“Sudah ku katakan, aku akan datang menepati janji.” Sebuah suara terdengar. Pria yang tengah duduk di depan komputer tidak menyadari jika dia dalam bahaya.
Apa yang dilakukannya, dengan menggunakan ruang chat itu, membuatnya dalam masalah sendiri. Dia mungkin telah menjadi bagian dari game yang dimainkannya, tetapi ada beberapa hal yang tidak diketahuinya sebagai seorang pemula.
Dan hal itulah yang dilakukannya, kini membuatnya benar-benar berada dalam masalah. Bagaimana tidak, dia begitu frustasi sampai mengatakan hal yang begitu aneh, untuk menghibur dirinya. Harusnya tidak dia lakukan.
Menginginkan dia ditemukan alamatnya dan juga dibunuh, terdengar seperti lelucon, tetapi tidak bagi mereka yang telah menjadi pemain lama. Bagi mereka, jangan bermain pada diri sendiri karena akan menjadi kenyataan bagi mereka.
Wajah yang tengah ditutupi dengan tudung hitam, bersembunyi di dalam kegelapan ruangan itu. Di tangannya memegang sebuah palu, yang akan digunakan untuk mengeksekusi korbannya.
Senyum terbit di bibirnya saat melakukan aksinya. Dia begitu menyukai hal seperti saat. Seperti salah satu pria yang telah dipercayakan bermain di lapangan sebagai pembunuh dan juga pria yang akan membalas dendam, melenyapkan target yang diinginkan oleh mereka yang telah menggunakan website mereka.
Pria yang kini menjadi targetnya begitu pulas tidur di kursi.
Sebuah palu tengah melayang, dan menghantam kepala pria itu.
Bukh!
Satu pukulan membuat pria itu berteriak, tetapi suaranya teredam karena ruangn itu kedap suara, tidak akan kedengaran apapun dari luar kamar.
Pukulan pertama itu membuat tempurung kepala pria itu, retak dan berdarah. Matanya terlihat membulat karena keterkejutan.
Satu kali pukulan palu lagi, membuat suara retakan terdengar di ikuti oleh darah yang terciprat mengenai wajah seorang pria yang tengah tersenyum devil. Saat itu, tudung hitamnya terkena darah, bahkan wajahnya pun ikut terciprat darah yang mengenai wajahnya.
Ia tersenyum, saat melakukannya. Tanpa ada keraguan, tanpa ada rasa bersalah, atau pun perasaan yang membuatnya akan masuk percaya. Tidak terlihat sama sekali, hanya ada senyuman yang terus menerus terbit di bibirnya.
Tanpa ampunan, pria bertudung itu membuat hancur kepala pria yang tengah duduk di kursi itu. Tengkorak kepala mulai hancur seiring dengan otak yang mulai terjatuh di lantai.
Setelah puas memukul kepala korbannya dengan palu, ia mengeluarkan sebuah pisau dari balik jubah hitamnya.
Jrass! Pria itu seketika menancapkan pisau itu pada jantung pria itu.
Terlihat jelas, ada luka tusukan di jantung pria itu, ditambah dengan robeknya perut mengeluarkan isi perutnya, dan tercecer di lantai. Begitu brutal hal yang dilakukannya, bahkan tanpa pengampunan, tidak hanya itu dia menatap dan tersenyum.
Darah mulai terlihat mengenang di lantai keramik putih, dia membiarkan apa yang telah dia lakukan, tanpa membereskannya.
Palu yang dipegang olehnya, diletakkan begitu saja di lantai. Namun, pisau kembali di bawa olehnya, bahkan ia membersihkan darah di dalam pisau itu dengan jubah hitam miliknya.
Ruang kamar saat begitu berantakan, tetapi anehnya computer begitu rapi, seakan tidak pernah terlibat perkelahian di sana. Begitu teratur. Hanya ada komputer yang dibersihkan oleh pria itu, seakan tidak masalah baginya mayat yang tergeletak begitu saja, tapi jangan dengan komputer.
Keyboard yang digunakan begitu bersih, begitu juga dengan monitor. Tidak ada debu di sana.
Dua jam yang lalu.
“Apa kau bisa membunuhku?” tanya pria itu, dengan iseng.
Perasaan kalut, membuatnya menjadi kurang bisa berpikir apa yang harus dilakukannya, dipikirnya lelucon mengenai apa yang saat ini dikerjakannya.
“Tentu. Kau ingin kematian yang seperti apa?” Balasan pesannya membuatnya begitu geli. Dia terpikirkan jika dia tengah chat dengan orang-orang yang iseng.
“Kepalaku hancur berkeping-keping dengan isi perut yang keluar.” Pria itu membalas, lagi-lagi dia pikir itu hanyalah sebuah lelucon belaka. “Dia pikir aku akan percaya dengan apa yang dia katakan. Membodohiku saja, dia tidak tahu berhadapan dengan siapa. Apa dia tidak tahu, aku sudah berada di level berapa, hingga dia berani-berani membuat lelucon denganku? Hhhm,” ucapnya remeh.
“Baiklah, aku akan membuktikan padamu. Tunggulah.” Kembali dia mendapatkan pesan.
Pria di seberang komputer, melihatnya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Ia menertawakan pria itu begitu bodoh, tidak menyadari jika dirinya tengah berada dalam bahaya besar, karena telah berurusan dengan mereka-mereka dari dark web.
“Baik, aku akan menunggumu.” Send.
Pria itu seketika langsung tertawa besar, dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Ada-ada saja,” kata pria itu sambil menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
Suara perutnya terdengar, “aku harus memesan makanan,” katanya sambil meraih ponselnya, dan membuka sebuah aplikasi pemesanan makanan online.
“Sepertinya lama menunggu pesanan. Aku harus mengisi perutku lebih dulu dengan mie,” katanya sambil beranjak dari tempat duduknya membiarkan computer miliknya tengah hidup begitu saja.
Matanya menyapu bersih isi kulkas, dan lemari namun tidak menemukan sesuatu yang bisa di makan olehnya.
“Yaa… ternyata stok sudah habis, sepertinya aku harus pergi keluar membeli beberapa bungkus.”
Pria itu kembali ke dalam kamarnya mengambil jaket dan dompetnya tidak lupa ponselnya.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, motor miliknya dikeluarkan untuk digunakan pergi indomaret terdekat yang berjarak tidak jauh dari rumahnya hanya memakan waktu beberapa menit saja, lebih tepatnya sekitar 200 meter, di kompleks perumahan lain.
Ketika dia sampai, dia terus mengumpat karena begitu banyak antrian.
“Bodohlah, udah sampai sini. Nanggung banget sekarang pulang, aku harus belanja,” katanya sambil memilih beberapa keperluan yang dia butuhkan.
Seperti mie, telur, jajan, dan beberapa keperluan lainnya. Tidak membutuhkan banyak waktu, untuk mengumpulkan semua yang dia perlukan tersebut di tempat tersebut, dia telah mengenal segala letak barang-barang di sana. Karena dia adalah pelanggan tetap.
“Banyak amat Mas Dimas.”
Dimas, nama pria itu. Ia adalah seorang pria pengangguran, tidak pernah bekerja sama sekali. Hanya, sang ibu yang bekerja selama ini, dan dia leha-leha di dalam kamar.
“Biasa stok untuk keperluan bermain game.”
“Walah mas, jangan main game mulu. Nggak baik loh mas. Nanti jomblo mulu loh, karena main di dalam rumah terus.”
Pria yang dipanggil dimas itu hanya cengengesan mendengar teguran dari kasir. Wanita yang menegurnya membuatnya menahan diri untuk tidak mengumpat.
“Total berapa semua bu?” tanya Dimas, ia berusaha untuk terlihat ramah pada wanita itu.
Apalagi saat itu keadaan alfa tengah ramai.
“Seratus lima puluh ribu.”
“Ini bu,” kata Dimas sambil memberikan beberapa lembar uang pecahan 50ribu pada kasir. “Makasih ya bu, permisi,” kata Dimas sambil keluar dari tempat itu.
Sejenak dia menatap suasana malam saat itu, begitu ramai. Ada beberapa orang yang terlihat tengah jalan bersama dengan kekasih, mengendarai motor.
“Nasib… Nasib…” gumamnya sambil menggelengkan kepalanya. Sebagai pria yang tidak memiliki kekasih, melihat hal itu jelas dia sangat membuatnya iri. Motornya kini dihidupkannya. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya, sampai di depan rumah miliknya.
Clek!
Ketika dia mulai membuka pintu, seorang pria telah menyambutnya di dalam rumah.
Ia tidak tahu, bagaimana bisa ada orang yang masuk ke dalam rumahnya. Jarak mereka sekitar 2 meter, tidak terlihat wajah pria itu hanya sebuah senyuman karena matanya tertutup dengan tudung.
“Astagfirullah…” kata Dimas terkejut. “Ka… kamu siapa?” tanya Dimas sambil meletakkan belanjaannya di atas meja.