Bab 9 Doni Pergi Dari Rumah

1113 Kata
Nara menggenggam ponselnya dengan geram, saat Wina dengan seenaknya mematikan sambungan pembicaraan mereka secara sepihak. ‘Apa-apaan dia! Semakin hari tingkahnya semakin kelewatan. Apa yang harus aku lakukan sekarang?’ pikir Nara memutar otak untuk mencari akal agar ia tetap bisa masuk ke rumah. Rumah ini adalah miliknya. Rumah peninggalan kedua orang tuanya yang telah berpulang karena kecelakaan sewaktu ia masih sekolah menengah pertama, dan ia yang dibesarkan oleh neneknya pun harus merelakan kepergian neneknya karena sakit kronis yang ia derita jauh sebelum pernikahannya dengan Doni. ‘Oke. Jika kau ingin berperang denganku, maka aku akan memberimu kesenangan, Wina!’ gumam Nara tersenyum menemukan sebuah ide cemerlang di kepalanya. “Dengar, Wina. Ada tiga pilihan yang harus kau pilih. Pertama buka pintunya dengan patuh. Dua, aku akan membuat keributan dan kegaduhan di sini sekarang juga. Dan yang ketiga, aku akan pergi ke rumah pak RT untuk meminta bantuan,” ancam Nara dengan suara lembut menggunakan pesan suara untuk Wina melalui ponsel Doni. Dengan senyum puas, Nara mengirimkan pesan itu dan langsung terdapat tanda biru, menandakan pesan itu telah terbuka dan terbaca oleh seseorang. ‘Benar-benar perempuan kurang ajar. Sejak tujuh tahun pernikahanku dengan mas Doni dulu, aku tak pernah sekalipun berani memegang ponselnya, apalagi memainkannya seperti itu. Tapi, dia benar-benar seperti penjajah saja,’ rutuk Nara dalam hati seraya menatap jendela kamar atas yang tak ada tanda-tanda pergerakan apa pun. Bahkan tak ada balasan apa pun dari pesan yang telah ia kirim. Dengan menghela napas panjang dan berat. Nara benar-benar telah gusar. Dan dengan kesal ia mengambil sebongkah batu besar yang ada di sisi taman di depan rumahnya. Dan tanpa pikir panjang, Nara melemparkan batu besar itu ke jendela kamar atas dan menimbulkan kegaduhan yang luar biasa karena suara yang ditimbulkan dan mengakibatkan kaca besar itu pecah berantakan dan hancur berkeping-keping seketika. “Lihat! Kau pikir aku tak berani melakukannya? Dasar perempuan ja**ng tak tahu diuntung!” pekik Nara dengan suara bergetar emosi seraya kembali melemparkan batu yang kedua yang membentur dinding. Namun demikian hal itu berhasil membangunkan tak hanya Doni dan seisi rumah. Akan tetapi para tetangga yang kebetulan masih terjaga dan berada dalam rumah pun mulai berdatangan, apalagi mendengar suara-suara teriakan Nara. “KELUAR KAU, WINA! BUKA PINTUNYA! INI RUMAHKU! KENAPA AKU TAK BOLEH MASUK!” pekik Nara semakin histeris dan membuat beberapa orang mulai berkerumun di depan jalanan rumahnya. Melihat kegaduhan yang ada karena ulah Nara, dengan serta merta, tanpa basa-basi, Doni yang membuka pintu segera menyeret Nara masuk ke dalam rumah. Sementara Dahlia yang mengekor di belakang Doni, mengusir semua orang agar membubarkan diri dari depan rumahnya. “APA-APAAN KAU! APA KAU MAU MEMPERMALUKAN AKU? HAH!” hardik Doni dengan ketus dan lantang. “TANYA SAJA PADA PEREMPUAN ITU! JANGAN SALAHKAN AKU! DIA TAK MAU MEMBUKA PINTU DAN MENYURUHKU TIDUR DI LUAR!” balas Nara tak kalah sengitnya. Tak menyangka Nara akan berani berbuat senekat itu, Wina yang sempat terperangah tak percaya itu mulai kebingungan saat Doni mengalihkan pandangannya dari Nara kepadanya seolah meminta penjelasan. “Tadi ‘kan mas Doni sendiri yang bilang, biar saja Nara tidur di luar sana kalau pun dia tak mau pulang. Tadi, mas sendiri yang bilang seperti itu padaku! Aku hanya mengikuti ucapan mas. Kenapa sekarang jadi aku yang salah?” jawab Wina memasang mimik wajah ketakutan dan menahan isaknya. Melihat hal itu, Dahlia bergegas mendekati Wina, “Sudah, Wina, sudah,” bujuknya menenangkan Wina dan beralih pada Doni dan Nara. “Mau bagaimana pun tetap Nara yang salah! Sebagai perempuan yang bersuami, seharusnya kau tahu diri dan jaga sikap, Nara! Tapi, kau malah keluyuran sampai pulang malam! Kau yang kelewatan! Dan sekarang kau yang membuat keributan sekarang malah menyalahkan Wina!” omel Dahlia seraya menunjuk-nunjuk wajah Nara, seolah ingin memojokkan Nara. “Oh, begitu? Memangnya aku masih dianggap istri? Memangnya aku masih dianggap perempuan bersuami?” elak Nara membalikkan pernyataan kepada Dahlia. “Memangnya mas Doni masih menganggapku sebagai istri? Kalau iya, sudah berapa lama kau tak menafkahi aku, Mas? Nafkah lahir dan batin? Tapi, tiba-tiba kau malah pulang membawa perempuan hamil ke rumahku tanpa basa-basi sedikit pun padaku! Apakah itu yang kau anggap istri?” cecar Nara kepada Doni seraya berkaca-kaca. Ia tak bisa lagi membendung amarahnya. “Yang bisa kalian injak-injak harga dirinya dengan seenaknya, di rumahnya sendiri, tanpa di nafkahi dan sekarang aku yang salah karena membuat keributan karena aku tak boleh masuk ke rumahku sendiri?” pungkas Nara dengan suara tajam, hingga akhirnya sebuah tamparan kembali mendarat di pipinya dan menghentikan ucapannya. Hening untuk sesaat. Nara memegangi sudut bibirnya yang berdarah, “Tampar aku, pukul aku sesukamu, Mas. Karena, hanya itu yang kau bisa berikan untukku setelah aku memaparkan fakta yang ada. Kau hanya bisa menyiksaku, Mas!” pekik Nara dengan terbata-bata yang kini tak kuasa menahan buliran air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Nara beringsut meninggalkan ruang tamu itu menuju kamarnya dan membanting pintu kamar serta menguncinya dari dalam, mengabaikan ketiga orang itu yang hanya bisa terdiam karena sikap Doni yang terlihat bingung. Nara membenamkan wajahnya di dalam bantal dan meraung sekuat-kuatnya di dalam bantal, agar suaranya redam di sana. Ia benar-benar telah lelah dengan semua yang terjadi. Hatinya telah terkoyak dan bahkan telah hancur berkeping-keping, hingga ia merasa sangat sesak dan susah untuk bernapas. *** Pagi itu, Nara terbangun dari tidurnya karena dering alarm yang berasal dari jam meja yang ada di sisi tempat tidurnya. Ia meraih benda bulat itu dan mematikannya dengan segera sebelum akhirnya bangkit dari rebahnya. Dan lagi-lagi ia menyadari bahwa semalam tertidur karena lelah menangis. Dengan cepat, ia segera membilas diri, berganti pakaian, dan bersiap menuju rumah sakit di mana ia bekerja. Ia mencoba mengabaikan kelopak matanya yang bengkak tak wajar sebagai akibat lelah menangis. ‘Ah, sudahlah, toh teman-teman sudah tahu permasalahan hidupku. Siapa yang tak akan tahu kalau pada akhirnya mas Doni sengaja memeriksakan kandungan Wina di rumah sakit tempatku bekerja? Entah berasal dari siapa, aku tak peduli. Yang jelas dengan munculnya mereka di sana itu sudah membuktikan bahwa mas Doni sudah tak memandangku sebagai istrinya,’ gumam Nara setelah merapikan rambutnya dan menuju keluar. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Bi Ning yang datang tergopoh-gopoh seraya membawa selembar surat untuknya. “Non! Tunggu, Non! Ada surat untuk Non Nara!” pekik wanita itu berlarian menuruni tangga dan memberikan surat itu untuk Nara. Walau sempat mengernyit heran, namun Nara segera membawa kertas di tangannya seraya berlari melihat kamar di lantai dua. Kamar itu telah kosong. Bahkan kamar Dahlia. ‘Kami pamit. Silakan tempati rumahmu sendiri. Rumah yang selalu kau bangga-banggakan. Doni.’ Nara tertegun menatap selembar kertas di tangannya sekali lagi, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. ‘Apakah ini mimpi? Mas Doni pergi dari rumah bersama perempuan itu dan Mama Dahlia?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN