Bab 8 Tidur Di Luar

1177 Kata
Malam itu Nara tertidur karena lelah menangis. Walau bagaimanapun ia bisa mengatasi semua hinaan itu, saat ia sendiri dalam kamarnya ia kembali larut dalam kesedihan yang mendalam dan hanya bisa menangis dalam doanya. Semua itu selalu terjadi sejak ia menemukan Doni dan Wina malam itu. Malam demi malam ia habiskan dalam tangis dan doa. Makanya, ia lebih sering memilih bekerja di jam malam, agar ia bisa melupakan semua permasalahan yang sedang ia hadapi. Namun, setelah beberapa hari belakangan ia mulai terbiasa dengan kesendiriannya di malam hari karena Doni lebih memilih bermalam dengan Wina. Dan Nara lebih memilih bekerja sepanjang hari untuk menghindari Wina dan Dahlia yang selalu berada di rumah. Seperti hari ini. Nara tampak lelah dan duduk di bangku ruang tunggu setelah mengganti seragam perawatnya dengan pakaian biasa, menunggu Susan yang baru selesai mengganti baju. “Apa kau mau langsung pulang?” tanya Susan melihat pada Nara yang terlihat menguap menahan kantuk. Nara menggeleng lemah, “Tidak. Aku ingin jalan-jalan menghabiskan waktu lebih dulu, aku tak mau pulang saat mereka masih terjaga. Aku ingin pulang dan langsung tidur tanpa harus menghadapi drama perempuan itu di depan mas Doni atau pun Mama,” sahut Nara dengan menghela napas panjang, yang sontak menghentikan aktivitas Susan mengorek-ngorek isi tasnya. “Ah, baguslah. Kita jalan sekarang, anggap saja bedakku sudah habis dan aku perlu membeli yang baru,” sambung Susan memperlihatkan sebuah kotak bedak di tangannya dan melemparkannya kembali ke dalam tas kecilnya dan membuat Nara tertawa berderai. Dan kini tak perlu menunggu waktu lama, dengan berboncengan motor dengan Susan. Nara memasuki sebuah tempat perbelanjaan yang tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja bersama Susan yang berjalan dengan riang di sisinya. “Beres. Suamiku tak mempermasalahkan aku pulang agak terlambat, karena dia sendiri juga ada lembur sampai jam makan malam baru bisa pulang. Jadi, sebaiknya kita makan malam di sini saja nanti,” papar Susan setelah berbicara dengan suaminya di telepon dan mendapatkan anggukan setuju dari Nara. Mereka berjalan dengan perasaan riang karena terbawa suasana mal yang ramai dengan pengunjung dan suara musik yang mengalun dengan riang dan meriah. Apalagi ternyata saat itu ada beberapa acara yang ditawarkan oleh beberapa produk kecantikan yang menawarkan produk terbaru mereka, serta bazar dagangan produk-produk lokal yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia. Dengan antusiasme tinggi, Nara dan Susan mengunjungi hampir di setiap konter yang berjajar menawarkan barang dagangan mereka yang sangat unik dan tak biasa. Serta beberapa produk makanan khas dari berbagai daerah. Seraya menyeruput es s**u dari gelas plastiknya, Nara berjalan berdampingan dengan Susan yang menyeruput es kopi di tangannya. Keduanya tampak senang menikmati suasana bazar dagangan itu yang semakin lama di padati oleh pengunjung. Dan kini tanpa terasa mereka telah menghabiskan waktu selama berjam-jam karena melihat tangan mereka yang tak sanggup lagi membawa belanjaan. Susan tertawa berderai pada Nara yang menghela napas panjang karena lega telah berhasil keluar dari kerumunan orang tersebut, “Aku lapar,” ucap Susan seraya menarik tangan Nara memasuki sebuah restoran cepat saji yang tak jauh di hadapan mereka. Dengan patuh, Nara mengikuti Susan tanpa bersuara dan langsung duduk di meja paling pojok ruangan itu. Mereka meletakkan barang-barang itu di atas meja sementara Susan pergi menuju kasir untuk memesan makanan untuk mereka berdua. “Jadi, bagaimana sekarang rencanamu ke depan, Nay? Apa kau sudah mengambil keputusan untuk menceraikan Doni?” tanya Susan setelah kini bergabung dengan Nara yang sibuk membuka barang-barang belanjaan mereka. Nara mengalihkan perhatiannya pada tas tangan selempang yang berbahan dasar kain kanvas dipadu dengan hiasan etnik dan rumbai-rumbai pendek, “Cantik sekali! Walau aku harus diet ketat sebentar lagi karena jatah bulananku dari tabungan sudah hampir menipis,” sahut Nara seraya meletakkan kembali tas itu dengan senang lalu beralih pada Susan dengan muka berubah muram. “Ya. Setelah gajian akhir bulan ini, mungkin aku akan mengajukan permohonan cerai ke pengadilan. Semakin hari tingkah mereka semakin gila. Jadi, ya sudah sekalian saja, biar mereka bahagia tanpa aku ‘kan?” ucap Nara akhirnya dengan mengendikan bahunya. Susan menggenggam tangan Nara dengan erat, “Sabar, ya, Nay. Maafkan aku, aku hanya bisa mendukung semua keputusanmu. Walau bagaimanapun pikirkan baik-baik saranku itu. Jika kau masih mencintai Doni ....” Nara menggeleng dengan tegas dan membuat Susan menghentikan ucapannya, “Tidak, Kak. Hatiku sudah terlanjur hancur melihat semua yang terjadi. Dan, tak ada lagi yang bisa aku harapkan dari mas Doni. Yang dia tahu hanya marah-marah dan menyalahkan aku, tanpa sekalipun meminta maaf apalagi mencoba berbuat baik padaku,” ungkap Nara dengan terbata-bata dan mulai berkaca-kaca. “Dia bahkan tak segan-segan menampar dan berbuat kasar padaku. Dia sudah bukan mas Doni yang dulu. Dulu, semarah apa pun, dia tak pernah main tangan. Mungkin dia akan membentakku, tetapi, dia tidak akan menampar, apalagi mengguyurku di dalam kamar mandi. Di matanya aku seperti sampah yang rusak dan tak berarti lagi.” Kali ini Nara tak bisa lagi membendung air mata yang selalu ia coba abaikan dengan bersenang-senang dan berbelanja. Hal itu membuat Susan segera bangkit dari duduknya dan memeluk Nara yang akhirnya bisa terisak dan meluapkan kesedihannya. Mereka mengabaikan semua pengunjung restoran yang menatap ke arah mereka dan menjadi pusat perhatian di sekeliling restoran yang dibatasi oleh kaca bening transparan. Malam itu, Nara yang pulang diantarkan oleh Susan bersama suami Susan yang akhirnya menyusul mereka ke tempat perbelanjaan itu, melambaikan tangan kepada dua motor yang perlahan meninggalkannya. Dengan menghela napas panjang untuk beberapa kali, Nara mulai membuka pintu dengan kunci miliknya. Namun, jangankan terbuka, kunci itu tak mau berputar, seolah ada yang mengganjal di sana. “Loh? Kenapa tak bisa bergerak?” gumam Nara mengernyit heran, “Apa ada kunci yang menggantung di dalam?” imbuhnya seraya mencabut kunci miliknya dan membuka tas selempangnya bermaksud menelepon Doni. Nara menekan tombol berwarna hijau dengan nama mas Doni terpampang di ponselnya, dan dalam sekali nada panggilan, saluran itu langsung terhubung dan membuat Nara mengernyit heran. ‘Tumben, mas Doni cepat sekali mengangkat teleponku?’ pikir Nara dalam hati, namun sebersit rasa riang di hatinya itu lenyap seketika saat mendengar suara perempuan yang sangat ia kenal sebagai penerima telepon. “Halo, Kak. Pintunya dikunci, ya?” sapa Wina dengan suara manja dan diselingi tawa renyah. “Mana, mas Doni?” tanya Nara tanpa basa-basi dan berubah menjadi tegas. “Duh, maaf, ya. Mas Doni Sayang sudah tidur. Dia kelelahan karena kami selesai....” “CUKUP! Aku tak butuh ocehanmu. Sekarang buka pintunya, aku mau masuk,” sela Nara dengan meninggikan intonasi suaranya memotong ucapan Wina yang sengaja memanas-manasinya. Lagi-lagi Wina terkekeh senang. Dan dengan mengintip dari balik korden kamar di lantai dua, ia melambai dengan ceria pada Nara yang menatapnya dengan penuh amarah. "Lihat ke atas," canda Wina dengan senyum riang dan sontak membuat Nara menatap ke jendela atas seketika. “Kubilang, buka pintunya!” ulang Nara dengan mendesis menahan marah, namun demikian, lagi-lagi membuat Wina terkekeh, bahkan ia dengan sengaja memberikan sebuah ciuman dan lambaian tangan pada Nara. “Wah, maaf. Tadi, kata Mas Doni, apa pun yang terjadi, pintu tak akan dibuka. Dan suamiku tercinta berpesan, kalau kak Nara pulang terlambat, silakan kak Nara tidur di luar. Bye, Kak Nara, Sayang!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN