7. Terror Pesan Misterius

1428 Kata
“Apa kau sudah menemukan sesuatu tadi di TKP?” tanya Benua pada Galen. “Aku rasa pelakunya bukan satu orang.” Perkataan Galen membuat mereka yang berada di sana mengerutkan kening. “Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Benua. “Ya, aku hanya menebak saja,” jawab Galen sekadarnya membuat Benua hampir memukul kepalanya. “Jangan lakukan itu, atau aku akan melaporkanmu pada umi,” ancam Galen membuat Benua menatapnya kesal. Tiga orang pria itu begitu asik sendiri bahkan melupakan jika ada seorang wanita yang saat ini tengah bersama mereka. “Ehem …” Rai mendehem membuat perhatian mereka teralihkan. “M-maaf, kami lupa jika kau ada di sini. Biasa jika sudah mengobrol lupa jika ada orang lain,” seru Davin. “Jadi, Rai, kapan kau kembali dari Inggris?” tanya Davin sambil menyilangkan tangannya di depan d**a. Ia melihat wanita itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, terlihat berbeda dari yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Dahi Davin menyatu, ia terpukau dengan wanita yang saat ini berada di hadapannya. Ia tidak percaya, tetapi wanita yang tengah berada di depannya adalah Rai Nur Azizah. “Seminggu yang lalu, Ayah menyuruhku kembali,” jawab Rai dengan sopan. Benua berbisik. “Kau kenal dia?” “Iyalah, dia ‘kan sepupuku Rai. Anak pak Jarvis, yang dulu dekil, hitam—“ Seketika Benua membungkam mulut Davin yang begitu ceplas-ceplos. Benua hanya bisa tersenyum paksa melihat wanita itu. “Apaan sih, Ben. Kenapa kau menutup mulutku? Aku belum selesai bicara, tau.” “Mulutmu, apa bisa diam sebentar?” tanya Benua sambil berbisik. Benua jelas menyadari, jika Rai mendengar apa yang dikatakan oleh Davin merasa tersinggung. “Ahahah… Maaf, mulutnya memang seperti bebek,” kata Benua sambil cengengesan. Ia sedikit kaku karena apa yang dikatakan oleh Davin, Benua bahkan tidak tahu kenapa mulut temannya itu seperti atap bocor, merembes ke mana-mana. “Tidak apa-apa, mulutnya emang kayak rem blong, nggak bisa menjaga perasa—aa—an orang,” kata Rai sambil memberikan sebuah tendangan tepat di perut milik Davin. Ia bukan wanita beberapa tahun lalu, yang bisa dibully oleh Davin. Rai menatap tajam ke arah Davin. Tidak ada yang tahu jika Rai akan memberikan tendangan pada Davin, bahkan cukup kuat mampu membuat pria yang ditendangnya terpental ke belakang. Jarvis yang melihat dari pintu ruangannya hanya bisa tersenyum. “Urghh … Rai, kau–” ringis Davin karena rasa “Lain kali, jaga bicaramu. Aku bukan Rai yang bisa kau bully seperti dulu. Dasar mulu bebek,” umpat Rai kembali. “Sekali lagi mulutmu tidak kau jaga, tidak hanya tendangan yang kau dapat tapi juga masuk rumah sakit,” ancam Rai dengan tatapan serius. Benua hanya bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Ia tidak percaya ada yang bisa membuat Davin terdiam. “Jangan tertawa, Ben. Bantu aku berdiri,” pinta Davin yang melihat Benua tengah menahan diri untuk tertawa. Namun sayang sekali, baik Benua, Galen, dan Dareen yang berada di tempat itu, tertawa melihat kelakukan Rai dan Davin yang saling mengejek satu sama lain. Dari kejauhan seorang gadis dengan pakaian yang sopan, lengkap dengan jas berwarna abu-abu, sebuah dokumen tengah berada di tangannya melangkah dengan elegant. “Permisi, ruangan pak Jarvis di mana?” tanya gadis itu. Rambutnya ikal, dengan kulit berwarna sawo matang. Galen melihat cara berpakaian gadis itu, tidak lupa mengendus aroma parfum yang tengah dipakai oleh gadis itu, membuatnya mendapatkan timpukan di bagian pundak oleh Benua. “Ruangan ini,” jawab Benua memberi arah pada gadis itu. “Oke. Terima kasih, permisi,” kata gadis itu sambil melangkah menuju ruangan Jarvis. “Hei, siapa dia? Aku baru melihatnyal.” “Entah. Aku pun baru melihatnya hari ini.” “Dari caranya berpakaian dia seorang yang sangat—“ “Cantik, dan seksi,” kata Davin sambil memberikan penekanan di akhir perkataannya. “Dasar mata buaya,” kata Rai, membuat Davin mencebik bibirnya. Sekolah kini begitu banyak informasi tentang teman mereka yang menjadi korban pembunuhan. Ada sebuah foto tentang rekaman adegan pembunuhan, membuat semua orang sontak terkejut, ada pula yang begitu menyuKai adegan itu secara langsung. Vedio pun mulai tersebar dari satu ponsel ke ponsel yang lain oleh anak-anak itu. Tidak diketahui siapa pengirimnya. “Kau sudah menonton video itu?” “Video apa?” “Itu… Video rekaman pembunuhan.” “Aku rasa itu adalah rekayasa saja.” “Siapa yang akan merekam adegan pembunuhannya? Jika dia ingin di tangkap oleh polisi?” “Benar juga sih.” Kini banyak teori yang hadir saat itu juga di dalam kepala para anak-anak sekolah. Di ujung koridor, seorang anak tengah berdiri dengan tangan gemetaran sambil menonton sebuah video. Video pembunuhan. “Hei,” panggil seorang gadis sambil mendekat ke arah gadis yang tengah menonton itu. “Aku cari ternyata kau ada di sini? Ingin sembunyi dari kami, Huh?!” “Ke—kenapa kalian mencariku?” tanya anak itu dengan tergagap, seakan beberapa anak gadis yang datang membuatnya begitu ketakutan. “Sepertinya kau pura-pura lupa dengan hutang.” “Ak—aku ‘kan telah membayar kalian. Ja—jadi aku tidak punya hutang lagi.” “Masih kurang. Kau pikir aku berikan kau pinjaman uang, tidak ada bunganya? Sadar woi, sadar. Aku butuh keuntungan juga.” Anak paling kuat merundung anak paling lemah, sangat jelas terlihat. Gleg! Anak gadis itu hanya bisa menelan salivanya, ketika disebutkan sebuah bunga. “Ak—aku nggak punya uang lagi.” “Bodoh amat. Aku tidak terima apapun alasan, yang aku butuh tuh kau punya uang buat bayar hutang. Sehari nggak bayar, bunganya aku naikin jadi dua kali lipat,” ancam wanita itu membuat lawan bicaranya ketakutan. Tubuhnya bergetar, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Matanya seketika membelalakkan tidak percaya dengan apa yang tengah didengar olehnya. “Ta—tapi, dari mana aku dapat uang sebanyak itu sekarang?” “Bodoh amat, yang aku tahu kau harus bayar hari ini juga. Mau nyuri, ngerampok, jual diri, aku nggak peduli, yang aku tahu, kau harus bayar hutang. titik.” Anak remaja itu begitu kuat mengintimidasi, apalagi ditambah beberapa teman-teman yang berada di belakangnya. Siapa yang tidak takut dengan apa yang dilakukannya. “Tapi Mir—” “Hallah… Jangan cari alasan, bye! Aku tunggu bayarannya,” kata gadis yang dipanggil Mir atau dengan nama lengkap Mirana Valendi. Amanda Lina, nama anak yang tengah di tagih hutang oleh Miranda. Amanda tengah menyandarkan tubuhnya di tembok, sambil melirik ke arah ponsel miliknya. Ponselnya masih mempertontonkan adegan pembunuhan. Tring! Tring! Tring! “Misi sukses.” Bunyi pesan pertama. “Apakah ada tugas revenge berikutnya? Silahkan login kembali ke akun revenge anda.” “Terima kasih telah mempercayakan balas dendam anda pada kami.” “Aaarrrggghhh,” teriaknya. Seketika matanya terbelalak kaget, dan melepaskan ponselnya ketika membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya saat itu. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya tidak bisa menopang tubuhnya dengan bagus, membuatnya kini melantai. Beberapa anak-anak yang melihatnya, merasa heran dengannya. Bibirnya gemetaran, begitu pula dengan tangannya yang mengambil ponselnya yang layarnya telah retak tersebut. Melihat video, dan juga foto-foto yang di kirimkan padanya. Membuatnya merasa syok. “I-i-ini—” Perasaannya bercampur aduk, dia tidak menyangka mendapatkan kiriman vedio dan foto serta pesan. Karena begitu ketakutan dirinya, membuatnya segera menghapus seluruh pesan yang dikirimkan padanya. “Anda yakin ingin menghapus pesan ini?” Ponselnya memberikan pertanyaan perintah. Masih dengan tangannya yang bergetar dia mulai menghapus pesan yang masuk. Amanda menghela nafas, sambil menyandarkan kepalanya di dinding. “Huh!” Ting… Tong… Suara bell berbunyi, Amanda tengah asik merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Dia terlihat begitu sibuk. “Kau, nggak kabur dari kita-kita ‘kan?” tanya sebuah suara yang baru saja masuk ke dalam kelas. Beberapa anak-anak yang melihat siapa yang datang, mulai menjauh dari Amanda. Ada ketakutan tersendiri bagi mereka yang melihat siapa yang datang. “Bagaimana?” Amanda mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya, dan memberikannya pada Mirana. “Gitu dong, gini kan enak. Besok gue datang lagi,” kata Mira membuat mata Amanda membulat kaget. “Kenapa mata lo?” tanya Mira. “Bukannya hutangnya sudah lunas? Kan, sudah ku bayar.” “Lunas? Hello… nggak ada. Kamu masih punya hutang denganku, Se—umur hidup.” Amanda mengepal tangannya dengan erat, hatinya begitu sakit mendengar perkataan Mira padanya. Bagaimana tidak, dia merasa di bohongi oleh gadis yang selalu menindasnya, tidak hanya sekali namun berkali-kali. Selepas Mira dan teman-temannya pergi. Amanda merogoh kantong tasnya mengeluarkan ponsel miliknya. Beberapa kali dia melakukan Typing di sana, namun kembali dihapus olehnya. “Tidak, aku tidak boleh seperti ini,” gumamnya sambil menaruh kembali ponselnya di dalam tas. . Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN