“Kamu sebenarnya sedang menghadapi siapa, Althair?”
Althair menatap bayangannya sendiri di cermin lift yang bergerak turun. Pertanyaan itu keluar pelan, berbisik, ditujukan khusus kepada dirinya sendiri yang tampak kusut.
Ting. Pintu lift terbuka. Ia melangkah keluar menuju area parkir bawah tanah rumah sakit yang sunyi. Langkah kakinya menggema pelan, namun pikirannya justru jauh lebih bising karena terus-menerus memikirkan satu hal yang sama, Black Card.
Sialnya, fokus Althair bukan cuma tertuju pada kartu kredit super premium itu. Yang jauh lebih berbahaya adalah sosok orang yang kini sedang memegangnya.
Zayna Valerine. Anak koas berpayung stroberi. Perempuan asing yang baru dikenalnya beberapa jam lalu, tetapi sudah sukses membajak sedan tuanya, mengatur jalan hidupnya, meninggalkan dirinya memegang sepaket besar popok bayi di depan lobi IGD, lalu puncaknya—menemukan satu-satunya benda yang tidak boleh ditemukan oleh siapa pun di rumah sakit ini.
Althair masuk ke dalam kabin sedan tuanya. Ia memasukkan kunci kontak, lalu memutarnya pelan. Mesin langsung menyala seketika. Halus, konstan, dan tanpa drama mogok sedikit pun.
Bukannya lega, Althair justru merasa semakin kesal. Ia memukul pelan kemudi mobilnya. “Kenapa sekarang kamu mendadak nurut, hah?” gumamnya jengkel.
Mobil tentu saja diam. Biasanya benda mati memang tidak pernah membantu dalam sebuah diskusi yang emosional.
Perjalanan malam menuju apartemen pribadinya terasa berjalan jauh lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu jalanan kota Jakarta berkelebat cepat di balik kaca jendela, berbanding lurus dengan isi kepala Althair yang terus berputar tanpa henti.
Ia mencoba memaksa otaknya untuk berpikir logis. Zayna hanya menemukan kartu itu secara tidak sengaja. Belum tentu anak koas itu tahu apa arti di balik kilau warna hitamnya. Belum tentu dia peduli. Belum tentu juga dia akan melakukan tindakan nekat.
Masalahnya, semakin Althair mencoba berpikir logis, semakin banyak skenario buruk yang mendadak muncul di kepalanya bagai film horor. Bagaimana kalau Zayna sempat memotret kartu itu diam-diam? Bagaimana kalau foto kartu itu masuk ke dalam grup obrolan para koas baru? Bagaimana kalau besok pagi seluruh staf rumah sakit tahu? Bagaimana kalau Jevan melihatnya?
Althair langsung merinding di balik kemudi. Bukan karena takut reputasinya hancur, melainkan karena ia tahu persis tabiat Jevan. Sahabatnya itu tidak akan pernah berhenti membahas dan meledeknya sampai hari pensiun mereka tiba.
Tiga puluh menit kemudian, Althair tiba di lobi kompleks apartemennya. Satpam yang biasa bertugas menjaga gerbang langsung melambaikan tangan dengan ramah. “Malam, Dok.”
“Malam, Pak,” jawab Althair pendek.
“Mobilnya sehat, Dok?” tanya satpam itu lagi sambil melirik sedan abu-abu tua tahun 2005 milik Althair.
Althair memejamkan mata rapat-rapat selama tiga detik. “Pertanyaan Bapak malam ini sudah mulai terasa menyerang ranah pribadi saya.”
Satpam itu langsung tertawa renyah, mengira sang dokter hanya sedang bercanda. Sementara Althair sama sekali tidak tertawa.
Ia segera naik ke lantai tujuh menggunakan lift, lalu membuka pintu unit studio apartemennya. Ruangan minimalis yang biasanya selalu memberikan ketenangan itu malam ini mendadak terasa menyesakkan. Tas kerja dilempar asal ke atas sofa, sepatu dilepas, dan kemeja kerjanya diganti dengan kaus santai.
Althair berdiri di depan wastafel dapur, menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Wajahnya terlihat sangat lelah. Kurang tidur, kurang sabar, dan yang paling parah, sedang kurang keberuntungan.
Ia membuka pintu kulkas, mengambil satu botol air mineral, lalu meminumnya hingga tandas setengah botol sekaligus. Tetap tidak membantu. Otaknya masih penuh dan berputar pada siklus yang sama, Zayna, Black Card, Zayna, Black Card.
Dengan tangan sedikit gemetar, Althair meraih ponselnya. Ia membuka mesin pencarian Google, lalu mengetikkan sebuah kalimat di kolom pencarian, Bagaimana cara mengetahui seseorang akan memeras Anda.
Althair membaca hasil pencarian artikel tersebut selama beberapa detik, sebelum akhirnya menutup aplikasi itu dengan perasaan gusar. Memalukan. Sangat memalukan.
Seorang dokter spesialis bedah saraf, lulusan terbaik, konsultan bedah muda, sekaligus pewaris tunggal konglomerat Dewantara Group, saat ini sedang panik mencari artikel internet tentang cara menghadapi potensi pemerasan dari seorang anak koas baru. Hidup benar-benar memiliki selera humor yang sangat aneh.
Bzzzt ... Bzzzt ...
Ponselnya bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari grup obrolan “Geng Warung Belakang” muncul di layar. Jevan baru saja mengirimkan sebuah foto semangkuk mi instan kuah.
Jevan: Lagi makan malam, nih.
Harsa: Tidak ada yang tanya, Jev.
Jevan: Aku cuma mau berbagi kebahagiaan sama kelalian.
Thala: Definisi bahagia versi kamu itu agak menyeramkan ya, Jev.
Kavi: Besok jadwal operasi jam berapa, teman-teman?
Althair hanya membaca pesan-pesan tersebut dari layar kunci tanpa berniat untuk ikut membalas. Namun, sedetik kemudian, sebuah pesan baru dari Jevan masuk dan sukses membuat jantungnya mencelos.
Jevan: Althair masih hidup?
Harsa: Mungkin dia masih nangis di pojokan kamar gara-gara mobil tuanya mogok lagi.
Jevan: Atau mungkin dia lagi kepikiran sama koas jepit stroberi yang tadi di IGD.
Althair langsung menegang di tempat duduknya. Jemarinya mendadak berhenti kaku di atas permukaan layar.
Thala: Koas jepit stroberi? Siapa lagi itu?
Jevan: Anak koas baru yang tadi sore aku lihat di lobi IGD.
Thala: Oooo.
Harsa: Koas yang tadi sore menyetir mobil tuanya si Althair?
Jevan: Iya, seratus buat kamu.
Thala: Wah, menarik ini.
Tidak tahan lagi, Althair langsung mengetikkan balasan dengan cepat.
Althair: Sama sekali tidak menarik.
Hanya butuh waktu tiga detik bagi grup itu untuk meledak dengan empat balasan masuk sekaligus secara bersamaan.
Jevan: DIA MASIH HIDUP, GUYS!
Harsa: DAN DIA TERNYATA MEMBACA CHAT KITA!
Thala: DARI NADA KETIKANNYA, FIX DIA SEDANG PANIK.
Kavi: Selamat malam semuanya, selamat beristirahat.
Althair menghela napas frustrasi, lalu langsung memilih opsi keluar dari grup obrolan. Namun, belum ada lima detik berlalu, Jevan sudah memasukkan kembali nomornya ke dalam grup.
Kesal, Althair langsung mematikan daya ponselnya sepenuhnya. Tidak ada gunanya diladeni. Hubungan persahabatan yang sudah terjalin selama dua puluh tahun dengan mereka memang kadang-kadang terasa lebih mirip seperti sebuah kutukan daripada anugerah.
Pukul sebelas malam lewat, Althair sudah berbaring telentang di atas tempat tidur. Lampu kamar sudah dimatikan, pendingin ruangan menyala sejuk, dan suasana di luar apartemen sangat tenang. Namun, matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit. Ia menoleh ke kiri, beralih ke kanan, namun rasa kantuk tidak kunjung datang.
Tengah malam tiba, dan Althair masih terjaga. Ia mendadak duduk tegak di ranjangnya, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi. “Ini benar-benar sudah tidak normal.”
Ia pernah menjalani prosedur operasi bedah saraf rumit selama tiga belas jam berturut-turut, dan ia masih bisa langsung tertidur pulas setelahnya. Namun hari ini, pertahanannya runtuh total hanya karena ulah seorang anak koas dan selembar kartu kredit. Harga dirinya sebagai seorang konsultan senior mendadak merosot drastis malam ini.
Sementara itu, di sisi lain kota Jakarta yang jauh dari kecemasan berlebihan milik Althair, Zayna sedang duduk bersila di atas kasur tipis kamar kosnya. Kamar berukuran tiga kali empat meter itu tampak sangat sederhana, hanya ada satu lemari pakaian, satu meja belajar kayu, satu kipas angin dinding, dan sebuah rak buku kecil yang penuh.
Zayna baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya masih setengah basah, dan jepit rambut stroberi yang menjadi ciri khasnya tergeletak begitu saja di atas meja. Saat ini, perhatiannya tertuju sepenuhnya pada satu benda di tangannya, kartu plastik berwarna hitam mengilap.
Zayna memutar kartu itu pelan. Menatap bagian depannya, membalik ke bagian belakang, lalu kembali ke depan. “Aneh banget ...” gumamnya heran.
Zayna bukanlah orang yang paham atau akrab dengan dunia kartu kredit premium. Ayahnya hanya seorang pemilik bengkel motor sederhana, sementara ibunya bekerja sebagai guru les privat anak-anak SD. Lingkaran pergaulan hidupnya selama ini jauh lebih akrab dengan urusan cicilan motor bulanan daripada kartu eksklusif kaum elite.
Satu-satunya hal yang dipahami Zayna saat ini adalah kartu di tangannya terlihat sangat mahal. Sangat mewah.
Rasa penasaran memaksanya mengambil ponsel. Ia membuka mesin pencarian Google, lalu mengetikkan nama jenis kartu yang tertulis di permukaan hitam mengilap itu. Setelah menekan tombol enter, deretan hasil pencarian langsung muncul di layar.
Zayna membaca artikel pertama dengan ekspresi santai. Namun, lima detik kemudian, raut wajahnya mulai berubah serius. Sepuluh detik berlalu, ia memajukan wajahnya mendekat ke layar ponsel. Dua puluh detik kemudian, ia membaca ulang paragraf yang sama berulang kali dengan dahi berkerut.
“Masa sih?” gumam Zayna, seolah tidak percaya dengan apa yang tertulis.
Ia membuka artikel kedua, lalu beralih ke artikel berikutnya untuk mencari konfirmasi. Semakin jauh ia membaca, informasi yang ia dapatkan justru terasa semakin tidak masuk akal bagi logikanya. Zayna membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Jarinya mulai menggulirkan layar dengan gerakan yang jauh lebih cepat.
Undangan khusus dari pihak bank. Hanya untuk nasabah pilihan. Nilai transaksi tahunan yang fantastis. Syarat kepemilikan aset minimal bernilai puluhan miliar.
Zayna berkedip. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ia kembali menatap kartu hitam di tangan kirinya, lalu mencoba membayangkan penampilan Dokter Althair sore tadi.
Mobil sedan tua tahun 2005 yang interiornya sudah usang, sepatu pantofel kerja yang bagian ujungnya terlihat jelas pernah dilem ulang, jas dokter sederhana yang tidak bermerek, serta wajah datar super ketus pria itu.
Otak Zayna mulai melakukan kalkulasi otomatis, dan hasilnya sama sekali tidak cocok. Ini seperti menemukan sebuah mesin jet tempur canggih yang sengaja dipasang di sebuah gerobak bakso pinggir jalan.
Zayna kemudian membuka artikel lain yang membahas lebih detail mengenai rincian biaya tahunan dan syarat minimal saldo rekening pemilik kartu tersebut. Detik itu juga, tubuhnya perlahan membeku di atas kasur. Matanya membelalak sempurna, dan ponselnya hampir saja terlepas dari genggaman tangannya.
“Astagfirullah ...” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Zayna tanpa bisa ditahan. Zayna menatap layar ponsel dan kartu hitam itu bergantian dengan pandangan linglung. “Ini sebenarnya kartu kredit atau sertifikat kepemilikan tanah kerajaan, sih?” gumamnya tak habis pikir.
Ia bahkan iseng membuka aplikasi kalkulator di ponselnya untuk mencoba mengonversi nilai angka minimal aset yang tertulis di artikel ke dalam nominal rupiah. Semakin ia menghitung, kepalanya justru terasa semakin pusing. Angka-angka yang tertera di sana terlalu besar, terlalu abstrak, dan berada sangat jauh dari realitas kehidupan yang ia jalani selama ini.
Zayna menyandarkan punggungnya ke dinding kamar kos yang bercat putih kusam. Pikirannya mulai bekerja menghubungkan kepingan-kepingan teka-teki yang aneh.
Dokter Althair, mobil tua rongsokan, sepatu tambalan, jam tangan plastik murah, tetapi memiliki kartu super premium. Semakin dipikirkan, kombinasi itu terasa semakin misterius di matanya.
“Aku sebenarnya lagi berurusan sama siapa, sih?” gumam Zayna pelan.