9. Membuat Terkejut satu Kompleks

1092 Kata
“Aaa… Mayat …” pekiknya sambil bersembunyi di belakang tubuh pak RT. Ia shcok. “Kok bisa ada mayat, sih. Bagaimana bisa ini terjadi,” pekik pria yang baru saja datang itu. “Aduh, tolong dong, mayatnya dibuang saja. Buang jauh-jauh. Jangan di sini, bisa angker rumah Pak RT, nggak bisa makan gratis nanti.” Pria yang melihat hal itu pun seketika terkejut dan balik bersembunyi di belakang pak RT. Siapa yang tidak akan terkejut melihat seseorang yang tengah berlumuran darah di depan rumah, dan malam-malam. Sangat jelas mereka begitu terkejut karena itu. Dan, bisa-bisanya pria itu masih bercanda tidak akan mendapatkan makanan gratis hanya karena ada mayat di rumah itu. Walaupun sebenarnya, emang Pak RT takut jika dia akan pindah hanya karena mayat ditemukan di rumahnya. “Siall, jadi datang ke sini bantu-bantu, buat makan doang,” umpat Pak RT yang kesal dengan apa yang baru saja didengarnya itu. “Tidak seperti itu. H-hanya saja, di rumah bapak banyak makanan enak, dan juga bapakkan RT,” jelas pria itu Sebagai seorang RT, terkadang ia membuat acara kecil-kecilan untuk merayakan beberapa hal yang penting, atau biasa saat kerja bakti dia akan melakukannya. “Dasar laki-laki, tapi penakut,” umpat sang istri dengan tatapan tidak suka pada sang suami dan pria yang satu lagi. Beberapa orang baru saja datang, bersamaan dengan istri Pak RT yang mencoba memeriksa menggunakan sapu, membuat tubuh anak gadis itu seketika bangun membuat mereka secara bersamaan berteriak karena terkejut. “Aarggh …” teriak mereka bertiga secara bergantian. “Ma—mayatnya hidup lagi… bangun lagi, nggak jadi mati.” Suara terdengar jelas disertai suara teriakan. Ibu-ibu yang ada di sana hanya bisa berteriak histeris ada yang pingsan, ada pula yang terjatuh di tanah. Niat untuk melihat kejadian, namun membuat kehebohan baru. Gadis yang tengah melihat orang-orang bertambah banyak terlihat bingung. “Mama… Papa…” panggil anak remaja itu. Ia menatap sekelilingnya yang terlihat begitu aneh, semua orang tampak begitu ketakutan saat melihatnya. “Si… siapa kamu? Ka—kami tidak punya anak sepertimu,” bentak pak RT membuat anak remaja di hadapannya bingung. Ia menjadi bingung dengan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuannya. “Apaan sih, lebay banget deh, ini Mira,” ucapnya memperkenalkan diri. “Anak sendiri tidak dikenal,” gerutu anak itu sambil mencebikkan bibirnya karena kesal. Apalagi saat melihat tetangga yang begitu banyak berkumpul di depan rumahnya. “Ka—kamu mira atau hantu?” tanya pria yang di belakang pak RT. “I-ini apaan, kenapa bajuku penuh dengan cairan merah. Amis lagi, seperti bau darah,” keluh Mira yang menyadari baju yang dipakai olehnya menjadi lengkep dan juga berwarna merah. “Ka—kamu beneran masih hidup?” tanya sang ayah masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apa itu beneran putrinya atau hanya hantu yang tengah menyamar. “Ih, papa. Aku masih hiduplah, belum mati ataupun jadi hantu. Kenapa menganggap Mira hantu, sih. Mira itu baik-baik saja, kok,” seru gadis itu sambil menepuk pipinya, untuk membuat orang di hadapannya percaya dengan apa yang dikatakannya. Ia melihat sekelilingnya. “Ini ada apa? kenapa banyak orang di depan rumah kita? Kenapa banyak tetangga datang? Apa terjadi sesuatu?” tanya Mira yang kebingungan dengan apa yang dilihat olehnya. Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaannya karena masih ketakutan melihat wanita yang tiba-tiba bangun, apalagi dengan pakaian dipenuhi bercak mereka. Mereka berpikir jika wanita itu bangun dari kematian. “Ma, coba cek pakai sapu,” titahnya, istrinya pun mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya. “Aw… Sakit ma,” rintih Mira yang dipukul pelan menggunakan sesapu oleh sang ibu. Tatapannya begitu kesal karena dipelakukan seperti itu pada orang tuannya. Mereka tidak percaya jika dia masih hidup bukan hantu, ataupun kuntilanak. “Ada apa sih, ini? Ini juga, kenapa mama dan papa mengira kalau Mira hantu? memangnya Mira ini Hantu? Jelas-jelas, kaki Mira masih terlihat, kok,” kesalnya sambil menunjuk ke arah kakinya yang masih menapak di tanah. Ia jelas sangat kesal karena diperlakukan seperti itu oleh orang tuannya. “Oh, sakit. Dia anak kita Pa, belum mati ataupun jadi hantu,” seru Mama Mira. wanita itu segera melepas sapu yang dipegangnya. “Ia ingin memeluk putrinya tetapi dihindari karena karena putrinya kesal diperlakukan seperti itu. “Is, reseh deh,” kata Mira sambil beranjak masuk ke dalam rumah. Baru saja mira beranjak, seorang ibu yang tadinya pingsan kembali melihat Mira yang begitu acak-acakan. Rambutnya berantakan, di tambah dengan pakaiannya berwarna merah. “Ih. Lengket, ini seperti bau darah,” batin Mira mengendus apa yang sedang melumuri tubuhnya. “Ini siapa yang membuat seperti ini padaku, sih? Awas saja kalau aku dapat orang yang melakukannya, aku akan membuatnya menyesal telah mengejaiku,” geram Mira. “Mir… Kok kamu tidur di lantai, bajumu juga basah. Ini, darah ‘kan ndo?” kata wanita itu memeriksa pakaian anaknya dengan mengendus. “Nggak tahu, aku mau mandi dulu,” kata Mira sambil masuk ke dalam kamar. Pasangan suami istri itu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat apa yang dilakukan oleh anaknya. Tidak memberikan penjelasan, malah menjawab dengan ketus pertanyaan orang tuanya. Apalagi melihat tingkah putrinya seperti itu pada mereka membuat keduanya menghela napas kasar. Mereka jelas tidak tahu harus berbuat apa, mengingat putrinya telah dewasa tetapi sebagai orang tua, harus mengingatkan yang salah. “Huh! Kok makin dewasa, makin susah di ingatkan.” “Makanya pa, mama bilang juga apa. Kita tambah satu anak lagi,” rayu Pak RT membuat sang istri menatap tajam ke arahnya. Bisa-bisanya suaminya meminta hal yang tidak ingin dia lakukan. Bahkan, ia ingin sekali memukul wajah suaminya saat itu. “Satu anak saja repot. Apalagi nambah lagi, ingat umur Ma, udah peyot mau mati juga, ingin punya anak lagi.” Wanita itu hanya bisa mencebik bibirnya, mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Di dalam kamar mandi, Mira memikirkan bagaimana dia bisa pingsan dan tubuhnya penuh dengan darah. Padahal dia bersama dengan teman-temannya. Dia bahkan tidak mengingat apa yang terjadi, dan bagaimana bisa dia kembali ke rumah. Ting… tong… Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel miliknya. Matanya tertuju pada cermin yang tengah kabur karena uap air. Memperlihatkan tubuhnya yang tengah di lilit oleh handuk, dan handuk yang tengah membungkus rambutnya yang basah. “Bodo amat, yang penting aku bisa mendapatkan uang, dan akan pergi bersenang-senang besok,” kata Mira sambil keluar dari kamar mandi. Ponsel gadis itu bergetar terus sejak tadi. “Apaan sih bergetar terus sejak tadi,” gerutu Mira sambil membuka pesan miliknya. “Aaarrrggghhh …” Seketika dia berteriak, dan membuang ponselnya. Untung saja, ponselnya jatuh di atas ranjang. . Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN