"Aku mau tempat tinggal kita terpisah. "
Mendengar keinginan Nadya yang kedua, Candra tidak percaya dengan keinginan istrinya, ia melebarkan kedua matanya dan mengerutkan keningnya.
"Apa? Kamu mau kita tinggal terpisah? Kamu mau pergi setelah dapat kuliah? " tanya Candra.
Nadya menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya isyarat salah paham, namun Candra sudah terlihat marah ketika mendengar Nadya yang ingin terpisah.
"Kemarikan kertas nya, biar kamu batal kuliah! " tegas Candra.
"Bukan begitu, Candra, aku bisa jelasin. " ucap Nadya.
"Bukan apanya? Aku mendaftarkan kamu kuliah itu karena tujuan kamu itu mulia ingin melanjutkan pendidikan setelah menikah, bukan berarti kamu bisa hidup terpisah dari aku! " tegas Candra.
Nadya hanya diam, ia tidak berani ketika Candra marah, ia baru kali ini melihat laki laki itu marah karena salah kaprah.
"Bukan begitu, kamu kan tahu kalau mahasiswa baru itu tidak diperbolehkan untuk mendaftarkan diri kalau statusnya sudah menikah, jadi—"
"Siapa yang bilang? Oh, jadi kamu mau membuat 2 identitas dengan KTP kamu begitu? Kamu mau buat status kamu seolah-olah kamu belum menikah? " tanya Candra. Nadya mengangguk kecil.
"Ya, mungkin seperti itu. " jawab Nadya.
Candra menarik nafasnya, ia begitu tidak sabaran untuk bisa menjelaskannya dengan istrinya itu, ia sendiri tidak bisa mengendalikan dirinya yang tempramen itu.
"Nadya, selama aku masih bisa membiayai kuliah kamu, dalam peraturannya saja, tidak apa memilih berkuliah setelah menikah, asalkan finansial dalam rumah tangga itu stabil dan baik baik saja. Dan jika kamu turuti akal bulus kamu untuk membuat 2 identitas diri dari KTP kamu, kamu bisa terancam hukuman 6 tahun penjara karena kamu memalsukan identitas kamu, sejatinya kita hanya diwajibkan mempunyai 1 identitas diri saja. " jelas Candra.
"Tapi bagaimana bisa? " tanya Nadya.
"Nad, aku mendaftarkan kamu dengan status kamu yang sekarang kamu miliki, dan sekarang kamu hanya akan membuat data diri kamu sendiri lebih lengkap, jangan sampai karena pemikiran kamu yang gegabah itu bisa merugikan diri kamu sendiri, mengerti? " jelas Candra.
Nadya menganggukkan kepalanya, masih terbesit keinginan dirinya yang ingin ia ucapkan, namun Candra cepat menyadarinya.
"Selain itu, apa keinginan kamu lagi? " tanya Candra.
"Aku ingin ngekost di seberang kota. " jawab Nadya.
Candra menepuk keningnya, ia benar-benar bingung dengan keinginan istrinya yang begitu belibet, terkesan bahwa Nadya ingin tinggal terpisah dengannya, sementara Nadya juga masih tetap di pilihan awal, ia ingin terpisah dari Candra.
"Nadya, kamu ini kesannya memang mau tinggal terpisah dengan aku ya? Ada apa memangnya, sampai sampai kamu mintanya seperti ini? " tanya Candra.
"Yah, aku berencana seperti itu, kalau sedang kuliah, aku akan hidup mandiri. " jawab Nadya.
Candra melipat kedua tangannya, dan tatapannya mengarah kepada Nadya.
"Jadi, setelah berkuliah, kamu memang ingin tinggal terpisah dan hidup mandiri? Walaupun statusmu sudah menunjukkan bahwa kamu sudah menikah? " tanya Candra.
Nadya menganggukkan kepalanya, sementara Candra mengerutkan keningnya.
"Agak lain pemikiranmu itu, pintar sekali cara kamu berpikir. Hei Nadya, bagaimanapun kamu berencana akan hidup mandiri setelah kamu menikah dan berkuliah, tapi ingat, kamu adalah tanggungjawab aku, kamu akan benar-benar bebas jika aku sudah mati. Selebihnya, tidak akan ada alasan kamu hidup mandiri diluar sana, jika ada yang mengajakmu untuk melanggarnya, langkahi mayatku terlebih dahulu. " ucap Candra.
Nadya diam, ia tidak bisa menjawabnya, sedangkan Candra bangkit dan pergi dengan suasana hatinya yang kacau, laki-laki itu sedang marah dan meninggalkan Nadya yang ketakutan melihatnya.
"Ternyata bibi Nur benar, bakal ada kejutan tersendiri dari Candra itu. " gumam Nadya.
Nadya beranjak dari kursi tamu, kemudian ia berjalan menuju ke kamarnya, dan ponselnya berdering, Nadya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon nya.
"Mirda? "
Wajah Nadya terlihat gembira, bagaimana tidak, selama setahun mereka berpisah, pada akhirnya Nadya mendapat panggilan dari sahabatnya, Mirda.
'Nadya, aku kangen banget, apa kabar? '
"Mirda, duh kangen juga, aku baik kok disini, kamu kuliahnya lancar? " tanya Nadya.
'Alhamdulillah Nad, disini baik baik aja kok, disini aku lagi nungguin kamu masuk kuliah tau. Kamu masih kerja kan sekarang buat lanjut kuliah? '
Pertanyaan yang membuat Nadya terdiam, memang benar Nadya akan tetap melanjutkan kuliahnya, tetapi dengan suasana yang berbeda sekarang, ia kuliah setelah dirinya menikah.
"Masih kok, bulan depan aku mulai kuliah. " ucap Nadya pada Mirda.
'Baguslah Nad, ini kabar yang aku mau setelah setahun kita nggak ketemu, soalnya kan aku khawatir sama kamu, Nad. '
"Loh, khawatir soal apa, Mir? " tanya Nadya.
'Nggak, kemarin pas aku lewat dekat gang rumah kamu, aku lihat ada tenda pelaminan dekat rumah kamu. Kamu tau nggak, aku malah overthinking kalau itu tenda pelaminan itu punya kamu loh. ' ucap Mirda.
Nadya terdiam, ia tersentak ketika mendengar pengakuan dari Mirda, sempatnya temannya itu melihat tenda pelaminan yang ada di depan rumahnya kemarin, jika saja Mirda tahu, mungkin ia akan mengecewakan janjinya dengan temannya, karena ia adalah pemilik acara tersebut dan bersanding dengan laki-laki yang jarak umurnya jauh darinya.
"Wah, kayaknya tetanggaku itu deh, kamu mungkin salah lihat kemarin kalau di dekat rumahku ada tenda pelaminan, soalnya nggak mungkin juga kalau aku nikah nggak kasih kabar dulu sama kamu, Mir. " ucap Nadya.
'Iya juga ya, yaudah ya Nad, aku matiin teleponnya, soalnya mau mandi dulu abis pulang dari kampus. '
"Iya Mir, dadah... "
Panggilan berakhir, Nadya kemudian menaruh ponselnya di meja kembali, tak lama setelahnya Candra masuk ke kamar tanpa melihat Nadya yang sedang duduk di pinggir ranjang.
Nadya merasa ragu ingin menegur Candra, karena ia tahu bahwa laki-laki itu sekarang pastinya masih marah dengan rencananya saat di ruang tamu tadi, Nadya memilih untuk diam dan menyibukkan diri dengan memainkan ponselnya sembari memantau Candra.
"Kamu tidak mengisi formulir pendaftaran kuliah kamu? "
Suara Candra akhirnya terdengar, Nadya segera menaruh ponselnya dan menatap lagi ke arah Candra yang sedang merogoh sesuatu di dalam laci meja rias.
"Belum, barusan tadi dapat panggilan dari teman, makanya tidak sempat mengisi formulir nya. " ucap Nadya.
Candra melihat Nadya sekilas, kemudian ia pergi dengan sebuah kertas yang dipegangnya, ia beranjak pergi dari kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan Nadya, hal tersebut membuat Nadya semakin canggung dengan suaminya sendiri.
"Aku harus cari bibi Nur. "
Nadya beranjak dari tempat tidur, ia berjalan keluar kamarnya untuk mencari keberadaan pembantunya, tepatnya saat berjalan di dapur, ia menemukan bibi Riska yang sedang mengambil piring, terlihat bahwa pembantunya itu sedang mengambil makanan.
"Bibi Riska. " panggil Nadya.
Bibi Riska kemudian menatap ke arah Nadya, ia meletakkan piringnya dan menyahuti panggilan Nadya.
"Iya, ada apa, mbak Nadya? " tanya bibi Riska.
"Bi Riska, dimana keberadaan bibi Nur? " tanya Nadya.
"Bibi Nur sedang dikamarnya, mbak, mau saya panggilkan? " tawar bibi Riska.
"Tidak usah, bi Riska, biar saya langsung nyusul ke kamarnya aja. " ucap Nadya.
Bibi Riska menunjukkan letak kamar para pembantu rumah, Nadya menyimak petunjuk tersebut kemudian bergegas menuju ke belakang.
"Nanti malam minta pak Joko untuk mengantarkan sayur yang dipesan tadi pagi dari pasar, soalnya mas Candra sudah ingatkan. " gumam bibi Nur.
"Bibi Nur. "
Bibi Nur kemudian menatap ke arah pintu besi, ia melihat nyonya nya, Nadya, yang sedang membuka pintu tersebut, sebelumnya ia segera bergegas untuk membantu Nadya membukakan pintu besi tersebut.
"Sebentar, mbak Nadya. "
Bibi Nur membantu Nadya untuk membuka pintu besi itu, keduanya akhirnya bertemu dan Nadya menarik tangan bibi Nur menuju ke teras belakang rumah, kemudian keduanya duduk di tepi kolam renang bersama.
"Ada apa, mbak Nadya? " tanya bibi Nur.
Tatapan Nadya terlihat sangat serius, ia diam dengan wajahnya yang tegang, sedangkan bibi Nur penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Nadya.
"Bibi Nur, ternyata Candra orangnya galak... "
Nadya mengadu, tatapan bibi Nur seketika terheran-heran, sambil tersenyum ia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa bi? Apa yang lucu? " tanya Nadya.
"Mbak Nadya jangan terkejut, mas Candra memang orangnya kadang suka marah, dia orangnya tempramen, tapi tenang saja, mas Candra orangnya baik kok. " ucap bibi Nur.
"Baik apanya? Saya jadi takut kalau harus berhadapan dengan Candra, bi, bagaimana seterusnya jika saya akan menghadapi dia yang terus terusan marah? Yang ada malah saya yang dipukul sama dia. " ucap Nadya dengan nada kesal.
Bibi Nur menatap ke arah Nadya, kemudian ia memegang tangan kiri Nadya.
"Mbak Nadya, jangan terlalu khawatir dengan mas Candra. Bibi tahu, kekhawatiran mbak Nadya dengan sifat mas Candra itu yang terlihat dari awal mbak Nadya berkomunikasi dengan mas Candra sendiri. Memang, diawal mas Candra itu terlihat seperti orang jahat karena gaya bicaranya yang terdengar kasar, sikapnya yang terlihat sombong, bahkan emosinya yang tidak stabil. Tapi mbak Nadya tahu, sebelum mas Candra menikah dengan mbak Nadya, dia selalu terus bertanya dengan bibi tentang mbak Nadya loh. " jelas bibi Nur.
Nadya mengerutkan keningnya.
"Bertanya soal saya bagaimana, bik? " tanya Nadya penasaran.
Bibi Nur tersenyum.
"Yah, sebelum kami mengetahui rencana mas Candra akan menikahi seorang gadis yaitu akan menikahi mbak Nadya, kami semua hanya tahu mas Candra hanya sibuk dengan pekerjaan nya di toko selama hampir 8 tahun setelah dia tidak berhubungan lagi sama mantan pacarnya. Tapi entah mengapa setelah itu, kami selalu ditanyakan dengan mas Candra, dia selalu bertanya bagaimana dengan keinginannya mengenalkan seorang gadis kepada kami semua. Mbak Nadya bisa membayangkan betapa terkejutnya kami serumah, karena setelah 8 tahun mas Candra tidak berhubungan dengan mantan pacarnya setelah dia putus, itu sebuah kejutan bagi kami yang selalu berdo'a untuk mas Candra agar dia bisa menemukan pasangan hidupnya. Mbak Nadya kan tahu umurnya mas Candra itu sudah kepala tiga, tapi belum menemukan jodohnya itu yang membuat kami khawatir, jangan sampai tuan muda kami hidup sendirian tanpa pasangan hidup. " jelas bibi Nur.
Nadya diam, sementara bibi Nur masih menjelaskan tentang Candra.
"Mbak Nadya harus bersyukur bisa menjadi istrinya mas Candra, dia memang terlihat jahat, tapi ingat saja, nanti mbak Nadya akan menemukan kelembutan hatinya. Jangan khawatir dengan sifat pemarahnya, mas Candra orangnya tidak suka main tangan, dia memilih untuk marah sepuas puasnya saja, karena mas Candra itu sangat menghormati dan menyayangi wanita. " jelas bibi Nur.
Nadya diam, ia menatap ke arah air kolam renang yang tenang itu, sambil melamun memikirkan ucapan bibi Nur.
"Sayangnya keinginan saya malah terus dibantah, bi, memangnya tidak boleh ya kalau tidak sepemikiran dengan Candra? " tanya Nadya.
"Tidak juga, memang awalnya mas Candra akan membantah kalau tidak sesuai dengan pemikirannya, tapi nanti juga dia akan cari jalan keluarnya, walaupun nantinya akan disetujui atau tidak. " jelas bibi Nur.
Nadya menganggukkan kepalanya, ia berharap seperti apa yang diucapkan oleh pembantunya itu, jelas ia ingin keinginannya bisa di penuhi.
"Udah kedinginan juga kaki saya, saya mau duluan ke dalam ya bi, soalnya disini udah kedinginan, nyamuknya mulai gigitin badan, ditambah lagi pemandangan belakang rumah ini langsung ngarah ke sawah, jadinya serem. " ucap Nadya.
"Oh iya mbak, saya juga mau langsung ke dapur, soalnya nunggu tukang sayur nganterin sayurnya ke rumah. " ucap bibi Nur.
Nadya dan bibi Nur terpisah, karena hari sudah menunjukkan malam hari, maka dari itu Nadya masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat.
Sebenarnya, Nadya malas untuk satu kamar bersama dengan Candra, ia ingin kamarnya terpisah dari kamar laki-laki itu, karena ia merasa risih jika harus satu kamar dengan orang lain, ditambah lagi itu adalah seorang laki-laki.
Jika Nadya bertanya di mana kamar lainnya, maka Candra akan segera mengatakan bahwa ia adalah istrinya dan harus tidur satu kasur dengan Candra, Nadya malah merasa tidak suka dengan perlakuan Candra, ia tidak menganggap Candra adalah suaminya, hanya menganggap Candra adalah laki-laki yang sekedar mengambilnya saja dari kedua orangtuanya.
"Belum tidur? "
Nadya terkejut, ia melihat ke arah belakang, Candra dengan pakaian rapi kemudian menegurnya dari belakang, Nadya menganggukkan kepalanya dan sedikit menjauh dari suaminya.
"Belum, aku juga mau ngisi formulir pendaftaran kuliahku. " jawab Nadya.
Candra menyadari, sorot mata istrinya terlihat tidak nyaman saat bersamanya, sesekali Nadya tidak ingin melihatnya dan dengan ekspresi kesal padanya, ia yakin bahwa istrinya masih kesal dengan yang terjadi tadi sore.
"Ya sudah, setelah selesai mengisi formulir, langsung tidur. " ucap Candra.
Nadya menganggukkan kepalanya, Candra melewati Nadya dan pergi menuju ke ruang tamu.
"Kemana Candra malam malam begini ya? Kok dia rapi banget? " gumam Nadya bertanya pada dirinya sendiri.
Nadya mengangkat kedua bahunya, kemudian ia masuk ke kamarnya untuk mengisi formulir pendaftaran kuliahnya.
___
Keesokan harinya, Nadya terbangun karena bunyi alarm, ia lupa mematikan alarm yang kemarin ia hidupkan karena ingin bangun pagi hari untuk bersiap siap membereskan rumah.
Nadya menguap, ia merenggangkan tubuhnya dan menatap ke samping, tidak ada Candra di sampingnya, ia juga teringat tadi malam, Candra dengan pakaian yang rapi memutuskan untuk keluar rumah tak tahu kemana.
"Kok dia tidak ada ya? Apa dia tidak pulang semalaman? " gumam Nadya.
Nadya bangkit dari tempat tidur, ia mulai merapikan tempat tidurnya, setelahnya ia berencana untuk keluar mencari pembantunya, mungkin saja ia akan mengetahui keberadaan suaminya dengan bertanya pada bibi Nur.
Saat keluar kamar, secara mengejutkan Nadya bertabrakan dengan seseorang, bahkan wajahnya hampir menempel di badan orang yang ditabrak nya, kemudian kedua bahunya dipegang.
"Kamu kenapa terburu-buru? "
Nadya terkejut, yang ia tabrak adalah Candra, laki-laki itu memegang kedua bahunya dan menatapnya secara serius, Nadya melepaskan kedua tangan Candra yang memegang kedua bahunya.
"Aku tidak lihat kamu malam tadi, kemana saja? " tanya Nadya.
Candra menatap ke arah Nadya, dengan tersenyum kecil, ia kemudian melipat kedua tangannya.
"Kenapa? Kamu mencariku karena khawatir ya? " tanya Candra.
Nadya terkejut, ia mengerutkan keningnya kemudian menatap tidak percaya ke arah Candra.
"Nggak, aku cuma nanya aja. " jawab Nadya.
"Baik, sekarang aku yang bertanya—"
Candra menarik nafasnya, ia menutup matanya dan membuka matanya, kemudian ia menatap serius ke arah Nadya.
"Apakah kamu akan terus bangun kesiangan seperti ini?! Sudah beberapa kali alarm berbunyi, masih tidak dengar juga?! "
Suara menggelegar itu terdengar sampai satu ruangan, Nadya terkejut ketika Candra meninggikan suaranya.
"Ma—maaf, memangnya udah jam berapa? " tanya Nadya gugup.
Tangan Candra menunjuk ke arah jam yang ada di dinding ruang meja makan keluarga, Nadya melihat ke arah jarum jam, sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Hal tersebut membuat Nadya terkejut, karena hari itu adalah hari Nadya untuk mengirim formulir pendaftaran yang sudah ia isi ke kampus, ia sangat ceroboh karena sudah bangun kesiangan.
"Aku terlambat! "
Nadya segera bergegas menuju kedalam kamarnya untuk membersihkan diri, karena ia sudah terlambat untuk pergi ke kampus.
Nadya membawa peralatan make-up nya yang instan, cukup dengan membawa beberapa make-up yang simple saja ia akan menggunakannya saat pergi ke kampus, ia mengambil kunci motornya dan segera bergegas untuk pergi ke kampus.
"Kenapa mengambil kunci motor? "
Nadya menatap ke arah mobil yang sedang terparkir di luar garasi, terlihat Candra yang sedang berada di dalam mobil.
"Pakai motor, aku udah terlambat untuk pergi ke kampus. " jawab Nadya.
"Untuk apa? Kamu naik mobil sama aku aja, aku juga mau pergi buat ngurus surat surat kita. Kasih kuncinya sama pak Edi sana. "
Nadya menganggukkan kepalanya, kemudian ia memberikan kunci motornya dengan pak Edi, ia masuk ke dalam mobil dan pergi bersama dengan Candra.
___
Perjalanan mereka menuju ke seberang kota, pertama, Candra menemani Nadya yang sedang mengurus pendaftaran kuliah, setelah selesai, rencananya mereka akan ke dukcapil untuk mengurus surat surat yang akan diurus.
"Kamu duduk aja di situ, nanti kalau ada yang diperlukan, aku bakal kesini. " ucap Candra.
Candra dengan beberapa dokumen dan surat yang dibawanya ia berjalan kepetugas dukcapil yang berada di depan.
"Selamat siang, ingin mengurus surat apa pak? " tanya petugas dukcapil.
"Saya ingin mengurus pembaruan kartu keluarga, untuk penambahan nama anggota keluarga. Sekalian mengubah status KTP saya dan istri saya. " jawab Candra.
"Buku nikah dan surat lainnya? " tanya petugas dukcapil.
"Lewat kartu saja, kami bawa kartunya. " jawab Candra.
Petugas dukcapil itu menganggukkan kepalanya, kemudian Candra mengeluarkan kartu nikah miliknya beserta dengan surat surat lainnya, ia berjalan ke arah kursi tunggu dan menghampiri Nadya, Candra juga menagih Nadya untuk memberikan kartu lain milik istrinya untuk diserahkan dengan petugas tersebut, Candra kembali ke meja petugas tersebut dan memberikan surat lainnya yang diperlukan.
"Kartu keluarga bisa diproses sekitar 20-30 hari, nanti bisa mengulang lagi ketika kartunya sudah siap diproses. "
"Baik, terimakasih. " ucap Candra.
Candra kembali ke kursi tunggu, Nadya langsung berdiri, keduanya berjalan meninggalkan kantor dukcapil tersebut.
"Setelah ini, kamu tinggal tunggu seminggu untuk masuk ke kampus. " ucap Candra.
"Baiklah." jawab Nadya.
Candra menatap ke arah Nadya yang berjalan di sampingnya, menuju ke parkiran, keduanya mendekati mobil.
"Apa saja yang dibutuhkan untuk ngekost? " tanya Candra.
Nadya yang sedang membuka pintu mobil kemudian terhenti, ia mengarahkan pandangannya ke arah Candra dengan sedikit menganga.
"Kamu bertanya soal barang yang diperlukan untuk di kostan? " tanya Nadya.
Candra berdecak, kemudian ia menatap sejenak ke arah Nadya.
"Katanya mau ngekost, berarti harus siapin apa yang kamu butuhkan, bukan berarti tok aja langsung ngekost tanpa nyiapin apa yang kamu butuhkan selanjutnya. " ucap Candra.
Wajah Nadya langsung berubah sumringah, ia tidak menyangka bahwa Candra akhirnya menyetujui keinginannya, ia menganggukkan kepalanya dengan bersemangat diajak untuk membeli perlengkapan saat ia akan tinggal di kostan.
"Ayo, kita berangkat. " ajak Nadya.
Nadya memasuki mobil dengan bersemangat, ia menaiki mobil, sementara Candra menggelengkan kepalanya ketika melihat istrinya yang begitu bersemangat.
Tujuan awal mereka yaitu toko elektronik, Candra membelikan peralatan elektronik berupa penanak nasi kecil, setrika dan lainnya untuk kebutuhan Nadya, Nadya begitu bersemangat ketika dirinya memilih peralatan yang akan ia gunakan saat ngekost di seberang kota.
Hingga akhirnya tujuan mereka yaitu ke pasar, Nadya diajak membeli peralatan dan pakaian yang akan ia beli, bersamaan dengan Candra yang menemaninya untuk membeli kebutuhan yang Nadya inginkan.
"Sapu, pel, dan segala macam sudah semua? " tanya Candra.
Nadya menganggukkan kepalanya.
"Ya, sudah semua ini sudah terlihat disini. " jawab Nadya.
Candra merasa ada yang kurang, ia sambil berjalan dan melihat berbagai jualan yang ada di kios kios.
"Pakaian dalam? Kamu nggak mau beli pakaian dalam? " tanya Candra.
Nadya melebarkan matanya, ia menatap ke arah Candra dan menutup dadanya, wajahnya sedikit memerah ketika mendengar ucapan Candra barusan.
"Kamu ngomong kayak gitu ngarahnya kemana? Kamu lihat dadaku ya? " tanya Nadya.
Candra mengerutkan keningnya.
"Kenapa memangnya? Bukannya hal yang wajar kalau aku bertanya keperluan lainnya, seperti pakaian dalam baru untuk kamu? " tanya Candra.
"Ya, masalahnya aku malu kamu secara langsung bertanya tentang barang pribadi punya cewek, lagipula kamu kan laki-laki, bukannya nggak etis bertanya kayak gitu? " tanya Nadya ragu.
Candra terkejut dengan pernyataan Nadya, matanya terbuka lebar ketika Nadya mengatakan bahwa tidak etis bertanya hal seperti itu.
"Maksud kamu aku nggak sopan bertanya keperluan lain, termasuk pakaian dalam kamu? Nadya, mau aku jelasin berkali-kali kalau aku ini suamimu? " tanya Candra.
Nadya menggelengkan kepalanya, ia memilih menganggukkan kepalanya dan menggenggam tangan Candra, kemudian menarik Candra menuju ke tempat pakaian dalam.
Nadya terburu-buru melakukan hal tersebut, karena ia tidak ingin jika Candra memarahinya di pasar, sementara Candra hanya mengikuti Nadya membeli pakaian dalam.
Setelah selesai, Nadya diajak untuk memilih tempat menyewa kostan yang akan ia tempati, Nadya juga ingat dengan pesan temannya, lalu Nadya mengambil ponselnya untuk menelpon sahabatnya.
"Mau nelpon siapa kamu? " tanya Candra yang sedang menyetir.
"Aku mau nelpon temenku, soalnya nanya informasi tentang kamar kosan yang bakal kami sama sama tempati. " jawab Nadya.
"Kenapa tidak tinggal sendiri? Bukannya kamu mau hidup mandiri? " tanya Candra.
"Hidupnya memang masing-masing, tapi tinggalnya sama sama saat kuliah, aku udah janji dari lulus SMA kemarin. " jawab Nadya.
Candra menatap ke arah Nadya, tatapannya penuh pertanyaan, namun kemudian ia fokus menyetir mobilnya kembali.
___
Beberapa hari berlalu, bibi Nur dan bibi Riska menyiapkan perlengkapan untuk Nadya ngekost di kostan seberang kota, keputusannya sudah bulat, bahwa ia akan tinggal sendirian saat berkuliah nanti.
"Cuma segini aja kan? Nggak ada yang tertinggal sekiranya? " tanya Candra pada Nadya.
"Ya, cuma segini aja. " jawab Nadya.
Selesai membereskan semuanya, Nadya dan Candra menaiki mobil, mereka berangkat menuju ke seberang kota.
Selama di perjalanan, baru kali itu Nadya dan Candra akhirnya saling mengobrol, walaupun Nadya hanya sekedar menyimak ucapan Candra saja.
Sesampainya di tempat kosan yang dituju, Nadya turun bersamaan dengan Candra, tampak Nadya sedang mencari sesuatu saat keluar dari mobil.
"Nyari siapa kamu? " tanya Candra.
"Nggak, ini temenku kayaknya nggak ada ya? Katanya mau nyambut aku. " jawab Nadya sambil mencari keberadaan temannya.
"Sudah, nanti saja, lebih baik kamu bantu ngangkut barang barang kamu ke kosan kamu. " ucap Candra.
Nadya segera menghampiri Candra, Nadya mendapat bagian untuk mengangkut barang barang yang ringan saja, sedangkan Candra yang mengangkut barang barang yang tergolong berat untuk dibawa berupa kardus berisi baju dan peralatan lainnya.
Butuh setengah jam untuk menurunkan semua barang yang dibawa, akhirnya semuanya selesai dan sekarang Nadya harus menyusunnya semua.
"Semuanya sudah selesai? Nggak ada yang kurang lagi? " tanya Candra.
"Iya, sudah semua, kalau ada yang kurang juga nggak papa, kan itu di rumah kamu. " jawab Nadya.
Candra menganggukkan kepalanya, sementara Nadya menatap ke sekitarnya, kemudian berbalik untuk masuk, Candra berdeham dan langkah Nadya terhenti.
"Ada apa, Candra? " tanya Nadya.
Candra menatap ke arah Nadya, dengan melipat kedua tangannya, dan setelah itu ia menyodorkan tangan kanannya ke arah Nadya.
"Kamu nggak mau salaman sama aku? " tanya Candra.
Nadya baru ingat, kemudian ia mendekat dan bersalaman dengan Candra, Candra langsung meraih tangan Nadya, kemudian kedua tangannya memegang kepala Nadya dan menundukkan badannya untuk mencium kening Nadya dengan lembut.
"Jaga dirimu disini, selama sebulan sekali, aku akan berkunjung disini untuk melihat keadaanmu. " ucap Candra.
Nadya tersipu dengan ucapan Candra, dirinya terkaku saat Candra begitu perhatian dengannya, sehingga ia terdiam saat suaminya mencium keningnya.
"Baik, makasih ya Candra. " ucap Nadya.
Candra membalasnya dengan senyum, ia berbalik dan pergi menjauh dari kosan yang akan ditempati istrinya itu, sementara Nadya menatap belakang punggung suaminya yang perlahan pergi menjauh darinya, ia memegang keningnya yang baru saja dikecup oleh Candra.
"Maaf ya, Can, aku belum bisa menjadi istrimu, karena aku sama sekali tidak mencintaimu seperti yang dikatakan bibi Nur padaku. "