BAB 5

1521 Kata
“Jangan nabrak troli.” Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Althair saat mobil mereka memasuki area lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD). Zayna meliriknya sekilas dari balik kemudi. “Aku suka kalau orang percaya sama kemampuanku.” “Aku tidak percaya,” sahut Althair datar. “Terasa banget, Dok.” Mobil tua itu meluncur melewati pintu masuk utama. Petugas keamanan langsung bergerak cepat saat melihat pasien di kursi belakang. Di saat yang sama, seorang perawat bergegas mendorong brankar mendekat. Hujan di luar mulai mengecil, tetapi area lobi masih basah oleh tampias air yang terbawa angin. Suami pasien membuka pintu belakang dengan tergesa-gesa. “Istri saya, Dok! Kontraksi aktif!” Tim jaga IGD langsung mengambil alih. Dalam hitungan detik, pasien sudah berhasil dipindahkan ke atas brankar. Althair ikut turun dari mobil. Mode dokternya aktif seketika. Ia berjalan cepat di samping brankar sambil memberikan laporan medis singkat. “Kehamilan tiga puluh delapan minggu. Kontraksi teratur. Nyeri meningkat selama perjalanan. Perlu evaluasi obstetri segera.” Perawat yang menerima laporan itu mengangguk. “Baik, Dok. Biar kami tangani.” Brankar tersebut menghilang ke balik pintu otomatis IGD. Suami pasien sempat berhenti beberapa langkah kemudian dengan mata berkaca-kaca. Ia berbalik ke arah Althair dan membungkuk berkali-kali. “Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak.” Althair hanya mengangguk. Ia tidak pernah nyaman menerima ucapan terima kasih yang berlebihan seperti itu. Pasien selamat sampai di rumah sakit sudah lebih dari cukup. Ketika Althair berbalik, ia mendapati Zayna masih duduk santai di kursi pengemudi. Kaca jendela mobil sudah diturunkan. Siku kiri gadis itu bertumpu di pintu, sementara payung stroberi mencolok miliknya tergeletak di kursi belakang. Pemandangan itu terasa sangat mengganggu di mata Althair. Seolah-olah sedan tua itu memang milik Zayna sejak awal. “Turun,” perintah Althair tegas. “Sebentar,” jawab Zayna. “Apa lagi?” “Ada urusan, Dok.” Althair mulai menaruh curiga. Instingnya terhadap potensi kekacauan lumayan berkembang pesat setelah dua puluh menit mengenal perempuan ini. “Aku tidak suka nada bicaramu yang itu.” “Tenang, Dok.” “Aku lebih tidak suka lagi kalau kamu menyuruhku tenang.” Zayna menoleh ke arah pintu IGD, lalu menunjuk suami pasien yang masih berdiri kebingungan di sudut koridor. “Nah, itu masalahnya.” “Apa?” “Administrasi.” Althair mengernyitkan dahi. “Administrasi kenapa?” “Kelihatannya mereka nggak mampu, Dok.” Zayna bersuara pelan. Althair mengikuti arah pandang gadis itu. Pakaian pasangan suami istri tadi memang sangat sederhana. Sandal yang dikenakan sang suami bahkan terlihat hampir putus. Kini, pria muda itu berdiri di depan loket sambil meremas dompet tipis di tangannya dengan wajah penuh kecemasan. Ketakutan akan tagihan rumah sakit. Althair mengembuskan napas pelan. “Aku akan urus.” Zayna seketika tersenyum lebar. “Bagus.” “Kenapa kamu senyum begitu?” “Karena akhirnya kita sepemikiran, Dok.” “Di kamusku, itu bukan sebuah kabar baik.” “Kadang hidup memang seberat itu, Dok.” Zayna mengangkat bahu. Althair menatapnya datar, namun Zayna terlihat sama sekali tidak terpengaruh. “Aku masuk dulu,” pamit Althair. “Nah,” sahut Zayna. “Bagus kalau begitu.” Althair menghentikan gerakannya. “Kenapa?” “Karena aku juga mau minta tolong sekalian.” “Tolong apa?” Zayna menunjuk loket pendaftaran. “Temani bapaknya urus berkas.” “Aku memang mau ke sana.” “Bagus.” “Kamu sendiri?” “Aku tunggu di sini.” Althair menatap gadis itu beberapa detik. Firasat buruknya kembali muncul. Sangat kuat. “Jangan ke mana-mana.” Zayna mengangkat dua jarinya. “Janji, Dok.” Dua puluh menit kemudian, Althair melangkah keluar dari ruang administrasi. Masalah finansial pasien tadi sudah selesai. Ia menggunakan sebagian dana bantuan sosial internal rumah sakit, dan sisanya ia tambahkan diam-diam menggunakan uang pribadi. Bukan pertama kali, dan bukan terakhir kali. Yang penting pasien mendapat perawatan. Ia berjalan kembali ke area depan lobi IGD, namun langkahnya mendadak terhenti. Area parkir di depannya kosong melompong. Sedan tua abu-abu miliknya sudah tidak ada. Althair berkedip. Sekali. Dua kali. Tempat itu tetap kosong. Mobilnya benar-benar telah menghilang. “Mustahil ...” gumamnya. Petugas keamanan yang berdiri di dekat pintu lobi menoleh. “Ada apa, Dok?” “Mobil saya ...” “Yang warnanya abu-abu tua tadi, Dok? Sudah dibawa pergi.” Althair membeku. “Dibawa siapa?” “Sama cewek yang tadi setir mobil Dokter. Itu, Dok ... yang pakai jepit rambut stroberi.” Tangan Althair langsung menekan pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa pening. Tentu saja. Siapa lagi? “Dia ada bilang sesuatu sebelum pergi?” Petugas keamanan tampak berpikir. “Katanya ... 'Pak, titip dokternya dulu ya'.” Althair refleks menutup matanya. “Terus?” “Terus katanya lagi, 'Kalau dokternya nanti marah-marah, suruh minum air putih aja'.” Althair membuka matanya kembali. Ia mulai memahami mengapa sebagian dokter bisa mengidap hipertensi di usia muda. Dua menit kemudian, ponsel di saku jas Althair berdering. Sebuah nomor baru yang tidak dikenal tertera di layarnya. “Halo,” suara Althair terdengar berat. “Halo, Dokter galak!” sahut suara di seberang sana dengan nada teramat ceria. Althair langsung mengenali pemiliknya. “Kamu di mana sekarang?” “Coba tebak, Dok.” “Aku tidak sedang ingin bermain tebak-tebakan, Zayna.” “Zayna.” “Iya, Dok?” “Mobilku.” “Aman, kok. Ini aku lagi muter-muter nyari tempat parkiran. Nggak mungkin kan mobil Dokter aku taruh sembarangan.” Althair memejamkan mata, menghitung sampai lima di dalam hati. Teknik pengendalian emosi yang hari ini tidak terlalu mempan. “Kembalikan mobilku sekarang.” “Nanti, Dok. Kalau urusanku sudah selesai.” “Selesai urusan apa lagi?” “Ada satu urusan penting, Dok.” Althair mendengar percakapan samar antara Zayna dengan seorang wanita paruh baya di latar belakang telepon, sebelum akhirnya suara Zayna kembali jernih. “Oke, Dok. Masalah daruratnya sudah selesai.” “Masalah apa?” “Tadi aku habis mengantar ibu-ibu penjual gorengan, Dok. Kasihan ibunya kehujanan di pinggir jalan bawa dagangan banyak banget. Jadi aku angkut aja. Terus kebetulan tadi aku lihat ada mobil kosong nganggur di depan IGD.” “Itu mobilku, Zayna!” “Iya, makanya aku pakai. Jangan galak-galak dong, Dok.” “Kembalikan. Sekarang.” “Oke, oke. Lima belas menit lagi aku sampai di lobi,” lanjut Zayna sebelum langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Tepat tujuh belas menit kemudian, sedan tua itu muncul kembali di area IGD dengan suara mesin yang masih menyedihkan. Zayna turun dari pintu pengemudi sambil tersenyum lebar. “Mobilnya balik dengan selamat, Dok.” Althair berdiri diam. “Terima kasih.” “Tuh kan, akhirnya Dokter mau bilang terima kasih juga.” “Aku berterima kasih karena kamu sudah mau mengembalikan barang curianku,” ralat Althair ketus. “Bahasa Dokter kok jahat banget, sih? Tapi aku suka.” Zayna melangkah ke kursi belakang untuk mengambil payung stroberinya, lalu menutup pintu. Selesai, pikir Althair. Namun, Zayna kembali membuka pintu belakang dan meraih sebuah kantong plastik besar berwarna putih. Ia menyodorkannya ke arah Althair. “Nih, Dok. Ketinggalan. Barang bawaan milik pasien hamil tadi.” Althair menerima bungkusan itu secara refleks. Ketika dibuka, tubuhnya membeku. Popok bayi. Satu pak penuh ukuran newborn. Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Kenapa barang ini baru kamu berikan sekarang?” “Aku lupa, Dok.” Zayna memiringkan kepalanya, lalu tertawa lepas. Itu tawa dari seseorang yang benar-benar merasa situasi saat ini sangat lucu. Dan memang menggelikan. Seorang dokter spesialis bedah saraf ternama, berdiri kaku di depan teras IGD memegang satu kantong plastik besar berisi penuh popok bayi. Beberapa perawat yang lewat mulai melirik sambil menahan senyum. Althair langsung tahu, besok pagi, rumah sakit akan memiliki bahan gosip baru. “Kalau sudah tidak ada urusan lain,” kata Althair dingin, “aku mau pulang.” Zayna mengangguk. “Oke, Dok. Silakan.” Gadis itu berbalik dan berjalan pergi begitu saja tanpa rasa bersalah. Althair memperhatikannya menjauh, sampai tiba-tiba langkah Zayna terhenti mendadak. Gadis itu menepuk saku kemejanya, beralih ke saku celana, lalu mengerutkan kening. “Aduh ...” gumam Zayna lirih. Insting Althair langsung bergejolak. “Ada apa lagi?” Zayna berbalik dengan wajah agak panik. “Kupikir tadi sudah aku masukkan ke sini, Dok. Dompetku.” “Dompetmu hilang?” “Mungkin, Dok. Seingatku, aku terakhir kali membuka dompet itu di dalam mobil Dokter.” Mendengar kalimat tersebut, tubuh Althair langsung membeku. Sebelum ia sempat melarang, Zayna sudah berlari kembali menuju mobil, menggeledah sela-sela jok pengemudi dan penumpang. Althair ikut melangkah mendekat. “Ketemu?” “Tidak ada, Dok,” jawab Zayna dari dalam kabin. Namun, saat Zayna meraba kolong jok depan, gerakan tangannya mendadak berhenti total. Matanya membesar. Dengan gerakan perlahan, jemari gadis itu menarik keluar sebuah benda yang terselip jauh di bawah kursi. Sebuah kartu plastik berwarna hitam mengilap. Desainnya sangat elegan dan mewah—jenis kartu eksklusif yang sangat tidak cocok berada di dalam kolong sedan tua tahun 2005 itu. Dalam satu detik yang panjang, Althair tahu persis bahwa hidupnya baru saja resmi masuk ke babak masalah yang jauh lebih rumit. Karena saat ini, Zayna sedang menatap lekat-lekat nama yang tertera di atas kartu hitam tersebut, lalu perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap Althair dengan sebuah senyuman penuh arti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN