“Investigasi rahasia?” tanya Benua penasaran.
“Ya, Tim ini bernama Undercover.”
“Ini sangat mendadak.”
“Ya, aku tahu. Kalian berfikir seperti itu. Namun ini telah direncanakan sebelum kepulanganmu, aku telah merencanakan pembentukan tim ini dan menunggumu kembali,” kata Jarvis sambil melihat serius ke arah Benua. “Tidak ada yang ku percaya selain dirimu, Benua.”
Benua hanya terdiam.
“Jika kalian menyetujuinya, kalian akan menandatangani kontrak ini,” kata Jarvis sambil memberikan beberapa kontrak pada mereka yang berada di sana saat itu juga.
Semua orang yang berada di ruangan itu terdiam. Ruangan yang tadinya riuh, kini hening. Mereka tengah menyelam, berusaha untuk menelaah apa yang tengah mereka dengar.
“Pikirkan terlebih dahulu, apa kalian akan bergabung dalam tim ini,” seru Javis.
Ia pun tidak ingin bisa memaksa agar beberapa orang pilihannya tertekan dengan apa yang ditawarkannya. Menjadi tim rahasia, adalah hal yang paling diinginkan oleh banyak orang tetapi sebuah tanggung jawab yang harus dipikul.
“Kalian bisa pikirkan nanti, tidak hari ini,” tambah Jarvis.
“Aku akan menandatanganinya,” seru Benua membuat Galen maupun Davin melihat ke arahnya.
Mereka tidak percaya, jika Benua akan menerima menjadi bagian dari tim rahasia.
“Aku juga akan mendatanginya jika Benua menandatanganinya, aku juga akan menerima menjadi bagian dari tim undercover,” seru Galen, jelas anak lelaki remaja itu tidak akan ketinggalan untuk bergabung menjadi bagian dari tim.
“Aku juga. Enak saja, kalian berdua gabung dan aku tidak? Oh tidak akan terjadi. Aku akan bergabung juga,” ucap Davin sambil mengambil bolpoin kemudian membubuhi tanda tangannya.
Berbeda dengan wanita yang saat ini tengah bersama mereka, ia terdiam. Seakan dia masih berpikir untuk menerima tawaran bergabung menjadi tim Undercover ataukah tidak.
“Rai? Apa kau masih memikirkan bergabung dengan tim?” tanya Davin melihat ke arah wanita itu.
“Ini bukanlah tim yang mudah untuk dijadikan sebagai bercandaan. Tim Rahasia menandakan jika kita menangani beberapa masalah yang begitu serius. Bisa dikatakan pembunuhan berantai, atau bahkan lebih sadis dari itu lagi, atau bahkan kita akan menangani kasus internasional,” ucap wanita itu membuat tiga pria itu menganggukan kepala.
Jarvis yang mendengar penuturan Rai menganggukan kepala, ada yang memahami kerja dari tim yang dibentuk itu. Semua hal yang mereka kerjakan adalah sebuah rahasia, dan juga sangat berbahaya.
“Tidak perlu sekarang memikirkannya, jika kau mempertimbangkan banyak hal, Rai,” seru Davin lagi.
Namun, tanpa disadari mereka, wanita yang dipanggil Rai atau bernama lengkap Rai Nur Azizah mengambil bolpoin kemudian membubuhi tanda tangannya di sana. Menandakan jika dirinya ikut dalam tim yang dibentuk oleh ayahnya.
“Rai … kau–”
“Kenapa? Jika kau menerimanya, kenapa aku tidak? Aku ingin mempelajari merek lebih dekat. Sangat sulit jika hanya sekedar teori, aku butuh turun ke lapangan secara langsung,” ucap Rai dengan tegas.
Mereka semua menerima tawaran menjadi tim investigasi, itu menandakan jika mereka siap dengan kasus yang tiba-tiba mereka dapatkan.
“Jadi kalian semua setuju menjadi bagian dari tim Investigasi, ya. Baiklah. Aku akan menjelaskan secara umum pekerjaan kalian. Kalian tidak hanya mendapatkan kasus di pulau Jawa, tetapi mencangkup seluruh Indonesia,” jelas Jarvis membuat Davin yang sejak tadi menganggap jika pekerjaan mereka mudah, nyatanya tidak.
“Aku tidak percaya jika harus menyelesaikan begitu banyak kasus yang tidak terpecahkan,” komentar Davin.
“Benar sekali. Kalian akan melakukannya, jika kasusnya mencangkup begitu banyak hal. Namun, ada aturan kalian akan menyelesaikannya. Kalian harus mendapatkan undangan dari kantor polisi setempat,” jelas Jarvis membuat pembicaraan mereka cukup menarik.
“Kalian tidak akan mengerjakan kasus mereka, jika tidak undangan oleh tim kepolisian dan juga jika kasusnya bukanlah pembunuhan berantai,” tambah Jarvis. “Apa ada pertanyaan?”
Semua orang terdiam, mereka masih mencoba untuk memahami apa yang baru saja dikatakan oleh atasan mereka itu.
“Apa semua biaya perjalanan kami ditanggung? Kami tidak mungkin memakai uang pribadi ‘kan?” tanya Davin membuat Benua menatap tajam ke arahnya. “Kenapa? Itu benar, kita tidak mungkin memakai uang pribadi, lagi pula gaji kita kecil tapi pekerjaan yang kita kerjakan sangat besar dan berbahaya. Sepertinya, gaji kita harus ditambah,” cecar Davin dengan sangat terbuka membuat Jarvis diam.
“Soal itu kalian tidak perlu pikirkan. Kalian mendapatkan jet untuk terbang ke beberapa daerah, mendapatkan helikopter untuk menjangkau desa terpencil, dan juga mobil,” jelas Jarvis. “Kalian akan mendapatkan seluruh yang kalian perlukan,” tambahnya lagi.
“Satu pertanyaan lagi. Apa kami tidak ada uang tip saat menyelesaikan kasus besar?” tanya Davin mendapatkan tatapan sinis dari Benua.
Benua tidak habis pikir, bagaimana bisa Davin bertanya hal seperti itu saat ini.
“Sayangnya … kalian tidak mendapatkannya,” jawab Jarvis untuk kesekian kali.
Jawaban Jarvis membuat raut wajah Davin berubah, ia tidak mendapatkan uang lebih setelah cuti. “Kenapa dengan wajahmu itu? Bukannya kau sudah cukup kaya uang yang kami tidak lihat?” Pertanyaan Jarvis seketika membuat Davin salah tingkah.
Sebagai seorang hacker tentu, Davin memiliki uang yang tidak diketahui dan tersebar atau mungkin memiliki rekening rahasia.
“Jangan lupa, bayar pajak dengan uang yang kau punya,” ucap Jarvis membuat Benua dan Galen menertawakan Davin.
Jarvis meletakan sebuah surat di atas meja membuat mereka melihat apa yang ada di sana. “Ini alamat tempat kerja kalian, dan juga kasus pertama kalian adalah kasus yang sedang kalian kerjakan, dan Benua yang akan menjadi pemimpin tim, semua keputusan akan ditangani oleh Benua,” ucap Jarvis kemudian terdiam. “Jika tidak ada pertanyaan, kalian boleh keluar.”
Davin yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jarvis menyuruh mereka keluar, sedikit tidak suka, tetapi tangannya ditarik oleh Galen untuk segera keluar dari tempat itu secara paksa.
“Huh! Aku tidak percaya Indonesia membentuk tim rahasia dan kita adalah anggota tim itu, aku masih belum mempercayainya,” komentar Davin. “Awalnya aku berandai-andai jika aku tergabung dalam tim rahasia, dan siapa yang menyangka benar-benar menjadi anggota tim Undercover. Ini sangat lucu,” komentar Davin saat baru keluar dari ruang Jarvis. “Tapi sayangnya gaji kita sangat kecil,” keluh Davin.
“Ya. Mereka mengatakan jika pekerjaan kita sangat keren dan bagus, apalagi bekerja untuk pemerintah, mereka tidak tahu saja jika sebenarnya kita menantang bahaya. Bayangkan saja, orang lain menjauhi pembunuh kita malah ingin menangkapnya,” jelas Davin lagi. “Mungkin aku termasuk orang bodoh yang mengejar pembunuh tapi itu sangat seru,” tambahnya.
Benua seketika menepuk bahu Davin, ia sangat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. “Sebaiknya jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Sebaiknya kita pergi ke kantor yang diberikan pada kita,” ucap Benua sambil mengeluarkan kertas yang diberikan oleh Jarvis tadi.
“Apa kau sudah menemukan sesuatu tadi di TKP?” tanya Benua pada Galen.
“Aku rasa pelakunya bukan satu orang.”