16. Ada cinta di TKP

1380 Kata
Masa Kini … Benua tengah memperhatikan sekeliling ruangan itu, ia bisa melihat begitu banyak hal yang membuatnya berpikir, apa yang sebenarnya terjadi. Matanya melihat ke arah Dimas dengan kepala pria itu memang hancur, bahkan tak lagi menyisakan bagian kepala yang utuh. Benar-benar retak, bahkan hanya menyisakan bagian tulang leher yang telah hancur. Ia mendekat ke arah mayat itu. “Apa kita bisa tahu, apa yang dipakai oleh pelaku untuk membunuhnya?” tanya Benua sambil melihat tubuh dengan jelas. Davin yang melihat apa yang dilakukan oleh Benua, memandang pria itu dengan aneh. Bisa-bisanya, Benua tidak mual melihat mayat yang hampir tidak memiliki wajah sama sekali, bahkan kepala saja tidak punya. “Apa kau tidak mual?” tanya Davin sambil menutup mulut dan hidungnya agar tidak bisa mencium bau darah yang mulai berbau amis karena mulai pembusukan. “Tidak. Lagi pula, kau akan terus menerus mendapatkan mayat yang seperti ini. Kau harus terbiasa, berada di TKP untuk membantuku saat ini.” “Dan ini, sangat menyebalkan untukku, apalagi berhubungan dengan mereka yang berada di balik layar. Mereka bisa lebih berbahaya dari apa yang kita pikirkan,” ucap Davin tetapi perkataannya tidak di dengarkan oleh Benua. “Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan?” “Tidak. Aku tidak dengar, apa yang kau katakan,” ucap Benua membuat Davin melemparkan sesuatu pada pria itu. Davin membalikan badannya membuatnya langsung berhadapan dengan mayat yang tengah berada di kursi. “Sial. Kenapa dia ada di sini, apa dia tidak bisa disingkirkan saja?” tanya Davin pada beberapa orang yang saat itu berada di sana. Wajar saja, jika Davin merasa jijik melihat mayat tersebut. Mual? Tentu dia rasakan, untung saja dia di berikan obat untuk menghentikan rasa mualnya oleh tim forensic yang sedang bertugas. “Oke, jujur. Aku baru pertama kali melihat mayat yang begitu hancur seperti ini. Tidak memiliki kepala, membuatku ingat flem horror, dia akan bangun dan mencari kepalanya. Apa yang akan kita lakukan kalau dia nyari kepalanya?” tanya Davin membuat Benua menatap tajam ke arahnya. Bisa-bisanya, Davin membuat lelucon disaat mereka tengah sibuk memecahkan kasus agar tidak terjadi kasus baru. “Ini sangat mengerikan,” ucap Davin sambil mencoba untuk membuat dirinya lebih baik karena masih terasa mual. “Kepalanya hilang, dan hancur seperti ini, apalagi perutnya. Oh My God, ini pembunuh sadis banget. Tolong, jauhin mayatnya dariku. Aku tidak ingin melihatnya,” pintah Davin. “Tidak bisa, Dav,” kata Benua. “Bagaimana bisa aku kerja kalau ada mayat di sini, dan juga kondisinya sangat membuatku mual. Jika kau tidak menyingkirkannya, aku harus pulang. Tolong dong. Aku mana tahan melihat mayat kayak gini? Sudah kepala nggak ada lagi, isi perutnya sudah melorot ke lantai gitu. Hoekkk… Jijik banget,” kata Davin dengan ekspresi jijik miliknya. “Lebay deh,” komentar Benua. “Please! Aku serius, jauhin dari aku sekarang juga, Dav, atau aku pulang.” Davin benar-benar mengancam Benua. Benua menatap tajam ke arah. “Singkirkan mayatnya,” kata Benua memberikan perintah. Beberapa anggota tim forensic dengan sigap, langsung menjauhkan mayat tersebut dari Davin. Komputer yang berada di atas meja itu, diseka oleh Davin. Akhirnya Davin kembali fokus dengan pekerjaannya setelah mayat pria itu agak dijauhkan darinya, dia tidak bisa fokus jika ada yang mengganggunya. Matanya sedikit melihat meja pria itu yang saat ini tengah berada di hadapannya. Ia merasa ada yang aneh dari meja itu, atau hanya dirinya. “Hei. Apa yang sudah membersihkan meja ini?” tanya Davin pada orang-orang di ruangan itu. Beberapa tim forensik yang berada di sana menggelengkan kepala. “Tidak. Kami belum menyentuh apapun, apalagi meja itu. Pak Benua tidak ingin kami menyentuhnya, dia ingin menunggu anda,” jelas salah satu tim forensik. “Ya. Aku meminta mereka untuk tidak menyentuh apapun, sebelum kau datang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu di sana, sampai menghilangkan barang bukti,” tambah Benua sambil menatap ke arah Davin. “Kenapa? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Benua. “Ya. Sepertinya,” ucap Davin. “Hei, kemari dan lihatlah, sepertinya aku menemukan sesuatu,” ucap Davin membuat Benua datang mendekat ke arah meja. “Ada apa?” “Meja ini bersih bro. Nggak ada debu sama sekali, ataupun darah,” kata Davin ketika dia menyentuh keyboard komputer di depannya. Sama sekali tidak memiliki debu di sana, seperti seseorang membersihkannya. “Aku serahkan bagian ini padamu. Kau kerjakan bagian ini, aku akan kerja bagianku. Aku ingin melihat-lihat tempat ini,” ucap Benua sambil menepuk bahu Davin dan meremas bahu tersebut. Benua kemudian keluar, ia mencoba untuk mencari udara yang segar untuk dihirupnya mengingat bau di dalam sangat membuat mual orang-orang yang melihatnya. Langkahnya terhenti di depan rumah, menatap Rai yang tengah berada di luar rumah, tengah menenangkan warga yang berada di sana. Dia tidak bisa membocorkan apa yang ada di dalam, sebelum hasil investigasi keluar. Tugas wanita itu ada menenangkan masa yang saat ini tidak bisa dikendalikan oleh mereka karena beritanya begitu tersebar dengan cepat. “Bagaimana?” tanya Rai ketika melihat Benua yang baru saja keluar dari dalam. “Belum menemukan apapun, aku masih memeriksanya dengan teliti. Davin baru menemukan sesuatu di dalam, tapi ini masih belum bisa dijadikan barang bukti untuk kita. Bagaimana dengan mereka?” tanya Benua melihat ke arah para masa yang saat ini tengah berada di dana, mengelilingi tempat itu, berusaha untuk meminta informasi yang terjadi.” “Aku sudah berusaha untuk membuat mereka tenang, agar tidak menimbulkan kekacauan, mungkin ini hanya beberapa saat, saja karena berita yang tidak benar terjadi.” “Jangan sampai menimbulkan kepanikan pada warga setempat,” kata Benua sambil terjadi. Ia tidak ingin ada yang membuat kekacauan di TKP apalagi, mereka tengah berburu pembunuh berantai, yang mereka saja belum tahu pembunuh yang saat ini mereka kejar. “Tenang saja, sudah menjadi tugasku untuk menghandle ini. Serahin saja ke aku,” kata Rai. Ia tidak ingin diremehkan hanya karena tugas yang saat ini diemban olehnya. Walaupun dia hanyalah seorang psikologi, tetapi ia ingin menunjukan jika apa yang telah dipelajari dari Inggris bisa berguna. Benua yang mendengar apa yang dikatakan oleh Rai, tidak bisa menahan kegemasannya pada gadis itu, membuatnya tanpa sadar mengacak-acak rambut Rai. “Ehhemmm…” Sebuah suara membuat Benua salah tingkah, dan menyadari apa yang dia lakukan. Baik Benua maupun Rai saat itu merasa salah tingkah dengan apa yang baru saja terjadi di antara mereka berdua. Mereka bahkan tidak menyadari akan hal tersebut. “Bukannya kerja, asik pacaran di sini,” seru Galen yang melihat Benua. “Aku seperti dikejar angsa datang kemari dan sampai sini melihat kalian berdua malah bermesraan. Sepertinya aku harus menghubungi Umi,” gerutu Galen sambil berjalan, dan menyenggol bahu Benua. Plak! Seketika kepala Galen terdorong ke depan karena pukulan keras oleh Benua. “Berani kau, laporin ke umi. Aku akan mengantarkanmu ke pesantren.” “Ngancem mulu. Bodo amat, gue tetap laporin. Wwweee.” Galen berlari masuk ke dalam rumah, kemudian berbalik kembali dan menjulurkan lidahnya, mengejek kakaknya. “Dasar tuh anak,” gerutu Benua kemudian berbalik belakang melihat ke arah Rai yang berada di belakangnya. “Sorry, Aku tidak sengaja. Abisnya mengemaskan banget,” kata Benua kemudian masuk ke dalam TKP. Rai hanya bisa mematung, masih mencerna apa yang telah didengarnya. “Games?” batin Rai. Seketika pipinya memanas, tanpa sadar merah merona. Jantungnya seketika merasakan listrik statis yang begitu menyenangkan untuknya. Serasa ada sebuah taman bunga yang siap akan mekar. Galen yang mengintip Rai dari tirai jendela seketika memicingkan matanya ke arah Benua. “Kau mau PHPin anak orang, ya?” tanya Galen. “Tidak.” “Hanya laki-laki tidak punya harga diri yang memberikan harapan palsu pada wanita,” sindir Galen. “Anak kecil, tahu apa sih? Umur saja masih umur jagung. Masih bocah kemarin sore, sudah ngomong tentang harapan palsu.” “Aku serius.” “Udah. Nggak perlu ngurusin permasalahan cinta, di dalam kamar ada tugas buat kau,” kata Benua sambil menunjuk sebuah kamar. “Huft! Setelah kasus ini selesai, beliin konsol game baru buatku.” “Udah, tenang saja. Entar akubeliin. Uang jajanmu, aku tambahin deh.” “Oke. Deal, ya,” kata Galen sambil menjabat tangan Benua pertanda setuju dengan tawaran yang diberikan oleh Benua padanya. Uang jajannya yang diberikan oleh orang tua angkatnya memang cukup banyak, di tambah dengan pekerjaannya di tim investigasi, membuat di usia remajanya bergelimpangan harta. “What the f**k …”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN