Bab 6 Gara-gara Ngidam

1253 Kata
Beberapa hari berlalu, rumah yang biasanya terasa sunyi dan sepi itu berubah menjadi ramai setelah kepulangan Doni dan Wina dari acara bulan madu mereka. Nara yang hendak memasuki rumah, berbalik arah saat melihat deretan mobil miliknya bersama dengan mobil Denny dan mobil milik Doni yang dipakai oleh keluarga Wina. Apalagi terdengar ramainya suara percakapan dan tawa mereka yang terdengar hingga keluar jalanan. Nara bergegas berjalan berbalik arah kembali meninggalkan rumah. ‘Mas Doni sudah pulang dari bulan madu, sebaiknya aku jalan-jalan saja sampai malam. Oh, iya. Kebetulan make-upku juga sudah hampir habis,’ pikir Nara seraya berjalan tergesa-gesa meninggalkan jalanan perumahan itu untuk menyetop sebuah taksi. Namun, dalam perjalanannya itu ia mendengar kasak-kusuk beberapa tetangga yang sedang membicarakan tentang kondisi rumah tangganya, seolah mereka memang sengaja membiarkan semuanya terdengar oleh Nara yang melintas di hadapan mereka. “Ya, begitulah kalau nasibnya perempuan mandul, suaminya nikah lagi juga tak bisa apa-apa. Makanya jadi perempuan itu jangan mandul,” ucap salah seorang dari ketiga wanita yang sedang duduk-duduk di sebuah warung kopi. “Jangan seperti itu. Memangnya kita bisa memilih kalau kita mandul? Semua perempuan di mana-mana maunya punya anak dan disayang suami. Suaminya saja yang kelewatan, tak tahu diri pula. Mereka ‘kan tinggal menumpang di rumah orang tua Nara? Tega-teganya malah membawa istri baru!” sambung yang lainnya seolah membela Nara. “Iya, juga, ya. Dan anehnya resepsinya saja masih Minggu depan, kenapa mereka sudah bulan madu lebih dulu? Di mana-mana, orang menikah itu ‘kan setelah menikah KUA, ya, resepsi di rumah saja, kalau memang keuangannya tak mencukupi. Tapi ini memaksa di gedung mewah, begitu?” sahut wanita yang terakhir. “Iya, ya. Aneh juga itu. Padahal acara resepsi pernikahannya juga tak menunggu waktu lama. Kenapa buru-buru bulan madu begitu? Apa jangan-jangan sudah tak sabar melakukan itu? Atau malah sudah duluan?” pancing wanita pertama yang langsung disambut gumaman dan anggukan kepala yang lain seolah mendengar pendapat mereka. “Kita lihat saja, bagaimana nanti lahirnya, sudah. Catat saja hari mereka menikah. Kalau anaknya lahir lebih cepat, ya berarti benar perkiraan kita. Halah, paling ujung-ujungnya bilangnya prematur!” sahut wanita terakhir dengan ucapan bersungut-sungut yang otomatis membuat Nara tertawa yang langsung ia tahan dengan membuang muka. ‘Lihatlah, Mas. Semua orang yang kau anggap bodoh. Mereka bahkan telah bisa menebak jalan pikiran kalian,’ pikir Nara dengan hati semakin riang menaiki sebuah taksi yang membawanya ke sebuah tempat perbelanjaan yang cukup besar dan megah. Seharian itu, Nara menghabiskan waktunya untuk berbelanja baju dan beberapa perlengkapan make-upnya. Ia mengabaikan panggilan masuk yang berasal dari Doni. Ia lebih menikmati hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ia benar-benar ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dan melupakan semua yang terjadi. Ia yang sibuk mencoba-coba lipstik di cermin bedaknya, teralih oleh ucapan seorang anak yang duduk bersama ibunya, “Mama, lihat, orang itu. Kenapa dia duduk di kursi begitu? Apa dia tidak bisa berjalan. Dia ‘kan sudah besar sekali? Kenapa dia tidak bisa berjalan?” Nara mengalihkan pandangannya pada cermin ke arah tangan anak kecil itu menunjuk. Tampak seorang laki-laki yang terlihat duduk di sebuah kursi roda. Dengan rambut yang terlihat kusut masai dan jambang yang hampir memenuhi wajahnya, laki-laki itu menatap Nara dengan sorot mata yang sangat tajam. Untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain, hingga ia merasakan tatapan laki-laki itu terlalu tajam dan penuh dendam untuknya, yang bahkan mereka tak kenal satu sama lain. Namun, Nara baru menyadari sesuatu, bahwa pandangan laki-laki itu bukanlah untuknya saja. Tetapi, untuk semua dunia yang sedang di hadapannya. ‘Ya, Tuhan. Laki-laki itu sepertinya masih muda. Tapi, sepertinya dia mengalami sesuatu yang buruk, bahkan bisa saja dia mengalami sesuatu yang lebih buruk dari apa yang aku alami sekarang,’ pikir Nara menghela napas dengan berat. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan besar itu. ‘Terkadang kita tak pernah tahu, dibalik senyuman dan gelak tawa mereka, bisa saja mereka sedang menyimpan hal-hal buruk atau masalah yang berat. Hanya saja, mereka mencoba untuk tegar dan tetap kuat untuk menjalaninya,’ pikir Nara lagi-lagi menghela napas panjang seraya tersenyum. ‘Sepertinya aku saja yang sedang bermasalah dan sedang mencoba menghibur diri sendiri,’ imbuhnya seraya menatap layar ponselnya yang memperlihatkan nama ‘Mas Doni’ sebagai penelepon. Dan Nara yang bangkit berdiri itu tak memperhatikan jalan lagi hingga ia menabrak seseorang yang sedang keluar restoran itu dengan menggunakan kursi roda. Akibatnya ponselnya jatuh membentur lantai seketika. “Oh, ya ampun! Maafkan aku, aku tak melihatnya. Apa ponselmu baik-baik saja?” ucap seorang laki-laki paruh baya yang berada di balik kemudi kursi roda itu saat melihat Nara memungut ponselnya di lantai. “Tidak apa-apa, hanya retak sedikit,” sahut Nara seraya menatap ponselnya yang retak di beberapa bagian. Namun, panggilan itu terhenti dan membuat Nara tersenyum seketika. “Maafkan aku, apakah perlu di ganti?” sambung laki-laki itu dengan wajah khawatir, namun berbeda dengan tatapan laki-laki yang sedang duduk di kursi roda itu, yang menatapnya dengan pandangan tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup. Ada perasaan aneh yang berdesir saat menatap matanya yang terlihat begitu tajam, jernih dan sekaligus mematikan. Nara segera mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu dan beralih pada laki-laki paruh baya yang terlihat baik. “Tidak apa-apa, tidak usah, Pak. Sayalah yang salah, karena tidak melihat jalan saat hendak keluar. Jadi, tidak apa-apa. Dan, saya harus permisi dulu, terima kasih,” sahut Nara dengan sikap canggung dan segera pergi menjauh dari dua laki-laki itu, bahkan sebelum laki-laki itu menjawab. Dengan tiga kantong belanjaan di tangannya, Nara buru-buru berjalan memasuki sebuah lift yang berada di ujung lorong lantai pusat perbelanjaan itu. Sepanjang perjalanan pulang, ia memikirkan akan memakai baju-baju yang baru ia beli untuk acara pernikahan teman sejawatnya yang akan diadakan beberapa Minggu ke depan, bertepatan di mana resepsi Doni dan Wina diadakan. ‘Sepertinya Tuhan memilihkan jalan untukku agar aku tak terlalu sakit hati pada hari itu, makanya aku harus hadir di acara pernikahan Lisa. Ya, benar.’ Dan taksi yang membawanya itu tanpa terasa telah memasuki pelataran rumahnya. Setelah membayar sesuai tarif, Nara turun dengan perasaan riang memasuki rumah. Namun, raut wajah riangnya berubah menjadi kesedihan seketika saat mendapati Doni yang telah berdiri di depan pintu rumah itu menyambutnya dengan sebuah tamparan keras di pipinya. “Ke mana saja kau seharian ini? Berpuluh-puluh kali aku meneleponmu, Nara!” bentak Doni seraya menyeret lengan Nara memasuki rumah dan membanting pintu rumah dengan kasar. Nara mengernyit menahan sakit seraya memegangi pipinya yang lebam. “Kau tahu aku baru pulang, aku lelah dan aku butuh dilayani. Ke mana saja kau? Sekali pun kau tak menjawab panggilanku! Apa ini? Kau bersenang-senang? Kau berbelanja?” pekik Doni seolah menumpahkan segala sesuatu yang ia rasakan. “Bukannya, Mas ada Wina? Dia juga istrimu, Mas? Kenapa bukan dia yang melayanimu, Mas. Sebagai istri yang benar, bukan hanya melayaninya di atas ranjang saja,” sahut Nara menjawab perlakuan Doni yang mulai tak masuk akal. “Dia sakit, karena kelelahan. Sudah, jangan banyak bicara! Buatkan minuman jahe untuknya! Sejak tadi dia muntah-muntah tapi kau malah bersenang-senang. Keterlaluan kamu!” sambar Doni seraya menyeret paksa Nara ke dapur, bertepatan Wina mendatangi mereka dan mengalihkan perhatian mereka. “Mas, mana minumannya? Aku benar-benar ngidam buatan kak Nara,” rengek Wina dengan manja dan mengulurkan tangannya pada Doni yang langsung menyambutnya dengan sayang. “Mas, gendong aku. Tiba-tiba kakiku terasa lemas,” rengek Wina yang langsung dibopong oleh Doni dengan patuh dan semua itu tak lekang dari tatap mata Nara yang mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan air mata yang telah mengambang di pelupuk matanya. ‘Apa salahku padamu, Wina? Kenapa kau begitu menghancurkan aku begini rupa? Kau benar-benar perempuan jahat!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN