[Ingin misi rahasia yang lebih sulit dari ini?]
Pria itu langsung mengklik, tanpa membaca terlebih syarat dan ketentuan seperti sebelumnya, dia begitu tertarik dengan jumlah bonus yang didapatkannya. Siapa yang tidak akan tertarik dengan besarnya bonus yang diberikan padanya, dia akan melakukan apapun untuk menyelesaikan misi yang diberikan padanya.
“Kirimkan rekaman video rekaman mandi tetangga wanitamu.”
Pria itu begitu terkejut saat melihat misi yang didapatkannya.
[Dapatkan 1500$ sebagai imbalan menyelesaikan misi]
Pria itu menelan salivanya, saat melihat bonus penyelesaian misi yang begitu banyak, ditambah dengan bonus naik level yang lumayan fantastis. Jelas, ia sangat–sangat tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh mereka. Ia pun mulai tertarik untuk mengerjakan misi yang diberikan, tetapi ada keraguan karena misi yang diberikan padanya, adalah sebuah misi yang sangat cukup membuat mental down.
Ia membuka beberapa video yang diberikan sebagai contoh mereka yang telah menyelesaikan misi. Apa yang dilihatnya membuatnya terkejut. Bagaimana tidak, dia telah melihat banyak sekali adegan dari hasil orang-orang menyelesaikan bisnis.
“Baiklah. Aku akan melakukannya,” ucap pria itu kemudian tersenyum. Ia mengambil kamera untuk digunakan.
Saat itu waktu menunjukan pukul 05.00 WIB, pria itu mulai mengambil ponselnya untuk berkeliling mencari siapa yang akan menjadi targetnya. Ini akan sangat jelas, ia mengintip ke satu rumah ke rumah yang lain, untuk menemukan siapa yang dapat dijadikan korban dalam videonya.
Sejam kemudian, dia telah mendapatkan vedio yang akan dikirimkan untuk menyelesaikan misinya. Ia kembali dengan begitu bahagia ke kamar dan mengupload video miliknya.
[Vedio misi tengah di upload, mohon menunggu untuk dicek]
Pria itu menopang dagunya, menunggu vedio rekamannya diunggah ke situs. Kemudian akan mendapatkan bonus yang diinginkannya.
Tring!
[Selamat, anda telah menyelesaikan misinya, bonus misi telah dikirimkan ke akun anda]
Pria itu begitu girang saat mendapatkan begitu banyak uang yang telah masuk ke akunnya. Apalagi hasil dari mengerjakan misi dan juga naik level, begitu banyak.
Dia bersorak penuh kegembiraan, dia langsung melakukan withdraw saat itu juga. Kini, rekeningnya memiliki begitu banyak tabungan, ia pun pergi membeli barang-barang yang diinginkannya.
Tidak tanggung-tanggung, semua penghasilan digunakan untuk membeli barang-barang mewah. Makanan yang banyak, membuat ibunya terkejut saat anaknya membeli begitu banyak kebutuhan dapur, tidak hanya bahan-bahan dapur tetapi kendaraan pun dibeli olehnya.
“Mama tidak perlu terkejut kayak gitu. Ini semua aku beli dari kerjaku, kok. tenang saja,” ucap pria itu sambil tersenyum dan memberikan begitu banyak uang untuk ibunya.
Walaupun masih belum percaya dengan apa yang terjadi, tetapi sang ibu berusaha untuk percaya pada putranya.
Para tetangga pun melihat apa yang dibeli oleh anak itu. Cukup banyak, bahkan membuat mereka berpikir yang aneh-aneh.
Saat ia masuk ke dalam kamarnya, kini misi selanjutnya tiba dan dia pun mengerjakan misi itu. Berhari-hari dia mengurung diri di dalam kamar akan keluar saat mengerjakan banyak misi dan akan kembali dengan membawa begitu banyak uang.
[Anda mendapatkan misi selanjutnya. Anda yakin akan menyelesaikan misi ini?]
Pria itu langsung mengklik tombol Yes.
Saat misinya muncul di beranda, ia terdiam sejenak.
“What the … ini misinya?” tanyanya.
Tangannya begitu gemetar melihat rekaman vedio mereka yang telah mengerjakan misi di level yang sama dengannya.
Bagaimana bisa dia melakukan misi itu. Namun notifikasi kembali muncul membuatnya begitu terkejut. Bagaimana tidak terkejut. Pria itu harus mengembalikan semua uang yang di dapatkan jika tidak mengerjakan misi kali ini.
Pria yang berada di seberang layar, tertawa terpingkal-pingkal karena dia bisa melihat dengan sangat jelas wajah dari pria itu. Membuatnya sangat begitu bersemangat.
Inilah dark dari permainan yang mereka lakukan. Mereka harus mengembalikan apa yang telah diberikan kepada mereka jika tidak melanjutkan misi yang mereka lakukan.
[Mengunggah video baru, untuk menyelesaikan misi]
Pria itu duduk menatap layar monitor miliknya, dengan tatapan kosong setelah menyelesaikan misi, tanpa sadar dia telah menjadi bagian dari kegilaan tersebut. Bagaimana tidak, ia terlalu terbuai dengan begitu banyak uang yang ditawarkan untuknya.
Perlahan tapi pasti, dia telah menjadi bagian dari kriminal. Kini situsnya terlihat begitu banyak adegan kekerasan, baik itu video ataupun gambar. Tidak hanya video kekerasaan di dalam sana, namun begitu banyak vedio-vedio porn yang bisa diunduh tetapi berbayar dengan harga yang cukup mahal.
Saat tengah menatap layar monitornya. Tiba-tiba ada beberapa perintah yang diberikan di situs tersebut.
Pilihan pertama, “Anda ingin membalas dendam?”
Pria itu mengerutkan keningnya, ia sangat tidak berselera saat ini, apalagi setelah sadar apa yang dia lakukan. Namun, percuma tidak ada jalan kembali untuknya. nasi telah menjadi bubur, mau tidak mau dia harus melakukan apa yang diperintahkan, dia harus melanjutkan apa yang saat dikerjakannya.
Dia memiliki begitu banyak uang. Apa yang tidak bisa dilakukannya lagi, ia pun terus melanjutkan misinya.
Pilihan kedua, “Anda ingin bersenang-senang?”
Melihat perintah itu, Pria itu mengklik pilihan pertama membuatnya berada pada sebuah menu registrasi dan juga obrolan chat. ia mengerutkan kening melihat apa yang ada di hadapannya. Kini dia berada di sebuah situs yang berbeda, tetapi masih berada di induk website yang sama.
Beberapa kali dia telah melakukan obrolan chat. Ia mulai menggunakannya, mengerjakan misi yang diberikan padanya.
Selamat datang, di permainan balas dendam. Kami akan melakukan pembunuhan sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Apakah anda memiliki dendam? Katakan saja pada kami.
Pria itu mulai memainkan jarinya di atas keyboard laptop. Dia tidak menyadari jika dia masuk ke situs dunia gelap.
“Apa kau memiliki bukti jika yang kau katakan adalah benar?” ketiknya.
“Tentu. Katakan, apa yang ingin kau ketahui, dan kau lihat.”
“Apa kau bisa membunuhku?” tanya pria itu, dengan iseng.
Ia tidak tahu, pertanyaan itu akan membuatnya dalam masalah. Apalagi dirinya tengah tersenyum saat mengetiknya.
“Tentu. Kau ingin kematian yang seperti apa?”
Pria itu mulai melakukan typing, beberapa kali namun kemudian dihapus kembali olehnya, dan melakukan typing lagi sambil cengengesan tidak jelas ketika dia mengetik. Otaknya menjadi error setelah melakukan beberapa hal dengan pria yang berada di seberang sana.
Sedangkan pria yang berada di seberang, begitu menikmati caranya mempermainkan hidup pria itu, seakan dia telah memiliki dan bisa mengendalikan hidup pria itu.
“Baiklah, aku akan membuktikan padamu. Tunggulah.”
Membaca pesan di atas, membuat pria itu tertawa, dan kembali membalas pesan yang baru saja masuk itu. Ia benar-benar tidak tahu jika sebenarnya dia tengah berhadapan dengan seseorang yang sangat berbahaya.
“Baik, aku akan menunggumu,” send. Pria itu seketika langsung tertawa besar, dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Ada-ada saja,” kata pria itu sambil menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
Tanpa dia sadari, jika komputernya kini melakukan perintah, mengakses dari jarak jauh. Membuka beberapa folder, kemudian kembali ke layar awal. Terlihat system tengah mengunggah file, sedangkan di tempat lain terlihat seseorang yang tengah duduk sambil memperhatikan sistemnya yang tengah mengunduh.
Sebuah jari menekan enter.
“Selesai. Akhirnya,” ucap Davin sambil menyandarkan tubuhnya kursi. “Aku ingin tahu, siapa yang ingin bermain-main dengan tim cyber. Aku akan melayanimu,” kata Davin lagi, sambil tersenyum.
Suasana kantin kampus saat itu begitu ramai.
Di sisi pojok kantin ada anak-anak perempuan yang tengah berdiri, dan mengerumuni Gallen, dengan memberikan beberapa camilan dan juga s**u untuk Gallen. Anak remaja itu begitu pandai menebar pesona, lebih tepatnya wajahnya yang menarik perhatian para anak-anak gadis di kampus itu.
Tidak hanya wajahnya, namun otaknya yang sangat pintar. Siapa yang tidak ingin memiliki pacar seperti Gallen, semua pasti ingin apalagi dia adalah salah satu anak penerima beasiswa lebih tepatnya dia adalah anak remaja usia 17 tahun yang telah berada di jenjang semester akhir perkuliahan.
Menjadi asisten dosen, membuatnya semakin dikenal dan mendapatkan begitu banyak penggemar.
“Iya, terima kasih,” kata yang paling sering diucapkan oleh Gallen ketika tiba di kampus Karena satu persatu para gadis memberikannya minuman atau roti.
“Huh! Apa harusnya aku tidak ke kampus hari ini?” tanya dalam hati, ketika menyadari jika dia tengah di tatap begitu banyak pasang mata pria yang ada di kantin. “Pilihan yang buruk datang ke kampus,” kata Galen membatin lagi.
Ddrrzzz…
Ponselnya pun bergetar menampilkan nama ‘Manusia Kulkas’
“Tepat banget, biar bisa pergi dari tempat aneh ini,” gumamnya sambil mengambil ponselnya di atas meja dan beranjak pergi.
“Gallen … jangan pergi dong.”
“Opps … Sorry, aku punya urusan mendadak. Akan mendapatkan masalah, jika aku tidak segera datang,” kata Gallen sambil pergi meninggalkan para gadis-gadis yang telah memasang wajah cemberut karena kepergiannya.
“Untung banget kau menelpon. Aku dikerumuni kuntilanak-kuntilanak,” curhat Gallen saat dia mengangkat telepon Benua.
Ia cukup risih dengan beberapa anak perempuan yang selalu mengelilinginya.
“Mbak Kunti? Perasaan ini, siang hari deh. Nggak bakalan ada yang namanya kunti siang-siang,”
“Haduh. Maksudku bukan mbak kunti itu, tapi mbak kunti gadis-gadis yang nempel mulu.”
“Oh.” Respon Benua dengan datar membuat Galen mendengus kesal. “Kau sebaiknya cepat datang ke alamat yang ku kirim, aku tunggu. Nggak boleh lebih dari 30 menit,” ucap Benua memerintah.
“Tiga puluh menit? Kau pikir aku bisa terbang? huh?” tanya Galen dengan kesal karena iya tahu berapa jarak yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat itu.
“Dasar adik laknat. Apa kau tidak bisa menghentikan mulutmu berbicara kasar? Tidak pernah berhenti mengumpat.”
“Biarin!”
“Dua puluh menit lagi!” ucap Benua membuat Galen mulai melangkahkan kakinya.
“Aargh… Pakai ngitung lagi,” gerutu Galen sambil mematikan telfon dan segera berlari menuju parkiran kampus.
“Galen, hati-hati jangan sampai kesandung, tapi… kesandung cintaku nggak apa-apa.” Sebuah teriakan terdengar tepat di telinga Galen, namun dia memilih untuk tidak menghiraukannya.
Garis polisi terlihat mengelilingi sebuah rumah. Mobil polisi tengah berada di depan rumah tersebut, ditambah dengan sebuah mobil tim forensic, beberapa orang keluar dari dalam mobil, pakaian berwarna putih lengkap dengan peralatan mereka.
“Kapan kau datang?” tanya Davin yang baru saja datang.
“Lima belas menit yang lalu,” jawab Benua. “Sebaiknya lo, liat langsung apa yang terjadi di dalam,” kata Benua sambil masuk ke dalam rumah.
Pemandangan pertama kali terlihat adalah sebuah rumah yang kacau, beberapa barang-barang berantakan di sana sini, tidak hanya itu, terdapat barang yang pecah, dan kursi yang tidak beraturan, tidak pada tempat seharusnya, ada sebuah tanda gesekan di lantai menandakan jika kursi tersebut terdorong oleh sesuatu.
“Ini komputernya,” kata Benua.
“Ouh… Siall… Kenapa aku harus melihat mayat lagi, dan begitu parah dari sebelumnya,” umpat Davin. “Kalian sebaiknya memeriksanya lebih dulu. Gue tunggu di luar, nggak betah gue kerja dengan mayat,” kata Davin sambil keluar dari dalam kamar itu.
Doom… Doom… Doom…
Sebuah music tiba-tiba terputar membuat Benua, Davin dan beberapa tim forensic yang berada di dalam kamar itu seketika terkejut karena music yang terputar tiba-tiba.
Benua menatap Davin dengan penuh penasaran, begitu pula dengan Davin.
Bersambung…