“Ja—jadi maksudmu, aku ada di sini karena aku dibenci oleh seseorang?” tanya Mira dengan tergagap, ia gugup.
“Benar banget. Kau berada di sini karena seseorang membencimu, dan membuatmu berada di sini.”
Dia dibenci oleh seseorang? Siapa orang itu? Bagaimana bisa seseorang begitu kejam sampai membuatnya berada di tempat ini. Bukankah game itu hanya dimainkan di ponsel, tapi kenapa dia ada di sini.
Begitu banyak pikiran-pikiran yang membuatnya menjadi ketakutan.
“Kau masih berpikir, siapa yang melakukannya padamu? Bukankah kau harusnya tahu siapa yang telah melakukannya padamu?” tanya pria itu membuat Mira membulatkan matanya.
“Siapa… siapa dia… Katakan padaku, siapa yang membuatku ada di sini. Aku tidak punya seseorang yang membenciku.”
Ya. Mira sama sekali tidak tahu, siapa yang membencinya seperti ini, kenapa juga ada yang ingin mencelakainya. Kenapa juga ada yang membencinya. Ia sama sekali tidak mengerti.
Pria itu tersenyum, bisa-bisanya wanita di hadapannya itu tidak memikirkan siapapun yang membencinya seakan dia adalah wanita paling baik yang tidak memiliki seseorang yang membencinya.
“Lucu sekali kau. Bisa-bisanya kau berpikir tidak memiliki seseorang yang membencimu, seakan kau telah melakukan hal paling mulia di dunia ini. Bahkan orang baik saja memiliki begitu banyak orang-orang membencinya, sedangkan kau sama sekali merasa tidak memiliki, membuatku tertawa saja.”
Pria itu mendekat sambil tersenyum ke arah Mira membuatnya semakin ketakutan.
“Benarkah? Kau benar-benar tidak punya? Atau kau merasa semua orang yang kau perlakukan tidak baik, tidak membencimu?” tanya pria bertudung, membuat Mira menundukan pandangannya. “Pikirkan, seseorang yang kau buat menderita beberapa waktu ini.” Pria bertudung itu melihat ke arah Mira yang tidak bisa menjawab. “Melihat dari ekspresimu, sepertinya kau memiliki begitu banyak orang yang kau perkiraan salah satu di antara mereka yang membuatmu ada di sini.”
Pria bertudung tengah menopang wajahnya dengan kedua tangannya sambil melihat ke arah Mira. Ia memperhatikan dengan sangat jelas, wajah di hadapannya itu sambil berpikir sejenak.
“Hhhm … Lidah, tangan, bibir, mata, kira-kira aku akan melakukan hal apa pada mereka ya? Memotong? Menjahit, atau menyayat sedikit demi sedikit?”
Mendengar apa yang dikatakan oleh pria bertudung di depannya seketika membuat Mira mundur kebelakang. Tubuhnya semakin bergetar, bagaimana tidak, pria itu melihatnya dengan raut wajah yang aneh belum lagi ucapan yang baru saja dikeluarkannya membuatnya semakin ketakutan.
“Hei, jangan mundur terlalu jauh kau akan ketakutan na—“ Belum selesai pria itu mengatakan apa yang ingin dia katakan Mira lebih dulu menubruk sesuatu dan membuatnya melihat ke arahnya.
Ia ingin memperingati Mira, jika ada sesuatu yang akan membuatnya semakin ketakutan jika dia terus menerus mundur, tapi ia tidak perlu memberitahunya karena terlihat sangat jelas Mira tahu apa yang dilihat olehnya.
“Opps …” Satu kata yang keluar dari mulut pria itu saat melihat Mira.
Kini matanya tengah bertatapan langsung dengan potongan tubuh tanpa kaki, membuat mata Mira dan mata mayat itu sejajar satu sama lain, apalagi mata mayat tersebut tengah membulat.
“Aaarrrggghhh …” teriak Mira begitu histeris.
“Aku sudah katakan, jangan mundur terlalu jauh,” kata pria itu. “Lihat apa yang kau lihat, aku baru saja ingin memperingatimu, tapi kau masih saja ngeyel dengan apa yang kukatakan. Aku tidak bertanggung jawab, ya.”
Tubuh Mira bergidik, bergetar karena ketakutan. Lebih tepatnya, ia bertambah ketakutan, ia ingin menutup mulutnya menggunakan tangannya, tetapi tidak bisa dilakukan karena saat ini tangannya masih terikat. Tubuhnya makin menegang, menahan napas sesaat tak bisa berkata-kata apalagi pria itu mulai berjalan mendekat ke arahnya.
“Salam kenal dengannya, dia adalah mayat yang kemarin ku bunuh, wanita cantik,” kata pria itu sambil berjalan perlahan-lahan ke arah Mira.
“Ku—ku mohon, katakan apa yang kau inginkan. Aku akan mengabulkannya untukmu? Uang? Aku akan memberikan berapapun yang kau mau, asal lepaskan aku,” pinta Mira dengan suara bergetar karena ketakutan.
Ia mencoba untuk melakukan tawar-menawar dari pria yang ada di hadapannya itu. Apapun akan dia berikan, asalkan bisa selamat dari tempat ini saat itu juga.
“Bwahahaha.” Seketika tawa pria itu terdengar menggema di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Mungkin sekitar 7 x 15 meter.
Anak remaja di hadapannya tengah melakukan tawar menawar dengannya? Rasanya itu sangat lucu. “Kau ingin membayarku? Yakin?” tanya pria itu, Mira hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya. A-aku akan membayarmu, berapapun yang kau inginkan,” ucap Mira membenarkan.
Pria itu mulai berjongkok dan menarik pelan dagu milik Mira agar melihat ke arahnya.
“Berapa banyak uang yang kau kumpulkan dari memalak teman-temanmu? Berapa banyak harta kekayaan orang tuamu? Apakah cukup membelikanku sebuah rumah di dubai yang harganya mencapai 13 Triliun?” tanya Pria itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu dengan nominalnya membuat Mira menelan salivanya. Bagaimana bisa dia membayar pria itu dengan nominal yang begitu besar. Ia tidak mampu.
“Kenapa? Kau tidak mampu membayarku, ‘kan?” tanya Pria itu sambil tersenyum. “Kau bahkan tidak bisa membayarku tetapi berani menawarkan diri untuk membayarku. Kau pikir kau mampu? Tidak.”
“Tubuhku? Ak—aku akan memberikannya,” kata Mira mencoba melakukan penawaran lagi dengan pria itu. Ia berharap tawarannnya kali ini akan diterima.
“Bwahahah…” Pria itu tertawa dengan terbahak-bahak mendengar apa yang baru saja ditawarkan padanya.
Tubuh? Dia ditawarkan tubuh.
“Aku tidak tertarik menikmati tubuh seorang anak kecil yang masih bau kencur,” kata pria itu. Daripada uang, ada sesuatu yang aku sangat inginkan,” kata pria itu sambil mengusap lembut pelipis Mira, kemudian mengusap bibir anak itu. “Kau ingin tahu apa yang kuinginkan? Aku ingin kau membayarku dengan ke—ma—tia—an—mu,” kata pria itu lagi di ikuti suara tawa yang menggelegar seisi ruangan.
Mira menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin mati di tangan pria yang ada di depannya saat itu. Hal yang paling mengerikkan, dia masih ingin bersenang-senang bersama dengan teman-temannya.
“Tidak. Kau tidak boleh melakukan itu. Kau tidak akan tenang jika kau membunuhku. Aku akan menghantuimu, jika kau membunuhku,” kata Mira dengan terbata-bata.
“Bwahahah… Hantu? Jangan menakutiku dengan makhluk yang aku tidak percaya ada,” kata pria itu sambil menatap tajam ke arah Mira, kemudian berdiri membelakangi Mira menatap beberapa peralatan yang sedang berada di depannya.
Ada sebuah palu, kapak, dan beberapa benda tajam lainnya.
“Ap—apa yang kau lakukan?” tanya Mira saat melihat pria itu mulai berdiri di depan meja .
“Menurutmu apa adik kecil?” tanya pria itu kembali, sambil melihat ke arah Mira, serta menyunggingkan senyum devil yang menakutkan bagi siapa yang melihatnya.
“Tidak… tidak… tidak… Aku tidak ingin mati,” kata Mira. “Jangan bunuh aku, aku masih sekolah, masih ingin hidup dan bersenang-senang.”
Pria itu masih saja tersenyum devil, mendekat ke arah Mira dengan sebuah benda di tangannya.
.
Bersambung…