BAB 7

1710 Kata
“Selamat pagi.” Suara Althair terdengar datar dan dingin, menggema di ruang briefing lantai tujuh RS Dewantara Medika. Puluhan koas baru yang semula saling berbisik langsung berdiri serempak. “Selamat pagi, Dokter,” jawab mereka kompak. Althair mengangguk singkat. Pintu ruangan tertutup rapat, mengunci atmosfer tegang di dalam. Layar proyektor sudah menyala, dan barisan kursi hampir terisi penuh. Hari pertama orientasi selalu terasa sama bagi Althair. Wajah-wajah tegang dan mata lelah karena kurang tidur. Mereka sedang memasuki fase paling mengerikan dalam pendidikan dokter, masa koasisten. Tempat di mana idealisme bertabrakan dengan kenyataan, dan tidur empat jam sehari adalah kemewahan. Biasanya, Althair tidak pernah memedulikan siapa yang duduk di ruangan ini. Namun, hari ini berbeda. Pagi ini ia datang dengan tiga misi utama, mengambil kembali kartunya, menjaga rahasia besarnya, dan bertahan hidup. Sayangnya, misi ketiga sudah mulai gagal sejak lima detik pertama. Begitu sepasang matanya menyapu ruangan, Althair langsung menemukan targetnya di barisan paling belakang, dekat jendela. Zayna Valerine duduk dengan teramat santai sambil membuka-tutup tumbler bergambar stroberi. Jepit rambut stroberi masih bertengger di poninya, dan sebuah lip balm stroberi tergeletak di atas meja. Althair menatap Zayna beberapa detik hingga sadar dirinya menatap terlalu lama. Ia langsung mengalihkan pandangan ke arah laptop dengan gerakan kaku. Sial. Zayna rupanya sadar sejak awal. Perempuan itu bahkan sempat melambaikan jemari kecilnya dengan santai, seolah mereka teman akrab. Althair berpura-pura tidak melihat, namun pengabaian itu justru membuat senyum di wajah Zayna berkembang semakin lebar. “Nama saya dr. Althair Dewantara,” Althair berdiri tegak di depan layar. “Kalian semua akan menjalani masa stase di bawah pengawasan komite medis rumah sakit ini.” Ruangan langsung hening total. Aura intimidasi Althair memang sudah terkenal. Di ruang operasi ia dihormati, di ruang rapat ia ditakuti, dan di kalangan dokter muda, namanya adalah legenda. Spesialis bedah saraf termuda, perfeksionis, dingin, dan tidak menoleransi kesalahan maupun keterlambatan. Hari ini, Althair berusaha keras mempertahankan reputasi besi itu. Masalahnya, fokusnya terus terpecah. Setiap beberapa menit, matanya tanpa sadar bergerak ke barisan belakang. Menit kelima, Zayna mencatat materi. Menit kesepuluh, Zayna minum. Menit kelima belas, Zayna menggaruk pipi. Menit kedua puluh, Zayna menguap tanpa beban. Menit dua puluh lima, gadis itu memutar-mutar pulpen. Althair mulai kesal pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus memperhatikan detail sekecil itu? Ini benar-benar sudah tidak sehat. “Saya akan menjelaskan aturan dasar,” Althair menekan tombol pointer. “Tidak ada keterlambatan.” Klik. “Tidak ada manipulasi data rekam medis.” Klik. “Tidak ada pelanggaran kode etik.” Klik. “Dan tidak ada penggunaan telepon genggam saat visite.” Klik. Suasana tetap mencekam, sampai sebuah tangan terangkat dari barisan belakang. Zayna. Tentu saja. “Ya, ada pertanyaan?” kata Althair, menahan suaranya agar tetap profesional. Zayna langsung berdiri tegap. “Kalau dokter pembimbingnya sendiri yang datang terlambat duluan, bagaimana prosedurnya, Dok?” Seketika ruangan membeku. Beberapa koas refleks menunduk, yang lain menahan napas dengan wajah pucat. Pertanyaan nekat Zayna terdengar seperti tindakan bunuh diri akademik massal. Althair menatap Zayna tajam, sementara yang ditatap membalas dengan binar mata polos tanpa dosa. “Kami, para staf konsultan, tidak terlambat,” jawab Althair tegas. “Jarang terlambat, maksudnya, Dok?” kejar Zayna. “Tidak.” “Berarti tidak pernah sama sekali, Dok?” Althair mendadak terdiam. Lidahnya kelu. Kenyataannya, beberapa dokter senior memang sesekali terlambat karena jadwal operasi atau kemacetan. Ia tidak bisa membohongi fakta itu. “Kami selalu berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlambat,” jawab Althair akhirnya, memilih kalimat diplomatis. Zayna mengangguk puas lalu kembali duduk. “Fair kalau begitu, Dok.” Orientasi terus berlanjut. Althair mencoba sekuat tenaga untuk fokus, tetapi hatinya semakin gelisah karena Zayna sama sekali tidak menyinggung soal kartu tersebut. Tidak ada kode, tidak ada sindiran, tidak ada apa-apa. Harusnya ini kabar baik. Namun bagi Althair, jika seseorang diam seribu bahasa, maka kemungkinan skenario buruk menjadi tidak terbatas. Jangan-jangan Zayna sedang menyusun strategi untuk menjatuhkannya? Atau sedang menyelidiki keluarganya? “Dokter? Maaf, Dokter Althair?” Suara panggilan dari barisan depan memecah lamunan Althair. Ia berkedip, baru menyadari seluruh ruangan sedang menatapnya. Seorang koas pria berdiri dengan wajah bingung. Althair berdeham. “Ya, kamu ... tadi bertanya tentang apa?” “Mengenai pembagian jadwal jaga malam di area bangsal saraf, Dok.” “Oh.” Althair mengangguk kaku. Sial, ia bahkan tidak mendengar pertanyaan itu sejak awal. Sangat profesional, Althair, sindir dirinya sendiri dalam hati. Dari arah belakang, samar-samar ia mendengar suara batuk kecil yang tertahan—suara yang mencurigakan seperti tawa yang ditekan kuat. Tanpa perlu menoleh, Althair tahu seratus persen pelakunya. Satu jam kemudian, sesi diskusi interaktif dimulai. Althair melemparkan contoh studi kasus klinis untuk menguji kemampuan dasar para koas. “Seorang pasien laki-laki, usia lima puluh tahun, datang ke IGD dengan kondisi penurunan kesadaran mendadak,” Althair menatap peserta. “Apa kemungkinan diagnosis kerja awal yang bisa kalian tegakkan?” Beberapa tangan langsung terangkat. “Stroke hemoragik akibat pecahnya pembuluh darah, Dok!” “Kemungkinan ada riwayat trauma kepala, Dok!” “Infeksi pada sistem saraf pusat, Dok!” Althair mengangguk-angguk. Jawaban yang standar. Namun, sedetik kemudian, tangan yang sama kembali terangkat dari sudut belakang. Zayna. Althair menghela napas pendek. “Ya, Zayna Valerine. Silakan.” Zayna berdiri tegak. “Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah memeriksa kondisi psikologis keluarganya dulu, Dok. Apakah mereka panik luar biasa atau justru terlihat terlalu tenang.” Seisi ruangan terdiam. Althair mengernyit. “Tindakan itu sama sekali bukan sebuah bentuk diagnosis medis.” “Saya tahu hal itu, Dok,” jawab Zayna santai. “Tetapi keluarga yang panik biasanya akan memberikan informasi riwayat penyakit pasien dengan jauh lebih jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.” Beberapa koas mulai tersenyum dan mengangguk setuju. Zayna melanjutkan, “Sebaliknya, kalau pihak keluarga datang dengan sikap yang terlalu tenang, saya justru akan menaruh rasa curiga yang besar.” “Apa alasan logismu?” tuntut Althair. “Karena kemungkinan besar mereka belum menyadari bahwa situasi yang menimpa anggota keluarga mereka sebenarnya sudah masuk fase yang sangat serius dan mengancam nyawa, Dok.” Ruangan mendadak hening. Althair tidak langsung membantah. Logika Zayna memang sederhana, namun secara praktik di lapangan, argumen itu tidak salah sedikit pun. “Sebuah pendekatan taktis yang cukup menarik,” puji Althair akhirnya dengan nada tertahan. Zayna melempar senyuman manis. “Terima kasih banyak, Dokter Althair.” Ketika jarum jam menunjukkan waktu hampir mendekati tengah hari, sesi orientasi resmi selesai. Puluhan koas langsung sibuk membereskan barang bawaan mereka. Althair melangkah maju untuk menutup laptop. Misi utamanya hari ini gagal total. Kartu hitam premium miliknya belum berhasil direbut kembali, dan kondisi mentalnya justru memburuk. Satu per satu peserta mulai keluar. Althair sengaja memperlambat gerakannya, menunggu karena target operasi utamanya belum beranjak. Zayna masih setia duduk di barisan paling belakang, memasukkan buku catatan ke dalam ransel dengan sangat santai. Seolah-olah dirinya tidak sedang menyimpan “senjata nuklir” berbentuk kartu kredit di dalam sakunya. Begitu ruangan sudah kosong dan hanya menyisakan mereka berdua, Althair langsung melangkah lebar mendekati meja Zayna. “Zayna.” Gadis itu mengangkat kepalanya dengan binar mata jenaka. “Eh, iya? Ada apa, Dokter Althair?” “Ada satu hal penting yang perlu kita bicarakan sekarang secara pribadi,” kata Althair dengan suara rendah yang penuh penekanan. Zayna memiringkan kepalanya. “Tentang materi orientasi klinis yang tadi, Dok?” “Bukan.” “Atau tentang topik buah stroberi?” “Sama sekali bukan,” sahut Althair, menahan gemas. Zayna menghela napas dengan wajah dibuat kecewa. “Wah, sayang sekali ya, Dok.” Althair menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa kesabarannya. “Ini tentang sebuah benda berharga yang kamu temukan di kolong kursi mobil saya kemarin malam.” “Oh ...” jawab Zayna singkat, lalu kembali diam. Althair menunggu kelanjutan kalimatnya, namun nihil. “Oh?” ulangnya menuntut. “Iya, Dok.” “Kamu tahu pasti benda apa yang saya maksud, kan?” “Tahu kok, Dok. Sangat tahu.” “Lalu?” “Lalu ... apa lagi, Dok?” Althair mulai memahami mengapa sebagian dokter lebih memilih berkarier di laboratorium penelitian daripada harus berinteraksi menghadapi manusia model begini. “Zayna,” panggil Althair, suaranya naik satu oktav. “Iya, Dokter?” “Kartu hitam itu.” “Oh ...” Zayna mengucapkan kata itu lagi, lengkap dengan ekspresi wajah polosnya. Althair hampir saja kehilangan kendali atas topeng profesionalnya. “Apakah kamu membawa kartu itu bersamamu hari ini?” tanya Althair, langsung menembak ke inti masalah. Zayna tidak langsung menjawab. Ia berdiri, mengangkat tas ransel ke atas bahu, lalu melempar senyuman. “Aduh, maaf banget ya, Dok. Setelah ini saya harus segera bersiap ke bangsal perawatan untuk dinas siang.” “Zayna Valerine.” “Iya, Dokter Althair yang perfeksionis?” “Kartu saya.” Althair menegaskan kata demi kata. Untuk pertama kalinya hari ini, Zayna terlihat benar-benar menikmati situasi di mana ia memegang kendali penuh. Ia mengulurkan tangan kirinya ke arah saku jas koas. Dengan gerakan yang sengaja dibuat teramat perlahan, jari-jemari lentiknya menarik sebuah benda keluar dari saku. Sebuah sudut plastik berwarna hitam mengilap muncul ke permukaan. Hanya sedikit bodi kartu yang diperlihatkan, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat detak jantung Althair mendadak berhenti selama satu detik yang menegangkan. Black Card. Zayna sengaja menahan posisi kartu itu di sana. Tidak sepenuhnya dikeluarkan, namun juga tidak disembunyikan kembali. Hanya cukup agar Althair melihat bahwa benda berharga itu masih berada di bawah kekuasaannya. “Maksud Dokter ... kartu mewah yang ini?” tanya Zayna penuh selidik. Althair menatap intens ke arah sudut kartu hitam tersebut, lalu beralih menatap lurus ke dalam manik mata sang pemilik jepit stroberi. “Iya, benar. Itu kartu milik saya.” Zayna tersenyum lebar—sebuah senyuman khas yang seketika mengaktifkan alarm firasat buruk di dalam kepala Althair. “Oke kalau begitu, Dok,” kata Zayna santai. Dan tanpa diduga, kartu hitam premium itu langsung dimasukkan kembali ke dalam saku jas koasnya dengan satu gerakan cepat. Begitu saja. Selesai tanpa ada penyerahan kembali. Althair tertegun mematung. “Tunggu dulu, Zayna!” Zayna sudah melangkah lebar melewati meja, berjalan dengan santai menuju pintu keluar. “Urusan kita berdua belum selesai sampai di sini!” seru Althair, berbalik mengejar. Zayna menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, lalu memutar sedikit tubuhnya untuk menoleh ke belakang. “Kita berdua sebenarnya baru saja resmi memulai permainannya, Dokter Althair,” bisik Zayna penuh teka-teki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN