11. Selamat datang di game revenge

1417 Kata
Davin begitu sibuk dengan keyboard, matanya seakan tidak lelah menatap begitu banyak huruf yang timbul tenggelam di hadapannya. Tidak terhitung berapa banyak algoritma yang dilihatnya. Jam terus berjalan, ia masih sibuk sampai ia menghela napasnya, karena merasakan nyeri di tengkuknya. Ia mencoba meregangkan tubuhnya sambil melakukan beberapa gerakan kecil. Jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Davin menguap dan langsung menuju kasurnya. Ia butuh istirahat sebelum kembali bekerja besok, ia merasa dirinya paling banyak kerja karena mencari seseorang yang tidak nyata. Deringan alarm membangunkan Benua, membuatnya segera beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri untuk menunaikan ibadah malam dan dilanjutkan waktu subuh. Sebagai umat beragama, hal itulah yang tidak akan pernah dia lupakan. Benua mencoba untuk mengambil ponsel untuk menghubungi Davin, tapi saat melihat jam di ponselnya ia mengurungkan niat melakukannya. Ia tahu jika temannya itu tengah tidur. Clek! Kriet! Suara pintu dibuka terdengar. Seorang anak remaja laki-laki saat ini tengah berada di depan pintu kamar Benua, menatap pria yang masih sibuk dengan laptop “Hei, manusia kulkas. Dipanggil Umi, sarapan.” Galen tengah berdiri di depan pintu sambil menyandarkan sebelah bahunya melihat ke arah kakak angkatnya itu. Galen selalu saja memanggil Benua dengan sebutan manusia kulkas karena sifat pria itu. Sebenarnya, Galen begitu bosan memanggil Benua yang tiap hari selalu saja dipanggil untuk makan. Apalagi kamar Benua di lantai atas, membuat anak remaja itu malas untuk naik tangga. Mereka berdua bersitatap satu sama lain. “Apa kau bisa, tidak cari ribut sehari saja?” tanya Benua melihat ke arah Galen yang tengah melipat tangannya di depan d**a. “Hhhmm … Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya,” ucap Galen. “Lagi pula, tiap hari membuatku naik turun tangga hanya memanggilmu untuk sarapan. Apa kau tidak bisa mengangkat telponku? huh?” Benua mendengus kesal. “Buruan, Umi menunggumu di meja makan,” ucap Galen sambil menatap Benua. “Aku selesaikan pekerjaanku dulu, baru aku turun,” ucap Benua. “Jangan lama,” ancam Galen kemudian kembali menutup pintu kamar Benua dengan kasar, tapi membuka pintu itu kembali. “Jangan jadi anak manja. Makan aja, di bawahin kemari,” ucap Galen menegur pria itu. “Turun nggak? Atau aku benda ini melayang di kepalamu?” ancam Benua sambil mengambil vas bunga di atas meja membuat Galen segera pergi dari sana. “Umi … manusia kulkas ngamuk,” teriak Galen sambil turun dari anak tangga. Benua yang mendengar apa yang dikatakan oleh Galen hanya bisa menghela napasnya dengan kesal. Adik angkatnya itu sangat suka mencari masalah dengannya. “Ada apa sih, kau ini sangat hobi mencari masalah dengan kakakmu.” Suara seorang wanita terdengar sambil membawa makanan yang dimasaknya. “Mana dia? Kenapa tidak ikut turun?” tanyanya lagi, saat tidak melihat Benua ikut dengan Galen. Wanita berbalut jilbab, mengenakan daster tengah berdiri sambil mengatur sarapan. “Katanya mau menyelesaikan pekerjaannya.” “Pekerjaannya?” “Ya. Kami mendapatkan kasus yang cukup rumit kali ini, dan juga menandatangani kontrak menjadi salah satu tim investigasi Criminal,” ucap Galen sambil mengambil nasi goreng kesukaannya.” Wanita yang dipanggil Umi oleh Gelan melihat ke lantai atas, berharp putranya muncul. “Sepertinya, semalam saat pulang dia mandi kembang tujuh rupa, untuk membuat gadis itu jatuh cinta,” kata Galen, sambil melahap makanan yang ada di atas meja, kemudian tertawa kecil. Ia melihat Benua yang pulang, dan memilih mandi saat tengah malam. Ia hapal, jika kakak angkatnya tidak mungkin akan mandi jika pulang dari kerja, apalagi jika lelah. “Huss… kamu ini, jangan ngomong gitu. Mandi kembang tujuh rupa, apaan,” cegah wanita yang dipanggil Umi oleh Galen, wanita itu adalah ibu angkatnya, Ibu kandung Benua. “Mandi apa coba, tengah malam seperti ini? Jika bukan, mandi kembang tujuh rupa? “Kau ini—” Galen cengengesan. “Tapi… gadis apa yang kau sebut tadi?” tanya Uminya, yang penasaran dengan cerita yang diceritakan Galen padanya. “Ah, itu. Ada gadis yang bergabung dengan tim, membuat matanya tidak bisa melepaskan pandangannya sejak pertama lihat. Itu, sepupu Davin yang baru saja kembali dari Luar Negeri. Anak pak Jarvis.” Galen mengatakan apa yang diketahuinya secara langsung. “Owalah… Anak Pak Jarvis, sepertinya umi ingin melihatnya langsung. Ingin—“ “Ingin apa Mi?” tanya Benua memotong perkataan sang Umi, saat baru saja turun dari lantai atas. “Kenalan dengan calon mantu Umi. Benua menatap tajam ke arah Galen. “Dasar anak ini. Pasti mengatakan yang tidak-tidak pada Umi,” batin Benua menatap tajam ke arah Galen yang tengah makan. Galen menganggap biasa. “Apa yang kau ceritakan?” tanya Benua sambil duduk dan mengambil piring. “Hanya cerita pada Umi, mata kakak nggak lepas ngelirik gadis itu di ruangan pak Jarvis.” “Kau–” “Apa? Kenapa? Aku ngomong benar kok. Kau suka melirik-liriknya.” “Gallen. Nggak boleh ngomong gitu dengan kakakmu.” Benua menjulurkan lidahnya mengejek Gallen, membuat anak remaja itu mencebikkan bibirnya. Selepas makan, Benua kembali ke kamarnya dan mencoba menghubungi Davin. Ia yakin jika temannya itu sudah bangun karena mereka harus rapat di kantor baru mereka. Baru saja ia menelpon, sudah diangkat oleh Davin. “Jadi apa yang lo dapatkan?” tanya Benua saat panggilannya diangkat oleh Davin. “Astaga … ini masih pagi, kau langsung bertanya pekerjaan. “Davin …” “Huh … baiklah. Sebenarnya ini adalah sebuah Aplikasi.” “Aplikasi?” “Iya, ini adalah aplikasi. Tapi, aku belum bisa mengetahui ini aplikasi apa.” “Apa bisa ya—“ “Sabar dulu dong, aku masih mempelajarinya. Jadi bagaimana dengan hasil forensic?” “Nihil. Belum ketemu, sama sekali. Bersih.” “Dahlah, bukan bagianku yang kayak gitu. Urusanku bidang programmer. Sampai ketemu nanti, di kantor,” kata Davin sambil mematikan telfon Benua. “Sialaan tuh anak,” umpat Benua sambil meletakan ponselnya di sampingnya. “Hah!” Seketika dia menghela nafasnya dengan berat seakan begitu banyak hal yang tengah berada di dalam dadanya yang sulit untuk diungkapkan. Ruangan kamar yang cukup luas, dengan cat berwarna biru muda, sebuah lukisan doraemon terlihat di dinding. Jendela kamar yang terbuka, namun memiliki gelagar besi. Ranjang berukuran sedang, untuk anak remaja, sebuah rak buku, terisi dengan beberapa buku yang ada di dalam sana, ditambah dengan sebuah meja belajar lengkap dengan peralatan belajar di sana. Sebuah laptop berwarna hitam. Mira baru saja masuk ke dalam kamarnya, dia baru saja keluar dari kamar mandi melihat ponselnya yang sejak tadi bergetar terus menerus. “Apaan sih bergetar terus sejak tadi,” gerutu Mira sambil membuka pesan miliknya. “Aaarrrggghhh …” Dia seketika berteriak, dan membuang ponselnya. Untung saja, ponselnya jatuh di atas ranjang. Ponselnya menampilkan sebuah foto adegan pembunuhan, di tambah dengan sebuah pesan di bawahnya. “Kamu selanjutnya.” “Mira… ada apa nak? Pintunya di buka dong, jangan buat mama khawatir nih.” “Tidak kenapa-kenapa ma, hanya ada kecoa kok.” “Huh! Ya, sudah kamu ini. Bikin orang tua khawatir saja.” Mira penasaran dengan pesan yang diterima olehnya saat itu. Membuatnya ingin melihat kembali. Walaupun ragu, dia tetap mengambil apa yang sedang dilakukannya saat itu. “Eee… kok nggak ada?” tanyanya bingung melihat pesan yang tidak ada di ponselnya, padahal semenit yang lalu dia melihat jelas jika ada pesan yang masuk. “Apa aku salah lihat?” tanyanya lagi, sambil mencoba mencari pesan yang masuk itu. Hasilnya tidak ada pesan sama sekali. “Huh! Mungkin aku yang salah lihat saja. Sebaiknya aku tidur saja,” gumamnya sambil memakai pakaian tidur, dan mulai mengeringkan rambut, dan pergi tidur. Beberapa menit setelah Mira membaca pesan itu, sekelebat bayangan lewat di jendela kamarnya. Beberapa detik kemudian telah berdiri di depan jendela kamar miliknya. Wajahnya tidak terlihat, hanya memperlihatkan tudung berwarna hitam, tidak ada senyum di bibirnya begitu kaku. “Umi, Gallen berangkat sekolah sekolah dulu,” kata Gallen sambil mengambil roti yang ada di atas meja menyerup s**u dan pergi. “Gal …” Sebuah suara berseru padanya. “Ah. Hampir lupa,” kata Gallen kembali, memberikan salam perpisahan seperti yang dilakukan anak-anak seharusnya, bersalaman dan berpamitan dengan orang tua. Mira yang telah tergesa-gesa untuk berangkat sekolah, langsung saja menyimpan ponselnya di dalam tas miliknya di depan rumahnya seseorang telah datang menjemputnya membuatnya ketar ketir, tidak lupa mengolesi lip gloss ke bibirnya. “Mira berangkat,” satu kata yang diucapkan gadis itu. Drrzzz… Tring… Pesan masuk ke dalam ponselnya. Membuatnya mengambil ponselnya. “Selamat datang di game revenge.” “Ih, apaan sih. Pesan spam,” gerutunya sambil menaruh ponselnya kembali ke dalam tas. “Ayoo Mir,” ajak seseorang sambil menghidupkan motornya. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN