07: Penyelundup

3406 Kata
Di tempat lainnya, terlihat Candra yang sedang duduk di ruang tamu, ia menaruh ponselnya diatas meja sehabis menelpon seseorang, yaitu Nadya. Bibi Nur yang membawa sebuah nampan berisi segelas kopi kemudian memberikannya kepada Candra dan meletakkannya di atas meja, ia tersenyum ketika melihat Candra. "Terimakasih, bi Nur. " ucap Candra. "Iya, sama sama, mas Candra. " jawab bibi Nur. Candra meminum kopinya, sementara bibi Nur berdiri sambil memegang nampan dan tersenyum. "Mas Candra sepertinya habis tertawa, ngobrol sama siapa, mas? " tanya bibi Nur. Candra menatap ke arah bibi Nur, ia yang tengah meminum kopinya dan meletakkan gelasnya di atas meja. "Saya habis menelpon Nadya, ya tepatnya habis mengobrol dengannya, lucu sekali bisa mengganggunya lewat telepon. " jawab Candra sambil tersenyum. "Begitu ya? Baguslah jika mas Candra bisa tertawa karena mengobrol dengan mbak Nadya, tapi jangan terus terusan diganggu ya, mas, kasihan sama mbak Nadya nya. " ucap bibi Nur. "Iya bi, sekedar mengobrol saja, sekalian saya ajak saja dia bercanda. Lumayan juga bisa mengobrol dengannya setelah hampir sebulan kami menikah. " ucap Candra. Bibi Nur merasa bahwa ucapan dari tuan mudanya terasa mendalam, ia bahkan bertanya tanya tentang perasaan dari Candra. "Mas Candra? " tanya bibi Nur. "Sudah menikah saja saya masih merasa sendirian, ketika gadis itu memilih jalannya sendiri untuk terpisah dari saya, bi. " ucap Candra pada bibi Nur. Bibi Nur mengerti perasaan Candra selama ini, ia tahu bahwa tuan mudanya itu memang menyendiri selama 10 tahun di rumah itu, dan juga ia tahu betapa kesepiannya ketika Candra baru saja memiliki pendamping hidup namun memilih jalan untuk terpisah sementara, karena istri tuan mudanya itu melanjutkan jenjang pendidikan tinggi di seberang kota. Tak ada jalan lain selain menghibur Candra, bibi Nur menguatkan Candra dengan senyumannya. "Tidak apa, mas Candra, selama niat mbak Nadya bagus di luar sana, kita do'akan saja semoga mbak Nadya selalu dilindungi sama Allah ketika dia sedang menuntut ilmu. Kuatkan hati mas Candra, bahwa mas Candra dan mbak Nadya adalah jodoh seumur hidup, percayalah, bahwa mas Candra dan mbak Nadya memang ditakdirkan bersama walaupun terpisah sebentar. Jangan terlalu khawatirkan mbak Nadya dengan pemikiran yang buruk, pikirkan hal yang baik untuk mbak Nadya agar dia lancar melakukan aktivitas nya. " ucap bibi Nur. Candra menganggukkan kepalanya. "Iya bi Nur, terimakasih ya sudah menghibur saya, saya cukup terhibur sekarang karena bibi yang mendengarkan cerita saya. " "Iya, sama sama mas, kalau begitu, saya ke dapur dulu. " pamit bibi Nur. Bibi Nur meninggalkan Candra yang duduk sendirian di ruang tamu, Candra menyenderkan tubuhnya dan menatap ke langit langit ruang tamu rumahnya. "Nad, kalau memang ucapan bibi Nur itu benar, kembalilah ke rumah dengan cara apapun, jangan terpisah lagi dariku. " gumam Candra. Candra menatap ke arah jam dinding, ia hampir melupakan shalat maghrib nya, ia beranjak dari tempat duduknya dan berencana untuk berangkat ke masjid untuk shalat maghrib berjama'ah. ___ Keesokan harinya, Nadya terbangun dari tidurnya, dengan perutnya yang keroncongan, Nadya menatap ke arah langit-langit kamarnya, terlihat bahwa cahaya matahari masuk dari luar menuju ke dalam kamarnya. "Udah pagi aja perasaan, jam berapa coba sekarang. " Nadya mengambil ponselnya yang tak jauh dari dirinya, ia mengucek matanya sembari melihat jam di layar ponselnya. Betapa terkejutnya Nadya, ia bangun kesiangan, dan juga sudah hampir jam masuk kuliahnya, Nadya langsung bangkit dan terburu-buru untuk bersiap siap ke kampus. Nadya yakin, Mirda sudah pergi ke kampus meninggalkan nya, ia sendiri yang ceroboh, sudah jelas menumpang dengan orang lain, ia malah terlambat tidak seperti biasanya karena tidur terlalu malam. "Terlambat, duh aku terlambat! " Dengan tergesa-gesa, Nadya membuka kunci kamar kosannya, ia berlari dan mencari sepatunya yang berada di luar kamar kosannya. Nadya tidak sadar, bahwa penghuni kosan lainnya menatapnya dengan tatapan heran, dan juga Nadya menyadari bahwa ia dilihat oleh orang-orang yang ada di kosan tersebut. "Nad, mau kemana? Kok terburu-buru? " tanya Mirda. Mirda menyapa Nadya, Nadya menatap ke arah temannya seolah sedang bertanya keberadaan temannya itu. "Mir, kamu nggak kuliah? " tanya Nadya. Mirda mengerutkan keningnya. "Kuliah? Hari libur gini kuliah? " tanya Mirda. Nadya terhenti, ia kembali melihat jam di layar ponselnya, saat ia melihat jam yang ada di ponselnya, Nadya baru sadar bahwa hari tersebut merupakan hari minggu, tentu saja ia segera masuk ke dalam kosannya dan meninggalkan Mirda yang berdiri di depan kamar kosannya. "Nad, aku pergi dulu ya, nanti balik lagi. " ucap Mirda. 'Iya Mir, maaf ya. ' balas Nadya. ___ Di lain tempat, terlihat bangunan megah terpancar dari depan pagar dan bentuk bangunan, beberapa orang anggota keluarga tengah berkumpul bersama di halaman depan, tak lama setelahnya, muncul mobil bagus yang mulai memasuki halaman tersebut. Kedatangannya disambut oleh beberapa orang wanita, dan tak lupa juga anak kecil, seseorang keluar dari mobil dan itu adalah seorang laki-laki, yaitu Candra. "Om Candra! " teriak beberapa anak kecil mendekat ke arah Candra. Anak anak kecil itu adalah keponakan Candra, Candra menyambut semua keponakannya dan memberikan makanan yang ia bawa, sedangkan beberapa saudaranya melihat ke arah Candra dengan senyuman. "Dek, anak kakak nggak usah di kasih permen, tuh giginya hampir keropos karena makan permen terus. " ucap kakak kedua Candra, Davina. "Ah, permen bikin gigi keropos itu bohong, buktinya aku dulu sering makan permen, gigiku nggak pernah keropos. " bantah Candra. "Ya karena dulu kakak Miranda dan kami berlima ngurus kamu dengan teliti, Can, kamu kan anak emas karena cowok sendiri dari 7 bersaudara, anak bungsu juga. " ucap Chintya. "Entah, nih adek melawan banget orangnya, kak Davina ngasih tau tuh biar anaknya nggak makan permen. " ucap Anisa. "Iya iya, sekalian saja kalian berenam kepung aku, kalian juga kan suka sekali menggangguku tanpa sebab, suami kalian juga suruh ikut kepung aku. " protes Candra. "Mana bisa kami ngepung kamu, Can, walaupun kamu adik kami, kamu sangat besar dan tinggi daripada kami, yang ada kami yang kalah dari kamu. " ucap Davina. "Hei, jangan diganggu terus adik kalian, dia baru saja sampai loh. " Seorang wanita parubaya menegur ketiga anak perempuannya, Candra mendekat dan bersalaman dengan wanita itu, ia tentu saja adalah ibu Candra sendiri, Liona. "Mama, maaf kalau Candra terlambat, pasti kalian sudah lama menunggu. " "Tidak apa nak, mama sudah tau bahwa jam segini kamu pastinya sedang sibuk di toko dan memantau restoran kamu di seberang kota. " ucap Liona. "Ayo, kita langsung saja makan, tuh bau seafood nya menggoda banget tau. " ajak Elena. Liona dan ketujuh anaknya mulai mendekat ke arah chef yang sedang memasak, berbagai hidangan sudah tertera di atas meja, satu keluarga tersebut mulai memakan makanan yang sudah di buat dengan aroma dan rasa yang khas untuk sebuah seafood. Saat Candra tengah mengambil makanannya, Liona dari belakang menyentuh bahunya, itu membuat Candra berbalik dan menatap ke arah mamanya. "Ada apa, mah? " tanya Candra. "Boleh kamu mengobrol sebentar dengan mama, Candra? " tanya Liona. Candra tanpa menjawab kemudian menganggukkan kepalanya, dengan piring berisi makanan ia bawa dan mengikuti mamanya untuk mengobrol. "Bagaimana kabarmu sebulan ini, Candra? Apa baik baik saja? " tanya Liona. Candra yang sedang memakan makanannya kemudian menatap ke arah Liona, ia mengangguk singkat dan melanjutkan makannya. "Seperti yang mama lihat, Candra baik baik saja. " jawab Candra. "Nadya sedang kuliah ya? " tanya Liona. Candra menghentikan makannya, ia meletakkan sendok dan garpunya, dan menatap ke arah Liona. "Mama tau dari siapa kalau Nadya sedang kuliah? " tanya Candra. "Yah, mama kan yang sebelumnya mengundang kamu dari bibi Nur, mama juga mencari keberadaan Nadya, mama baru tahu dia berkuliah di seberang kota. Sekalian juga mama bertanya, apa dia tinggal di kosan, dan jawabannya ternyata iya, kamu juga akan mengunjunginya selama sebulan sekali. " jawab Liona sambil menjelaskan. Candra hanya diam, ia termenung dan tidak mengatakan apapun, sementara Liona menghembus nafasnya dan melihat anaknya. "Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, nak, mama tahu bahwa kamu memang sibuk dengan semua bisnismu selain mengolah toko distribusi milik kamu, tapi ingat, kamu sudah beristri, jangan sampai diluar sana ia ada keluhan karena kamu terlalu terpatok dengan sebulan sekali akan mengunjunginya. " nasehat Liona. "Tapi sengaja Candra melakukannya agar bisa melatihnya untuk hidup mandiri sesuai dengan keinginannya, jika ada keluhan, Candra yang akan menanganinya. " ucap Candra. Liona kembali mengatur nafasnya, anaknya begitu tidak ingin mendengar nasehatnya, padahal dirinya sengaja memberitahukan hal tersebut karena demi kebaikan Candra sendiri. "Kamu mau mengulang masa lalumu? " tanya Liona. Candra sedikit tersinggung dengan mamanya yang mengungkit masa lalunya, ia sangat benci mengingat masa lalunya yang begitu suram, kalau bisa dibilang, dia ingin membuang masa lalunya itu. "Berhenti mengungkit masa lalu Candra, mah, Candra sudah punya masa depan, dan juga tidak layak untuk mengingat w************n seperti dia. " kesal Candra. Candra segera bangkit dari tempat duduk nya, sementara Liona berusaha menahan anak bungsunya itu untuk pergi. "Candra, kenapa kamu tidak melanjutkan makanmu? Apakah kamu tersinggung dengan ucapan mama barusan, nak? " tanya Liona. "Jelas, tentu saja Candra tersinggung, mama tidak ingat bahwa Candra pernah memperingatkan mama jangan ungkit lagi tentang dia sebelum Candra menikahi Nadya. Sudah, Candra juga tidak nafsu makan lagi, muak rasanya setelah mama mengungkit dia lagi. " tegas Candra. Liona menatap nanar, dan dengan lirih berkata maaf kepada anaknya. "Maaf nak, mama ceroboh, mama tidak sengaja mengatakannya. " lirih Liona. Candra hanya menatap sekilas, kemudian ia membuang mukanya dan beranjak pergi dari tempatnya dan mamanya berada. Candra meninggalkan meja tempat Liona duduk, sementara ia akan pergi dari rumah orang tuanya. Saat sedang berjalan, Candra dipanggil seseorang dari belakang, Candra berbalik arah dan melihat kakaknya yang ke empat sedang memanggilnya. "Candra! " panggil Anisa. Candra terhenti, kemudian ia berbalik arah dan menatap ke arah kakaknya. "Ada apa, mbak Nisa? " tanya Candra. "Ngobrol apaan tadi sama mama? Kok serius banget, Can? " tanya Anisa. "Nggak, sekedar bertanya dimana Nadya, istriku. " jawab Candra. "Oh iya, pantas aja ada yang kurang, ternyata istri adik kita yang nggak hadir. " ucap Cantika. "Kita baru sadar kalau Candra nggak bawa istrinya, maklum, efek 8 tahun Candra nggak pernah bawa cewek lagi ke rumah mama, yang ada pas dia udah nikah, malah kita lupa kalau dia sudah punya istri. " ucap Chintya. Candra menatap kesal ke Chintya, kakak ke lima nya itu tak beda dari mamanya, kembali menyinggung masa lalunya yang suram. "Ngomong ngomong, dimana Nadya, Can? Kenapa dia nggak ikut? " tanya Miranda, kakak tertua. "Dia sedang berkuliah, kenapa memangnya? " tanya Candra ketus. "Nggak, kakak kan nanya aja, dek. " ucap Miranda. Candra langsung meninggalkan keenam kakaknya, semua saudara Candra hanya menatap ke arah Candra yang secara tiba-tiba meninggalkan halaman rumah, tak satupun dari mereka yang bisa menghentikan adik bungsu mereka yang terlihat emosi. "Kayaknya dari kita ada salah kata deh, Candra kan kalau ada salah kata bakalan kayak gitu, kita sama sama ngerti aja kalau dia yang paling tempramental orangnya. " ucap Davina. Mobil Candra menjauh dari halaman rumah, sedangkan Liona berjalan ke arah keenam anak anaknya. "Mah, mama ngomong apaan sama Candra? Dia sampai marah begitu loh ekspresi nya. " tanya Cantika. "Maaf, anak anak, mama kembali menyinggung masa lalunya. Mama akui bahwa mama ceroboh, mama melupakan pesannya sebelum dia memutuskan menikah dengan Nadya. " jawab Liona. Akhirnya perkumpulan keluarga tersebut menjadi diskusi keluarga, karena satu anggota yang bermasalah, membuat mereka akhirnya saling berdiskusi tentang Candra, anggota termuda dari keluarga mereka. ___ Sementara di tempat lainnya, terlihat wajah lesu dari seorang gadis yang sekarang tengah berkuliah, Nadya dengan wajah lesunya berusaha memperhatikan materi yang tengah disampaikan oleh dosennya di depan, ia yang penuh dengan pikiran dan perutnya yang lapar tidak sabar untuk diisi, Nadya juga akan segera pulang dan tidak akan mampir kemana-mana ketika jam kuliah telah selesai. 'Jatah uang cuma bisa untuk makan sampai besok, bisa mati aku kalau terus terusan seperti ini. ' ucap Nadya dalam hati. Nadya terus saja mencuri pandang ke arah jam tangannya, ia juga tidak sabar untuk segera keluar dari kelas, karena ia ingin segera pulang dan makan makanan yang telah ia beli sebelumnya dengan cara berhemat. Rencananya, Nadya akan pulang sendiri dengan jalan kaki, walaupun perjalannya cukup jauh menuju kosan, setidaknya ia bisa terhindar dari temannya yang selalu mengajaknya untuk menghamburkan uang. Nadya sekarang berbeda dengan temannya, Mirda yang bebas ingin membeli apa saja karena ayahnya yang naik jabatan, sedangkan dirinya yang mempunyai suami yang kaya itu saja uang kebutuhannya selama ngekost dibatasi bahkan harus berhemat, Nadya hampir menyerah karena itu. Jam pulang akhirnya tiba, Nadya membereskan barang barang yang ia bawa, ia tidak sabar lagi untuk segera pulang dan makan, karena ia merasa sangat lapar sehingga ingin segera pulang. Memantau kondisi gedung prodi sebelah, Nadya perlahan keluar dari kelasnya, ia berlari dengan cepat untuk bisa tidak dilihat oleh Mirda, temannya sendiri. Sebenarnya yang tidak Nadya sadari adalah teman teman kosan lainnya yang melihatnya berlari seperti dikejar dengan sesuatu, tetapi Nadya tidak peduli dan segera pergi dari kampus. Butuh setengah menit untuk Nadya sampai ke kamar kosannya, ia mengunci pintu kosannya, Nadya dengan terburu-buru melepas sepatu nya beserta tasnya di lantai, ia berjalan ke belakang dan mengambil makanannya yang ada di dalam kulkas. Walaupun lauk yang ia makan dingin, namun dengan nasi yang hangat membuat rasa dingin dari lauknya mulai ikut menghangat, Nadya memakan makanannya dengan santai untuk memuaskan rasa laparnya. "Seadanya, yang penting kenyang. " ucap Nadya. Selesai makan, Nadya merasa lega, ia merasa sudah terpuaskan oleh makanannya, namun ia baru ingat, bahwa sisa makannya hanya ada untuk esok hari, 2 hari dilewatinya begitu saja. "Duh, kalau nggak makan sama sekali, yang ada aku bakal mati kelaparan. " gumam Nadya. Nadya kembali memutar otaknya, ia sekarang harus kembali memikirkan makannya untuk kedepannya sebelum kedatangan Candra ke kosannya, takutnya jika beberapa hari kedepan suaminya mengunjunginya dan tanpa adanya persiapan sisa dari ia berhemat, maka habislah ia akan dimarahi oleh Candra. Tak lama setelah ia makan, pintu kamar kosan Nadya diketuk dari luar, Nadya yang menyadari bahwa seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar, Nadya berjalan untuk membuka pintu kamar kosannya. "Sebentar. " Nadya membuka pintu kamarnya, alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang berada di depannya, temannya yang baru saja pulang dari kampus kemudian menghampirinya dari depan kamarnya. "Mirda, ngapain? " tanya Nadya. "Harusnya aku yang nanya, kamu ngapain lari larian dari kelas kamu sampai ke luar kampus? Kamu dikejar sama siapa? " tanya Mirda. "Oh itu, aku mau langsung pulang, kebetulan juga sakit perut, jadinya lari deh. " jawab Nadya penuh alasan. Mirda mengangguk paham, kemudian wajahnya kembali sumringah, ia merogoh kantongnya dan mencari ponselnya untuk menunjukkan sesuatu dengan Nadya. "Bentar Nad, aku mau nunjukin sesuatu sama kamu. " ucap Mirda. Mirda menunjukkan sebuah postingan, sebuah produk baru yang ada di sosial media ditunjukkan oleh Mirda, terlihat bahwa itu adalah barang pre-order yang sebelumnya sangat dinantikan oleh Nadya dan Mirda semenjak mereka masih SMA. "Nad, ini jam tangan yang tipenya kita pengenin pas SMA kan? Tema couplean ala bestiean gitu loh, kita sebelumnya pernah pre-order kan? Kamu masih ingat kan? " tanya Mirda bertubi-tubi. Nadya hanya terdiam, ia sadar bahwa ia pernah menginginkan sebuah jam tangan yang serasi dan sama, namun itu adalah sebatas rencana untuk Nadya, karena sekarang saja Nadya tengah memikirkan uang dan makannya, sementara godaan lama kembali menghantuinya. "Gimana? Yuk, kita pesan. " ajak Mirda. Nadya tidak ada pilihan lagi, ia terpaksa untuk jujur dengan apa yang terjadi padanya, tanpa menjawab ajakan Mirda, Nadya menyiapkan dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya. "Maaf, Mirda, aku boleh ngomong yang sebenarnya nggak sama kamu? " tanya Nadya. "Loh, nanya apaan? " tanya Mirda balik. "Sebenarnya aku tuh udah nggak ada uang semenjak seminggu yang lalu, dan sekarang mau beli jam tangan couple yang kita pengenin itu aja uangnya juga udah nggak ada, cuma sisa buat makan aja yang aku punya sekarang. Sekali lagi, maaf ya. " jelas Nadya. Nadya menjelaskan yang sebenarnya berharap bahwa Mirda bisa mengerti kondisinya, namun dari ekspresi wajahnya saja sudah tidak meyakinkan, Mirda melipat kedua lengannya dan menatap Nadya dengan tatapan tidak senang. "Gak asik ah, masa uang kamu nabung setahun libur kuliah nggak ada lagi, Nad? " tanya Mirda. Nadya hanya bisa terdiam, ia hanya diam, karena Mirda tidak peduli tentang apa yang terjadi padanya, dan sekarang ia diinterogasi oleh temannya sendiri. "Maaf ya, Mir, kamu bisa beli sendiri aja dulu, aku belum bisa. " jawab Nadya. Mirda hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia mendekat ke arah Nadya dan menepuk-nepuk pundak Nadya. "Kalau kamu nggak bisa beli, aku juga sama, nanti kalau kamu udah ada uangnya, nanti kita beli sama sama aja ya? Nggak papa model yang lain, yang penting kita samaan. " ucap Mirda. "Iya, maaf ya Mir, makasih udah ngertiin aku. " ucap Nadya. ___ Setelah hampir beberapa lama Nadya berpikir, akhirnya Nadya memilih jalan yang lain, hanya untuk memenuhi rasa laparnya maka ia akan pulang ke rumahnya, tapi dengan cara yang lain, yaitu ia akan menyelundup untuk masuk ke rumah suaminya. Nadya juga sudah menghapal letak tempat rumah Candra, kebiasaan orang orang dirumah, bahkan cara ia masuk sebelumnya juga ia sudah menghapal nya. Malam hari adalah waktu yang tepat untuk Nadya beraksi, dengan sisa uangnya sebagai alat transportasi ia pergi ke daerahnya lagi, tepatnya ia berhenti di dekat gang menuju sawah yang tak jauh dari dinding belakang rumah suaminya. Dari jauh nampak bangunan lebar nan megah milik suaminya dari belakang, Nadya menatap silau lampu dari kejauhan, ia berjalan dengan cepat melewati jalan setapak sawah tersebut dan akhirnya terhenti di dinding belakang rumah Candra. "Langsung panjat, terus masuk lewat pintu besi, jam segini kan biasanya bibi Nur sama bibi Riska belum nutup pintu besi. " ucap Nadya. Dari dinding yang tinggi menuju ke pembatas pagar dan kolam renang, Nadya perlahan memanjat ke arah dinding tersebut. Salah dari Candra juga membuat dinding yang begitu bermotif dari bawah rumahnya, membuat orang yang berada di jalan bawah dari sawah bisa memanjat ke atas menuju kolam renang dan halaman belakang, cara itu juga bisa digunakan untuk tindak kejahatan yang sedang dicontohkan oleh Nadya. Dianugerahi badan yang kecil dan lincah, membuat Nadya bersyukur, bahwa ia dapat melewati rintangan itu seperti layaknya menaiki tebing panjat, ia memantau dari pembatas dan melihat ke arah halaman belakang, terlihat bahwa suasana belakang rumah Candra sangat sunyi, dan juga terlihat dari ruang meja makan keluarga tidak ada pantulan cahaya dari kacanya, membuat Nadya yakin bahwa tidak ada satupun orang yang sedang aktif di rumah. "Kesempatan ku. " Nadya akhirnya sampai di halaman belakang, ia mulai berjalan pelan menuju ke lorong tempat kamar para pembantu rumah itu berada, dan perlahan membuka pintu besi yang menjadi pembatas, dan akhirnya berhasil, Nadya memantau ke sekitar lorong dan ia kembali menutup pintu besi tersebut. "Alhamdulillah. " Candra melipat sajadah nya, baru saja ia melaksanakan shalat tahajud, dan sekarang ia berencana untuk tidur setelah melaksanakan ibadah malamnya. Candra mematikan lampu kamarnya dan menghidupkan lampu tidurnya, ia kembali menatap bingkai foto yang berada di meja, sebuah foto pernikahan miliknya dan Nadya terpajang di atas meja dekat lampu tidurnya. "Nadya, seperti malam biasanya, bahwa aku selalu sendirian disaat kamu pergi. Dan juga, aku melewati hariku dengan sindiran dari keluargaku, entah apa yang mereka inginkan dari ku hanya seorang anak laki-laki sendiri. " gumam Candra. Candra membaringkan tubuhnya, ia menatap langit langit kamarnya dan memejamkan matanya. Tak lama ia memejamkan matanya, suara berisik terdengar dari dapur, tentu saja Candra yang berada di dalam rumah kemudian mendengar suara tersebut, ia membuka matanya untuk memastikan suara tersebut benar adanya. "Apa itu? Apa tikus lagi? Besok harus kasih tau mamang Topan kalau harus kasih racun tikus di dapur. " tanya Candra. Saat ingin menutup mata, suara berisik dari dapur semakin terdengar, alhasil Candra bangkit dari tempat tidurnya, ia yakin itu bukanlah hama rumah yang membuat berisik maupun pembantunya yang mengambil makan malam, tetapi seseorang yang menyelundup di dalam rumahnya. Candra membuka laci meja rias, ia mengambil sesuatu dari dalam laci tersebut, sebuah pistol dan peluru ia keluarkan dari laci, tujuannya untuk menggertak orang yang masuk ke dalam rumahnya, penyelundup tepatnya. "Tidak bisa di biarkan, lagi lagi maling masuk rumah. " ucap Candra. Di dapur, Nadya yang tengah membuka lemari makanan, ia mencicip satu persatu masakan yang terhidang di dalam lemari, sedangkan di ruang meja makan keluarga, Candra mengendap-endap dengan pistolnya berjalan ke arah dapur, perlahan namun pasti tidak ada suara langkah kaki menuju ke dapur. Candra mengintip sedikit, benar dugaannya sebelumnya, bahwa seseorang masuk ke dalam rumahnya dengan gelatat mencurigakan, ia menarik pelatuknya dan mengarah ke langit-langit rumahnya. Dor! Dua letupan dari pistol terdengar sangat kuat, teriakan seorang wanita dari dapur terdengar sangat nyaring, Candra yang menembakkan pistolnya ke arah atas kemudian langsung menghidupkan lampu ruang dapurnya. Pemandangan yang tak terduga, Candra menemukan seseorang yang ia kenal sedang berada di dapur, ia menatap tidak percaya dan menurunkan pistolnya ke bawah. "Nadya? "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN