“Koas bukan dekorasi koridor.”
Kalimat ketus itu menjadi pembuka briefing pagi dr. Althair Dewantara. Delapan koas di depannya langsung menegakkan punggung serempak. Mata mereka masih menyimpan bekas kantuk akibat kurang tidur. Hari kedua stase di departemen saraf selalu terasa lebih berat. Jika kemarin masa orientasi masih terasa seperti sekolah, maka bangsal adalah dunia nyata yang kejam. Tidak ada ujian remedial, tidak ada kesempatan kedua untuk mengulang kesalahan pada pasien yang sama.
Althair berdiri di depan papan laporan pasien memegang clipboard. Ekspresi wajahnya datar dan dingin.
“Pagi ini kalian mengikuti visite besar bersama saya,” lanjut Althair rendah namun penuh penekanan. “Kalian wajib membaca seluruh rekam medis pasien secara mendetail. Berpikir matang-matang sebelum bertanya kepada saya.”
Ruangan mendadak senyap. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama ketika sebuah suara terdengar santai dari barisan paling belakang.
“Kalau kami sudah mencoba berpikir keras tapi tetap tidak mengerti juga, bagaimana prosedurnya, Dok?”
Althair tidak perlu memutar tubuhnya untuk melihat pelaku. Ia sudah hafal warna suara itu. Zayna Valerine. Tentu saja tidak ada orang nekat lain selain gadis itu.
Althair perlahan mengangkat pandangannya. “Berarti proses berpikirmu saja yang kurang lama.”
Beberapa koas di barisan depan langsung menundukkan kepala demi menahan senyum. Bukannya terintimidasi, Zayna justru mengangguk takzim.
“Masuk akal juga, Dok,” jawab Zayna santai.
Hal yang paling membuat Althair kesal adalah kenyataan bahwa perempuan berpayung stroberi itu benar-benar terlihat tulus menerima jawaban sarkasnya tanpa beban.
Pagi hari itu berjalan normal. Yang tidak normal di mata Althair hanyalah keberadaan Zayna. Semakin lama mengawasi kelompok koas tersebut, ia semakin menyadari satu fakta. Perempuan itu pintar, bahkan terlalu pintar untuk ukuran mahasiswa tingkat pertama. Zayna bukan tipe yang sekadar menghafal isi buku teks demi lulus ujian. Gadis itu memiliki kemampuan instingtif untuk memahami pola klinis, situasi darurat, serta psikologi manusia di sekitarnya.
Saat anak koas lain sibuk menghafal teori, Zayna justru selalu melihat masalah dari sudut pandang sosial yang tidak terpikirkan orang lain. Dan hal itu mulai mengganggu ketenangan Althair karena argumen gadis itu sering kali terbukti benar.
Menjelang siang, Althair mengumpulkan mereka di ruang belajar untuk diskusi kasus klinis lanjutan. Mereka duduk melingkar mengelilingi meja kayu kecil. Sesi presentasi berjalan baik dan terstruktur hingga Althair melemparkan pertanyaan jebakan.
“Berdasarkan rekam medis, kenapa pasien ini sampai mengalami gagal terapi akibat tidak meminum obat sarafnya secara rutin?”
Ruangan langsung hening. Salah satu koas mengangkat tangan. “Kurangnya edukasi medis dari dokter saat pasien pulang, Dok.”
“Benar. Ada pendapat lain? Lanjut,” tuntut Althair.
“Mungkin karena adanya efek samping obat yang membuat pasien tidak nyaman, Dok.”
“Benar.”
Koas ketiga ikut menjawab. “Faktor kurangnya pengawasan dari pihak keluarga di rumah, Dok.”
“Masuk akal,” Althair mengangguk kecil lalu mengalihkan pandangannya ke sudut belakang meja. Zayna sejak tadi belum bersuara, dan itu mencurigakan. “Zayna.”
Perempuan itu mendongak dari catatannya. “Iya, Dok?”
“Bagaimana analisis menurut kamu?”
Zayna memutar pulpennya beberapa detik. “Pasiennya habis uang, Dok.”
Ruangan langsung sunyi. Beberapa koas tampak berkedip heran. Althair mengernyit. “Jelaskan alasanmu secara medis.”
“Pasien tidak meminum obat karena sudah tidak mampu lagi membelinya,” jawab Zayna santai.
“Tapi dalam kasus ini, seluruh biaya pengobatan sudah ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan,” sanggah salah satu rekan koasnya.
“Obatnya mungkin memang gratis ditanggung pemerintah,” jawab Zayna tenang namun menusuk. “Tapi bagaimana dengan ongkos transportasi bulanan untuk kontrol ke rumah sakit sebesar ini? Bagaimana dengan biaya makan mereka selama di perjalanan? Tiket kendaraan umum?”
Zayna menatap teman-temannya. “Kalau pilihan hidup mereka setiap hari adalah antara membeli sepiring nasi untuk menyambung hidup keluarga atau datang kontrol ke kota, sebagian besar orang dari kalangan bawah pasti memilih membeli nasi.”
Tidak ada yang bisa membantah realitas tersebut. Althair memperhatikan ekspresi para koasnya yang terdiam dan mulai berpikir keras tentang realitas pahit kehidupan pasien di dunia nyata. Sebuah pelajaran klinis yang jauh lebih sulit dipahami.
“Analisis yang sangat baik,” ucap Althair tulus pada akhirnya.
Zayna menyunggingkan senyum kecilnya yang khas. “Terima kasih banyak, Dokter.”
Sore hari tiba, kelompok koas kembali mendapat tugas mempresentasikan kasus pasien lansia yang komplikasi akibat menghentikan terapi obat secara sepihak. Diskusi berjalan jauh lebih hidup. Althair berdiri di dekat papan tulis memberikan koreksi medis atau pertanyaan jebakan untuk melatih ketangkasan berpikir mereka. Tiba-tiba, suara yang familier kembali mengudara.
“Dok, saya mau bertanya satu hal,” ujar Zayna memotong ritme.
Althair curiga perempuan ini memiliki alarm khusus yang otomatis aktif setiap kali ruangan terlalu tenang. “Apa yang mau kamu tanyakan?”
“Apakah Dokter Althair memang selalu bersikap begini setiap hari?”
“Begini bagaimana?”
“Dingin dan kaku,” jawab Zayna tanpa filter.
Beberapa koas langsung membeku. Salah satu dari mereka bahkan tidak sengaja menjatuhkan pulpen karena terkejut. Althair memandang gadis itu datar. “Pertanyaan pribadi seperti itu tidak memiliki relevansi dengan kasus kita sore ini.”
“Tentu saja relevan, Dok,” sanggah Zayna cepat. “Kalau dokter pembimbingnya selalu bersikap galak, pasien di bangsal bisa stres emosional. Dan stres itu bisa memicu lonjakan tekanan darah mereka naik lagi.”
Terdengar suara batuk tertahan dari sudut ruangan. Althair memilih mengabaikannya. “Saya tidak galak.”
“Standar kata 'galak' bagi seorang dokter bedah saraf itu berbeda jauh dengan manusia biasa, Dok,” balas Zayna tangkas.
Kali ini tawa beberapa anak koas benar-benar pecah. Althair mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya perlahan, sebelum akhirnya memilih melanjutkan presentasi. Ia memutuskan mengalah demi bertahan hidup menghadapi hari yang panjang ini.
Menjelang pukul lima sore, aktivitas rumah sakit mulai melambat. Kelompok koas dibubarkan dan satu per satu mulai meninggalkan ruangan. Althair menghela napas lega. Akhirnya ia bisa bicara berdua dengan Zayna tanpa penonton.
Targetnya masih duduk tenang merapikan kertas catatan ke dalam ransel. Tumbler stroberinya masih berdiri di meja, jepit stroberinya masih terpasang, bahkan kotak pensilnya pun bergambar stroberi. Althair yakin ada sesuatu yang tidak normal dengan obsesi buah perempuan ini.
“Zayna,” panggil Althair sembari mendekat.
Perempuan itu menoleh cepat. “Eh, iya? Ada apa, Dok?”
“Kita perlu bicara serius berdua.”
“Wah, itu salah satu topik favorit saya, Dok.”
“Sayangnya, itu sama sekali bukan topik favorit saya,” sahut Althair dingin.
Zayna tertawa pelan. Althair melangkah semakin dekat hingga jarak mereka menyempit di dalam ruangan yang kini sudah benar-benar sepi.
“Mengenai kartu itu,” kata Althair langsung ke inti masalah tanpa basa-basi.
“Oh ...” jawab Zayna singkat.
Althair mulai membenci kata itu, seolah benda berharga yang mereka bahas hanyalah selembar kupon diskon parkir biasa. “Kamu masih menyimpannya dengan aman, kan?”
Zayna membuka resleting tasnya lalu memasukkan tangan ke dalam. Beberapa detik kemudian, selembar kartu plastik berwarna hitam mengilap muncul ke permukaan.
Jantung Althair seketika menegang. Akhirnya, setelah dua hari penuh didera rasa paranoid, benda itu kembali muncul di depan matanya. Zayna mengangkat kartu hitam eksklusif tersebut di antara dua jemarinya, membiarkan permukaannya memantulkan cahaya lampu ruangan.
Althair segera mengulurkan tangan. “Terima kasih,” ucapnya jauh lebih lega.
Namun, tepat di saat ujung jemari Althair hampir menyentuh kartu tersebut, Zayna dengan gerakan refleks yang cepat langsung menarik kembali tangannya. Kartu hitam mewah itu menjauh seketika dari jangkauannya.
Althair membeku di tempat. Tangannya masih menggantung kaku di udara kosong. “Zayna.”
“Iya, Dokter Althair?”
“Kenapa kartunya kamu tarik kembali?”
“Karena saya belum bilang mau mengembalikannya sekarang, Dok,” jawab Zayna santai. Senyuman misterius itu kembali terbit di wajahnya, senyuman khas yang selalu sukses mendatangkan firasat buruk di kepala Althair.
“Belum apa maksudmu?”
“Belum saatnya saya kembalikan kepada Dokter.”
Althair terpaksa memejamkan matanya rapat-rapat selama tiga detik. Ia kini memahami mengapa beberapa dokter spesialis senior sudah memiliki uban sebelum menginjak usia lima puluh tahun.
“Sebenarnya ... apa yang kamu inginkan dari saya, Zayna?” tanya Althair langsung pada inti masalah.
Zayna berpikir sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. “Saya tidak menginginkan apa-apa dari Dokter.”
“Kalimat itu sulit saya percaya.”
“Kenapa begitu?”
“Karena sampai detik ini, kamu masih menahan kartu kredit saya,” tegas Althair.
“Ah, analisis yang itu memang benar,” aku Zayna jujur.
Althair menatap tajam sepasang manik mata gadis itu, dan Zayna membalasnya tanpa rasa takut atau bersalah sedikit pun. Yang terpancar hanyalah rasa penasaran murni yang intens, membuat insting waspada Althair bergejolak.
“Saya hanya sedang merasa penasaran saja, Dok,” aku Zayna akhirnya memecah keheningan.
“Penasaran tentang hal apa?”
Perempuan itu memutar-mutar kartu hitam premium tersebut di antara jemarinya, lalu menatap Althair kembali. Cara tatapannya kali ini berbeda, bukan lagi seperti pandangan koas kepada dokter spesialis senior. Lebih mirip seperti seorang detektif yang sedang menyusun potongan puzzle rumit dan sudah hampir menemukan gambaran utuhnya.
“Karena saya baru saja menyadari satu hal yang sangat menarik dari Dokter,” ucap Zayna lirih.
Althair langsung merasakan ketidaknyamanan merayap di tengkuknya. “Apa itu?”
Zayna menyunggingkan senyuman kecil yang kali ini sama sekali tidak terasa seperti candaan. “Ini mengenai nama belakang Dokter.”
Detik itu juga, jantung Althair berdetak jauh lebih keras. “Ada masalah apa dengan nama belakang saya?”
Zayna mengangkat sebelah alis, lalu mengarahkan jari telunjuknya ke arah logo resmi rumah sakit yang terpampang besar di dinding tengah ruangan belajar. Sebuah logo besar berwarna biru tua yang selama ini tidak pernah dianggap berbahaya oleh siapa pun. Sampai detik ini.
“Nama belakang Dokter Althair,” kata Zayna dengan nada suara pelan namun terdengar menggelegar di telinga Althair. “Ternyata memiliki ejaan yang persis sama dengan nama yayasan konglomerat pemilik rumah sakit ini. Dewantara.”