4. Investigasi

1123 Kata
Davin kembali duduk di kursi depan meja belajar itu, sambil mengetik beberapa huruf. “I-ini terdapat virus software, dan dikendalikan jarak jauh,” seru Davin, membuat Benua melihat apa yang dikatakan oleh temannya itu. Davin tidak percaya jika dia menemukan hal seperti itu di TKP secara langsung. Ia tahu mengenai kendali jarak jauh, tetapi ia hanya tahu ini untuk digunakan oleh kalangan tertentu. Benua mendekat melihat apa yang tengah dilihat oleh Davin. “Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Kendali jarak jauh,” ucap Benua membuat Davin melirik ke arah pria yang tengah memberikannya pertanyaan itu. “Komputer ini dihidupkan bukan kemauan kita sendiri tetapi orang lain. Contohnya seperti ini, kau memiliki komputer di rumah dan tiba-tiba aku hidupkan sendiri dari rumahku, itu dinamakan kendali jarak jauh. Jadi menggunakan sebuah virus yang dikomputer tersebut, dan akan membuat komputer target kita akan bisa diakses oleh kita.” “J-jadi maksudmu, seseorang yang mengendalikan komputer ini dari jarak jauh, dan tidak diketahui siapa yang mengendalikannya?” tanya Benua mencoba untuk membuat memahami apa yang dikatakan oleh Davin. “Iya, benar. Tidak hanya itu, aku menemukan fakta menarik lain. Kau dengan saura-suara ini?” tanya Davin sedikit menggantung perkataannya. “Ya. Aku dengar, itu adalah suara-suara rintihan.” “Benar sekali, itu adalah suara rintihan juga jeritan, suara-suara itu adalah suara manusia asli,” jelas Davin membuat Benua sedikit terkejut. “Aku pikir itu adalah suara yang dibuat-buat, tapi setelah aku mencoba untuk menjernihkan rekaman suaranya, dan itu—booom—luar biasa, kau tidak akan tahu apa yang kutemukan,” seru Davin dengan gaya khas yang membuat semua orang penasaran. “Kau bisa mendengarkannya, ini adalah hasil rekaman jernih,” kata Davin menjelaskan pada Benua. Semua orang yang berada di TKP itu terdiam, mendengarkan rekaman asli yang ditemukan oleh Davin. Terdiam, mereka menyimak dengan seksama. “Aku tidak percaya, ada yang bisa membuat hal keji seperti ini. Apakah pembunuh saat ini, begitu hebat sampai bisa meninggalkan hal-hal seperti ini. Sepertinya mereka mengalami gangguan kejiwaan dan juga psikopat,” komentar Benua ketika itu. Benua melihat sekelilingnya, ia memperhatikan kembali seisi TKP, berharap matanya menangkap sesuatu yang aneh. “Bagaimana bisa seorang pelaku melakukan hal seperti itu,” gumam Benua. Jelas ia sangat bingung, apakah pembunuh dan pelaku kriminal meningkatkan pola pikir mereka, sampai bisa membuat hal-hal yang seperti itu, dan memiliki begitu banyak macam cara. “Hal semacam ini, jarang terjadi di Indonesia. Lebih banyak di luar negeri seperti Inggris, Amerika, dan beberapa negara maju lainnya. Cara seperti ini, di pakai untuk menakut-nakuti lawannya, atau sebagai simbol dari aksi mereka.” Davin menjelaskan mengenai beberapa kejahatan yang dilakukan internasional, beberapa pola yang ia temukan di internet selama ini. Tidak hanya duduk di kursi dan depan laptop tetapi ia pun mencari mengenai perkembangan kasus yang tidak biasa. Pembunuhan dan cara para pelaku meloloskan diri. Galen menghela napas kasar, mengusap wajahnya yang tirus itu. Diagframanya terisi memompa udara yang masuk kemudian dihembuskannya perlahan-lahan. “Ben, kau ini pergi pelatihan, atau pergi jalan-jalan, sih? Kenapa kau bertanya hal seperti itu. Kau harusnya tahu, jika kejahatan bisa berevolusi menjadi lebih baik dari waktu ke waktu,” jelas Galen, membuatnya mendapatkan sebuah pukulan di kepalanya. Benua tidak suka dengan perkataan yang baru saja Davin katakan. “Berevolusi? Kau pikir ini apa? Jika itu hal baik, aku bisa terima tapi ini membunuh.” “Sudah… sudah… Kalian berdua ini, tidak pernah akur jika berada di dalam lapangan,” tegur Davin. Mungkin, pria itu adalah orang tepat melerai perdebatan kedua bersaudara itu. “Aku akan membawa komputer ini, dan memeriksanya di rumah,” ucap Davin sambil membongkar bagian dalam komputer, mengambil bagian yang ingin diambilnya. Benua melihat apa yang dilakukan oleh Davin. “Terserahlah, asal kau menemukan sesuatu tentang kasus ini,” ucap Benua sambil melepaskan sarung tangan latex miliknya. Ia ingin mengelilingi apartemen ingin melihat apa ada yang mencurigakan. Apalagi saat ini dia tengah berada di TKP tetapi tidak menemukan apapun. CCtv, tidak menunjukan siapapun yang mencurigakan keluar masuk apartemen jadi kemungkinan orang yang melakukannya punya akses untuk masuk. Namun, jika seperti yang dikatakan Gavin mampu menyabotase sebuah komputer dari jarak jauh, tidak menutup kemungkinan CCtv, telah di sabotase juga. Galen masih penasaran, dan terus memandang ke arah tempat tidur yang menjadi TKP pembunuhannya, pikirannya merasakan sesuatu yang ganjal di sana tetapi tidak bisa mengatakannya secara langsung. Ia terus melihat ranjang itu, mengusap dagu dengan bentuk V. “Ada apa? Kau menemukan sesuatu?” tanya Benua ketika melirik ke arah Galen, satu tangannya tengah berkacak pinggang, sedangkan tangannya yang satu tengah memegang dagunya. Matanya masih terfokus pada mayat yang tengah berada di hadapannya itu. Apa yang tengah dia lakukan, sangat mirip dengan seorang bapak-bapak yang mencari solusi. Sebentar ia terdiam, sebentar lagi dia memperhatikan dengan sangat dekat maya di hadapannya itu. “Apa kau sedang menggunakan mode Albert Einstein?” tanya Benua, kemudian tertawa melihat adik angkatnya itu tengah berpikir. Bisa-bisanya, Benua masih mengejek di saat tengah berada di TKP apalagi mereka berhadapan dengan kasus pembunuhan. Namun, bagi mereka yang mengenal dua orang itu sangat familiar mendapatkan kondisi Benua dan Galen. Banyak yang akan salah paham, jika keduanya tengah berdebat, kebanyakan menyalah artikan jika mereka tidak saling menyukai. “Aku penasaran dengan motif pembunuhannya apa. Kenapa dia membunuh seorang gadis remaja SMA. Dari caranya membunuh, sepertinya dia telah melakukan begitu banyak pembunuhan. Dia cukup alih dalam hal ini, tidak ada sidik jari, bahkan luka yang dia buat tidak seperti seorang amatiran. Terlebih lagi, dia seakan tahu letak tempat ini, agar tidak meninggalkan bukti mengenai dirinya secara langsung. Jika dia ingin membunuh, dan tidak ingin ketahuan. Kenapa dia meninggalkan hal penting, seperti komputer itu,” tunjuk Galen sambil menunjuk ke arah komputer tetapi bukan yang ditunjuk olehnya tetapi Davin yang tengah bekerja. “Kenapa? Kenapa kau menunjuk ke arahku?” tanya Davin. “Coba pikirkan, apa yang membuatnya tidak meninggalkan jejak pembunuhannya pada mayat tetapi meninggalkan jejak pada barang-barang digital?” tanya Galen membuat Davin terdiam. Pertanyaan Galen itu membuat Benua, dan Davin saling berpandangan satu sama lain, mereka lupa mengenai hal itu. “Dia ingin menunjukan pada kita, jika dia lebih hebat dari segala hal. Komputer, dan juga membunuh, dia bisa keduanya, dan itu sangat dipamerkan olehnya. Dia seorang narsis,” seru Galen. “Coba lihat cara dia membunuh. Dia benar-benar ahli, caranya membunuh,” tambah Galen. “Jadi, dia seorang yang narsis meninggalkan jejak di komputer karena dia ingin kita tahu dia bisa melakukannya, benar ‘kan?” tanya Benua mencoba untuk menegaskan salah satu sifat pelakunya adalah narsis. “Iya benar. Aku yakin, dia akan membunuh dalam waktu dekat, jika dia seorang narsis dan ingin diketahui oleh kita tentang dirinya.” “s**t. Apa dia pikir orang-orang tempat untuk mencari ketenarannya. Kita harus menemukannya sebelum dia membunuh lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN