“Tidak … tidak … tidak … Aku tidak ingin mati,” kata Mira memohon pada pria itu. “Jangan bunuh aku, aku masih sekolah, masih ingin hidup dan bersenang-senang.”
Wajah yang telah dipenuhi begitu banyak air mata, tidak membuat pria itu merasa iba pada anak remaja di hadapannya, ia seakan telah mati rasa hingga tidak memiliki rasa simpati sekalipun.
“Please. Ku mohon, jangan lakukan itu,” pinta Mira dengan air mata yang sudah membasahi pipi, tidak ada satupun kulit wajahnya yang tidak terjamah oleh air mata. Mira meronta ingin membebaskan diri, tetapi tidak bisa. Kekangan di tangannya, begitu kuat bahkan membela diri saja dia tidak bisa.
Pria itu masih saja tersenyum devil, mendekat ke arah Mira dengan sebuah benda di tangannya. Mira begitu merinding melihat benda yang dipegang oleh pria itu. Ia terus berteriak, sampai suaranya serak. Namun, tidak ada yang mendengarnya.
“Tidakkkk …” Teriakan Mira menggema di ruangan itu.
Keesokan harinya. Suara rebut-ribut terdengar, berbisik-bisik ada pula yang tengah menutup mulutnya. Beberapa orang yang saling berpandangan satu sama lain, saling bertanya dan ingin tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak jauh dari pandangan mereka, sebuah potongan tubuh terlihat tengah tergeletak begitu saja, membuat lalat-lalat mengerumuninya.
Para warga yang melihatnya, seketika ada yang mual ada pula yang ketakutan, mereka tidak pernah berpikir akan menemukan hal mengerikan seperti itu di pagi hari. Pak RT pun telah di hubungi untuk memberitahu apa yang terjadi saat itu, sebelum menelepon polisi.
Melihat apa yang ada di depan mata mereka, jelas mereka penasaran tetapi tidak berani untuk melangkah jauh. Penemuan mereka bukanlah sebuah penemuan yang biasa, tetapi penemuan yang menggempar kompleks tersebut.
Sebuah karung berwarna putih, di daerah tanpa CCtv, dengan sebuah potongan tubuh yang telah mencuat keluar.
“Ka—kalian sudah pergi memberitahu Pak RT?” tanya seseorang yang tengah membuat masa di sana, tidak mendekat ke arah TKP. Ia tidak ingin ada yang mengacaukan TKP, takutnya mereka membuat TKP menjadi kacau, dan membuat penyelidikan menjadi kacau karena banyaknya sidik jari serta kondisi mayat yang telah terkontaminasi dengan orang-orang yang melihatnya.
“Sudah pak, sebentar lagi juga datang kok,” jawab seseorang.
Seorang pria yang berinisiatif untuk mengamankan TKP.
“Jangan ada yang buka. Takut kita yang akan masuk penjara lagi,” ucap salah seorang dari mereka.
“Iya benar-benar,” beberapa warga menyetujui tentang itu.
Karena takut, mereka hanya bisa melihat dari kejauhan, bahkan ada pula yang merekam apa yang dilihatnya, kemudian menyebarkannya di sosial media.
Hanya sekedar posting atau hanya untuk nyari sensasi saja, untuk menaikkan jumlah like, ataupun komentar di sosial media miliknya.
Seorang pria tengah mengenakan kaos putih, dengan sarung yang tengah melilit di pinggangnya telah datang, sebatang rokok tengah berada di tangannya. Ia mampu membela begitu banyak kerumunan yang berbondong-bondong ingin melihat apa yang ditemukan itu.
“Jadi siapa yang menemukannya lebih dulu?” tanyanya.
“Itu, si akang penjual sayur, Pak. Dia ‘kan pagi-pagi keliling kampung. Dia teriak-teriak, ku pikir ada apa, jadi aku datang ngeliatin juga. Terkejut diri ini pak RT lihat ni mayat.” Seorang wanita menjelaskan tentang kejadian ditemukan mayat itu. Wanita itu begitu begitu antusias menjelaskan kejadian saat itu.
“Sudah menghubungi polisi?” tanya Pak RT.
“Belum pak, kami ‘kan menunggu bapak dulu. Jadi, lebih baik kami menunggu terlebih dahulu, apa yang harus dilakukan.”
Pak RT menghela napas dengan kasar, bisa-bisanya tidak ada yang langsung menghubungi polisi, padahal seharusnya mereka telah menghubungi polisi saat itu juga.
“Kamu…” tunjuk Pak RT pada seorang pria yang berusia 27 tahunan. “Kamu pergi melapor ke polisi, katakan ada karung yang mencurigakan isinya potongan tangan manusia,” kata Pak RT di sertai dengan anggukkan kepala pada pria itu.
Makin lama, begitu banyak warga yang terus berdatangan untuk melihat apa yang telah ditemukan di tempat itu. Tidak ada yang boleh mendekat ke tempat itu.
“Ada apa di sini mba?” tanya seorang yang baru saja melintas.
“Penemuan mayat, pak.”
“Astagfirullah… Emang lagi banyak-banyaknya pembunuhan. Kita harus hati-hati sekarang.”
“Iya, menakutkan banget,” kata salah seorang dari mereka sambil mengusap tengkuk miliknya.
Seorang wanita tengah mengenakan daster bermotif bunga-bunga datang dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir. Sangat jelas terlihat dari raut wajahnya. Dipenuhi begitu banyak kekhawatiran, bahkan ia telah beberapa kali tersandung tapi tidak diperdulikannya.
“Bu RT ada apa? Kok tergesa-gesa gitu?” tanya Seseorang yang begitu penasaran dengan sikap bu RT yang terlihat begitu. Mereka pun mengikuti langkah kaki wanita itu.
Wanita yang di sapa Bu RT itu tidak menyahut ketika dipanggil, tetapi terus mempercepat langkah kaki miliknya menuju tempat dimana begitu banyak orang berkerumun.
“Permisi… Permisi…” Menyerobot beberapa orang Bu RT akhir bisa masuk ke dalam lingkaran inti dari kerumunan itu.
“Pa… Pa… Pa…” panggil Bu RT ada suaminya yang sedang berdecak pinggang menatap mayat yang ada di dalam karung.
“Ada apa kok, kamu kelihatan seperti melihat hantu saja,” komentar sang suami saat melihat istrinya yang tiba-tiba datang ke TKP.
“It—itu pa, Mira belum pulang. Anak kita belum pulang,” serunya.
Wajahnya begitu pucat, bahkan berbicara saja begitu terbata-bata memberitahu sang suami mengenai putrinya yang belum juga kembali.
“Halahhh… Palingan dia juga udah pulang kok. Tapi pergi sekolah lagi, nggak pamit,” ucap Pak RT, ia sudah paham dengan sikap putrinya yang seperti itu.
“Nggak Pa, mama yakin dia nggak pulang dari semalam,” bantah istrinya membuatnya menghela napas dengan kasar.
“Udah. Jangan mikir yang aneh-aneh deh.” Pak RT lagi-lagi mencoba untuk menenangkan sang istri agar tidak berpikir yang macam-macam. Apalagi saat ini dia tengah di hadapkan dengan kasus penemuan mayat. Kepalanya menjadi sangat terbagi.
Rasa khawatir tergambar jelas di raut wajahnya. Tidak mengherankan, naluri seorang ibu sangat peka terhadap sesuatu. Matanya bu RT melihat ke arah mayat yang sedang berada di depannya. Membuatnya mengingat sesuatu ketika melihat potongan pergelangan tangan itu.
Sebuah tato, dengan motif bulu merak terlihat di pergelangan tangan itu. Membuatnya seketika berlari melihat mayat yang masih berada di dalam karung.
“Ma… Ma… Apa yang mama lakukan di sana… Jangan menyentuhnya,” kata Pak RT yang menyusul istrinya yang seperti tengah kerasukan setan. “Ma, jangan membuka karung itu. Polisi belum datang.”
Pak RT berusaha untuk menghentikan sang istri, tetapi sayang sekali tidak di dengar oleh sang istri. Istrinya begitu cekatan tangannya membuka karung yang masih terbungkus itu, bahkan tidak mendengar peringatan dari sang suami. Dia terlalu penasaran karena tato yang dilihatnya itu. Ia harus memastikannya, walaupun sebenarnya perasaannya begitu bercampur aduk.
“Ma …” bentak Pak RT.
“Ini Mira, Pa. Ini Mira. Mama yakin, ini mira,” kata bu RT dengan terbata-bata sambil melihat ke arah suaminya itu. Air mata segera mengalir di pipinya, kemudian disertai dengan isak tangis yang begitu kuat.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu RT, semua orang yang ada di sana, makin berbisik-bisik.
“Apa maksud mama?” tanya Pak RT yang mendekat ke arah istrinya. Sebenarnya dia ingin memarahi istrinya karena tiba-tiba mengacaukan TKP yang sudah mereka jaga.
“Tato ini milik Mira. Mama menegurnya kemarin malam, jangan mencoret-coret tubuhnya,” jawab sang istri.
Pak RT tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Bagaimana bisa itu tato milik istrinya. Dia tidak percaya. Itu tidak mungkin. Sangat tidak mungkin, ia sangat yakin jika putrinya tengah berada di sekolah.
“Nggak mungkin ma, Mira pasti sedang sekolah,” bantah Pak RT.
Kini setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bu RT semua orang melihat ke arah pasangan suami istri itu, disertai dengan beberapa bisik-bisik kecil yang terdengar.
Kini karung terbuka dengan lebar, membuat bu RT segera memeriksa isi karung tersebut.
“Mirraaa …” teriaknya ketika melihat tubuh anaknya di dalam sana, tidak lagi berbentuk tubuh.
Suara isak tangis terdengar seketika. Bu RT memeluk tubuh putrinya yang tidak lagi utuh itu. Para warga yang melihat hal itu, seketika berteriak karena melihat isi mayat dalam karung.
Polisi baru saja datang, hanya bisa menatap pasangan suami istri yang tengah menangis karena anaknya menjadi korban. Siapa yang akan menyangka jika tubuh anaknya berubah seperti puing-puing yang terbagi-bagi.
Polisi yang baru saja datang, langsung melapor membuat Benua yang tengah makan, langsung mengambil jaket dan meninggalkan makanannya.
“Galen, ikut gue sekarang. Sekarang,” titah Benua yang baru saja turun dari kamar dengan setengah berteriak.
Galen yang tengah duduk sambil membaca buku yang baru saja dibelinya saat itu langsung saja menaruh buku itu.
“Apa ada kasus baru?” tanya Galen.
“Penemuan mayat.”
“Lagi?”
“Iya,” jawab Benua dengan singkat sambil mematikan ponsel yang tengah dipakainya berbicara dengan
“Kalian mau kemana? Makan dulu cake buatan Umi.”
Galen mendekat ke arah wanita itu. “Cup! Lop you, umi. Nanti setelah kami kembali, cake di makan. Ada kasus baru,” kata Galen sambil pergi meninggalkan uminya.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya jika anak-anaknya begitu sibuk tidak memiliki waktu yang banyak di rumah.
“Apa kasusnya berhubungan dengan kasus yang sedang kita tangani?” tanya Galen.
“Masih belum dipastikan. Tapi, siswa dari sekolah yang sama dengan mayat yang kita temukan di Apartemen.”
“Sekolah itu lagi?”
“Kenapa dengan respon lo seperti itu?” tanya Benua.
“Huh!” Galen menghela nafasnya dengan kasar. “Itu bukan seperti sekolah menurutku, untung saja aku bisa loncat kelas,” kata Galen lagi sambil mengelus dadanya berucap syukur.
Benua mengerutkan keningnya.
“Begitu banyak kasus bullying di sekolah tersebut. Bahkan ada yang bunuh diri karena itu.”
“Bunuh diri?”
“Ya.”
“Itu sekolah atau …”
“Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di sekolah itu,” kata Benua.
Dddzzz …
Ponsel Benua bergetar, menampilkan nama ‘Manusia Robot’.
“Hallo …”
“Lama amat si Ben, angkat telfonku.”
“Aku lagi nyetir. Ada apa? Apa kau, menemukan bukti baru?”
“Ya. Aku menemukan banyak bukti baru,” kata Davin.
.
Bersambung…