5. Pembentukan Tim

1287 Kata
“.... Aku yakin, dia akan membunuh dalam waktu dekat, jika dia seorang narsis dan ingin diketahui oleh kita tentang dirinya.” “s**t. Apa dia pikir orang-orang tempat untuk mencari ketenarannya. Kita harus menemukannya sebelum dia membunuh lagi.” Benua sangat tidak suka dengan situasi yang saat ini, ia baru kembali dan harus berhadapan dengan pembunuh, kemungkinan adalah pembunuh berantai. “Kita harus segera menemukannya, sebelum dia melakukan pembunuhan lagi,” ucap Benua tegas. “Dav, kau harus selidiki mengenai komputer itu, cari tahu dari mana dia mengoperasikannya, dan Galen, selidiki mengenai anak ini, aku yakin ada sesuatu yang tidak kita ketahui, dan alasan kenapa dia membunuh anak ini,” ucap Davin. “Bagaimana denganmu?” tanya Galen membuat langkah Benua terhenti. “Aku ingin berkeliling, aku ingin tahu bagaimana tidak ada yang terekam CCtv saat kejadian,” ucap Benua. Di dalam kamar itu, tersisa Davin, Galen dan beberapa tim forensik yang tengah menangani TKP. “Hei. Kau ingin ikut menemui pak Jarvis? Dia ingin kita datang ke kantornya,” seru Davin. “Pergilah lebih dulu. Aku masih penasaran, aku akan di sini lebih lama,” tolak Galen. Davin melirik ke arah Galen kemudian tersenyum kecut. “Tsk. Kau cocok disebut Albert Einstein, jika sedang seperti itu. Yakin, nggak mau pergi dengan kami?” tanya Davin. “Iya, aku akan menyusul kalian.” Lagi-lagi Galen menolak tawaran Davin, ia ingin berada di TKP lebih lama, karena ia ingin melihat mayat itu lebih lama, ia berharap mendapatkan petunjuk yang lain jika ia mencari tahunya. Beberapa tim forensic pun masih berada di sana. Selepas Benua dan Davin pergi, perut Galen terasa lapar, ia pun memutuskan untuk mengisi perutnya yang tengah kosong itu, melangkahkan kakinya menuju dapur apartemen TKP, dan membuka Kulkas. Kriet! Suara pintu kulkas terdengar, tetapi wajahnya berubah saat melihat isi kulkas di tempat itu. “Hueh?! Apa-apaan ini, kenapa tidak ada makanan di dalam. Apa dia tidak pernah memasak?” tanya Galen dengan kesal, ia menggerutu karena tidak menemukan makanan apapun. Melihat respon keterkejutan Galen, yang melihat kulkas kosong membuat beberapa tim forensic saat itu tertawa. “Pantas saja, tubuhmu begitu kurus,” kata Galen sambil melihat ke arah mayat gadis itu. “Aduh, den Galen. Itu bukan kurus, tapi langsing. Sekarang lagi ngetrend diet, biar mereka seperti artis-artis korea gitu,” seorang pria yang tengah mengenakan pakaian lengkap Forensik itu mengomentari perkataan Galen. “Hah! Cantik itu harus apa adanya.” Sebenarnya anak remaja itu, tengah mengomel, karena tidak ada makanan yang bisa dicicipi di tempat itu. “Harusnya aku ikut mereka saja, daripada di sini,” kata Galen, menyesal. “Udah den, minum ini saja dulu,” ucap pria itu yang tadi mengomentari sambil memberikan sekotak s**u dan roti pada Galen. “Terima kasih,” kata Galen sambil menikmati roti dan s**u yang diberikan padanya. “Iya, sama-sama. Terkadang orang tuh selalu reseh, jika dia tengah lapar,” kata pria itu lagi, dia tengah menyinggung Galen. “Ah, ia benar. Orang reseh, jika tengah lap—“ Galen berhenti mencicipi makanannya, dan berhenti melanjutkan perkataannya, kemudian melihat ke arah pria yang memberinya s**u dan roti tadi. “Tung—tunggu, bapak—“ Pria itu seketika tertawa ketika melihat raut wajah Galen yang cemburut. “Dahlah. Bapak makan saja,” kata Galen, sambil meletakkan roti dan susunya kemudian membuka beberapa lemari, dan menemukan ada mie instan di sana. “Hanya ini saja?” tanyanya sambil mengerucutkan bibir. “Ya sudah, daripada lapar.” Galen terpaksa mengambil mie dan memasaknya. “Kalian tidak akan menegur atau mengusirku hanya karena aku ingin masak ramen ini, ‘kan, ya? Aku sangat lapar dan butuh makanan mengisi perutku,” keluh Galen. Beberapa tim yang ada di sana, memperbolehkannya untuk memasak mie karena mereka sudah hampir selesai untuk memeriksa tempat itu. Setelah selesai memasak ia berjalan menghampiri mayat yang saat ini masih berada di tempat tidur, hingga beberapa orang datang mengangkat mayat tersebut. Galen sama sekali tidak merasa jijik atau menghentikan makannya, saat melihat mayat yang tengah diangkat itu. Apalagi saat melihat kondisi ranjang yang telah dipenuhi darah. “Hhmm …” Hanya kata itu yang terus menerus terdengar dari mulut Galen, kemudian segera menghabiskan makanannya. “Aku harus ke kantor pak Jarvis,” kata Galen setelah menghabiskan makanannya, sambil membanting pintu ketika dia keluar. Beberapa tim forensic yang ada di sana saat itu, hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Galen. “Labil,” komentar salah seorang tiba-tiba. “Biasalah anak remaja.” Benua dan Davin baru saja sampai di kantor polisi, membuat mata tertuju pada mereka, karena peragai keduanya yang begitu menawan apalagi mereka begitu tampan untuk bekerja sebagai seorang detektif. Namun, pandangan mereka menjadi buyar, saat di belakang Benua dan Davin berdiri seorang pria bertubuh tegap. “Dia membuat pemandangan hancur,” komentar salah seseorang ketika melihat Dareen. “Pak Davin begitu mempesona. Aku jarang melihatnya, dia makin tampan saja.” Seorang pria tengah menggunakan seragam menghampiri Benua saat itu, tidak lupa memberikan hormat pada pria itu. “Pak Jarvis—“ “Iya, kami akan segera ke ruangannya,” kata Davin menyela perkataan pria yang baru saja datang itu. “Hei, menurutmu apa yang akan dikatakan pria tua itu pada kita?” “Jaga bicaramu, Dav. Dia pamanmu, dan kita tengah berada di kantor saat ini, bukan di luar.” “Heleh! Gitu aja, sensi kayak cewek yang sedang PMS,” komentar Davin pada Benua. Grep! Benua yang kesal mendapatkan respon seperti itu dari Davin membuatnya seketika mengunci leher Davin. “Aw… Aw. Ampun manusia kulkas, bercanda doang. Apa kau tidak bisa bercanda? Sakit tahu,” umpat Davin yang kesal dengan apa yang dilakukan oleh Benua terhadapnya. Leher Davin cukup sakit karena perbuatan Benua. “Ehem…” Sebuah suara membuat sesi bercanda kedua orang itu buyar. “Pak…” Darren lebih dulu memberikan hormat. “Sepertinya kalian berdua—” “Ah, maaf pak.” Seketika Benua dan Davin segera memberikan hormat. “Sudah-sudah, masuklah. Ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian. Galen ke mana?” tanya Jarvis yang tidak melihat kehadiran Galen. “Masih di TKP, dia akan menyusul.” “Ah, begitu rupanya. Ya sudah, kalian masuk dulu.” Di dalam ruangan yang sederhana, tidak terdapat begitu banyak barang-barang yang mewah. “Kalian minumlah, sambil menunggu seseorang datang,” kata Jarvis sambil meletakkan nampan yang terdapat beberapa gelas teh di dalam. “Mungkin dia akan datang agak terlambat. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian,” Clek! “Assalamualaikum. Permisi.” “Oh, kau sudah datang?” tanya Jarvis ketika melihat seorang gadis yang baru saja datang itu. Brak! “Hah… Hah… Hah… Sial… Aku haru—“ Galen tiba dengan nafas yang tersegal-segal. Semua mata melihat padanya, termasuk gadis yang baru saja datang. Namanya Rai Nur Azizah, sering di sapa dengan Azizah. Rambutnya panjang, tingginya sekitar 160 cm, postur tubuhnya begitu sempurna untuk dikatakan sebuah gadis. Saat itu, dia tengah memakai kemeja, tidak lupa dengan celana jeans berwarna hitam. Mata Benua tidak berkedip melihat gadis yang baru saja datang. seakan gadis itu menghipnotisnya ketika itu, hingga Davin menyadarkannya. “Karena yang lain sudah datang. aku akan mengatakan pada kalian mengapa aku mengumpulkan kalian semuanya. Aku ingin membentuk sebuah tim investigasi khusus,” kata Jarvis. “Investigasi rahasia?” tanya Benua penasaran. “Ya, Tim ini bernama Undercover.” “Ini sangat mendadak.” “Ya, aku tahu. Kalian berfikir seperti itu. Namun ini telah direncanakan sebelum kepulanganmu, aku telah merencanakan pembentukan tim ini dan menunggumu kembali,” kata Jarvis sambil melihat serius ke arah Benua. “Tidak ada yang ku percaya selain dirimu, Benua.” Benua hanya terdiam. “Jika kalian menyetujuinya, kalian akan menandatangani kontrak ini,” kata Jarvis sambil memberikan beberapa kontrak pada mereka yang berada di sana saat itu juga. . Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN