Setelah perginya Candra dari kostan, Nadya mulai membereskan barang barang yang diperlukan, ia memang mendapat gratis kasur dan karpet, namun keperluan lainnya harus ia sendiri yang membawanya, dengan semangat ia membereskan barang barangnya yang berada di dalam kamar kosannya.
Memang terasa lelah awal awal ia hidup di kosannya, tetapi karena keinginannya yang ingin tinggal sendiri saat berkuliah, ia harus menerimanya dengan semangat.
"Candra milih barangnya bagus bagus semua, memang dia bagus dalam memilih barang barang. Ya, nggak heran juga, rumahnya juga estetik banget, serba cokelat dan krim. " ucap Nadya.
Nadya mulai menyusun barang barang baru yang telah dibeli, menyusunnya satu persatu, dan puas dengan melihat hasilnya yang terlihat simpel namun tidak terlihat sederhana.
"Yup, selesai. "
Tak lama pintu kosan Nadya diketuk, Nadya kemudian berjalan untuk membuka pintu kosannya, ia membuka kunci terlebih dahulu.
"Anak baru disini ya? "
Nadya disambut oleh penghuni kosan lainnya, ia menyambut secara baik penghuni kosan yang menyambutnya duluan.
"Iya, salam kenal, aku Nadya. " kenal Nadya.
"Oh, halo Nadya, aku Hani, ini Utami, salam kenal ya, kamar kita deketan kok kecuali Utami, seberang sana kamar nya dia. " ucap gadis yang bernama Hani.
"Iya, salam kenal. " ucap Nadya.
"Nadya ngekost disini untuk ambil tempat tinggal sementara buat sekolah, kuliah atau kerja? " tanya Utami.
"Aku ngambil tempat tinggal ini untuk kuliah, soalnya tempatku di dekat desa. " jawab Nadya.
"Wih, samaan dong, nanti kalau udah masuk kuliah, kabarin ya biar sama sama tau prodinya apa aja. "
"Oke, bakal kuingat. " jawab Nadya.
Nadya mengobrol dengan asyik, hingga ia teringat akan sesuatu, yaitu mengenai temannya yang katanya tinggal satu tempat kosan dengannya.
"Ngomong ngomong, kalian kenal Mirda nggak? Katanya dia ada di sini, tapi aku nggak tau dia dimana. " tanya Nadya.
"Mirda yang kuliah di universitas dekat sini bukan? Paling nanti sore dia bakalan baru balik dari kampus, soalnya rata rata anak semester 2 jadwal pulangnya jam 4, jadinya kalau nyari tengah hari kayak gini mereka belum pulang. " jelas Utami.
"Ohh, begitu ya? Oke, makasih ya udah kasih informasi sama aku. Semoga kita temenan. " ucap Nadya.
Nadya dan kedua gadis itu akhirnya terpisah, Nadya kembali menyusun sisa barang barang, dan ia mulai beristirahat di kamarnya.
"Nanti sore aja pergi cari makan, sekarang capek. "
Nadya berbaring di kasurnya, samar samar ia mendengar suara Candra, tentu saja Nadya terkejut, ia baru ingat bahwa seringkali ia merasa mengantuk, maka ia akan berhalusinasi seakan mendengar suara orang yang memanggilnya.
"Candra, jangan ganggu tidur ku. " lirih Nadya.
Nadya memejamkan matanya, dan akhirnya ia tertidur.
"Mas Candra, tas mbak Nadya ketinggalan. "
Candra yang baru keluar dari mobil kemudian menatap ke arah bibi Nur, ia berjalan mendekat ke arah bibi Nur, namun ia terlihat tidak peduli dengan barang tersebut.
"Loh, kenapa mas? " tanya bibi Nur.
"Biarin, saya tahu itu tas peralatan make-up punya dia, biar dia tahu rasa pergi ke kampus beda sendiri. " jawab Candra.
Candra masuk ke dalam rumah, sedangkan bibi Nur terpaku, dengan membawa tas ia menyusul Candra yang masuk ke dalam untuk melayani tuannya menyiapkan makanan.
___
Suara adzan berkumandang, kebetulan masjid yang dekat dengan kosan tempat Nadya tinggal membuat suaranya menggema di sekitar kosan, Nadya yang tengah tertidur terbangun dan mengubah posisinya.
Nadya meraba-raba kasur, ia mencari ponselnya dan kemudian mengambilnya, Nadya melihat ternyata sudah jam 6 sore.
"Pantes aja. "
Nadya bangkit, ia kemudian bangun dari tempat tidur, rencananya ia akan membeli makanan di luar sebelum malam hari tiba.
Nadya membersihkan wajahnya, ia juga mengambil sendalnya untuk ia gunakan keluar kosannya.
Dengan wajah lesu, dan matanya yang terlihat merah karena habis bangun tidur, Nadya berjalan melewati lorong kosan, tak lupa juga ia menguap karena mengantuk.
Saat sedang berjalan, secara tidak sengaja Nadya berpapasan dengan seseorang yang ia kenal, dan juga tak sengaja ia bersenggolan dengan seseorang.
"Pelan pelan dong jalannya. "
"Mirda? " tanya Nadya.
Gadis yang disebut itu mulai berbalik, keduanya saling menunjuk, kemudian Nadya dan Mirda bersorak gembira dan berpelukan.
"Mirda, akhirnya kita ketemu...! " ucap Nadya dengan gembira.
"Sejak kapan sampai sini? Aku baru tau dari kamar sebelah kalau ada penghuni baru, ternyata itu kamu. " tanya Mirda.
"Tadi siang, mau nyari kamu ternyata kamunya lagi kuliah, jadinya aku urungkan buat nyari kamu dulu. " jawab Nadya.
"Eh, tadi siang datang ke sini bareng siapa? Bapak sama emak kamu kan? " tanya Mirda.
Nadya diam, ia bingung ingin menjawab pertanyaan dari temannya bagaimana, sedangkan yang mengantarkannya ke kosan adalah suaminya, tidak mungkin jika Nadya mengatakan yang sebenarnya, yang ada malah membuat temannya kaget karena ia yang sudah menikah saja tanpa memberitahukan nya.
"Tadi sama abang, kebetulan emak sama bapak nggak bisa bantu, alhasil aku dibantu sama abang aku. " jawab Nadya.
"Abang? Bukannya kamu anak tunggal ya nggak sih? Abang mana? Sepupu atau abang abangan? " tanya Mirda.
Nadya terlanjur berbohong, lagipula Mirda percaya saja dengan ucapannya, Nadya sebenarnya berdosa karena sudah memalsukan status Candra yang sekarang menjadi suaminya.
"Abang sepupu jauh dari keluarga bapak, kebetulan juga dia siap bantuin aku buat nganterin ke sini dan ngangkut barang barang punyaku. " ucap Nadya.
Mirda begitu percaya, kemudian ia mengingat sesuatu.
"Nad, mau kemana? " tanya Mirda.
"Mau beli makan diluar, laper banget dari tadi siang belum makan karena tidur. " jawab Nadya.
"Wah, aku mau ikutan dong, kebetulan aku nemu tempat makan yang katanya bagus, kamu mau ikutan nggak? " tanya Mirda.
Nadya merasa sangat senang, ia juga tidak ingin ketinggalan dari temannya, dan juga Nadya melihat bajunya yang terlihat sangat jelek jika ia diajak keluar bersama dengan Mirda, temannya.
"Aku ganti baju dulu kalo gitu, kamu tunggu disini ya. " ucap Nadya.
Nadya segera berlari ke kamar, sementara Mirda yang ingin menghentikan nya yang ingin mengganti baju.
Dengan riasan seadanya, akhirnya Nadya dan Mirda pergi ke tempat yang dituju, sebelumnya Mirda juga membawa beberapa teman dan satu laki laki yang terlihat dekat dengan Mirda, Nadya bisa menebak, itu adalah pacar dari temannya, Mirda.
"Kamu nebeng sama aku aja, biar pacarku ngikutin kita dari belakang. " ucap Mirda.
Nadya hanya menurut, keduanya berjalan menuju ke arah tempat parkiran, dan juga ia melihat sebuah motor baru yang terparkir di tempat parkiran.
"Ini motor kamu, Mir? " tanya Nadya.
Mirda tersenyum, ia menganggukkan kepalanya dan berjalan menaiki motor itu.
"Iya, motor baru pemberian dari ayahku, soalnya dia naik jabatan, makanya dia ngasih aku motor. " jawab Mirda.
Nadya menganggukkan kepalanya, ia ikut senang ketika temannya sekarang bernasib baik, dan sekarang ia dapat melihat temannya yang sudah memiliki motor, padahal sebelumnya Mirda tidak memiliki motor dan selalu menumpang dengan Nadya.
Saat ingin menaiki motor milik Mirda, Mirda sedikit merengut, ia mengibas kibaskan body motornya.
"Kenapa Mir? " tanya Nadya.
"Ngelangkah nya jangan kecil, Nad, nanti body motornya lecet. " ucap Mirda.
Nadya langsung melihat ke arah body motor, ia langsung melihat motor milik temannya yang tak sengaja bodynya ia injak, sehingga Nadya minta maaf dengan hal itu.
"Maaf ya, Mir. " ucap Nadya.
"Iya deh, nggak papa. " jawab Mirda.
Akhirnya mereka pergi bersamaan dengan rombongan lainnya, mereka berencana untuk pergi ke tempat makan yang sebelumnya ditunjuk oleh Mirda.
___
Butuh waktu setengah jam, akhirnya mereka sampai di tempat makan, sebelumnya, Mirda dan teman-temannya pergi membeli makanan lainnya yang ada di luar, sedangkan Nadya ikut membeli juga, karena ia tidak ingin tertinggal dengan Mirda dan teman temannya.
"Banyak banget, Mir, bakal habis nggak ini? " tanya Nadya.
"Kalau nggak habis, nanti tinggal buang aja. Jangan merepotkan diri aja intinya. Udah ah, ayo masuk. " jawab Mirda.
Nadya mengikuti dari belakang, mereka masuk secara bersamaan di tempat makan tersebut.
Saat memesan makanan, Nadya memesan makanan seadanya yang ia perlukan saja, berbeda dengan Mirda, temannya itu memesan makanan yang sangat banyak, sehingga Nadya berpikir apakah temannya Mirda itu bisa menghabiskan makanan itu.
"Mir, kamu seriusan mesan banyak? Kamu kan makannya dikit. " tanya Nadya.
Mirda yang sedang bersenda gurau dengan pacarnya kemudian menatap ke arah Nadya, ia menggelengkan kepalanya.
"Kan ada pacarku sama 3 orang temanku, Nad, pasti mereka juga lapar, dan kamu juga boleh kok ikut nyicip makanannya. " jawab Mirda.
Nadya hanya menjawab setuju, kemudian ia diam dan menunggu pesanan darinya dan beberapa teman sahabatnya itu datang.
Tak butuh waktu yang lama, 20 menit setelahnya makanan yang dipesan akhirnya tiba, Nadya melebarkan matanya ketika ia melihat makanan pesanan dari Mirda dan teman teman lainnya, porsi makan keluarga itu dipesan oleh Mirda, sehingga Nadya terkejut melihatnya.
"Ayo dimakan. " ajak pacar Mirda.
Mirda menepuk tangan pacarnya, laki laki itu langsung melihat Mirda dengan tatapan kesal ketika tangannya ditepuk.
"Jangan dulu, beb, aku mau foto. " ucap Mirda.
Nadya hanya tersenyum melihat Mirda yang berdebat dengan pacar temannya itu, kemudian tak lama setelah makanan tersebut difoto, mereka memulai makan malamnya bersama.
Selesainya makan malam, akhirnya mereka membayar biaya makanan yang sudah dipesan, Nadya membayar makanan yang ia beli, sedangkan Mirda dan lainnya ikut membayar makanan yang mereka pesan.
"Mir, kamu seriusan nggak mau bungkus makanan yang belum kemakan sama sekali di meja tempat kita makan? " tanya Nadya.
"Nad, yang ada malah makanannya cepat basi, soalnya makanan yang udah sekali makan tuh memang harus dibuang, jangan pelit deh sama kesehatan. " jawab Mirda.
Jawaban yang agak menyinggung, tetapi Nadya hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak bisa ikut protes karena soal makanan, toh itu akan menjadi tanggungjawab Mirda sendiri.
Nadya dan Mirda serta rombongan lainnya akhirnya pergi dari resto tempat mereka makan, dan juga Nadya hanya mengikuti Mirda saja, tujuan selanjutnya adalah tempat berbelanja, itupun karena Mirda yang ingin pergi kesana bersama teman teman lainnya.
"Mir, kita beneran mau kesana? " tanya Nadya.
"Iya Nad, aku pengen beli sesuatu di sana, kamu juga boleh kok beli disana barang barang yang kamu pengen beli. " jawab Mirda.
"Boleh juga sih. " ucap Nadya.
Akhirnya mereka sampai, dengan segera Nadya dan Mirda turun dari motor, Nadya terpisah dengan Mirda, karena temannya itu bersama dengan pacarnya sendiri.
Terlihat dari etalase toko yang terlihat sangat bagus, sebuah barang berbentuk tumbler dan barang elektronik estetik lainnya, Mirda dan teman temannya bersorak gembira dan langsung mengambil barang tersebut.
Nadya hanya melihat benda yang dipegang oleh temannya, tak lupa juga ia melihat harga yang dipasang pada barang tersebut, ia juga menginginkannya karena benda benda itu sering lewat di beranda sosial medianya.
"Kamu mau beli ini juga nggak Nad? Bagus loh, sekarang malah lagi viral di sosmed tau. " tanya Mirda.
Nadya merasa menginginkan barang yang dibeli oleh Mirda, harga yang lumayan tidak murah itu membuatnya ingin juga, sedangkan sisa uang yang ada di dompetnya hanya untuk sebulan kedepan.
Tapi hanya untuk mengikuti temannya, Nadya ingin membelinya juga, walaupun harganya setara dengan setengah uang sebulan kedepan, namun ia dengan nekat ikut membelinya.
"Wih, akhirnya kamu beli juga, Nad? " tanya Mirda.
"Barangnya bagus, aku juga mau. " jawab Nadya.
Selesai membayar, perkumpulan gadis gadis itu memutuskan untuk pulang, Nadya dan Mirda terpisah dari yang lainnya untuk memutuskan pulang ke kosan.
"Nad, kalau kamu mau ke kampus atau pulang ke kosan, kamu barengan sama aku aja ya, kan kosan kita satu tempat. " ucap Mirda.
Nadya merasa terbantu, ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, dan juga dengan tawaran seperti itu, bagi Nadya tidak akan menyusahkannya.
___
Waktu berkuliah Nadya akhirnya tiba, bermacam macam kegiatan kampus sudah Nadya lakukan, dan sekarang Nadya sudah fokus untuk belajar.
Namun ada satu hal yang membuat Nadya kesulitan, ia yang selalu mengikuti gaya hidup seperti temannya Mirda, karena Nadya tidak ingin tertinggal dari temannya itu, ia lupa bahwa ia diharuskan berhemat oleh suaminya, Candra.
"Nad, mau makan di luar nggak? Aku nemu tempat hunting makanan yang enak loh. " tanya Mirda.
Nadya tidak tahu apa yang ingin ia katakan, ingin makan diluar akan menghabiskan uangnya, di kosan saja ia terpaksa membeli sayur untuk makan siang dan malamnya saja, hidup dua minggu di kosan itu tak semudah yang ia bayangkan, apalagi suaminya yang memberikan uang hanya untuk keperluan selama sebulan ia tinggal di kosan sendirian.
"Pengen... " lirih Nadya.
"Yaudah, ayo. " ajak Mirda.
Nadya kebablasan, ia juga sudah menguras uangnya untuk difoya foya kan di luar aturan berhemat, bahkan karena memenuhi gengsinya, akhirnya ia sendiri menanggung resiko nya, uangnya sudah hampir habis dan ia juga terpaksa untuk mengambil uang tabungannya.
"Nad, besok mau ke tempat wisata baru nggak? Lumayan loh buat refreshing gitu saat kita pusing kuliah. "
Ajakan temannya juga tidak mampu ia tolak, hingga akhirnya Nadya sendiri kebingungan, uangnya tinggal sisa makan untuk 2 hari ia di kosan, sedangkan jatah waktu ia akan dikunjungi dan diberi uang lagi itu saja memerlukan waktu seminggu lagi, alhasil Nadya mulai sedikit demi sedikit menolak ajakan Mirda, dengan alasan bahwa ia tengah sibuk belajar.
Alasannya juga efektif, Mirda mengerti dan akhirnya pergi sendiri, Nadya merasa iri, karena Mirda temannya itu bisa bergabung dengan se frekuensi dan bebas memenuhi keinginannya, karena itu, seringkali Nadya mengumpat suaminya, bahwa Candra orang yang pelit.
"Aku malu buat ngehubungin Candra, kalau aku laporan karena kehabisan uang karena ikut ikutan teman, yang ada malah bakal dimarahin sama dia. "
Nadya ingin sekali protes dengan Candra, bahwasanya ia sebagai seorang istri tidak seperti yang Candra katakan padanya, bahwa Candra akan sepenuhnya bertanggungjawab terhadap dirinya, apalagi saat ia tengah berkuliah dan jauh dari pengawasan suaminya.
Namun ada satu hal yang tidak bisa Nadya atasi, Candra terkenal emosian, baru saja menikah sudah terlihat belangnya, laki laki itu tempramental dan suka marah marah, memang Candra tidak main tangan maupun kekerasan saat tengah marah dan mengomel, tapi hal itu membuat Nadya ketakutan dengan suaminya itu sendiri.
Saat tengah melamun, secara tiba-tiba ponsel Nadya berdering, Nadya melihat siapa yang tengah meneleponnya, ia terkejut ketika melihat siapa yang tengah meneleponnya, itu adalah suaminya sendiri, Candra.
"Panjang umur, baru aja mengumpat dia dalam hati, dia tiba-tiba nelpon aja. " ucap Nadya.
Nadya mengangkat telepon tersebut, kemudian mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Halo, ada apa, Candra? " tanya Nadya.
'Nadya, bagaimana disana? Aman aja kan? '
Nadya gemetaran, jika ia ingin mengakui yang sebenarnya, yang ada malah ia yang dimarahi habis habisan oleh Candra, Nadya mengenal suaminya itu adalah orang yang emosian.
'Nad, Nadya, aku lagi nelpon kamu. '
"Baik kok, buktinya aja masih bisa nelpon kamu. " jawab Nadya.
'Begitu ya? Kamu selama di kosan tidak macam macam kan? Tidak bawa teman laki-laki ke kosan atau semacamnya? ' tanya Candra.
"Ish, nggak lah, masa nekat banget bawa temen cowok ke dalam kosan khusus cewek? Kamu juga aneh aneh nanyanya. " protes Nadya.
'Ya, karena aku nggak mau kamu macam macam di luar pengawasan ku, apalagi kamu sebulan sekali aku datangi. Jangan kira kosan khusus perempuan itu menjamin bahwa kosan yang seperti kamu tempati itu nggak bisa nyusupin cowok di dalamnya, sudah banyak kejadian anak kosan cewek nyelundupin cowoknya di kosan. Ingat, kamu masih gadis, jangan biarkan orang lain yang mendahului aku, biarkan aku yang menjadi pertama kali untuk kegadisan kamu. '
Nadya terkejut mendengar ucapan dari Candra, ia menjauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian berteriak kesal ke arah ponsel menegur Candra yang berbicara aneh seperti itu dengannya.
"Hei! Jangan bicara yang aneh aneh! Kamu dari kemarin tidak lepas membahas tentang anggota badan! Tahan ucapanmu, aku masih kuliah! " tegur Nadya.
Suara tawa menggelegar terdengar dari ponsel, Nadya merasa kesal ketika Candra menertawakan nya, ia memilih memukul bantalnya selayaknya ia sedang memukuli Candra.
'Kenapa ada suara pukulan? Kamu sedang mengumpat aku ya? ' tanya Candra.
Nadya menghentikan pukulan tersebut, ia langsung terkaku dan diam.
"Nggak ah, bantal ku banyak debunya, soalnya lupa dijemur tadi siang di luar. " jawab Nadya.
'Begitu. Oh ya, bagaimana dengan keuangan kamu disana? Kamu masih berhemat kan? '
Pertanyaan yang paling tidak ditunggu oleh Nadya, ia langsung terdiam ketika Candra menanyakan keuangan yang harus ia hemat kan selama sebulan ngekost, ia kembali berbohong lagi dengan suaminya, agar ia tidak dimarahi oleh Candra.
"Masih kok, aku masih makan enak di kosan, kamu nggak usah khawatir sama keuangan aku disini. " ucap Nadya.
'Bagus. Aku akan mendatangi mu seminggu lagi, jaga dirimu disana, Nadya. ' ucap Candra.
Nadya merasa berat setelah ia berbohong, raut wajahnya berubah ketika Candra meyakinkan kebohongannya itu, bahwa ia sendiri merasa aman secara keuangan yang harus dihemat kan selama sebulan.
"Iya Can, aku menunggumu. " ucap Nadya.
Panggilan berakhir, Nadya termenung dan ia kembali merogoh dompetnya, hanya tersisa uang untuk makannya 2 hari saja, ia bahkan ingin mengeluarkan air matanya karena kebodohan dan kebohongan nya sendiri.
"Duh, setelah ini cukup buat makan 2 hari kedepan. Aku harus kontrol keuangan ku. " gumam Nadya.
Nadya meletakkan dompetnya di samping, kemudian memejamkan matanya sambil bergumam.
"Ya Allah, turunkan uang segepok aja dari langit, biar aku nggak kena marah suamiku. " gumam Nadya.