“Sejak kapan mereka meninggalkan rumah, Bi?” tanya Nara pada asisten rumah tangga paruh baya itu.
Wanita itu terlihat sangat bingung, apakah ia harus bersedih atau senang untuk Nara. Majikannya yang telah ia jaga sejak Nara ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Bisa dibilang segala sesuatu dan tumbuh kembang Nara ada ditangan wanita itu yang kini lebih terlihat sedih dari pada Nara.
“Sepertinya semalam, Non. Setelah Non masuk kamar, dan saya pun masuk kamar saya di belakang. Bibi tertidur pulas sampai subuh tadi, Bibi menemukan kertas itu di meja makan, di ruang tengah,” ungkap Bi Ning menahan air matanya yang telah mengambang di pelupuk matanya yang renta.
Nara duduk di salah satu bangku meja makan dengan gontai, ia masih memandangi tulisan itu untuk sesaat sebelum akhirnya ia kembali tersenyum penuh arti.
“Ada apa, Non? Apakah Non terpikirkan sesuatu?” tanya Bi Ning kebingungan menatap Nara yang awalnya muram dan diam saja kini tiba-tiba tersenyum penuh arti walau ia tidak terlihat sepenuhnya senang.
“Sebenarnya saya tak pernah berniat menyindir mas Doni tentang kepemilikan rumah ini pada mereka. Tapi, nyatanya mereka terus memojokkan saya karena kemandulan saya. Mau tak mau saya harus mengingatkan mereka tentang semua itu. Jadi, ini akan sepadan,” ucap Nara menerawang jauh seraya menahan raut wajah sedihnya dan membuat Bi Ning kembali berkaca-kaca.
“Dan sekarang setelah mereka benar-benar pergi, saya tak merasa senang atau pun bangga karena berhasil mengusir mereka dari rumah ini secara tak langsung. Tapi, mengingat sifat mas Doni dan Mama Dahlia, saya yakin ini hanya akal-akalan mereka saja. Hanya salah satu rencana mereka. Dan entah kenapa saya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, Bi,” ungkap Nara menatap wanita paruh baya itu di hadapannya.
Bi Ning menggenggam tangan Nara dan meremasnya dengan erat, “Non, jangan takut. Ada Bibi yang akan selalu membela Non,” ungkap Bi Ning dengan tatapan penuh haru.
Dan dengan serta merta membuat Nara pun ikut menangis dan memeluk asisten rumah tangga yang telah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
Dan benar saja dugaan Nara. Menjelang sore, Nara yang baru pulang dari bekerja, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan dua laki-laki yang mencari Doni.
Mendengar keributan yang terdengar di depan ruang tamu, Nara yang sedang mengganti baju segera keluar untuk menemui dua laki-laki yang sedang berbicara dengan Bi Ning yang terlihat ketakutan.
“Ada apa ini?” tegur Nara mendekati ketiga orang yang sedang adu argumen.
Dengan sikap sopan, Nara mempersilakan kedua laki-laki itu memasuki rumah dan duduk di kursi ruang tamu. Bahkan, Nara meminta tolong kepada Bi Ning untuk membuatkan minuman untuk kedua tamunya.
Dan sejak diperlakukan baik oleh Nara, akhirnya sikap mereka pun berubah menjadi lebih lunak dari sebelumnya.
“Jadi, kedatangan kami kemari adalah untuk bertemu dengan pak Doni, Bu. Tadi Si Bibi mengotot sekali kalau Pak Doni sudah tidak tinggal di sini lagi,” ucap laki-laki yang berpakaian kemeja biru dan bertampang bulat.
“Ibu, istrinya Pak Doni ‘kan? Orang saya masih ingat rumah ini walau sudah setahun yang lalu terakhir saya datang ke mari dulu, saat Pak Doni mengadakan acara khitanan keponakannya,” sahut laki-laki kedua yang membuat Nara membeliak terkejut.
“Oh? Apa Anda sekalian teman kerja mas Doni? Ada apa sebenarnya? Kenapa Bapak-bapak sampai mencari mas Doni? Dan memang benar, mas Doni minggat dari rumah sejak semalam terakhir kami bertengkar hebat,” ungkap Nara dengan gamblang.
“Ini, bekas tamparan dia semalam,” imbuhnya seraya menunjuk luka sobek di sudut bibir dan lebam biru di pipinya. Melihat hal itu membuat kedua laki-laki itu semakin tak enak hati dengan saling berpandangan satu sama lain.
Melihat keengganan dan kecanggungan mereka yang terjadi seketika membuat Nara tersenyum dengan penuh pengertian, bertepatan Bi Ning datang dengan tiga cangkir teh hangat untuk Nara dan kedua tamunya. Dan mereka segera meneguk minuman itu begitu Nara meminum tehnya seraya mengajak keduanya. Entah karena mereka menghormati Nara, sebagai Sang tuan rumah, atau mereka memang harus, atau sekedar menutupi kecanggungan yang tiba-tiba muncul.
“Jadi, sebenarnya ada apa? Kenapa teman-teman kantor mas Doni mencarinya? Apakah dia ada masalah di kantor? Apakah bapak tak bisa menghubungi nomor ponselnya?” cecar Nara dengan tatapan penuh tanda tanya.
Akhirnya karena tak tahan di desak oleh Nara, laki-laki yang berbaju biru dan berwajah bulat dan berbadan agak gemuk itu memberanikan diri untuk berbicara.
“Sebelumnya, kami meminta maaf dan turut simpati atas yang terjadi dengan Ibu dan Pak Doni. Tetapi, ini adalah masalah hukum yang terjadi, Bu ....”
“Tunggu. Masalah hukum apa? Apa mas Doni telah melakukan kejahatan? Mencuri? Membunuh atau menipu?” cecar Nara dengan suara tergugu panik tanpa sengaja memotong pembicaraan laki-laki itu.
“Lebih tepatnya, Pak Doni menggelapkan sejumlah besar uang perusahaan, Bu,” sahut laki-laki itu dengan suara tegas dan mendesak.
Dan hal itu membuat Nara membeliak terkejut bukan main. Untuk sesaat ia hanya ternganga tak percaya dengan apa yang ia dengar, hingga laki-laki kedua mengeluarkan sebuah map dengan beberapa lembar surat di dalamnya.
Nara mencoba mencerna segala penjelasan kedua orang itu yang menjelaskan dari tentang prosedur dan mekanisme pelaksanaan sebuah proyek kantor pengadaan barang dalam jumlah besar. Hingga akhirnya barang-barang tak sesuai dengan jumlah dan harga yang tertera.
Walaupun kedua laki-laki itu menjelaskan secara terperinci dan perlahan-lahan, akan tetapi, Nara tetap saja tak begitu mengerti karena otaknya dipenuhi oleh berita mengejutkan yang ia dengar tentang perbuatan Doni yang sangat nekat.
“Maafkan saya, saya...saya terlalu terkejut mendengar semua ini. Apalagi baru semalam dia tiba-tiba pergi meninggalkan rumah bersama istri muda dan ibunya. Jadi, ini semakin membuat saya terguncang,” ungkap Nara yang terlihat sangat tertekan.
Lebih-lebih kedua laki-laki itu yang sangat terkejut dengan penuturan Nara tentang Doni yang telah mempunyai istri kedua. Kedua laki-laki itu saling berpandangan dengan perasaan semakin tak enak hati.
“Lalu apakah perusahaan baru mengetahui masalah ini sekarang?” lanjut Nara masih mencoba untuk menghadapi masalah yang terjadi.
“Sebenarnya kecurigaan itu dari bulan lalu, Bu. Tetapi, baru beberapa hari yang lalu kami berhasil mengumpulkan semua bukti yang tercecer dan cukup banyak dari beberapa divisi,” jawab laki-laki kedua yang memperlihatkan beberapa lembaran bon asli dari toko dan salinan palsu yang dibuat Doni dengan jumlah angka yang lebih besar hingga mencapai tiga kali lipatnya.
Nara memegangi pelipisnya dengan wajah mengernyit menahan sakit. Ia menatap lembaran demi lembaran bon yang berserakan di mejanya. Hingga ia harus menghela napas dengan berat.
“Memangnya berapa totalnya... Total uang yang dikorupsi oleh mas Doni, Pak?” tanya Nara dengan suara pasrah dan takut-takut.
Kedua laki-laki itu saling berpandangan dengan tak enak hati dan terlihat sangat canggung, “Sekitar delapan ratus juta, Bu,” jawab laki-laki pertama dengan wajah serius sekaligus tertekan.
Nara membekap mulutnya karena syok bukan main, “Ya, Tuhan... sebanyak itu?”