Althair.
“Tidak,” jawab gadis itu pendek.
“Maksud saya, tidak. Anda tidak bisa—”
“Apa?” potong gadis itu.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak akan menyerahkan kemudi mobil saya kepada orang asing.” Althair menekankan kata demi kata.
Gadis itu mendengus kecil, lalu menunjuk wanita hamil di kursi belakang. “Ibu itu sudah masuk fase kontraksi aktif, Dok.”
“Saya tahu.”
“Mobil tua ini mati total.”
“Saya juga tahu hal itu.”
“Dan saya bisa menghidupkannya sekarang juga.”
Althair melipat kedua tangan di depan d**a. “Anda seorang montir?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Anak montir.”
“Itu bukan sebuah sertifikasi resmi,” tembak Althair kaku.
“Tapi jelas lebih berguna saat ini daripada sekadar teori medis Dokter yang tidak bisa membuat roda mobil ini berputar,” balas gadis itu telak.
Althair membuka mulut, namun segera menutupnya kembali. Ia tidak punya argumen untuk membantah karena kontribusinya terhadap mesin mobil ini memang nyaris nol.
Gadis itu kembali mengetuk pinggiran pintu. “Kita debat lagi setelah bayinya lahir dengan selamat. Bagaimana, Dok?”
Suami pasien di belakang ikut memajukan tubuhnya. “Dok, tolonglah, Dok ... Izinkan saja Mbak ini mencoba.”
Althair menoleh ke belakang, menatap wanita yang sedang merintih. Pasien adalah prioritas. Ia menghela napas panjang, lalu mengalah dan bergeser ke kursi penumpang. “Kalau mobil ini malah tambah rusak ...”
“Saya perbaiki,” potong gadis itu cepat.
“Kalau rusak total?”
“Ya tinggal saya perbaiki lagi nanti.”
Gadis itu duduk di kursi pengemudi, melempar payung stroberinya ke lantai belakang, lalu mencondongkan tubuh ke bawah dashboard.
Althair mengernyitkan dahi. “Apa yang kamu lakukan?”
“Pemeriksaan fisik instan,” suara gadis itu terdengar teredam.
“Dengan kepala masuk ke bawah ruang pedal?”
“Iya, Dok. Mobil Dokter dari awal sudah tidak standar.”
Di bawah sana, jemari gadis itu bergerak lincah. Ia menggeser sebuah panel plastik kecil yang tersembunyi di sudut terdalam bawah dashboard, lalu menarik sebuah tuas besi tipis yang bahkan tidak pernah disadari oleh Althair selama delapan tahun.
Klik.
Althair membeku. “Tunggu. Benda itu sudah ada di situ sejak kapan?”
“Sejak mobil ini dirakit, Dok. Berarti sudah delapan tahun Dokter nggak pernah lihat ke bawah,” cibir gadis itu.
Althair seketika bungkam. Beberapa orang di luar jendela mulai menahan tawa. Harga diri Althair ikut mogok total bersama mesin mobilnya.
Gadis itu meraih kunci kontak dan memutarnya dengan satu sentakan ritmis. Mesin sedan tua itu langsung terbatuk, lalu—blam! Mesinnya mendadak hidup dan bergetar sepenuhnya.
Orang-orang di luar halte bus bersorak gembira. Suami pasien di kursi belakang hampir meneteskan air mata lega. Sementara Althair hanya bisa mematung menatap panel dashboard yang menyala.
“Tidak mungkin ...” katanya lirih.
“Mungkin saja, Dok. Itu karena Dokter menyalakan mobil ini dengan cara yang terlalu kasar.”
“Lalu?”
“Padahal mobil tua begini maunya diajak ngobrol dulu, disentuh pelan-pelan di bagian yang tepat.”
Althair langsung menoleh cepat dengan tatapan horor. “Apa maksudmu?”
Gadis itu terkekeh renyah. “Saya cuma bercanda, Dok. Jangan terlalu serius begitu. Tapi setengah serius.”
Gadis di sebelahnya langsung menginjak kopling dan memasukkan gigi satu. Mobil melesat cepat membelah kemacetan jalan protokol Jakarta.
Althair refleks memegang erat pegangan pintu di atas kepalanya. “Tunggu! Kamu benar-benar yakin bisa menyetir mobil manual, kan?”
“Saya sudah belajar menyetir mobil manual tua seperti ini bahkan jauh sebelum belajar rumus integral di sekolah, Dok.”
Althair akhirnya memilih memandang lurus ke depan. Kemacetan malam hari di bawah guyuran hujan masih sangat parah, tetapi di tangan pengemudi baru ini, sedan tuanya bergerak lincah menyelip di antara celah antrean mobil.
Dari arah kursi belakang, suami pasien mulai tenang. “Dok, terima kasih banyak atas pertolongannya.”
Althair menggelengkan kepala. “Jangan berterima kasih kepada saya, Pak. Sampaikan terima kasih Anda kepada dia. Dia yang membawa kita jalan.”
Gadis di balik kemudi mengangkat tangan kirinya satu detik. “Tenang saja, Pak. Tugas kita sekarang adalah mengantar calon bayi ini sampai ke rumah sakit.”
Kontraksi kembali datang menghantam. Wanita itu erang pelan, membuat Althair kembali fokus ke belakang untuk menuntun teknik pernapasan pasien. Namun, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan gadis di sebelahnya yang tetap menyetir dengan sangat tenang.
“Mbak,” suara suami pasien kembali terdengar. “Mbaknya kerja di rumah sakit Dewantara Medika juga?”
“Besok,” jawab gadis itu singkat.
Althair ikut menoleh ke samping. “Maksud kamu 'besok' itu apa?”
“Saya ini koas baru yang ditugaskan di sana, Dok. Besok jam tujuh pagi baru briefing perdana angkatan kami.”
Althair membeku di tempat duduknya. “Koas? Lalu kenapa malam-malam begini kamu bisa keluyuran di halte dengan seragam lengkap?”
Gadis itu mengangkat bahu. “Kan tadi sudah saya bilang, saya sedang nunggu bus buat pulang.”
Sebuah jawaban sederhana yang sukses membuat Althair kehilangan kata-kata. Seorang anak koas yang belum resmi bertugas sudah berani membajak mobilnya, membongkar rahasia mesinnya, dan mengendalikan situasi darurat. Kenyataan itu mengganggu ego besar Althair, sekaligus terasa luar biasa mengesankan.
Lampu lalu lintas berwarna merah menyala di depan. Antrean kendaraan tampak mengular sangat panjang.
“Situasi di depan tidak bagus, Dok. Kita bisa terlambat,” komentar gadis itu. Ia melirik tajam ke arah sebuah gang pemukiman yang sangat sempit di sebelah kiri jalan, lalu menyalakan lampu sein.
Althair langsung curiga. “Saya tidak suka melihat ekspresi wajahmu yang sekarang.”
“Tebakan Dokter seratus persen akurat. Saya mau memotong jalan lewat gang tikus di sebelah kiri ini.”
“Jangan bodoh! Gang itu terlalu sempit—”
“Sudah terlambat untuk protes, Dok.”
Sret!
Mobil langsung dibanting berbelok tajam ke kiri, masuk ke lorong sempit di antara dinding rumah penduduk. Jarak antara bodi mobil dengan dinding beton hanya berkisar beberapa sentimeter saja dari spion.
“Apakah tindakan ini legal menurutmu?” tanya Althair dengan suara tertahan.
“Hukumnya relatif, Dok. Tapi ini jawaban paling jujur dan solutif dari saya sekarang.”
Mobil terus melaju konstan tanpa ragu. Gadis itu sama sekali tidak terlihat gugup. Tangannya sangat stabil mencengkeram kemudi.
“Siapa nama lengkap kamu?” tanya Althair akhirnya.
“Wah, dari tadi ketegangan sampai lupa belum kenalan, ya? Nama Dokter saya sudah tahu dari awal. Siapa yang tidak tahu Dokter Althair? Spesialis bedah saraf paling galak, dingin, dan perfeksionis di Dewantara Medika.”
Althair mendengus pelan. “Itu reputasi yang terdengar sangat buruk. Sekarang sebutkan nama kamu dengan jelas.”
Gadis itu tersenyum kecil. Sebuah lesung pipit tipis muncul di pipi kirinya. “Zayna. Nama saya Zayna Valerine, Dok.”
Nama lengkap itu seketika berputar di kepala Althair. Ia teringat pada obrolan di ruang komite medis kemarin siang tentang seorang koas baru yang terlambat menyerahkan berkas administrasi karena harus membantu seorang warga mendorong mobilnya yang mogok.
Althair langsung menoleh penuh selidik. “Urusan mobil mogok kemarin lusa ... Mobil siapa yang kamu bantu dorong saat itu?”
Zayna melepaskan satu tangannya dari kemudi, lalu menunjuk tepat ke arah logo di bagian tengah setir mobil yang sedang mereka kendarai.
Althair tertegun, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi dengan pasrah. “Saya mulai curiga kalau takdir di kota ini memang suka bercanda.”
“Ini bukan takdir, Dok,” jawab Zayna dengan kekehan renyah. “Mobil rongsokan ini memang kendaraan tua yang sama dengan yang saya temui kemarin lusa.”
Althair memejamkan mata rapat-rapat. Jadi, inilah pelakunya. Perempuan yang membuat heboh bagian administrasi, dan sekarang sedang mengacak-acak hidup tenangnya di dalam sedan tua ini. Sangat konsisten dalam menciptakan kegemparan.
“Dok! Ini bayinya ... aduh! Rasanya sudah mau keluar, Dok!” Suara teriakan dari wanita di kursi belakang kembali memecah lamunan Althair.
Althair langsung membuang semua pikiran pribadinya. “Tahan sebentar ya, Bu. Kita sudah sangat dekat dengan rumah sakit.”
Zayna melirik papan petunjuk jalan, lalu mengangguk mantap. “Empat menit lagi kita keluar tepat di depan gerbang belakang kompleks rumah sakit, Dok. Sayangnya, saya tidak pernah suka menggunakan cara-cara yang normal untuk menyelesaikan masalah.”
Mobil sedan abu-abu itu akhirnya berhasil keluar dari lorong sempit dan kembali membelah jalan besar. Gedung RS Dewantara Medika sudah terlihat berdiri kokoh di kejauhan. Zayna menekan pedal gas sedikit lebih dalam menuju lobi Instalasi Gawat Darurat yang terang benderang.
“Akhirnya kita sampai juga,” gumam Althair, lega.
“Belum selesai sampai di sini, Dok,” sahut Zayna dengan nada suara yang mendadak berubah agak ragu.
Althair kembali tegang. “Apa lagi yang salah?”
“Saya ... sebenarnya belum terlalu lancar dan tahu cara melakukan parkir paralel di area turunan IGD yang sempit itu, Dok.” Zayna meringis kecil.
Althair tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk yang sangat besar kembali muncul. Mobil terus melaju kencang memotong jalur ambulans, dan Althair sama sekali belum menyadari bahwa beberapa menit lagi, anak koas baru di sebelahnya ini akan melakukan sebuah aksi nekat yang jauh lebih gila daripada sekadar membajak mobil milik mentornya sendiri.