“Tidak, aku tidak boleh seperti ini,” gumamnya sambil menaruh kembali ponselnya di dalam tas.
Ia takut untuk mengetik pesan, beberapa kali ia melakukan typing tetapi dihapusnya. Keberaniannya tidak ada untuk mencoba hal yang tidak mengikuti hatinya.
Tangannya bahkan bergetar, jantung berdegup tidak karuan, membuatnya segera memasukan ponselnya ke dalam tas. Ia tidak ingin membuka pesan yang itu, ia takut jika dirinya melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Tentu dia tidak ingin mendapatkan masalah hanya karena mencoba-coba.
Malam harinya …
“Aaarrrggghhh…”
Suara teriakan menggema di sebuah lorong, di sebuah perumahan padat penduduk. Seorang wanita paruh baya, dengan pakaian daster, menutup mulutnya ketika membuka pintu rumah miliknya.
Jantungnya berdegup dengan sangat kencang, matanya tidak bisa tertutup, hanya bisa membulat, sambil bersandar di dinding melihat pemandangan yang tidak biasa ditemui.
Sebuah tubuh tengah berbaring marmer putih, pakaian berwarna putih tetapi penuh dengan noda darah. Rambutnya terlihat panjang, roknya berwarna abu-abu, sedang berbaring, dengan darah yang tengah tergenang di sekitarnya.
Teriakannya cukup besar, membuat para tetangga menjadi penasaran mengenai apa yang terjadi, kenapa da suara teriakan malam-malam.
“Ada apa sih, Ma? Malam-malam teriak-teriak.” Sebuah suara dari arah dalam terdengar mendekat. Seorang pria paruh baya yang tengah mengenakan sarung yang dililitkan di pinggangnya.
Mendengar teriakan dari istrinya, ia memilih keluar.
“I-itu—” Wanita itu, mulai menunjuk apa yang tengah dilihat olehnya. Mulutnya seakan tidak bisa berbicara, karena keterkejutan yang dilihatnya saat membuka pintu.
Bahkan matanya masih membulat sempurna, tangannya menahan d**a. Wanita prauh baya itu sangat terkejut, bahkan tak mampu untuk mengucapkan kalimat yang lain.
“It—itu apa sih?” tanya suaminya, pria itu pun menjadi bingung melihat kondisi istrinya, ia bertanya bukannya dijawab tetapi hanya dibuat penasaran karena pertanyaannya tidak dijawab oleh istrinya.
“Itu, lihat dulu,” tunjuk sang istri menunjuk ke arah depan.
Pria itu pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh istrinya, membuatnya langsung terkejut seketika. Waktu telah menunjukan pukul 11.45pm WIB saat itu.
Siapa yang tidak terkejut melihat hal aneh di hadapan mereka, sebuah tubuh dengan pakaian serba merah, apalagi tengah tidur di teras rumah mereka.
“It—itu mayat?” tanya suaminya dengan terbata-bata. Dia pun ketakutan melihat apa yang ada di hadapannya saat itu. Bagaimana bisa ada mayat di teras rumahnya.
“Gimana sih, Mama saja tidak tahu. Kenapa bertanya. Papa pergi periksa,” seru istrinya membuat pria itu bertambah takut.
Ia takut mendekat, apalagi jika tiba-tiba mereka dituduh sebagai sebagai pembunuh. Siapa yang mau, jelas mereka tidak ingin.
“Sebaiknya mama saja, deh,” ucap pria itu membuat sang istri kesal.
Seorang pria, seharusnya melindungi wanita tetapi kali berbeda. Suaminya tidak berani mengecek apa yang dilihat oleh mereka.
“Dasar laki penakut,” rutuk wanita itu sambil memukul punggung suaminya karena kesal. Ia bahkan mengumpat karena begitu kesal, bisa-bisanya ia menikah pria yang begitu penakut tidak berani mengambil resiko.
Terjadi perdebatan di antara mereka. Tidak ada yang berani untuk mendekat memeriksa apa yang dilihat oleh mereka.
“I-ini… Pakai ini saja,” kata suaminya sambil memberikan sebuah sapu pada istrinya. “Ki—kita tidak boleh menyentuhnya, nanti kita dipikir pelakunya jika dia mati.”
“Benar juga Pa, kita bisa masuk penjara. Mama belum siap Pa, mama masih ingin memiliki anak lagi.”
“Papa juga belum tobat, ma. Masih banyak dosa.”
Wanita paruh baya itu melirik tajam ke arah suaminya. Bagaimana bisa penjara dan dosa saling berkaitan? Batin wanita itu.
Perlahan-lahan sepasang suami istri itu berjalan ke arah asal kerusuhan itu. Tidak lupa dengan sapu yang tengah di pegang oleh mereka. Perlahan tapi pasti, mereka kini berjarak satu meter dengan tubuh yang penuh dengan darah.
Suami wanita itu, tengah bersembunyi di belakangnya membuat wanita itu merasa risih.
“Laki sialaannn. Harusnya aku yang ngumpet di belakangnya, lah ini malah dia yang di belakang,” umpatnya dalam hati.
Bisa-bisanya suaminya berbuat curang seperti itu, tidak gentlemen sebagai seorang pria. Ia menggerutu, bahkan mengumpat terus menerus, ia bahkan melontarkan kalimat akan bercerai dengan suaminya karena telah melakukan hal yang tidak seperti laki-laki pada umumnya.
“Ma. Pelan-pelan, ba—bagaimana jika dia tiba-tiba bangun,” seru pria itu sambil mengikuti langkah kaki suaminya yang saat ini tengah berada di belakangnya dan bersembunyi.
“Udah diam!” bentak sang istri yang telah kesal, bisa-bisanya sang suami mengatakan hal seperti itu di saat seperti ini.
Beberapa orang tetangga rumahnya keluar saat mendengar suara teriakan.
“E. Ada apa?” tanya salah seorang yang baru saja keluar dari dalam rumah. Tengah mengenakan baju mandi, dengan rambut yang masih basah. Ia pikir terjadi sesuatu yang gawat pada tetangganya itu.
“Nggak tahu, aku dengar suara asalnya dari rumah Pak RT deh,” kata salah seorang yang baru saja keluar dari rumahnya.
Semakin banyak orang yang keluar di jalan karena mendengar suara teriakan yang membuat mereka penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa sih, penasaran deh.”
“Kita sebaiknya pergi lihat daripada di sini, kita bisa mati penasaran. Bu Tejo, kenapa pakai baju mandi doang?”
“Ah, biasa. Mandi malam,” jawab wanita yang di panggil bu Tejo itu sambil menggerakkan alisnya. Sedangkan mereka yang mendengarnya hanya bisa tersenyum.
Teriakan yang membuat para tetangga berkerumun, karena mendengar suara yang begitu nyaring. Satu persatu tetangga yang begitu ingin tahu, langsung mendekat, bahkan tidak hanya para tetangga saja namun beberapa orang dari kompleks lain datang melihat apa yang tengah terjadi.
Sepasang suami istri itu begitu seksama memeriksa apa yang tengah ada di teras rumahnya itu menggunakan sapu.
“Pak RT ada apa?” tanya salah seorang pria yang baru sampai, membuat sepasang suami istri itu langsung berteriak ketakutan karena terkejut.
Mereka yang tengah terkejut, semakin terkejut dengan para tetangga yang datang.
“Astagfirullah… kamu ini nakutin aja,” bentak Pak RT. Wajahnya terlihat emosi karena dikagetkan secara mendadak oleh tetangganya. Siapa yang tidak akan terkejut jika dikejutkan secara mendadak seperti itu, jelas dia akan terkejut.
“Maaf pak, ada apa emangnya?” tanya pria yang baru saja datang itu. Pria itu juga mendengar suara teriakan membuatnya penasaran, karena itu dia datang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat itu.
“Tuh liat,” tunjuknya ke arah apa yang membuat sang istri berteriak.
Mata Pria itu sekita membulat sempurna, tubuhnya pun gemetar melihat apa yang ada di depan sana. Tidak jauh dari mereka, tubuh.
“Aaa… Mayat …” pekiknya sambil bersembunyi di belakang tubuh pak RT. Ia shcok. “Kok bisa ada mayat, sih. Bagaimana bisa ini terjadi,” pekik pria yang baru saja datang itu. “Aduh, tolong dong, mayatnya dibuang saja. Buang jauh-jauh. Jangan di sini, bisa angker rumah Pak RT, nggak bisa makan gratis nanti.” Pria yang melihat hal itu pun seketika terkejut dan balik bersembunyi di belakang pak RT.