Bab 7 Saling Serang

1134 Kata
Tak ingin menambah beban berat dan permasalahan dalam hidupnya, Nara pun selesai membuatkan minuman jahe untuk Wina dan segera membawanya ke ruang makan. Tanpa mau mengantarkan ke kamar lantai dua di mana Doni dan Wina berada. “Mas, minumannya aku letakkan di meja makan. Ambil sendiri jika mau minum, aku mau mandi dan beristirahat. Aku juga lelah,” ucap Nara mengirimkan sebuah pesan suara pada Doni. Dan tak berapa lama kemudian, pintu kamar lantai dua itu terbuka dengan perlahan dan menghentikan Nara yang hendak pergi meninggalkan meja makan yang tepat berada di sisi tangga rumah. Wina berjalan dengan melenggangkan kakinya dengan mengurai senyum di wajahnya. Dan hal itu membuat Nara mengernyit heran. “Mana, mas Doni? Bukannya kakimu sedang lemas dan kau kelelahan?” tanya Nara dengan suara datar, masih menahan dirinya. Wina cekikikan senang seraya kini berdiri di hadapan Nara, “Mas Doni, tertidur. Sepertinya dia lebih kelelahan di bandingkan aku,” sahut Wina duduk dengan menyilangkan kakinya dengan gaya menantang. “Yah, kak Nara pasti tahu sendiri bagaimana cara bermainnya mas Doni yang .... Oh, maaf! Aku keceplosan. Aku lupa, mas Doni pernah bercerita padaku saat kami melakukan itu. Dia bilang aku lebih manis dan nikmat. Walaupun, yaaahh... badan kak Nara itu lebih seksi dan padat,” papar Wina dengan terkekeh senang mengabaikan wajah Nara yang kaku menahan amarah di wajahnya. “Jangan marah, Kak. Laki-laki itu kalau sedang berada di puncak dan ada maunya, pasti memuji-muji pasangannya setinggi langit dan menjelek-jelekkan istrinya sendiri,” ungkap Wina semakin terkekeh geli dan membuat Nara mengernyit heran untuk sesaat. “Menjelek-jelekkan istrinya sendiri? Bukankah kau sudah jadi istri mas Doni juga?” sela Nara yang membuat Wina tersedak dari minum jahe. Perempuan itu terbatuk-batuk seketika untuk sesaat. “Kak Nara, maksudku, itu dulu saat kami melakukannya sebelum kami menikah. Bukan saat kami bulan madu. Oh, please! Pakai sedikit otak kamu, Kak. Kau seorang perawat rumah sakit ternama, seharusnya kau lebih pintar menggunakan otakmu. Pantas saja mas Doni meninggalkan kamu dan lebih memilih aku,” ledek Wina dengan seenaknya dan kembali menyesap air jahe itu dengan nikmatnya. Nara mencebik dengan santai, “Aku rasa aku tak perlu menggunakan otakku yang terlalu berharga ini untuk meladeni pembicaraan yang penuh dengan omong kosong belaka. Apalagi berbicara dengan orang yang tak punya otak seperti kamu. Menjual diri demi merebut suami orang,” sahut Nara dengan pedas dan tajam. Namun hal itu malah membuat Wina terkekeh geli, ia bahkan bertepuk tangan dengan senang, “Punya otak atau tidak, yang jelas semua sudah terbukti nyata. Suamimu, bahkan ibu mertuamu sendiri yang lebih memilih aku daripada kamu,” jawab Wina penuh dengan rasa bangga dan kemenangan di wajahnya. Lagi-lagi Nara mencebik dan menggumam, “Apa bagusnya memakai barang bekas orang. Dan yang lebih menyedihkan, perempuan muda, secantik kamu, bisa-bisanya malah bangga memakai bekas orang. Di mana pun, namanya barang bekas itu tempatnya adalah di tong sampah. Dan kau, malah mengorek-ngorek tong sampah itu dan memungutnya untuk kau pakai dan kau bangga-banggakan,” sindir Nara berdecap dengan suara lembut namun tajam. Dan hal itu tak ayal membuat Wina berang. Ia bangkit dari duduknya dan mengepalkan tangannya untuk menggebrak meja. “Terserah, Kak Nara mau bicara apa. Yang jelas, mas Doni lebih memilih aku!” pekik Wina dengan suara tertahan, “Lihat saja. Mulai detik ini, aku akan membuat rumah ini jadi neraka untuk, Kakak!” ancam Wina kembali duduk seraya bersedekap, seolah ia berada di atas angin. “Ini rumahku. Kau pikir aku takut dengan ancaman picikmu? Bullshit. Akulah yang akan mendepak kalian lebih dulu dari rumah ini. Lihat saja,” sahut Nara balik mengancam dengan tekad kuat. Namun berbanding terbalik dengan Wina yang hanya mencebik seolah meremehkan ucapan Nara seraya kembali meneguk minuman jahe di hadapannya, “By the way, terima kasih untuk minumannya. Lihat, aku bukanlah orang yang tidak tahu diri dan tak tahu terima kasih. Jadi, sebaiknya mulai besok pagi siapkan sarapan dan teh jahe ini bahkan sebelum aku bangun jam tujuh pagi,” ucap Wina dengan sombongnya dan sikap angkuh. Sebuah senyum mengembang di wajah cantik Nara, “Sesuai permintaan Anda, Nyonya. Selamat menikmati minuman itu. Dan aku akan membuatkan semua permintaan Nyonya, jika kau tak takut aku membubuhkan racun di dalamnya,” jawab Nara dengan senyum tipis di wajahnya yang sontak membuat Wina membeliak terkejut bukan main. “Kurang ajar! Jadi, kau meracuniku? Kau ....!” Nara beringsut meninggalkan ruangan itu dengan senyum mengembang di wajahnya, mengabaikan ocehan Wina yang memekik ketakutan, bahkan ia membuang cangkir yang berisi minuman jahe itu dengan panik dan membuat cangkir itu pecah berkeping-keping. Nara mendengarkan dari balik pintu kamarnya yang berada di lantai satu tak jauh dari ruang makan. Wina bahkan berteriak-teriak memanggil-manggil Doni. Tak ayal hal itu pun membuat Dahlia terbangun dari tidurnya dan segera turun menyusuri tangga di susul oleh Doni yang memasang wajah menahan kesal. “Mas! Maaass! Mama...! Kak Nara! Kak Nara meracuniku! Kak Nara meracuniku!” pekiknya dengan panik dan membuat Doni serta ibunya membeliak terkejut bukan main. Keduanya serta merta memberondong menuju kamar Nara yang terbuka oleh Nara. Nara kembali keluar dengan wajah datar. “Kalau aku memberinya racun di dalam minuman itu, dia pasti sudah terkapar dengan mulut berbusa. Tak akan bisa berteriak-teriak lagi seperti itu. Kau sudah merebut suamiku, berusaha merebut rumahku sekarang kau pun memfitnahku? Padahal kau sendiri yang menyuruhku membuat minuman itu,” ucap Nara dengan suara tenang. Namun berbanding terbalik dengan Wina yang seolah terlihat memfitnah Nara, yang kini semua tatap mata memandang ke arah Wina yang terlihat panik dan masih berusaha untuk membela diri. “Mas, aku tidak bohong, dia sendiri yang bilang menaruh racun dalam minuman dan makanan...” ucap Wina seraya melirik meja ke mana arah tatap mata Doni yang sontak menatap meja yang kosong tanpa ada piring makanan apa pun, “Maksudku, ke dalam minuman jahe itu dan ....” “Sudah, sudah. Cukup. Semua masuk kamar. Aku lelah. Besok aku harus bekerja lebih pagi,” sela Doni dengan memegangi kepalanya. “Sudah, ayo, Wina. Lain kali kamu tidak perlu menyuruhnya membuat minuman atau makanan. Nanti takutnya benar-benar diracuni. Ayo, Sayang, istirahatlah, kalian pasti lelah setelah perjalanan berbulan madu. Besok, biar Mama suruh Bi Ning membuat minuman untukmu, ya,” bujuk Dahlia kepada Wina yang merengek manja padanya. Rasa nyeri menusuk relung hati Nara tiba-tiba, saat melihat perlakuan Dahlia yang begitu memanjakan Wina, yang tak pernah ia dapatkan sekalipun selama tujuh tahun pernikahannya dengan Doni. Nara menghela napas dengan berat untuk membuang rasa sesak di d**a. Namun, sebelum mereka benar-benar meninggalkan ruang tengah itu, Wina sempat menatap Nara dengan tatapan penuh dendam seolah ia akan membalas semua perlakuan Nara padanya. ‘Kau ingin membalas dendam padaku? Silakan saja! Kita lihat saja, siapa yang akan keluar dari rumah ini! Aku tak akan membiarkan kau semakin menginjak harga diriku, Wina! Aku tak akan kalah oleh pe***ur sepertimu!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN