“Kenapa lo lihat HP tiap tiga menit?” Pertanyaan Harsa menghentikan gerakan tangan Althair di atas gelas kopi. Mereka sedang berada di kantin belakang rumah sakit, tempat favorit sejak zaman residensi. Di sini, meja plastik, kursi, bahkan aroma mi instan masih sama. Namun, yang berbeda siang ini adalah kondisi mental Althair. Sudah tiga hari berlalu sejak Zayna mengucapkan kalimat berbahaya itu di ruang diskusi. Nama belakang Dokter sama kayak nama yayasan rumah sakit. Tiga hari penuh overthinking dan kewaspadaan tinggi memantau satu koas yang sialnya terlalu pintar. “Tidak,” jawab Althair pendek, mencoba bersikap tenang. Harsa menyipitkan mata. “Itu jawaban orang yang jelas-jelas iya.” “Aku sedang memeriksa grup bimbingan koas,” kilah Althair. “Untuk ketiga belas kalinya dalam sete

