Benua tengah melemparkan tubuhnya di atas kasus. Matanya menatap langit kamar berwarna putih, pikirannya melayang entah ke mana. Kemudian dia merogoh ponsel di saku celananya.
Dia dan tim Undercover yang lain, telah mengunjungi kantor mereka. Hanya ada dua anggota tim undercover lain, yang akan membantu timnya, karena tim mereka adalah tim investigasi terpisah membuat mereka cukup mendapatkan akses.
Tutt… Tut… tut…
“Bagaimana Davi, kau sudah menemukan petunjuk?” tanya Benua ketika teleponnya telah tersambung.
“Sabar Ben. Aku masih berusaha tahu,” kata Davin yang baru saja menyerup ramen yang telah mengembang sejak tadi.
Pria di ujung telpon memintanya untuk segera mendapatkan petunjuk dari kasus yang saat ini mereka kerjakan tetapi tidak semudah itu. Ia sendiri bahkan sampai telat makan karena mencari bukti.
“Katanya salah satu hacker terhebat di Indonesia, tapi gitu aja nggak bisa.” Benua tengah mengejek Davin.
Ya. Davin menjadi Hacker di Indonesia yang tengah bekerja di pemerintahaan. Walaupun kebanyakan Hacker memilih untuk bekerja dengan perusahaan-perusahaan besar tetapi pria itu memilih bekerja untuk pemerintah.
“Sialan. Kau pikir bermain dengan algoritma dan bug segampang itu? Kau saja bisa kutebak belum menemukan petunjuk untuk menemukan pelakunya karena itu kau sedang mengejekku.” Davin menyerang Benua dengan kalimat yang cukup membuat pria di seberang telpon itu kesal. “Tenanglah, aku sedang mencari bukti. Aku akan menghubungimu, jika aku menemukan bukti-bukti yang lebih kuat,” tambah Davin sambil kembali menghabiskan makanannya.
“Ngomong dong dari tadi.” Benua menatap langit-langit kamar, beberapa kali ia menghela napas.
“Kenapa denganmu? Menghela napas seperti itu?” tanya Davin, ia penasaran dengan apa yang membuat pria itu terus menerus menghela napas yang terdengar begitu gusar.
“Tim kita. Aku memikirkan tim yang baru saja dibentuk,” ucap Benua mulai menceritakan apa yang dipikirkannya. “Apa pilihan yang kita ambil untuk bergabung dalam ini, adalah pilihan yang tepat atau tidak?”
“Astaga. Bisa-bisanya kau baru saja memikirkan hal itu, saat sudah menandatangani kontrak itu,” komentar Davin sambil menegak air mineral. “Jika kita bisa menangkap satu orang penjahat dan melindungi banyak orang dari dia, bukankah itu adalah hal yang benar? Jika kita tidak menangkapnya, maka akan banyak korban, benar ‘kan?” tanya Davin.
Benua kembali memikirkan apa yang dikatakan oleh temannya itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Davin, jika mereka bisa menangkap satu penjahat dan dapat menyelamatkan banyak nyawa karena mencegah hal serupa terjadi, kenapa dia harus memikirkan keputusan yang telah diambil olehnya.
“Benar. Harusnya aku tidak memikirkan hal itu,” ucap Benua sambil mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan kirinya, karena tangan kanannya tengah memegang ponsel.
“Jadi, kapan kau bisa menemukan bukti lebih lanjut?” tanya Benua mengalihkan pembicaraan mereka.
“Apa kau tidak bisa sabar? Aku sedang kerja, loh. Santai sedikit, sabar. Aku juga butuh waktu untuk menemukannya. Apa kau tidak bisa santai sebentar? Bisa-bisa jadi manusia purba kau, umur muda tapi wajah sudah umuran. Kau tidak ingin terjadi seperti itu, ‘kan?”
Benua mencebik bibirnya karena kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Davin padanya. Hanya pria itu dan Galen yang berani mengatakan hal yang sangat menyebalkan menurutnya.
“Kenapa kau menelpon? Apa kau ingin mencaritahu apa yang sedang kukerjakan?” tanya Davin sambil menekan beberapa tombol keyboard membuatnya bisa melihat apa yang dilakukan oleh Benua.
“Berbaring menatap langit-langit kamar, apa kau tidak takut jika melihat seorang wanita di langit kamar?” tanya Davin membuat Benua seketika beranjak dari tempat tidurnya, ia mengedarkan pandangan karena terkejut Davin mengetahui apa yang sedang dia lakukan.
“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Benua. “Apa kau memasang kamera di kamarku? Kapan kau melakukannya?” tanya Benua menyerang Davin dengan pertanyaan.
“Aku hanya memantaumu dari kamera komputer di mejamu,” jelas Davin membuat benua melirik ke arah komputer dan benar saja, dia bisa melihat kamera komputer yang tengah menyala.
Benua beranjak dari tempat tidurnya, dan menutup kamera itu. “Sial. Jangan kau lakukan itu lagi, atau aku akan mematahkan tanganmu,” ancam Benua membuat Davin tertawa lepas.
“Apa kau bisa melakukannya? Jika kau melakukannya, kau tidak akan bisa menemukan teman yang dapat membantumu menyelesaikan kasus ini,” komentar Davin. “Lagi pula, aku hanya iseng.”
“Kapan kau mengintip apa yang kulakukan?” tanya Benua dengan nada kesal.
“Aku baru saja melakukannya,” jawab Davin, membuat pria itu tiba-tiba teringat sesuatu.
“Kau mengatakan jika komputer anak itu dikendalikan dari jauh.”
“Iya. Itu memang benar. Komputernya dikendalikan oleh seseorang dari jarak jauh,” ucap Davin. Ia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Benua. “Apa yang ingin kau katakan?” tanya Davin.
“Kau bisa menghidupkan komputerku dari jauh, bagaimana jika kau bisa juga melacak mereka menggunakan komputer anak itu? Apa itu bisa dilakukan?” tanya Benua.
Davin seakan mendapatkan sebuah pencerahan yang membuat otaknya mendapatkan ide. “Benar. Kenapa kau tidak terpikirkan melakukannya. Aku bisa menggunakan komputernya dan melacak dari mana virus itu dikirim,” ucap Davin.
“Aku tahu, kau bisa melakukannya,” ucap Benua sedikit memuji Davin.
“Tapi aku butuh waktu untuk melakukannya. Karena aku harus mempelajari lebih lanjut sistemnya,” jelas Davin. Ia tidak bisa langsung mendapatkan begitu saja, apa yang dikatakan oleh Benua, ia harus mencaritahu terlebih dahulu.
“Tidak masalah. Aku ingin kau fokus bagaimana mereka mengirimnya, dan juga dari mana asalnya,” ucap Benua.
“Matikan telponnya. Aku akan mencarinya, sebaiknya kau tidur saja,” ucap Davin kemudian mematikan panggilan telponnya dengan Davin.
Benua ingin berbicara tetapi telepon telah dimatikan oleh Davin, membuatnya menghubungi pria itu kembali.
“Ya. Ada apa?” tanya Davin mengetik begitu banyak huruf dalam satu waktu secara bersamaan.
“Aku masih belum selesai berbicara,” ucap Benua dengan kesal.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Davin dengan mata yang masih terfokus pada layar monitor di hadapannya.
“Jika seperti yang dikatakan oleh Galen, pembunuhnya tidak mungkin bekerja sendiri. Berarti kita berurusan dengan dua orang atau lebih pembunuh yang berbahaya,” ucap Benua.
“Ya. Itu sangat mungkin. Satu orang membunuh, satu orang bekerja dibalik layar, sepertinya menghapus rekaman CCtv, atau mengontrol CCtv,” ucap Davin.
Ruangan Davin begitu luas, terlihat begitu banyak LCD di ruangan itu, dari ukuran kecil dan ukuran besar. Ada beberapa layar yang masih hidup menampilkan rekaman CCtv jalanan yang telah terpasang CCtv, sedangkan beberapa LCD yang lain menampilkan logaritma berwarna hijau, dengan background hitam.
Beberapa cup mie terlihat di sudut meja milik Davin, dengan beberapa kaleng minuman bersoda terlihat. Cukup banyak makanan yang terlihat di sana.
“Aku akan menghubungimu, jika aku mendapatkan informasi lebih lanjut. bye,” ucap Davin pamit kemudian mematikan telpon.