Clek!
Ketika dia mulai membuka pintu, seorang pria telah menyambutnya di dalam rumah.
Ia tidak tahu, bagaimana bisa ada orang yang masuk ke dalam rumahnya. Jarak mereka sekitar 2 meter, tidak terlihat wajah pria itu hanya sebuah senyuman karena matanya tertutup dengan tudung.
“Astagfirullah…” kata Dimas terkejut. “K-kamu siapa?” tanya Dimas sambil meletakkan belanjaannya di atas meja. Sangat jelas, dia terkejut melihat orang asing berada di rumahnya.
Dimas melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala, pria misterius yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari apakah pria itu memiliki teman atau tidak. Ada perasaan takut, saat dia mendekat, apalagi pria itu tengah menggunakan tudung.
Ia melihat di atas meja tersebut terlihat sebuah paket makanan yang tadi di pesannya. Dia berpikir jika pria itu adalah kurir yang mengantarkan paket makanan, tapi ia sama sekali tidak paham mengapa pakaian yang dipakai terlihat begitu aneh.
“Kamu siapa? Kenapa tidak menjawab, dan ini kenapa bisa ada di sini?” tanya Dimas. Ia berusaha untuk tidak terlihat takut.
Pria itu tidak menjawab. Hanya diam di tempatnya. Karena tidak ada balasan dari pria yang ditanyainya itu, ia menjadi kesal. “Kamu ini siapa sih?” tanya Dimas dengan kesal.
“Aku datang menepati janjiku,” kata pria bertudung baru saja membuka suaranya.
Suaranya begitu berat, serak membuat Dimas agak merinding.
“Janji apa?” tanya Dimas, ia tengah berpikir janji apa yang sebenarnya dilakukannya sampai pria itu datang. Siapa yang membuat janji dengannya.
Dimas menatap pria itu kembali, penuh menyelidiki, ia menyisir keluar ruangan. Ia berharap tidak ada siapapun di sana.
“Janji untuk membunuh… ahahah…” kata pria itu membuat Dimas langsung berlari keluar, sayang sekali jaraknya telah dekat dengan pria itu membuatnya tidak bisa berlari keluar.
Tangannya ditarik oleh pria bertudung, membuatnya tidak bisa melangkah jauh. Dimas menendangnya membuat pria itu meringis kesakitan, namun masih belum melepaskan cengkraman tangannya dari tangan dimas.
“Lepaskan …” pinta Dimas, tetapi tidak dituruti oleh pria itu. Membuat Dimas begitu ketakutan. Ia memberontak.
Pria itu tertawa, membuat Dimas begitu ketakutan. “Kau memintaku untuk menepati janji untuk membunuh, kenapa kau begitu takut. Aku datang memenuhinya,” kata pria itu membuat Dimas sangat ketakutan.
Kini, ia teringat dengan apa yang telah dilakukan, bahkan dia telah menantang seseorang untuk menangkap pembunuh itu. Pria bertudung mengeluarkan sebuah pisau, membuat dimas gemetaran, dan spontan melawan untuk membela dirinya sendiri.
Perkelahian Pun tidak bisa dihindari ketika Dimas melepaskan apa yang bisa di raihnya, ketika pukulan dan tinjunya selalu ditangkis oleh pria itu.
Dimas tidak memiliki sesuatu yang dapat membuatnya berhasil mengalahkan pria itu.
“Aku tidak benar-benar memintamu untuk membunuhku,” kata Dimas.
“Sudah terlambat mengatakannya. Aku ingin membuktikan padamu jika aku bisa melakukan apapun yang diperintahkan padaku, membunuh sesuai dengan perintah yang diberikan padaku.
“Ak—aku minta maaf. Tolong jangan bunuh aku,” kata Dimas memohon. Tubuhnya bergetar karena gugup. Ia sangat tidak bisa mengendalikan dirinya untuk saat ini.
Beberapa kali dia mencoba untuk berteriak agar para tetangga bangun, tetapi tidak ada yang mendengarkan suara teriakannya, seakan semua orang tiba-tiba mengilang begitu saja.
“Tolong … tolong …” teriak Dimas, ia terus menerus berteriak meminta bantuan. Nihil. Hasilnya nihil.
“Aku minta maaf. Aku hanya bercanda. Tolong jangan bunuh aku,” pinta Dimas dengan penuh harap agar dilepaskan oleh pria itu. Namun, tidak semudah itu.
“Ku bilang percuma, terlambat kau mengatakannya.” Suara pria itu begitu menakutkan bagi Dimas, serak-serak basah serta seperti malaikat maut.
Tubuh Dimas, begitu bergetar hebat. Dia berusaha untuk berteriak, tetapi mulutnya kemudian dibungkam oleh pria bertudung. Membuatnya tidak bisa berteriak. Ia mencoba untuk memberontak tetapi tidak bisa dilakukannya.
Rasa lelah, takut dan juga tidak ada tenaga dirasakan olehnya.
Pisau diayunkan membuat suara tusukan yang sangat jelas terdengar.
Jleb! Jras!
Suara tusukan dan tarikan pisau terdengar, Dimas mulai merasakan darahnya mulai terkuras keluar dari perut miliknya, dan mencoba menahannya dengan tangannya, walaupun sebenarnya percuma.
“Urgh …” ringisnya. Untuk sesaat pria bertudung pergi ke arah belakang, membuat Dimas masuk ke dalam kamar miliknya dan duduk di kursi miliknya.
Hanya itu yang bisa dilakukannya. Bersembunyi di dalam kamar. Sayangnya, dia memilih kamar yang salah. Dia tidak mengerti jika dia bersembunyi di kamar akan membuatnya dalam bahaya besar.
Kkrrr… tok… tok…
Suara ketukan palu di dinding terdengar, ditambah dengan suara gesekan palu di dinding yang membuat suara merinding ketika mendengarnya. Tubuh Dimas bergetar, begitu ketakutan dengan apa yang sedang terjadi padanya. Bukan permain dan bercandaan yang sedang terjadi padanya. Nyata!
Dia tengah berhadapan dengan maut yang sangat menakutkan, ia tidak pernah berpikir jika apa yang dilakukan olehnya itu akan menjadi kenyataan. Dia hanya bercanda untuk menghilangkan perasaan bersalahnya setelah menyelesaikan misi dan mendapatkan begitu banyak uang.
Brak! Brak! Tok… tok… tok…
Suara dobrakan pintu lagi, dan lagi terdengar, apalagi terdengar suara palu yang mengetuk-ngetuk pintu. Ia mencoba untuk mencari cara agar bisa lolos dari kematian yang dimintanya. Ia meraih ponsel dan menekan beberapa nomor di sana, sialnya dia tidak bisa menghubungi salah satu temannya. Ponselnya tiba-tiba tidak memiliki jaringan. Seakan semuanya mendukung keadaan yang saat ini tengah terjadi. Bagaimana tidak, ia meminta tolong sejak tadi tidak ada yang datang, bahkan suaranya sampai begitu serak.
Darah mulai keluar dari dalam perutnya, luka tusukannya cukup besar.
Ringisan terdengar dari dalam mulutnya. Tidak bisa terhindarkan lagi.
Brak!
Pria bertudung berhasil mendobrak pintu kamar Dimas membuat Dima begitu ketakutan, dia tidak pernah terpikirkan jika bercandaannya menjadi kenyataan. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya, dia tidak pernah terpikirkan akan terjadi hal yang sangat mengerikan padanya.
“Aku akan menjalankan tugasku, karena aku adalah permintaan dan juga malaikat maut yang akan membantu mengabulkan kematian,” kata pria bertudung itu sambil berjalan mendekat ke arah Dimas.
“Tidaaaaakkkk …” Suara teriakan panjang membuatnya terbangun, napasnya tersegal-segal, keringat dingin memenuhi pelipisnya. Untung saja dia bermimpi.
Ia mencoba untuk melihat sekelilingnya, kemudian menutup pintu. “Syukurlah hanya mimpi. Kupikir itu benar-benar nyata. Siapa juga yang akan melakukannya, lagi pula mereka tidak akan mungkin menemukan rumah ini,” ucapnya sambil kembali duduk di kursinya.
Mimpinya begitu nyata, membuatnya sedikit takut jika kejadian benar-benar nyata terjadi.
“Hanya mimpi,” ucapnya kembali tidur.
“Sudah ku katakan, aku akan datang menepati janji.” Sebuah suara terdengar. Pria yang tengah duduk di depan komputer tidak menyadari jika dia dalam bahaya.
Apa yang dilakukannya, dengan menggunakan ruang chat itu, membuatnya dalam masalah sendiri. Dia mungkin telah menjadi bagian dari game yang dimainkannya, tetapi ada beberapa hal yang tidak diketahuinya sebagai seorang pemula.
Dan hal itulah yang dilakukannya, kini membuatnya benar-benar berada dalam masalah. Bagaimana tidak, dia begitu frustasi sampai mengatakan hal yang begitu aneh, untuk menghibur dirinya. Harusnya tidak dia lakukan.
Menginginkan dia ditemukan alamatnya dan juga dibunuh, terdengar seperti lelucon, tetapi tidak bagi mereka yang telah menjadi pemain lama. Bagi mereka, jangan bermain pada diri sendiri karena akan menjadi kenyataan bagi mereka.
Wajah yang tengah ditutupi dengan tudung hitam, bersembunyi di dalam kegelapan ruangan itu. Di tangannya memegang sebuah palu, yang akan digunakan untuk mengeksekusi korbannya.
Senyum terbit di bibirnya saat melakukan aksinya. Dia begitu menyukai hal seperti saat. Seperti salah satu pria yang telah dipercayakan bermain di lapangan sebagai pembunuh dan juga pria yang akan membalas dendam, melenyapkan target yang diinginkan oleh mereka yang telah menggunakan website mereka.
Pria yang kini menjadi targetnya begitu pulas tidur di kursi.
Sebuah palu tengah melayang, dan menghantam kepala pria itu.
Bukh!
.
Bersambung…