“What the f**k …” Perkataan yang pertama kali keluar dari mulut Galen saat masuk ke dalam kamar itu. Dia pikir jika mayat mereka dapat dalam keadaan baik-baik, tetapi tidak.
Bukan mayat yang dalam keadaan baik yang mereka dapatkan, tetapi lebih baik mayat sebelumnya.
“Hoekkk … Hoekkk … Hoekkk …”
Ia harus muntah karena tiba-tiba melihat kondisi mayat yang seperti itu. Benua yang melihat hal itu terkekeh dari kejauhan. Sepertinya dia berhasil membuat Galen mual, sejak awal dia tidak memberitahu pada anak itu kondisi mayat yang mereka temukan.
Galen yang sering melihat kondisi mayat, tetapi tidak pernah melihat kondisi mayat yang seperti itu sebelumnya. Sekitar dua menit Galen mengamati apa yang ada di dalam kamar, membuatnya segera keluar dari kamar tersebut.
“Si—sialaann,” umpat Galen ketika baru saja keluar dari dalam kamar tersebut. “Kenapa tidak bilang sejak awal kondisi mayat itu. Kalau aku tahu, aku tidak akan datang. Apa yang terjadi padanya, kenapa kondisinya mengenaskan seperti seseorang yang kecelakaan terlindas mobil.”
Benua hanya terkekeh pelan melihat raut wajah Galen seperti itu. “Minum dulu.” Benua memberikan air mineral.
“Ya sengaja, karena aku tahu kau pasti tidak akan datang jika kuberitahu bagaiamna kondisinya,” kata Benua sambil menepuk-nepuk punggung belakang Galen dan mengeluarkan sebuah permen dari sakunya. “Makan ini, untuk hilangkan mual.”
Galen meluruskan badan, kemudian mengatur nafas, serta mencoba menenangkan apa yang sedang dia rasakan.
“Ini minum dulu, de,” kata Rai menyodorkan botol minuman pada Galen.
“Thank you, calon kakak ipar,” kata Galen seketika membuat Rai terkejut, sedangkan Benua memukul belakang Galen karena apa yang baru saja dia katakan.
“Wait, beri aku waktu dulu. Butuh waktu untuk menenangkan diri karena melihat mayatnya,” kata Galen sambil berjalan dan duduk di sofa.
Sebagian tenaganya terasa hilang karena melihat kondisi mayat itu. Galen melihat sekitar.
“Hhm. Sepertinya dia baru saja kembali dari belanja, dan makanan dalam box ini sepertinya dia yang memesannya.” Galen mencoba mengamati apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu. Matanya melihat sesuatu yang membuatnya sedikit kebingungan.
Tiba-tiba, seseorang dari ruangan lain berteriak membuat Galen berusaha untuk berdiri walaupun sebenarnya dia malas untuk pergi melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Benua dan Rai segera pergi melihat apa yang membuat timnya berteriak. Saat ia baru sampai, melihat kondisi tempat itu membuatnya tercengang.
“Sepertinya dia telah mati beberapa hari,” komentar Benua saat melihat kondisi mayat tersebut.
Ia melihat kondisi mayat yang telah memiliki belatung. “Kirimkan pada mereka sampel dan aku ingin apakah ada DNA pembunuh di sini,” ucap Benua.
Beberapa orang forensik mengambil sampel.
Galen yang baru saja datang ke ruangan itu, mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir bau yang tercium di hidungnya.
“Sial sekali. Tempatnya membuatku tidak tahan,” komentar Galen.
“Sebaiknya lihat, dan selesaikan secepatnya agar kita kembali ke kantor.”
Kondisi yang masih belum stabil, Galen mencoba untuk profesional dalam pekerjaannya saat ini. Matanya mendekat untuk melihat kondisi mayat saat ini berada di atas tempat tidur, kemudian berbalik belakang.
“Sepertinya aku tahu, apa yang terjadi di ruang tamu,” ucap Galen sambil meminta latex untuk melihat kondisi mayat dari dekat. “Pasti dia mendapatkan luka tusukan dari ruang tamu, kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.” Galen mencoba mengamati apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu. “Pintu rusak, goresan panjang di dinding,” gumam Galen sambil berpikir. “Mengapa dia tidak melakukannya di ruang tamu, dan melakukannya di dalam kamar? Bagaimana pria itu bisa masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.”
“Mungkinkah dia pergi mengambil sesuatu, karena itu—”
“Bisa jadi seperti itu,” kata Galen sambil menatap Rai.
“Kenapa dia tidak berteriak, agar di dengar oleh putranya?” tanya Rai membuat Galen berpikir sejenak. “Kemungkinan putranya tidak dengar, karena kondisi ruangan kedap suara,” ucap Galen kemudian melangkah keluar.
Ia memperlihatkan bercak darah yang saat ini berada di dinding.
“Atau … pelaku sebenarnya adalah putranya sendiri,” ucap Benua.
“Ya. Itu bisa saja terjadi. Sebaiknya kita tunggu hasil dari lab,” ucap Galen masuk kembali ke dalam kamar.
Walaupun dia enggan untuk melihat kondisi mayat yang saat ini tengah berada di dalam kamar itu, ia tetap masuk. Ia mendekat ke arah Davin yang saat ini tengah fokus dengan komputer di hadapannya.
“Bagaimana bisa dia membeli begitu banyak barang-barang ini?” tanya Galen menunjuk ke beberapa kardus, dan juga barang-barang yang mahal. “Ponsel keluaran terbaru, tidak hanya satu ponsel tetapi beberapa ponsel. Sialnya kenapa dia memiliki konsol game yang aku inginkan,” umpat Galen seketika membuat semua orang yang berada di dalam melirik ke arahnya.
Benua memeriksa barang-barang itu, belum ada satu bulan nota barang. “Benar juga, bagaimana seorang pengangguran dan tidak bekerja cukup lama, tiba-tiba memiliki barang keluaran terbaru.”
“Mungkinkah dia menang trading, atau menang lotre?” tanya Galen. “Atau mungkin dia salah satu ….” Galen menggantung perkataannya membuat Benua maupun Rai penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh anak itu. “Dia ngepet atau memelihara tuyul.”
Plak!
Tebakan terakhir anak itu mendapatkan pukulan yang cukup kuat di belakangnya. Bisa-bisanya, dia berpikir jika pria melakukan ritual mistis.
“Kau …”
“Ya itu bisa saja terjadi ‘kan, ya? Ini Indonesia, bisa melakukan apapun. Nyari duit menggunakan pesugihan, ngepet atau pelihara tuyul.”
“Sekali lagi kau mengatakan hal yang tidak masuk akal itu aku akan memukul kepalamu lagi.”
Galen mencebik bibirnya, sambil mengusap belakang yang masih merasakan perih akibat pukulan Benua.
Hening sesaat. Hanya ada suara dari keyboard terdengar.
Davin yang tengah fokus dengan apa yang ada di dalam komputer, sedang mencoba untuk mengembalikan data yang telah terhapus di dalam komputer tersebut. Ada beberapa virus software yang telah dihilangkannya, kemudian menambahkan beberapa software penunjang untuk melakukan pelacakan di dalam komputer.
Ketika jari tangannya membuat logaritma begitu cepat. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, bahkan jari-jarinya tidak melakukan kesalahan ketika membuat logaritma.
Enter!
“Binggo! Sepertinya aku menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang kalian ingin tahu,” kata Davin membuat semua orang melihat ke arahnya.
“Kau menemukan sesuatu?” tanya Galen sambil mendekat. “Cepat katakan, apa yang kau katakan.”
Davin tidak langsung menjawab. Ia mencoba untuk meregangkan tubuhnya karena rasa kaku, bahkan tangannya cukup sakit karena setiap saat mengetik.
“Cepat katakan, apa yang kau temukan.”
Davin hanya melihat Galen yang tengah menatapnya, berharap segara mendapatkan jawaban yang diinginkan. “Apa kau tidak bisa sabar? Aku sangat lelah.”
“Bukan waktunya untuk lelah, kita harus menemukan alasannya.”
Davin menghela napas dengan kasar. “Dia memainkan sebuah game di situs dark web karena itu dia menghasilkan begitu banyak uang untuk membeli semua barang-barang ini.”
“Game di dark web?”
.
Bersambung…