20. Game untuk membalas dendam

1054 Kata
[Alur maju-mundur, banyak adegan pembunuhan, umpatan. Mohon bijak dalam membaca] Suara hiruk pikuk kendaraan terdengar, bercampur aduk dengan suara anak-anak yang tengah berteriak. Suara kegaduhan, suara alunan nada gitar, dan masih banyak suara berisik lainnya. Sebuah sekolah yang dipenuhi oleh begitu banyak kegiatan siswa yang beragam tengah dikerjakan oleh mereka. Seorang siswi, berpakaian rapi bernama Amanda tengah duduk sambil membaca buku miliknya di perpustakaan, dia ingin menjauh dari keramaian sejenak, tentunya dia tidak ingin bertemu dengan Mirana. Gadis itu sangat menakutkan menurutnya. Apa yang dia lakukan sepulang sekolah menurutnya tidak membantunya sama sekali. Sangat tidak berguna untuknya. Gadis itu masih tetap mengganggunya, apalagi ketika Mirana memintanya untuk membayar dengan dua kali lipat dari yang kemarin dia berikan. Hidup dari keluarga yang berkecukupan, membuatnya memikirkan cara untuk membayar begitu banyak uang pada Mirana. Dia ingin gadis itu hilang suatu saat, atau gadis itu mati saja. Ya. Amanda berpikiran seperti itu, tanpa ia tahu jika—. Seorang pria tengah menarik Mirana dari rambutnya. Gadis remaja yang sangat dibenci olehnya. Miranda tengah meringis kesakitan, karena rambutnya ditarik dengan paksa, ia pun diseret ke tempat yang tidak diketahui olehnya. Beberapa kali Mira memberontak untuk meloloskan diri tetapi tidak bisa. Tangan yang tengah terikat, serta kaki yang berusaha mengikuti tubuh yang tengah di tarik tersebut. Wajah Mira terlihat begitu ketakutan, berusaha berteriak, tetapi mulutnya tengah dibungkam dengan kain. “Uuummm … Ummm …” Hanya suara tersebut yang beberapa kali terdengar. Sepanjang perjalanan, Mira bisa mencium ada bau amis yang cukup menyengat membuatnya mual seketika. Ia berusaha untuk menahan untuk mual, mengingat mulutnya dibekap dengan kain, otomatis dia tidak bisa berteriak mengatakan sesuatu. Lampu sepanjang ruangan, yang dilewati cukup cahaya lampu remang-remang, bau amis yang cukup menyengat dari darah-darah yang telah membusuk, dan menguap di udara memenuhi seisi ruangan itu. Mira yang mencium bau itu begitu mual, tetapi ia masih tetap berusaha untuk menahan diri. Ia hanya bisa melihat samar-samar pria yang membawanya dengan paksa, bahkan tanpa perasaan. Pria itu seakan membuat ingin merasakan sakit. Mira begitu ketakutan, ia berada dalam bahaya. Pria itu tidak dikenalnya. Ia telah mengeluarkan air mata karena begitu ketakutan dengan yang menimpanya. Tubuhnya bergetar. Tangisnya tertahan, tidak bisa keluar. Pria itu melepaskan tubuh Mira kemudian membuka pintu. Mira berusaha untuk meloloskan diri dengan keadaan terikat, tetapi percuma saja seberapa berusahanya dia melakukannya, dia tidak pergi cukup jauh. “Diamlah. Percuma kau berusaha untuk lolos dari tempat ini karena kau tidak akan pernah bisa melakukannya,” ucap pria itu membuat Mira begitu ketakutan. Suara pintu terbuka terdengar, kemudian Mira kembali diseret masuk ke dalam ruangan yang begitu asing dan dihempaskan begitu saja. Rasa sakit terasa di tubuh Mira karena diperlakukan seperti itu. Ia ingin tahu siapa yang melakukan. Clek! Pria bertudung mulai menghidupkan lampu memperlihatkan ruangan dengan isi yang cukup mengerikan. Membuat mata Mira membulat seketika, ketakutannya terkumpul jelas di dalam manik mata miliknya. Pria yang mereka ajak untuk pergi ke klub. Senyuman begitu menakutkan terlihat saat pria itu tersenyum. Mira mencoba mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ingin melihat apa yang ada di dalam sana, tetapi saat ia melihat hal itu. Matanya begitu terkejut. Pandangannya melihat ke arah seisi ruangan yang saat ini tengah berada. Sebuah meja berbentuk panjang, sebuah tiang gawang dengan rantai besi di sana. Beberapa perkakas yang tengah di gantung di dinding, dan ada pula beberapa benda lainnya di sana. Di pojokan dinding ada lemari yang tersusun begitu banyak obat-obatan. Bruk! Pria bertudung, dengan begitu kasar menarik kembali rambut Mira melemparkan tubuh Miria ke lantai yang kotor itu. Mira bisa merasakan lantai yang sangat kotor itu. Apalagi begitu amis, seakan tidak pernah dibersihkan sama sekali. Lantai itu. Suara sesegukan terdengar dari mulutnya, ia sangat ketakutan. Air mata terlihat di pelupuk mata Mira, sambil menggelengkan kepalanya pertanda dia sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar sangat hebat. “Huh!” Suara helaan nafas kasar terdengar, pria itu kemudian menurunkan tudungnya. Manik mata cokelat, lentik mata yang begitu indah, wajah yang cukup tirus, dengan bibir tipis berwarna pink. “Welcome to Revenge Game, Mirana,” kata pria bertudung sambil memperlihatkan wajahnya kepada Mira, dan membuka sumpalan mulut anak gadis itu. Jika yang melihat wajahnya mungkin akan terpesona, tapi walaupun tampan jika nyawa berada di ujung maut tidak ada yang memperdulikan ketampanan. Mira akui jika pria itu begitu tampan bahkan alasan mereka benar-benar mengajaknya minum karena pria itu tampan, bahkan ramah pada mereka. Mira yang awalnya merasa dikuntit, kini merasa tenang saat melihat wajah pria itu. Namun, siapa yang akan menyangka jika itulah kesalahan besar yang telah dilakukan olehnya. Seharusnya dia tidak melihat seseorang dari wajahnya, dan kini dia berada di tempat yang tidak diketahui olehnya. “Re-revenge Game? Ap—apa itu?” tanya Mira dengan tergagap. Revenge Game, itu apa? Mira tengah berpikir apa yang tengah dibicarakan oleh pria yang menariknya. “Game untuk membalas dendam ada seseorang yang sangat kita benci,” jelas pria itu. “Ap—apa maksudmu?” tanya Mira dengan begitu ketakutan, bibirnya bergetar. “Ba—balas dendam?” tanya Mira berakhir anggukan kepala pada pria yang ada di depannya itu. Kini Mira paham, ia ingat sebuah game yang saat ini tengah viral di sekolahnya, mereka mengatakan ada sebuah game yang sangat karena dan tengah dimainkan oleh beberapa anak. “Ya. Game balas dendam.” Pria itu membenarkan apa yang dikatakan oleh Mira padanya, bahkan dengan tersenyum dia melakukanya. “Ja—jadi maksudmu, aku ada di sini karena aku dibenci oleh seseorang?” tanya Mira dengan tergagap, ia gugup. “Benar banget. Kau berada di sini karena seseorang membencimu, dan membuatmu berada di sini.” Dia dibenci oleh seseorang? Siapa orang itu? Bagaimana bisa seseorang begitu kejam sampai membuatnya berada di tempat ini. Bukankah game itu hanya dimainkan di ponsel, tapi kenapa dia ada di sini. Begitu banyak pikiran-pikiran yang membuatnya menjadi ketakutan. “Kau masih berpikir, siapa yang melakukannya padamu? Bukankah kau harusnya tahu siapa yang telah melakukannya padamu?” tanya pria itu membuat Mira membulatkan matanya. “Siapa… siapa dia… Katakan padaku, siapa yang membuatku ada di sini. Aku tidak punya seseorang yang membenciku.” Ya. Mira sama sekali tidak tahu, siapa yang membencinya seperti ini, kenapa juga ada yang ingin mencelakainya. Kenapa juga ada yang membencinya. Ia sama sekali tidak mengerti. Pria itu tersenyum, bisa-bisanya wanita di hadapannya itu tidak memikirkan siapapun yang membencinya seakan dia adalah wanita paling baik yang tidak memiliki seseorang yang membencinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN