“Oke. Aku menarik perkataanku ingin memainkannya,” ucap Galen. “Tapi kenapa dia mati?” tanya Galen.
Ya. Pertanyaan Galen benar, jika dia telah mengerjakan misi tersebut dan menjadi salah satu pemain kenapa dia dibunuh. Hal yang masih menjadi pertanyaan di antara mereka.
“Aku baru menyelidikinya, kenapa dia mati. Ada satu game rahasia yang tidak sembarangan orang dapat memainkannya. Hanya para pemain yang terpilih yang dapat memainkan game ini. Game ini bernama Revenge.”
“Balas dendam?”
“Ya. Jadi, dia mati karena itu.”
Davin melihat apa yang baru saja dilihatnya itu, hanya bisa menghela napasnya. Ia sangat tidak tahu harus menjelaskan seperti apa yang diketahui olehnya.
“Baiklah. Biar aku jelaskan to the point. Dia mati karena Game, itu tetapi ada yang membuat penyebabnya. Kalian pasti ingat virus yang aku jelaskan di TKP sebelumnya, ‘kan, ya? Komputer ini sama halnya dengan komputer anak itu. Dikendalikan dari jarak jauh, oleh orang-orang tertentu. Tadi ketika aku menghidupkan komputer, komputernya berjalan sendiri, dan mendelete sendiri apa yang ada di dalam. Namun, mereka salah berhadapan denganku. Itu tidak akan berhasil jika berhadapan denganku,” kata Davin menjelaskan, sekaligus menyelipkan pujian untuk dirinya sendiri.
“Aku sudah mengembalikannya seperti sebelumnya dan ini sangat sulit tapi aku bisa.”
“Oke, aku tahu kau bisa melakukannya. Jadi apa yang kau dapatkan lagi,” seru Benua.
“Komputernya kembali seperti semula,” kata Galen.
“Binggo! Kau benar pak Albert Einstein, komputernya kembali ke pengaturan pabrik. Orang-orang akan menganggap jika komputernya tidak bermasalah, tetapi sebenarnya salah. Software dan virus yang mereka tanamkan di dalam perangkat lunak masih tetap berada di dalam komputer ini. Tidak akan hilang, walaupun kita mengupgrade komputer ini.”
“Jadi—” Benua masih tetap mendengarkan penjelasan Davin.
“Aku menggunakan virus yang aku uji coba beberapa hari yang lalu pada komputer ini.”
“Kau—” geram Benua. Pria itu beraninya memakai sesuatu yang ditemukan untuk menguji coba sesuai yang sangat penting.
“Hei… Hei… Jangan marah lebih dulu. Aku belum selesai menjelaskan.”
“Aku ingin menjelaskan apa? Bagaimana jika virus yang temukan itu akan membuat semua bukti-bukti hilang?”
“Tenang dulu, dong. Aku belum menjelaskannya.”
Benua menghela nafasnya dengan kasar. Temannya itu terkadang membuatnya emosi karena melakukan percobaan pada computer-komputer, tetapi anehnya apa yang dapatkan selalu bermanfaat untuk investigasi.
“Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan pada kami.”
“Aku melakukan uji coba virus dengan membersihkan virus software yang mereka pakai, dan itu berhasil.”
“Apa maksudnya?”
“Aku mengembalikan file dalam komputer ini dan juga mengganggu system mereka, menyusup ke dalam melalui virus yang mereka pakai, dan kalian ingin tahu apa yang aku dapatkan? Sebuah hal luar biasa yang tidak akan kalian sangka-sangka.” Nada bicara Davin saat itu membuat Ken begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya ditemukan oleh sahabatnya itu.
Davin mengetik beberapa huruf, kemudian menekan tombol enter. Sebuah situs muncul di layar monitor. Berwarna hitam, dan berpadu dengan warna merah di sana.
Beberapa video terputar acak, membuat sebuah yang begitu membuat bulu kuduk merinding, suara erangan kenikmatan, dan suara ringisan kesakitan terdengar saling bercampur.
“In—ini apa?” tanya Rai ketika melihat tampilan awal situs yang di perlihatkan oleh Davin.
“Ini salah satu situs lain yang aku temukan. Masih pada satu website yang sama. Situs ilegal, dengan menggunakan Ip luar negeri,” kata Davin menjelaskan. “Situs porn, dan situs yang menjual begitu banyak video,” jelas Davin.
“Game Revenge?” tanya Galen sambil menunjuk sebuah menu perintah.
“Ini inti dari yang ingin ku katakan pada kalian semuanya.”
Benua, Galen, dan Rai begitu penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Davin pada mereka.
“Aku membrowsing, dan kalian tahu aku menemukan apa?”
“Sialaann… Mana aku tahu, Apa yang kau dapat.” Benua kesal dengan Davin yang membuat penasaran sejak tadi.
“Aplikasi ini, begitu banyak pemakaiannya untuk melihat video di dalam. Game Revenge, adalah game balas dendam khusus bagi mereka yang memiliki dendam. Mereka bisa menuliskan bagaimana cara mereka membunuh.”
“Siapa yang ingin membalaskan dendam, bisa bermain game ini. Mengirim cerita mengapa kita ingin membalas dendam, profil mereka yang ingin kita tuju, baik ID sosmed, maupun nomor ponsel,” kata Davin menjelaskan.
“Jadi pria ini…”
Perkataan Rai yang memotong apa yang sedang dijelaskan oleh Davin mampu mengalihkan pandangan mereka mengarah pada pria yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka.
“Tidak… Tidak… Dia tidak dibunuh karena balas dendam. Lihat ini,” kata Davin sambil memperlihatkan percakapan antara Dimas dan Pria bertudung.
“Hedeh… Ngapain juga nih orang nantangin mereka. Akhirnya dia sendiri yang kena,” omel Galen.
“Ya. Dia menantang tanpa menyadari jika mereka yang menggunakannya akan benar-benar menjadi kenyataan.
“Aku mau kau cari tahu tentang situs ini secepatnya, Davin,” titah Benua sambil beranjak pergi dari ruangan itu.
“Ada hal yang belum aku ceritakan pada kalian.”
Benua baru berada di depan pintu, menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badan melihat ke arah Davin.
“Apa maksudmu?”
“Sepertinya kasus ini saling terkait satu sama lain.”
Benua menatap Davin dengan tatapan sulit untuk di pahami.
“Oke, aku akan menyelidiki lebih lanjut. Tidak perlu memberi ekspresi seperti itu. Mirip banget manusia purba es.”
“Oke, aku tunggu di kantor.”
“Hei, jangan kata aku menyuruhku di sini terus?” tanya Davin.
“Seperti yang kau pikirkan. Lagi pula ini kerjaanmu. Aku mau kembali ke TKP pertama,” kata Ken sambil melangkah keluar.
“Jangan lupa, beliin aku ayam goreng, sekalian pecel lele, dan jajan lainnya.”
Benua menghela nafasnya dengan kasar, sambil mengisi sebelah tangannya ke saku celana kemudian meninggalkan TKP.
Galen tengah duduk sambil melihat-lihat sekelilingnya. Matanya kembali terfokus pada benda-benda yang tengah berhamburan tersebut, di otaknya kini berjalan beberapa rumus untuk memperhitungkan waktu yang tepat, dan memperkirakan apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu.
Secara garis besar, sudah di ketahui tentang penyebabnya. Tapi bukan Galen, jika tidak memperhitungkan apa yang sebenarnya tengah terjadi itu. Walaupun hal kecil, dia ingin mengetahuinya.
Sebuah sekolah, Miranda tengah duduk sambil bertopang dagu di sebuah meja kantin. Perasaannya tidak tenang seperti ada seseorang yang tengah menguntitnya, apalagi yang terjadi padanya semalam.
Pesan misterius, yang tiba-tiba hilang begitu saja.
“Hei, kau kenapa bengong aja dari tadi. Kita panggil dari tadi, nggak ngerespon banget. Ada apa sih?” tanya salah seorang temannya, sambil menepuk pundak Mira, membuatnya berhenti melamun.
“Tidak, aku hanya lagi mikir sesuatu.”
“Mikir apa? Masih muda juga, pakai mikir segala. Kayak orang tua.”
“Jadi nggak nih?”
“Apa?” tanya Mira.
“Clubbing.”
“Jadi dong,” jawab Mira. “Kan aku yang traktir.”
“Good. Aku sudah persiapkan semuanya apa yang kita butuhkan.”
Sebuah pesan muncul di ponselnya. “Apa aku boleh gabung?” mira membaca pesan tersebut merasa agak merinding.
“Ada apa?”
“Aku dapat pesan spam, aku merasa diikuti.”
“Maksudnya?”
“Kalian baca deh. Dia seperti mengawasi aku dan mendengar apa yang sedang kita bicarakan.”
“Balas aja.”
“Enggak deh.”
“Udah. Biar aku saja yang balas,” rebut teman Mira sambil melakukan typing disana.
“Kamu siapa? Penggemar gila ya? Kau mau ikut, Kau harus bayarin kita-kita.”
“Oke. Aku akan traktir kalian sepuasnya.”
“Oke. Deal,” balas teman Miranda.